Diperistri Dalam 10 Menit

Diperistri Dalam 10 Menit
Fakta


__ADS_3

Husein terkejut bukan main setelah mengetahui fakta tentang Arina, seorang wanita yang sudah dia anggap sebagai seorang istri yang patut dimuliakan seperti ajaran Allah dan para nabi. Seorang wanita pertama yang sudah masuk kedalam kehidupan-nya. Menyentuh dan membuat hati-nya goyah.


Air mata Husein keluar tanpa ijin menetes perlahan membasahi pipi-nya. Sungguh, ini adalah kali pertama Husein mengeluarkan air mata untuk seorang wanita yang tak lain adalah istri-nya sendiri.


"Husein" John mencoba menyadarkan Husein yang tengah larut dalam kesedihan.


"Aku tau ini pasti sangat berat bagi-mu. Tapi, aku percaya kau pasti bisa meluluhkan hati Arina adikku. Kami sekeluarga sangat berharap besar padamu dan karna-nya maaf telah mmeberatkan dirimu seorang" Tutur John merasa bersalah


"Meski begitu Husein. Kau bisa katakan jika ini sudah diluar batas kesabaran-mu... " Ujarnya dengan nada yak ikhlas


"Bg... Percayakan padaku dengan ijin Allah Insya Allah semua akan mudah dan hati Arina akan menjadi luluh" Jawab Husein dengan menepis pelan air mata-nya


"Terima kasih Husein... Dalam perjalanan itu jika sangat susah, kau bisa meminta bantuan apapun dari kami" John memegang bahu Husein pelan.


"Untuk sementara apa kau ingin aku menceritakan masalah ini pada ayah, agar kalian kembali menjadi dekat seperti kemarin? " Tawar John


"Tidak... Jangan John, dengan membuat cara seperti waktu kemarin tentu saja Arina akan semakin marah besar dan memberontak. Kita sudah tau bahwa Arina punya banyak cara untuk menutupi ketidak dekatan-nya denganku dihadapan ayah dan ibu mertua... Aku akan memikirkan cara yang pantas" Tutur Husein tak ingin membuat Arina kembali dikurung seperti waktu itu. Sebab, ini semua pasti tidak akan ada hasil-nya.


"Baik"


"Untuk sekarang jangan sampai siapa pun tau mengenai pristiwa ini" Ujar Husein mantap.


John mengangguk tanda setuju dengan perkataan Husein untuk tidak memberi tahu pada Ayah-nya.


Segera Husein melangkah kedalam kamar untuk mengganti baju-nya. Kala pintu terbuka tak ada Arina dikasur entah kemana lagi dia kali ini. Husein segera bergegas mengambil baju dan berlalu kekamar mandi untuk membersihkan diri-nya.

__ADS_1


Husein keluar sembari mengelap rambutnya yang masih basah sebelum menuju ke kasur. Tampak di mata-nya kini ada berbagai makanan diatas meja yang diiringi sopa berwarna hitam pekat.


Husein hanya mendengus pelan kala melihat sekeliling kamar tak ada Arina disana akhirnya dia akan melahap makanan ini sendiri.


Seketika saja ada suara langkah kaki mendekat kearah meja. Husein menatap asal suara kaget ternyata Arina dari tadi memang dikamar berdiri memamdang suasan malam diluar tapi tubuh-nya tertutupi tirai balkon.


Arina tampak cantik dengan dress merah muda yang tipis membentuk tubuh-nya dengan rambut yang terurai sempurna sedang mendekati diri-nya.


"Apa liat-liat" Tegur Arina kala mendapati Husein terus memperhatikan diri-nya.


"Enggak ada" Jawab Husein tersipu malu.


Arina duduk berseberangan dengan Husein tepat di depan-nya. Arina diamĀ  tanpa suara dan mengambil makanan dengan santai.


Arina sama sekali tak melihat Husein dia hanya terus melahap sedikit demi sedikit makanan yang ada di depan-nya. Husein memandangi kembali tubuh putih Arina yang kini duduk bersilang kaki dengan anggun di hadapan-nya, mata Husein menatapi tubuh Arina kagum akan kecantikan-nya. Sungguh sayang jika wanita secantik ini tidak normal.


Husein kini tersenyum malu-malu melihat bercak merah dileher dan dada Arina yang tak lain adalah bekas kepemilikan diri-nya. Ada rasa bangga tersendiri kala mata-nya tiap kali melibat bercak merah ditubuh sang istri.


Dia senang bukan main karna walaupun sang istri tak menyukai dirinya. Perempuan yang disukai Arina juga akan cemburu dan kesal kala melihat tanda kepemilikan Husein ditubuh Arina.


Usai melahap habis hidangan didepan mereka, Arina segera mengeluarkan ponsel milik-nya dan meminta Husein menyimpan nomor Arina.


"Aku sudah mengirimkan undangan dari presiden, kamu silahkan baca dulu dan kirim sama teman-teman kamu yang kemarin di Osaka" Ujar Arina sembari memandang ponsel di tangan-nya.


"Besok? " Husein kaget usai membaca undangan itu.

__ADS_1


"Iya besok, presiden mengundang kita kerumah pribadi-nya sebab kejadian kemarin sama sekali tak berhubungan dengan negara" Jelas Arina


"Kamu ajak teman-teman kamu pergi kesana secepat-nya" Tutur Arina


"Dan seperti yang kamu tau... Pernikahan kita tak ada yang tau, aku berharap kita bersikap seolah tak saling mengenal" Ujar Arina


"Ya aku mengerti itu... Karna itu sama juga merusak citra kita masing-masing" Tambah Husein paham


"Bukan disini saja, tapi diberbagai tempat lain-nya... Jika, melihat-ku anggap kita tak pernah saling mengenal" Ujar Arina kembali


"Satu lagi Husein... Kita sama sekali tak boleh bersama dalam satu proyek apapun" Tambah Arina kembali setelah mengingat.


"Kenapa? " Tanya Husein kaget.


"Kita dari dunia yang berbeda... Jika orang tau seorang agamis seperti mu terlibat proyek dengan-ku selaku politikus kau pasti tau apa yang akan terjadi" Tutur Arina


"Iya aku tau... Artinya pernikahan kita sampai kapan pun tak bisa di publish" Tutur Husein datar


Arina hanya terdiam mendengar penuturan dari Husein, ada nada kecewa dari sana. Tapi, Arina tak ingin ambil resiko.


Banyak wanita yang menyukai Husein. Jika, awak media mencium kedekatan dirinya dengan Husein barang pasti awak media akan penasaran dan sangat memperhatikan dirinya. Segala gerak-gerik, perkerjaan bahkan kehidupan pribadi yang ia jalani semua akan terus digali oleh banyak orang mempertanyakan apa hal istimewa yang dia miliki sampai seorang Husein seorang agamis muda yang kaya raya, pintar, terkenal kebaikannya bisa menikah dengan diri-nya yang sama sekali tak paham apapun tentang agama.


Ini sama saja dengan membuka akses agar orang-orang tau apa yang selama ini dia lakukan. Jika itu terjadi, lambat laun para pemerintah dan rakyat Indonesia akan mengetahui fakta tentang organisasi yang selama ini dia kembangkan. Dia tak akan membiarkan itu semua terjadi hanya karna ingin mengikuti segala kemauan Husein dan orang tua-nya.


Menikah dengan Husein saja sudah sangat merepotkan diri-nya apalagi sampai mempublis tentang pernikahan ini. Arina tau Husein kecewa dan sedih dengan keputusan yang dibuat-nya sendiri saat ini. Tapi, Arina tak perduli sama sekali tentang perasaan Husein sebab Husein bukanlah seorang pria yang begitu penting dalam hidup Arina sampai harus meminta pendapat dari diri-nya.

__ADS_1


__ADS_2