Diperistri Dalam 10 Menit

Diperistri Dalam 10 Menit
Kolam Renang


__ADS_3

Hari sudah menggelap kala Husein membuka matanya. Dia tak menyangka bisa tertidur lelap begitu lama.


Entah dimana Arina sekarang bahkan sampai waktu mulai gelap pun barang hidung-nya tak keliatan. Segera Husein melangkah kekamar mandi untuk bergegas melaksanakan sholat maghrib meski sudah agak terlambat.


Tiba-tiba saja rasa rindu seolah tak bertemu beberapa hari menyelimuti hati Husein. Sang istri yang biasanya tak kemana-mana dan hanya akan terus berada didalam kamar kini entah kemana perginya.


Perlahan kaki-nya hendak menuju keluar balkon memandang suasana malam. Tapi, betapa terkejutnya Husein melihat pemandangan dari luar yang sangat mencengangkan dirinya.


Dia berpikir rumah ini hanya akan dikelilingi oleh bangunan-bangunan megah menjulang keatas langit karna lokasi yang berada di tengah-tengah kota. Husein terus memandangi ke sekeliling rumah tanpa henti dengan kening yang sudah bergabung.


Rumah yang berhadapan dengan jalan serta berbagai bangunan rumah masyarakat hanya ada di didepan dan disamping rumah milik Arina. Sedangkan kala mata memandang kebelakang rumah ada begitu banyak pepohonan layaknya hutan tanpa ujung.


Husein manggut-manggut sejenak sebelum kini matanya tertuju pada satu wanita yang tampak dari mata Husein sedang duduk di kursi besi berwarna putih menghadap kolam renang membelakangi dirinya.


Wanita itu hanya mengenakan mini dres berwarna cream susu dengan rambut terurai indah. Tubuhnya tampak indah dipandang dengan potongan baju yang menunjukkan kemolekan dirinya.


Husein tersenyum melihat wanita itu yang dia sangka pasti tak lain adalah Arina istri-nya. Segera saja Husein meninggalkan balkon bergegas menemuu Arina dengan sedikit berlari. Dia tak tau kenapa dirinya menjadi aneh seperti ini. Padahal tak pernah sekali pun dia tergiur dan sangat ingin mendekati wanita seperti saat ini. Husein hanya berpikir kemungkinan ini hanya karna Arina adalah istri-nya jadi wajar saja dia ingin terus selalu didekat sang istri.


Merasa ada yang datang segera Arina membuang ****** rokok yang sedang dia pegang. Husein... Ya pria itu kini melangkah pelan mendekati dirinya.


"Arina" Tegur Husein dengan senyuman ramah-nya.


"Hmm" Arina berdekhem dengan mata kosong tanpa menatap Husein.


"Dari tadi kamu kemana aja? Kok gak keliatan" Ujarnya sembari duduk di samping Arina.


"Ada urusan" Jawab Arina singkat tak ingin berbicara jauh.


"Kamu sudah Sholat? " Tanya Husein kembali dan di anggukkan oleh Arina


"Kalau makan? " Tanya-nya kembali dengan senyuman yang sumringah


Arina hanya menggeleng pelan dengan mata yang tak berhenti menatap kolam renang di hadapan-nya


"Ohhh iya" Jawab Husein sedikit tak merasa enak karna Arina yang sama sekali tak melihat-nya bahkan hanya menjawab singkat segala pertanyaan yang ia lontarkan.


Akhirnya Husein memilih diam tanpa suara dengan menatap kolam renang mengikuti kemana Arina memandang.


Sangat lama tak ada yang memulai percakapan Husein semakin tak merasa nyaman karna dirinya yang bukan sosok pendiam. Suasana ini sangat mencekam dan tidak menyenangkan sama sekali bagi dirinya.


Dia ingin memulai percakapan tapi kala melihat Arina yang terus saja memandang kolam seolah seperti sebuah kode dia tak ingin diganggu sama sekali. Husein merasa sedikit kecewa karna perlakuan dingin dari Arina hari ini.


Dia jadi merasa tidak percaya diri dan berpikiran aneh-aneh pada Arina. Entah memang begini sipat aslinya, sangat berbeda dengan Arina pada saat di rumah-nya beberapa waktu yang lalu. Husein mendengus kesal putus asa memutuskan untuk meninggalkan Arina sendirian.

__ADS_1


'Akhhh' pekik Husein terkejut bukan main kala mendapati ada yang mendorong-nya ke kolam.


"Arina kamu ngapain? " Ujar Husein melihat Arina berdiri menyaksikan dirinya yang kini sudah basah kuyup didalam kolam.


Arina sama sekali tak menjawab. Kakinya perlahan mendekat ke pinggir kolam dan mendudukkan dirinya disana.


"Tak ada" Ucap-nya sembari memandang Husein yang tampak kesal


"Dingin.... Ini udah malam kamu malah ceburin aku" Celoteh Husein sembari berjalan ke bibir kolam.


"Tunggu dulu" Arina menghentikan Husein yang hendak keluar kolam dengan tangan yang menahan bahu-nya.


"Dingin Arina" Ujar Husein dengan wajah masam.


Arina sama sekali tak menjawab dan perlahan ikut masuk kedalam kolam. Husein hanya terdiam tanpa kata melihat perlakuan dari Arina yang membingungkan diri-nya.


"Mau aku hangat-kan? " Celutuk Arina yang kini juga sudah ikut basah dengan tangan yang merangkul bahu Husein.


"Astaghfirullah kamu ngapain sih Arina" Wajahnya masih masam mengingat betapa cuek-nya Arina padanya barusan


"Ya sudah" Jawab Arina melepaskan pelukan-nya.


Melihat perlakuan Arina yang sama sekali seperti tak menghiraukan dirinya segera Husein memeluk erat kembali tubuh Arina yang hendak pergi.


"Airnya yang dingin bukan aku" Balas Arina


Mendengar jawaban aneh itu segera Husein melepaskan pelukan-nya dan memandang Arina.


"Bukan gitu maksut aku Arina" Jawab Husein dengan wajah cemberut


"Jadi ? " Tanya Arina kembali dengan tangan membelai rambut Husein.


"Arinaaa" Husein mulai kesal mendapati Arina yah tampak tak ambil pusing.


"Kenapa sayang? " Jawab Arina menatap bola mata Husein yang terus merangkul-nya.


Seketika saja Husein tertunduk menahan malu mendengar Arina memanggik dirinya dengan sebutan sayang.


"Kenapa hmm? " Tanya Arina kembali dengan mengecup bibir ranum Husein.


"Gak ada" Jawab Husein kembali dengan senyuman manis terlukis indah di bibir-nya.


"Kok gak ada" Arina kembali bingung mendengar penjelasan Husein.

__ADS_1


"Udah gak ada lagi sayang" Jawab Husein dengan manja dan memeluk erat tubuh Arina dengan menenggelamkan kepala-nya kedada mulus Arina.


Arina hanya diam tanpa ekspresi mendengar penuturan dari Husein dan tidak menolak sama sekali perlakuan Husein pada-nya. Husein terus bergelayut manja dengan terus menyenderkan kepala-nya kedada Arina dengan sesekali mengecup-nya malu-malu, dada cantik milik Arina tampak intens dari balik dress yang kini sudah basah. Arina seperti tak mengenakan pakaian apapun sama sekali.


Merasa cukup lama dengan aktivitas yang membosankan ini Arina menarik rambut Husein kuat dan memandang mata Husein.


"Sakit Arina" Ujar Husein sembari melepaskan tangan Arina dari rambutnya.


"Aku bawa kamu kesini bukan karna aku pengen peluk-pelukkan sama kamu" Ujar Arina.


"M-maksudnya? " Husein gugup mendengar penuturan Arina.


Tapi, Arina diam tanpa kata kembali dengan wajah datar seperti tadi, merasa terintimidasi dengan hati yang kembali kecewa Husein akhirnya melepas Arina dari dalam dekapan-nya.


'Memang tak mungkin Arina bisa berubah secepat itu, aku yang harusnya tau diri dan sabar' batin Husein dengan perlahan mundur


Melihat raut wajah Husein segera Arina menarik Husein kembali ke dalam pelukan-nya dan ******* habis bibir Husein.


"Arina" Tolak Husein


"Hmmm" Jawab Arina dengan mata redup mencium kembali bibir Husein sekilas.


"Ada apa? Kamu keberatan? " Tanya Arina kembali dengan tangan yang merangkul kembali leher Husein agar lebih dekat pada-nya


"Enggak kok... Aku aku cuman kaget aja" Jawab pria agamis itu tak karuan.


Arina tersenyum mendengar penuturan Husein dan kembali membawa Husein kedalam pelukan-nya. Husein yang merasa bahagia langsung menyambut kecupan dari Arina dengan membiarkan Arina yang memegang kendali.


Tangan Arina terus menggenggam dan menjambak rambut Husein tanpa henti. Kini kakinya dia biarkan melingkar sempurna diperut Husein sembari menggoyangkan tubuhnya merasakan ada yang tegak dari bawah sana.


Merasa cukup Arina melepaskan tautan-nya dan memandang Husein yang tampak sudah terengah-engah dengan wajah yang memerah.


Arina tersenyum melihat keadaan Husein saat ini.


"Mau coba yang lain? " Tawar Arina


"Iya sayang" Jawab Husein senang sembari menatap Arina yang telaten membuka dress yang ia pakai.


"Silahkan sayang... Ini untukmu" Rayu Arina kala sudah menampakkan buah dada cantik kebanggaan-nya tak terhalang apapun


Segera saja Husein melahap habis kedua buah dada mulus milik Arina secara bergantian dengan satu tangan yang memeras kuat dan sesekali menggelitik nya menggunakan lidah -nya.


Bagaikan sedang berada diatas awan Arina mendesah kuat ditelinga Husein seolah sedang menyemangati diri-nya dengan terus menekan kepala Husein agar tak berhenti dan menghisap-nya kuat. Sungguh energi Husein bagai tak pernah habis.

__ADS_1


Kini, tangan Husein mulai berani menyentuh bokong Arina pelan meraba-rabanya dengan terus menciumi payu dara Arina.


__ADS_2