
Usai pertemuan dengan pak presiden mereka semua memutuskan untuk berkumpul sebentar setelah lama tidak berjumpa kesalah satu cafe kopi favorit mereka.
Satu persatu mobil mereka meninggalkan area parkiran dalam sekejap hilang tanpa bekas. Kala Arina keluar dari rumah itu tak ada satu pun yang tersisa lagi.
'Aku akan terlambat pulang' notifikasi pesan masuk dari ponsel Arina dengan nama kontak Husein.
Arina hanya melihat pesan itu tanpa membalas sama sekali pesan dari Arina dan hendak pergi meninggalkan rumah presiden menuju kantor-nya. Arina tak lain adalah seorang wanita muda ekonomi kelas atas yang menjabat sebagai Dewan Perwakilan Rakyat. Sejauh ini Arina bersih tanpa noda dan skandal apapun.
Dirinya adalah seorang yang menganggap perkerjaan ini sebagai salah satu tak-tik dan rencana nakal-nya. Dia tak merasa begitu penting untuk terus berada di kursi Dewan tersebut. Arina mempunyai sangat banyak bisnis dan saham diperusahaan tempat lain.
Sementara Husein?. Dia adalah orang yang murni mencari harta dengan cara yang baik dia tak akan melakukan perkerjaan apapun hanya karna bosan atau ingin main-main seperti Arina. Sebab baginya, menghindar dari suatu lingkungan yang lebih banyak modarat-nya adalah hal yang baik. Apalagi negara yang mereka diami saat ini bukanlah negara yang murni dipimpin sesuai agama. Bahkan, sudah sangat jelas begitu banyak kedzoliman dan kebodohan yang terjadi di negara ini. Negara yang punya seribu cara untuk menutupi kasus-nya.
Karna-nya Husein tak akan pernah tergiur akan kekayaan dari hasil kerja para pemerintah. Dirinya yang sangat disenangi dan followers yang begitu banyak sebagai bukti alasan kuat bahwa dirinya tidak boleh asal mendukung atau dekat dengan para pemerintah sampai-sampai mengikuti salah satu partai politik. Ini tentu akan membuat semua followers-nya juga akan mengikuti dan bahkan membenarkan pilihan Husein.
Arina berjalan ke arah mobil miliknya dan siap meluncur ke kantor Dewan. Dalam beberapa bulan ke depan pemilihan presiden akan segera dilakukan. Sementara Arina yang tau bagaimana kotor-nya dunia politik menjadi sangat berhati-hati untuk menjalani hidup-nya bahkan pada sebotol aqua yang ditata rapi keatas meja para dewan. Para petinggi tau pasti seberapa banyak kekayaan yang dimiliki oleh Arina. Meski, mereka masih heran kenapa Arina tetap berkerja ditempat ini padahal pendapatan perbulan-nya jauh lebih banyak dari perkerjaan ini. Oleh karna itu banyak para petinggi didalam ruangan megah ini memperebutkan Arina untuk bergabung kedalam partai mereka dan mendukung penuh calon presiden pilihan mereka.
Tapi, siapa sangka Arina begitu gigih dan begitu sulit untuk didapatkan persetujuan-nya. Walaupun banyak dari mereka sudah menawari akan memberikan banyak uang dan janji yang begitu banyak dan bahkan janji yang diluar nalar sekalipun terucapkan, Arina belum menetapkan pilihannya untuk bergabung ke pihak mana meski para petinggi sudah memantau ada kemungkinan Arina akan memilih untuk bergabung kesalah satu partai.
__ADS_1
Walaupun Arina belum mengakui secara publik atau diatas kertas, pihak partai yang lain tetap menaruh curiga dan waspada pada Arina. Oleh karna itulah mengapa Arina menaruh rasa curiga yang amat besar pada salah satu partai yang berusaha melenyapkan dirinya saat di Osaka.
Kini, semua orang sudah duduk dikursi mereka masing-masing menghadap pemimpin forum yang akan membuka rapat hari ini.
Rapat?
Bahkan ini adalah satu-satunya tempat komedi berlangsung. Mata Arina menatap ke sekeliling ruangan, banyak diantara mereka hanya duduk, terdiam mengangguk dan bahkan tertidur. Sebab, bagi mereka yang selaku boneka sejak awal tak akan ada gunanya sama sekali untuk membuka lebar-lebar telinga karna segala apa yang mereka utarakan tak pernah didengar oleh sang nenek sihir yang kini sedang mengoceh bagaikan tawon didepan sana.
Sebab bila mereka bukan boneka pastinya mereka adalah orang baik yang tak dianggap, tak diijinkan untuk berbicara apapun untuk membela rakyat. Yah seperti inilah perkerjaan para Dewan disini. Sangat santai, komedian dan bergaji besar.
Sang nenek sihir ingin mengadakan tausiah dengan ustad-ustad yang berpengaruh dalam jangka waktu yang tepat untuk membuka calon pemilihan presiden agar berjalan dengan berkah katanya. Padahal, ingin mengambil kesempatan menarik para agamis masuk kedalam dunia politik mereka.
Arina yang merasa sedikit lelah langsung pergi menuju hotel bintang lima miliknya yang tak begitu jauh dari tempat dia berkerja saat ini.
Jam menunjukkan pukul lima sore, dia tak menyangka waktu begitu cepat berlalu padahal rasanya baru saja dia beraktivitas hari ini di luar rumah. Segera kala dia berada di Koridor tangannya langsung membuka kerudung yang kini melekat di kepala-nya. Gadis ini memang begini adanya sejak dahuku, dia tak begitu suka berhijab meski terkadang dia terpaksa mengenakan hijab atas perintah dan citra yang ingin dia bangun, terlebih saat ini dia diperistri oleh sang ustad yang akan siap menceramahi dirinya tiap waktu.
"Ahhh lelahnya" Ujarnya bergumam sendiri kala masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Alex?!" Arina terkejut kala melihat sang kekasih yang sudah ada di dalam kamar berdiri dengan mata yang menatap keluar jendela entah kapan datangnya
"Honey" Ujar Alex dengan wajah tersenyum dan berjalan mendekati Arina.
"Uhh my darling... I miss you" Ujar Arina kala sudah masuk kedalam pelukan Alex dan menciumi seluruh tubuhnya tanpa henti.
"I miss you to darling" Ujar Alex dengan tangan yang merapatkan tubuh Arina padanya dan mengecup beberapa kali lehernya yang jenjang.
"Kapan kamu datang ?" Tanya Arina melepas pelukan-nya
"10 menit yang lalu darling, lihat... Aku masih kelelahan karna baru sampai" Ujar Alex menjelaskan-nya pada Arina karna dia tau pasti Arina sedang bertanya-tanya kenapa tak menghubungi diri-nya.
"Serius?" Arina memastikan kembali
"Yess aku serius sayang" Ujar Alex kembali dengan tangan yang memegang bokong Arina kuat.
"Baiklah" Ujar Arina kembali dengan wajah tersenyum dengan mata yang menatap Alex.
__ADS_1