
Arina mendegar ada suara pintu terbuka dan melihat siapa yang datang. Dia tertegun tidak percaya ketika melihat siapa yang masuk kedalam kamar.
"Husein?! " Mata Arina terbelalak melihat Husein yang datang. Tak percaya dengan yang dia lihat.
"Kamu makan dulu" Ucap Husein berlalu ke sofa dengan sebuah nampan berisi nasi. Melewati Arina yang masih terpaku menatap dirinya.
"Kamu kenapa ada disini? " Tanya Arina kemungkinan besar bukan dia orang yang menjadi suaminya. Dia dan kedua orang tuanya tak saling kenal apalagi punya hubungan yang bisa meyakinkan Husein untuk menikahi dirinya.
"Husein!!! " Arina bertanya dengan tidak sabaran
"Ini kamar aku" Ucap Husein sembari menata piring dan air minum keatas meja.
Arina tertawa kecut mendengar jawaban Husein, tak mungkin Husein adalah suaminya
"Aku juga yang nikahin kamu... Kamu sekarang udah jadi istri aku, seharusnya kamu gak manggil aku Husein lagi mulai sekarang" Ucap Husein memandang Arina.
Arina memandang kedua mata Husein lekat-lekat ada kejujuran terpancar dari matanya, untaian kata yang diucapkan Husein mampu membuatnya kalah telak.
Arina yang masih linglung langsung melangkah dengan susah payah ke arah Husein yang sudah duduk disofa.
"Kamu bercanda kan? Gak mungkin kamu nikahin aku? Kemarin aku juga udah nanya langsung tapi kan kamu juga memang gak mau" Tanya Arina bertubi-tubi dengan air mata yang sudah mengalir
Husein menghela nafas panjang sebelum berbicara "Aku gak bercanda Arina, kamu sekarang dirumah aku, kita sudah menikah maghrib tadi"
Arina tertawa kecut seketika dia menjatuhkan dirinya keatas lantai tak percaya, kelar sudah impiannya bersama Alex. Air matanya menetes deras seketika, suara tangis-nya memenuhi isi ruangan yang luas itu. Husein juga sama pilu-nya. Walaupun, dia tidak memiliki seseorang didalam hatinya. Rasa sakit itu pasti ada, dia tak memandang rendah Arina. Tapi, Husein sangat ketat menjaga diri dan tingkah lakunya selama ini. Dia bahkan tak pernah bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya sejak kecil. Arina adalah jodoh yang sipat-nya terbalik dengan dirinya.
__ADS_1
Husein tetap memilih untuk mendengarkan perintah Buya dan Umi-nya dan menganggap bahwa apapun perintah mereka, itu adalah pilihan yang terbaik yang telah Allah rencanakan untuk-nya. Meski saat ini tak ada hikmah yang bisa dia ambil sama sekali atas pernikahannya dengan Arina. Satu yang pasti, Husein berkomitmen hanya akan menikah sekali seumur hidup dengan satu orang saja. Itu akan tetap berlaku walaupun saat ini dia tidak mencintai wanita yang kini menjadi istrinya.
"T-tapi bagaimana bisa Husein? Kamu udah liat sendiri gimana sip.. "
"Aku udah liat gimana kamu, sipatmu, tingkah lakumu yang tidak sopan, cara bicaramu yang kurang ajar... Aku sudah tau semua" Putus Husein.
"Aku juga tau kamu tak menyukai pria..." Husein menatap lekat-lekat mata Arina yang kini terduduk diatas lantai
Arina terkejut mendengar kalimat terakhir dari Husein dan hanya menatapnya.
'Jika dia tau, kenapa masih mau menikahiku' batin Arina.
Arina tak ingin bertanya, karna ini berhubungan dengan privasi-nya dan seseorang yang iya sayangi. Melihat Arina yang hanya terdiam bingung kearahnya Husein kembali menyambungkan kalimatnya.
"Aku tau Alex adalah wanita dan kamu menyukai sesama jenis, karna itu semua pengawal-mu adalah transgender" Ucap Husein tanpa memandang Arina
Arina beranjak dari duduknya mendekati Husein dan menyeka air matanya kasar "Benar Husein, aku kaum lgbt, aku mendukung kaum itu karna aku juga salah satu dari mereka. Harusnya kau merasa jijik dan tak ingin menikahi ku. Katakan padaku apa yang ayahku berikan padamu sampai-sampai kau mau menikahi-ku hah?"
Husein menatap tajam tak kalah saing dengan Arina. "Sadarlah atau Allah akan melaknat-mu"
"Ya ya ya asal kamu tau saja pak ustad saya sudah siap untuk berpesta didalam nereka itu" Ucap Arina bergidik ngeri
"Astaghfirullah Arina" Husein tak percaya kata itu bisa diucapkan oleh Arina. Biadab, itulah kata yang pantas untuk menggambarkan prilakunya.
"Jawab aku... Kamu dibayar apa sampai-sampai rela menikahi wanita sepetiku? " Arina kembali menyeringai
__ADS_1
"Orang tuamu tak akan bisa membeli apapun dari diriku" Ucap Husein tegas lantang dengan tatapan tajam dan berlalu meninggalkan Arina.
Melihat Husein yang beranjak ke kasur. Arina jadi semakin semangat menghina Husein. Arina membuka gamis yang ia kenakan. Hingga, tampaklah tubuh molek itu yang hanya tertutup pakaian dalam bercorak hitam emas dengan renda yang cantik.
Arina naik keatas kasur dan masuk ke selimut yang sama dengan Husein. Dengan cepat tangan Arina memeluk erat Husein dari belakang dan merapatkan dada-nya ke punggung Husein.
"Atau kau menginginkan tubuh-ku? " Ucap Arina dengan sedikit mengejek ditelinga Husein.
"Astaghfirullah Arinaaaa" Husein berteriak dan berbalik dengan tangan yang menggenggam tangan yang sudah memeluk-nya itu, tepat keatas kepala Arina.
Husein terkejut melihat penampilan Arina yang sangat tidak pantas itu.
Husein langsung menatap kearah lain, kala melihat dada Arina yang terpampang jelas dimatanya. Bagaimana bisa Arina setidak malu itu kepada seorang pria.
Arina tertawa pelan melihat Husein yang terkejut ketika memandangnya. Dengan gerakan yang merayu, Arina menyentuh dada bidang Husein dan memegang tekuk kepala Husein agar kembali memandang-nya.
"Kenapa?... Kamu jangan sok suci" Hina Arina
Husein langsung menepis tangan Arina dan menautkan kedua tangan itu tepat berada diatas kepala Arina. Hingga, kedua dada putih bersih itu semakin tampak jelas dipandang Husein.
"Kamu bisa mencicipi-ku sekarang dan menceraikan-ku besok" Ucap Arina kala melihat Husein yang tertegun melihat tubuh molek-nya
Dengan tatapan tidak percaya atas ucapan yang dilontarkan pada-nya, Husein memejamkan matanya kasar dan berkata dengan gaya bahasa yang sama digunakan oleh Arina.
"Sayangnya aku tak akan melepaskan-mu sampai kapanpun" Ucap Husein memandang Arina tajam
__ADS_1
Husein mendekatkan bibirnya ke telinga Arina dan berkata "kau akan terus disampingku sampai ajal menjemput-mu" Bisik Husein dan melepas tangan Arina.
Arina kaget Husein juga bisa berkata seperti itu kepada-nya. Sementara itu, Husein kembali membetulkan posisinya dan membiarkan Arina dengan rasa kaget-nya.