Diperistri Dalam 10 Menit

Diperistri Dalam 10 Menit
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Berhari-hari sudah berlalu. Kini, Arina dan Husein menjadi lebih dekat dan Arina mulai lebih akrab dengan keluarga Husein. Arina mendapatkan kasih sayang yang sangat besar dari keluarga Husein yang memperlakukan dirinya amat baik. Arina jadi tau ternyata Husein adalah anak bungsu di keluarga agamis ini jadi wajar Husein begitu disayangi dan sangat akrab dengan para anak kecil yang tak lain adalah keponakannya.


Arina juga sudah sembuh. Meski, bekas jahitan masih meninggalkan bekas di tubuh Arina dan hanya tinggal melakukan perawatan rutin agar Kulitnya terlihat mulus kembali.


Melihat hubungan Arina yang kini kian membaik. Akhirnya kedua keluarga belah pihak mengizinkan untuk kedua pengantin ini tinggal mandiri di rumah mereka.


Arina yang merupakan politikus tidak mungkin hilang dari dunia politik dalam waktu yang sangat lama. Begitu juga dengan Husein, Husein selaku publik pigur akan terlihat aneh karna menghilang begitu lama dan akan dipertanyakan oleh awak media karna ketidak aktifan dirinya disosial media lagi. Seluruh keluarga sepakat untuk mengadakan pesta pernikahan diwaktu yang tepat dan tidak terburu-buru.


Dan untuk sementara waktu pernikahan mereka akan dirahasiakan dari awak media. Meski pernikahan telah terdaftar di kua dan buku nikah sudah ditangan serta KTP sudah berubah gelar menjadi status sudah menikah.


Untuk menjaga-jaga agar Arina tidak sampai berbuat jauh sang ayah membuat kesepakatan untuk mereka berdua. Arina boleh tinggal dirumah yang ia miliki di Jakarta asalkan tak tidur dikamar yang terpisah dengan Husein. Ini juga adalah sebuah bentuk toleransi dari sang ayah untuk Arina mengingat bagaimana dirinya berbuat kejam beberapa waktu yang lalu.


Arina yang sejatinya tinggal didaerah Jakarta memang sudah memiliki rumah pribadinya dikota metropolitan itu. Sementara Husein yang hanya tinggal beberapa waktu saja dikota itu karna sebatas kerja dan kerja hanya membeli apartemen mewah tanpa harus membangun rumah dikota tersebut. Husein juga setuju untuk tinggal di tempat yang Arina inginkan meski dia ingin membuat rumah untuk mereka tinggali bersama sebagai hadiah pernikahan untuk Arina. Tapi, Arina menolak keinginan Husein dengan dalih lebih baik membuat sebuah perusahaan dari pada memperbanyak rumah kembali dan Husein setuju akan hal itu.


Sore minggu itu Husein dan Arina sampai di tempat tinggal mereka. Arina yang memang dari awal tidak banyak membawa barang hanya menenteng tas kecil ditangan-nya. Sementara barang-barang Husein sudah dikirim sebelum mereka datang atas perintah ayah Arina.


Rumah bernuansa putih menjulang tinggi dengan tiga lantai, tersedia balkon disetiap lantainya. Husein terperangah menatap bangunan megah itu, rumah megah yang berada dalam kota metropolitan.


Gerbang berwarna emas itu langsung terbuka lebar dengan seorang satpam yang lengkap berseragam sedang berdiri di samping pagar menyambut mereka.

__ADS_1



Kala sudah sampai didepan pintu rumah, Husein melihat dari balik jendela mobil sudah ada banyak pelayan wanita dan pria berdiri didepan pintu berseragam hitam putih menyambut kedatangan mereka.


Arina menginjakkan kakinya dan keluar dari dalam mobil tanpa menunggu Husein sama sekali, dia meninggalkan Husein tanpa basa basi dan terus menyusuri lantai menuju kamar-nya.


Husein yang merasa diabaikan akhirnya turun dengan wajah masam karna tak diajak Arina. Kala Husein keluar dari mobil semua pelayan itu menundukkan kepalanya hormat pada Husein serentak. Husein yang melihat ini merasa canggung sembari menggaruk belakang lehernya yang tak gatal sama sekali.


"Kalian tak perlu begini" Ujar Husein menegakkan punggung salah satu pelayan pria disana.


"Maaf tuan... Ini adalah peraturan disini" Ucap-nya dan kembali menundukkan badannya.


Ucapan Husein membuat mereka saling menatap satu sama lain.


"Maaf tuan... Jika kami melanggar peraturan kami akan mendapat sanksi hukuman" Ucapnya dan membuat Husein terpelongo


"Hukuman?! "


"Iya tuan" Jawab mereka serentak dengan posisi yang masih membungkuk

__ADS_1


"Siapa yang menghukum kalian? " Selidik Husein


Semua diam tak ingin menjawab pertanyaan yang akan memberikan sebuah jawaban yang tertuju pada Arina.


Melihat semua terdiam Husein menebak satu nama "Arina? " Tanyanya


"Maaf tuan... Silahkan masuk, biar saya antarkan" Ucap salah satu mereka yang mungkin adalah manager pelayan ini menuntun Husein agar tidak terlalu lama mengintograsi para pelayan.


Husein mengernyitkan dahinya, belum dia mendapat jawaban atas pertanyaannya manager ini langsung mengajak dirinya pergi meninggalkan para pelayan yang masih tertunduk itu.


Dengan langkah pelan Husein menyuri lantai dengan marmer putih itu, bangunan yang sangat megah itu sangat luas dengan berbagai prabotan mahal tersusun rapi dari awal masuk rumah.


"Ahhh sial" Husein mendengar suara wanita mengumpat dari lantai dua. Segera Husein melihat keatas dan tampai Arina mengacak-acak rambut hitamnya marah.


Husein yang bingung memilih diam tanpa suara dengan langkah kaki yang tak henti mengikuti manager didepannya memimpin jalan.


Husein tiba di lantai dua dan segera masuk kedalam kamar, tak ada Arina didalam kamar padahal sudah jelas tadi dia melihat Arina ada di lantai dua. Tampak dari sudut mata Husein. Ruangan megah menjulang tinggi dengan tempat tidur besar dengan bantal yang banyak tertata rapi disana. Entah berapa jumlah-nya.


Sebuah kamar luas dengan lemari bercorak putih emas besar didalam kamar disertai sofa dan ada satu meja rias dengan kursi di bawahnya.

__ADS_1


Husein melangkah masuk kedalam kamar mencoba mencari Arina. Tapi, tak kunjung tampak batang hidungnya. Alhasil dia membaringkan tubuhnya keatas kasur merasa lelah karna perjalanan tadi siang.


__ADS_2