
Pukul setengah enam pagi Husein terbangun dari tidurnya kala mendengar suara adzan subuh berkumandang. Matanya menatap sekeliling kamar yang luas itu dengan pencayahayaan yang remang. Tampak Arina masih tertidur pulas dengan tubuh yang memeluk guling.
Husein hanya terdiam dengan rasa sedikit kecewa kala tak lagi dipeluk sang istri. Dia jadi merasa ragu dan takut untuk menyentuh Arina setelah mendengar fakta yang diberitahukan oleh Arina tadi malam. Bahwa, segala sikap manis dan tutur kata Arina yang lembut hanya sebuah kepura-puraan semata.
Segera dia bergegas bangkit dari tempat tidur dengan pelan dan mulai membersihkan diri-nya. Selesai dengan aktifitas itu Husein segera beranjak ke kasur ingin membangunkan Arina.
"Arina... " Ujar Husein lembut menggoyangkan lengan Arina pelan
"Hmmm" Khas suara bangun tidur-nya terdengar ditelinga Husein
"Kita sholat yuk Arina" Husein membangunkan Arina dengan lembut karna ini juga adalah sebuah kewajiban bagi-nya.
"Arina... Arina"
"Apa sih Husein" Arina berteriak dan duduk menghadap Husein yang kini tampak duduk didepan-nya.
Seketika saja Husein menunduk kaget kala mendengarkan suara Arina yang begitu lantang menggelegar di telinga-nya. Sungguh, Husein sama sekali tak pernah dibentak keras seperti saat ini. Meski, dia seorang pria, Husein tak pernah berada dilingkungan yang tutur katanya kasar dan kejam. Kedatangan Arina sungguh sampai membuat dirinya sangat terkejut.
"Aku cuman suruh kamu sholat" Ujarnya dengan nada rendah dan pergi meninggalkan Arina dari tempat tidur.
"Dasar sialan ganggu orang tidur aja" Ujar Arina kala Husein sudah menjauh dari kasur dan kembali masuk kedalam selimut membalut diri.
Husein mendesah kesal kala melihat Arina yang tampak seperti orang berbeda dengan waktu lalu. Hatinya sedikit tersayat kala melihat tatapan dan tutur kata yang diberikan oleh Arina padanya sangat berubah drastis.
....
Matahari sudah menyingsing kala Arina baru terbangun dari tidurnya. Mata Arina menyapu seluruh ruangan dengan mata yang belum terbuka sempurna mencari sesosok sang pria yang tak lain adalah suami-nya sendiri, tapi tak ia temukan dimana keberadaan dirinya.
Dengan nyawa yang sepenuhnya belum terkumpul Arina segera bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi membersihkan diri.
Usai dengan aktivitas nya Arina segera keluar dari kamar mandi dan menemukan sosok pria yang sedari tadi ia cari sedang berdiri di depan kaca lemari hendak melepas pakaian.
Arina mendekat pelan tak mengatakan apapun dengan handuk putih yang masih ia kenakan hendak membuka lemari dan mengambil pakaian juga. Mata Arina sesekali menatap kearah kaca melihat ekspresi Husein sama sekali masih belum berubah sejak tadi malam tapi tak dihiraukan oleh-nya.
"Ini kunci mobil kamu" Arina meletakkan kunci mobil milik Husein diatas meja rias.
"Kamu pergi duluan" Ujar Arina kembali.
"Kita gak barengan? " Tanya Husein dengan tubuh yang masih bertelanjang dada
"Kamu lupa yang aku bilang tadi malam? " Arina balik tanya
Husein kembali menutup mulutnya rapat tanpa suara dan bergegas memakai baju dengan cepat. Merasa sesak dan tak nyaman Husein segera pergi meninggalkan Arina dari rumah itu tanpa pamit bahkan tidak sarapan sama sekali.
Sepanjang jalanan Husein merasa sesak dan tak tahan atas kejadian hari ini dirumah tangga-nya. Husein tak habis pikir bagaimana akan jadinya pernikahan ini kedepannya. Kejutan apalagi yang akan diberikan oleh Arina pada dirinya dan sanggup kah dirinya bersabar.
Lama Husein mengendarai mobilnya, kini dia sudah berada tepat didepan gerbang rumah sang presiden. Gerbang itu langsung terbuka otomatis kala Husein membuka jendela mobil-nya agar satpam tau siapa dibalik mobil hitam itu.
__ADS_1
Kala Husein masuk tampak bangunan bercorak putih berdiri kokoh dengan lapangan yang sangat luas dan hijau disertai kolam air pancur didepan-nya.
Segera Husein memarkirkan mobil-nya ketika mendapati sudah banyak mobil terparkir dari sana. Sepertinya mereka semua juga baru sampai sama seperti
Husein. Sebab mereka masih berkacak pinggang dan sesekali membetulkan rambut dan jas yang mereka gunakan saat ini.
"Baru datang kamu Husein? " Ujar Reyhan basa basi
"Iya" Ujar Husein kala sudah keluar dari mobil dengan tangan yang merapikan jas hitam di tubuh-nya.
"Silahkan masuk tuan-tuan sekalian" Seseorang wanita paruh baya dengan setelan jas dan rambut digulung keatas datang ke parkiran menyambut mereka semua dengan sebuah senyuman manis dan ramah diwajahnya
"Silahkan ikuti saya tuan-tuan" Ujarnya kembali mempimpin jalan.
"Baik buk" Ujar mereka bersamaan dan mengikuti dari belakang.
Husein terus menyusuri lantai putih didalam rumah megah itu dengan langkah kaki pelan berdampingan dengan teman-temannya seraya bercerita-cerita sedikit.
"Silahkan tuan" Ujar sang wanita paruh baya itu sembari membuka pintu kayu tinggi didepan mereka.
Tampak dari mata mereka dari dalam ruangan ada sebuah meja bulat yang amat besar dengan berbagai makanan dan minuman diatasnya. Bunga beserta lilin membuat ruangan itu tampak semakin cantik dan elegan.
"Mohon tunggu sebentar dan duduk di tempat yang sudah ditentukan" Ujarnya dan pergi setelah menutup pintu.
Husein dan kelima teman-nya duduk dengan rapi dan diam menunggu kedatangan sang pak presiden. Sementara itu, Hussein masih mencari-cari dan bertanya-tanya kemana Arina berada. Kenapa masih belum tak tampak batang hidung-nya.
"Ehh"
"Itu"
"Arina?! " Ujar mereka heran kala melihat siapa yang masuk dari balik pintu.
Arina tampak cantik dengan setelan jas berwarna cream susu dengan sebuah tas yang ia tenteng dan jilbab yang terlilit cantik di leher-nya. Kaki-nya terus menghentak pelan lantai putih itu mendekati meja tanpa menggubris semua tatapan dan kebingungan yang muncul dari wajah mereka semua. Arina kini duduk tepat berhadapan dengan Husein di samping pian salah satu teman dari Husein. Reyhan yang tau tentang hubungan mereka berdua hanya menatap bergantian heran akan keasingan suami istri ini kenapa Arina tidak memilih duduk di samping Husein, padahal di samping Husein juga kosong. Alhasil Reyhan memilih diam dengan meneguk air ditangan-nya mencoba tenang.
'Ahhh rasanya sungguh sangat aneh' batin Reyhan
Tak berlangsung lama setelah kedatangan Arina, pintu terbuka kembali dan muncullah sang bintang yaitu bapak Presiden dari negara ini. Spontan mereka semua langsung berdiri menyambut presiden tanda hormat dan duduk setelah presiden duduk di kursi-nya. Lain hal-nya dengan Arina. Dia bahkan tak melirik sama sekali kearah pintu dan tetap duduk di tempat-nya dengan kaki yang menyilang anggun.
"Ahhh Wanita ini benar-benar tak punya adap" Husein berguman menatap Arina yang masih anteng dengan minuman di depan-nya.
"Maaf sudah menunggu lama" Ujar sang presiden membuka suara
"Tidak apa-apa pak" Ujar mereka bersamaan dengan senyuman ramah. Tapi, Arina sama sekali tak menggubris tutur kata dari presiden didepan-nya
"Sebelum-nya maaf saya baru bisa menghubungi dan mengundang kalian untuk malam ini.... Sebenarnya saya ingin cepat mengundang kalian... Tapi, saat itu saya hanya punya kontak nona Arina dan dia tidak bisa dihubungi beberapa waktu yang lalu" Jelasnya panjang lebar
"Iya Pak"
__ADS_1
"Tidak apa-apa pak" Ujar mereka manggut-manggut tanda paham.
"Untuk menebus kesalahan saya mari kita sedikit berbincang dan makan bersama dengan santai" Ujarnya sembari mempersilahkan
"Hanya ini saja yang bisa kau lakukan? " Ujar Arina kesal dengan apa yang didengar-nya.
Sontak semua mata kini tertuju pada Arina begitu juga dengan Husein yang tak kalah terkejutnya kala mendengar Arina berbicara sopan pada sang presiden tepat di depan-nya.
"Yahhhh messki ku akui kau dan para rekan mu sedikit kecewa karna tidak jadi mengadakan pesta kematian-ku" Ujar Arina gampang dengan memainkan garpu dan pisau di depan-nya.
"Maaf nona Arina, aku tidak tau maksudmu" Ujar sang presiden menatap Arina
"Kau tidak tau? Mau ku beritahu? " Tawar Arina dengan tatapan tajam.
"Mengenai kejadian pada saat nona ditugaskan ke Osaka, kami sama sekali tidak mengetahui insiden tersebut atau bahkan terlibat dengan inseden itu" Ujarnya menatap tajam Arina
"Dan mengenai kerugian yang nona Arina alami beserta tuan sekalian kami akan mengganti rugi tentang kerusakan mental dan keuangan kalian... Serta kami akan menyelidiki insiden ini secara tuntas agar tidak ada perselisihan antara kita" Jelas dang presiden dan diberi anggukan oleh mereka semua.
"Tak perlu... Mencari segerombolan anjing didalam anjing apakah berguna pak presiden? " Ujar Arina kembali menatap tajam sang presiden.
"Tentu harus nona" Jawab pak presiden dengan nada yang menekan dan mata yang menatap tajam pada Arina seolah-olah meyuruh-nya untuk tutup mulut.
"Hmmmm Baiklah" Ujar Arina dengan bahu yang mengangkat tanda setuju.
"Silahkan dinikmati hidangan-nya" Ujar pak presiden mempersilahkan.
"Baik pak"
"Terima kasih pak" Ujar mereka semua bersautan dan hening dengan hidangan di depan mereka sembari sedikit bercanda dan tawa riang.
'Padahal bapak Presiden seramah dan sebaik ini... Kenapa Arina harus berlebihan seperti itu' batin Husein.
"Ini ada sedikit hadiah dari saya untuk mengikat kita agar menjadi keluarga yang lebih baik" Ujar sang presiden kala sudah siap dengan hidangan di depan-nya.
Dengan kode tangan yang memerintah-kan, para pelayan segera bergegas memberikan satu buah amplop kedepan mereka masing-masing.
"Ini sebagai ganti rugi saya karna kejadian tempo hari" Ujar presiden.
"Walaupun ini tidak seberapa tapi mohon diterima" Tambahnya kembali.
Dengan wajah bingung mereka mengangguk pelan dan menerima amplop yang entah apa isinya itu.
"Silahkan dibuka sampai dirumah saja" Ujarnya kembali
"Ohh baik Pak" Ujar mereka dengan mengangguk pelan.
Pak presiden kini pamit terlebih dahulu karna ada urusan yang mendesak dan terpaksa meninggalkan mereka dengan berpesan untuk santai terlebih dahulu sembari menghabiskan hidangan mereka.
__ADS_1
Kini, mereka semua duduk kembali setelah memberi hormat dan menyantap hidangan mereka dengan pelan. Sementara itu Arina hanya terdiam tak ingin menyentuh kembali makanan-nya dengan mata yang terus memandang high heels putih yang ia kenakan. Ada bekas injakan sepatu disana.