
"Sayangnya aku tak akan melepaskan-mu sampai kapanpun" Ucap Husein memandang Arina tajam
Husein mendekatkan bibirnya ke telinga Arina dan berkata "Kau akan terus disampingku sampai ajal menjemput-mu" Bisik Husein dan melepas tangan Arina.
Arina kaget Husein juga bisa berkata seperti itu kepada-nya. Sementara itu, Husein kembali membetulkan posisinya dan membiarkan Arina dengan rasa kaget-nya.
Husein tak habis pikir dalam waktu sekejap saja dia kini sudah berubah title menjadi seorang suami dari seorang wanita yang kini berada tepat dibelakangnya.
Ingatan-nya terpacu kembali pada petang tadi. Kala dia memasuki gerbang rumahnya yang telah kosong tak ada santri yang biasanya berkeliaran kesana kemari seperti biasa. Tapi, dirinya tidak berpikir jauh sampai suatu peristiwa yang berhasil membuat-nya tercengang.
Husein masuk kedalam rumah dengan Reyhan yang mengikuti dibelakang-nya. Kaki mereka terus menyusuri lantai putih dengan wajah sopan menunduk kebawah disertai koper di masing-masing tangan mereka.
"Husein" Panggil sang ayah menghentikan langkah Husein.
"Iya buya" Ucap Husein menghentikan langkah-nya dan mendekat kearah bugyaa sopan diikuti Reyhan dibelakangnya.
"Kenal-kan ini teman ayah, dulu kita pernah kerumah beliau. Tapi, waktu itu kamu masih kecil, jadi kamu seperti-nya gak ingat lagi" Jelas ayah Husein menunjuk kepada pasangan paruh baya yang duduk tepat didepan-nya.
"Oh iya buya.. Pak buk" Ucap Husein sopan dan menyalami mereka bergantian kemudian kembali duduk.
"Sebenarnya ada hal penting yang ingin ayah sampaikan kepadamu Husein" Jelas buya pada Husein tampak serius
Melihat sang ayah yang tampak serius, Husein mencoba fokus dengan mendengarkan apa yang akan ayah-nya sampaikan " Apa itu buya? " Tanya-nya sopan.
"Buya sama umi sebelum-nya tak pernah menyinggung masalah ini dengan-mu sama sekali. Meski, ini terasa lebih cepat dari yang kamu perkirakan. Buya sama umi sudah sepakat dan setuju dan ingin kamu setuju juga" Jelas sang ayah mencoba membasa-basi terlebih dahulu sebelum masuk ke inti.
"Iya, masalah apa itu Buya umi" Husein menjadi lebih penasaran.
"Teman Buya yang kamu lihat sekarang ingin Buya jadikan sebagai ayah dan ibu mertua-mu" Ucap sang ayah menatap mantap kearah Husein
Husein yang mendengar penuturan itu langsung memandang lekat sang ayah. Pasalnya selama ini sang ayah tak pernah mengungkit masalah yang berhubungan pada sebuah pernikahan.
"Maksudnya Buya? " Tanya Husein memastikan
__ADS_1
"Buya ingin kamu dapat membimbing putri teman ayah menjadi wanita sholehah, anak yang berbakti kepada orang tua-nya serta ibu yang baik dari anak-anakmu kelak" Ucap sang ayah kembali menjelaskan dengan nada tegas.
Seketika Husein terpaku membisu mendengar penuturan sang ayah, dirinya tak percaya atas apa yang barusan dia dengar. Matanya menatap dengan bingung ke sekeliling isi rumah membisu.
"Tapi Buya, Husein belum kenal sama sekali dengan wanita itu" Ucap Husein mencoba tenang dengan suara lembut.
"Kamu sudah kenal dia" Ucap seseorang tiba-tiba muncul dari balik tembok dengan setelan hitam pekat di tubuh-nya.
"John? " Husein menatap John dan berbalik menatap Reyhan disamping-nya secara bergantian bingung.
"Kamu sudah bertemu dengan-nya di Osaka" Jawab John
Husein kembali mengingat-ingat siapa yang John maksud tapi hanya mengarah kepada satu wanita.
Mata Husein memandang kearah John kembali tak percaya atas dugaan-nya.
"Iya... Dia adalah Arina" Ucap John kembali membuyarkan lamunan Husein.
Dengan tatapan tak percaya dan perasaan yang sangat terkejut, Husein segera menatap sang ayah dan ibu-nya secara bergantian tak percaya. Tapi, tak ada sinyal apapun selain anggukan tanda bahwa semua yang terjadi memang benar adanya.
"Buya sama umi ingin Husein menikahi Arina? " Tanya Husein dengan suara yang sedikit bergetar.
"Iya Husein, umi harap kamu juga setuju ya nak" Jawab sang umi yang seketika mendapat tatapan tak percaya dari Husein.
"Buya sama umi sudah kenal bagaimana Arina? " Tanya Husein kembali.
"Buya sama umi sudah tau segala hal tentang Arina jauh dari apa yang hanya kamu ketahui sekarang" Jawab sang ayah dengan tangan yang memegang bahu Husein
Husein semakin terkejut dengan jawaban sanga ayah yang seolah-olah adalah sebuah kalimat pendorong untuk dirinya setuju menikahi Arina. Husein bingung bukan main, bagaimana bisa sang ayah dan ibu-nya bisa meminta dirinya menikahi seorang wanita yang punya gaya hidup bebas dan tidak beradab seperti Arina untuk dia nikahi.
Husein yang selama ini terpelihara dari gaya hidup bebas dan terus menjalani kehidupan agamis tiba-tiba diminta untuk menikahi wanita yang sangat bertentangan jauh dengannya menjadi sedikit syok, terlebih yang meminta adalah sang ayah dan ibu.
Dua sepasang manusia yang selama ini menjaga-nya dan tak pernah memberikan sebuah pilihan yang akan membuatnya terpuruk dan jauh dari agama.
__ADS_1
Melihat Husein yang terdiam tanpa memberikan seuntai kata untuk jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan pada-nya. Ayah Arina langsung memecah keheningan dengan sebuah kata
"Maaf nak Husein... " Seketika seisi ruangan menatap pada pemilik suara
"Om tidak meminta kamu untuk menikahi anak om. Om cuman meminta pada ayah dan ibu kamu untuk menjadikan Arina sebagai anak agar terpelihara akhlaknya di pondok pesantren inj" Ucap ayah Arina
"Om tau nak Husein pasti keberatan menikahi Arina karna sudah melihat sendiri bagaimana pri... " Ucapan ayah Arina terhenti
"Aku akan bersedia menikahi anak om Arina" Putus Husein dengan suara mantap dengan menatap sang ayah dan ibu, sontak seisi ruangan terkejut memandang Husein
Lama Husein berpikir akhirnya kini ia bersedia, sejauh ini dia tak pernah membantah apalagi tidak melakukan seluruh permintaan orang tua-nya. Sejak kecil orang tua adalah prioritas utama bagi Husein dan tak ada permintaan yang memberikan efek kerugian padanya.
" Kamu yakin ingin menikahi anak saya nak? " Tanya ibu Arina menatap Husein tak percaya dengan tatapan sendu dan bahagia.
"Iya buk" Ucap Husein mantap
"Saya yakin... Apapun yang orang tua saya minta tak akan memberikan kerugian sama sekali pada saya" Jawab Husein memberi alasan
"Alhamdulillah" Sorak mereka bahagia.
"Terima kasih nak" Ucap orang tua Husein ingin meraih tangan-nya
"Jangan begitu pak, buk. Saya akan menjadi menantu kalian, kalian tak perlu begini" Ucap Husein menghentikan tangan itu.
Orang tua Arina senang bukan main mendapatkan menantu yang tak ada tandingan-nya ini, baik akhlak dan segala tentang Husein adalah prilaku yang mencerminkan sosok pria beriman yang terpelihara segala hal tentang-nya.
"Pernikahan akan kita adakan setelah sholat maghrib saja" Ucap ayah Husein
" Hari ini juga Buya? Setelah maghrib? "
Husein semakin terkejut dengan waktu pernikahan yang sangat mendadak ini.
"Iya nak Husein, Arina tentu tidak tau sama sekali atas pernikahan ini. Jadi, pernikahan harus dilakukan dengan cepat" Jelas ayah Arina.
__ADS_1
Husein memandang ayah ibunya tak percaya atas situasi yang begitu mengejutkannya ini. Tapi, sang ayah dan ibu malah mengangguk mantap memberikan arti bahwa ini adalah sebuah pilihan yang baik.
Tak perlu waktu lama tampak dari sudut mata Husein, datang seseorang masuk dari pintu kamar mendorong kursi roda dengan Arina yang duduk terlelap diatas-nya. Husein hanya memandang Arina dengan diam tanpa berpikir sama sekali.