
Seketika Husein terdiam dan langsung memandang punggung Arina yang membelakangi dirinya.
Husein melangkah mendekati Arina yang kini masih terdiam menunduk menatap lantai dengan tangan yang masih menggenggam sarung menutupi dada-nya.
"Arina" Tegur Husein jadi serba salah
Husein makin tersentak kala mendengar suara tangis yang keluar dari balik wajah Arina. Segera, Husein duduk dilantai menghadap Arina. Tangan Husein berniat menyibakkan rambut Arina yang menutupi wajahnya tapi malah ditepis keras oleh Arina.
"Jangan sentuh aku" Tepis Arina
"Udah jam enam Arina, sebentar lagi mau maghrib kamu siap-siap ya. Abis pulang dari masjid kita berangkat" Ujar Husein seketika
"Kamu gak perlu bujuk aku lagi pake iming-iming gituan" Jawab Arina menatap Husein yang kini duduk di lantai menghadap-nya
"Aku serius Arina, aku bakal bawa kamu keluar" Jawab Husein kembali meyakinkan
"Udah deh Husein gak perlu bujuk aku sama omong kosong kayak gitu. Dari awal sebenarnya kamu gak bakal bisa ngajak aku keluar kan? " Arina memberontak kesal
"Enggak Arina" Jawab Husein
"Enggak apanya jelas-jelas umi tadi bilang kamu juga setuju buat ngurung aku disini" Kesal Arina mengetahui ayahnya yang sudah begitu keterlaluan pada-nya.
"Ini baju kamu udah sampe, kita keluar nanti malam" Ucap Husein kembali dengan tangan yang meletakkan kepada Arina beberapa bungkus baju yang tadi Arina pesan.
"Gak perlu, aku udah gak pengen" Ujar Arina menggeser bungkusan baju yang diberikan Husein hingga berhamburan keatas lantai.
"Arinaaa" Bujuk Husein kembali pelan.
"Aku yang bodoh, harusnya gak berharap bisa keluar dari sini" Ungkap Arina dan bergeser menjauhi Husein
"Tapi aku serius mau ajak kamu Arina" Jawab Husein kembali
"Caranya? " Tanya Arina kesal
"Aku bakal minta ijin ke ayah kamu" Jawab Husein setelah mendengus pasrah
__ADS_1
"Ijin ayah aku? Kamu kira bakal dia ijinin? Mimpi kamu Husein..." Ujar Arina semakin kesal
"Aku udah gak pengen keluar lagi, kamu keluar aja dari sini" Perintah Arina tak ingin melihat wajah Husein.
Dengan berat hati Husein akhirnya keluar dari pintu kamar dengan mata yang masih menatap Arina yang sama sekali tak ingin memandang-nya.
Segera Arina membuka layar handphone-nya dan menatap layar yang kini sudah tertera nomor telepon dengan nama kontak ayah mertua. Tanpa pikir panjang Husein langsung menghubungi orang seberang.
"Assalamu'alaikum Husein " Suara dari seberang
"Waalaikum salam ayah" Jawab Husein
"Ada apa Husein? Tumben kamu nelpon" Tanya ayah Arina pada Husein dengan ramah.
"Ayah... Husein ingin meminta ijin dari ayah apa boleh? " Tanya Husein
"Boleh, apa itu? " Tanya ayah Arina dari seberang
"Husein pengen ngajak Arina makan diluar, apa boleh Arina dibawa keluar?" Tanya Husein lembut tapi sempat tak terdengar suara dari sana.
"Soal itu... Ayah ragu ngijinin kamu nak, kamu tau kan gimana kejadian kemarin Arina berontak sama ayah gak setuju nikah sama kamu sampek dia kabur" Jelas ayah Arina.
Lama Husein mengimbangi dia tau ini akan dikatakan oleh ayah mertuanya.
"Iya Husein tau ayah, percaya Husein kali ini. Kalau seandainya memang Arina tetap pengen kabur, Husein akan patuhi seluruh perintah ayah" Ujar Husein percaya diri
"Kamu yakin nak? Arina anaknya keras kepala, kamu belum paham dia" Kekeh ayah Arina
"Kali ini percaya Husein yah" Husein terus saja memohon dan meminta dengan berbagai cara agar ayah mertuanya mengijinkan Arina untuk keluar bersamanya mengingat bagaimana tadi rasa kecewa Arina terhadapnya. Alhasil, jerih payah Husein terbayarkan, ayah Arina mengijinkan Husein membawa Arina dengan syarat akan dikawal dari jauh tanpa sepengetahuan Arina. Husein sama sekali tidak keberatan, menurutnya memberitahu kabar ini pada Arina lebih penting, dia akan bergegas pulang setelah sholat isya.
Sementara itu, Arina tengah sibuk mencari satu paket yang dia tunggu dari tadi.
"Ketemu" Ungkap-nya kala melihat sebuah bungkusan dengan nama toko sexsi girl. Arina tersenyum tajam kemudian membuka pelan bungkusan itu.
Arina bersenandung pelan dengan wajah yang tak bisa diartikan. Perlahan tangannya kini mengenakan lingeri berwarna hitam pendek dengan motif yang menopang kedua dada, belakang punggung yang terekspos sempurna dan renda yang cantik mengelilingi paha-nya. Kini, Arina makin cantik sekaligus seksi dengan lingeri yang dia kenakan saat ini.
__ADS_1
Ceklek suara pintu kamar dibuka dari luar, mendengar ada yang akan masuk segera Arina berjalan dengan sedikit berlari keatas kasur masuk kedalam selimut membelakangi pintu yang terletak tepat di samping kasur.
Langkah kaki itu semakin mendekati Arina. Hingga, langkah itu berhenti kala sudah tepat berdiri dihadapan Arina. Arina terus berpura-pura tidur tanpa tau siapa yang datang.
"Arina kamu udah tidur? " Ucap Husein memegang lengan Arina dengan sedikit menggoyangkan-nya
"Hmmm" Arina perlahan membuka matanya setelah beberapa kali di goyangkan Husein.
"Kenapa? " Tanya Arina menatap Husein yang berjongkok di lantai menghadap-nya
"Kamu siap-siap ya, kita keluar abis kamu siap" Ujar Husein lembut pada Arina
Arina yang mendengar kalimat itu terucap kembali langsung menjadi kesal dan bergerak membelakangi Husein.
Melihat Arina yang berperilaku seperti itu Husein segera membujuk Arina kembali "Aku gak becanda Arina, ayah kamu juga udah ngijinin" Tutur Husein.
Mendengar penuturan Husein, Arina segera berbalik memandang Husein tak percaya dengan mata yang membelakangi.
"Kamu serius? Ayah aku ngijinin aku keluar? " Ulang Arina tak percaya.
"Iya Arina" Husein mengangguk pelan meyakinkan
"Serius? " Ucap Arina tak percaya bangkit dari tidurnya dan duduk dengan mata yang masih menatap Husein.
"Iya Arina aku serius" Ucap Husein tersenyum
Seketika wajah Arina senyum mengambang "Makasihhhh Husein" Arina merangkul Husein kedalam pelukan-nya merasa senang.
Husein terkejut akan perubahan suasana hati Arina yang begitu cepat berubah-ubah. Meski begitu ini bukan suatu bencana, melihat Arina tidak lagi marah membuat Husein juga ikut senang dan membalas rangkulan Arina. Arina memeluk erat Husein dengan posisi Husein yang masih duduk dilantai. Kini, Husein baru menyadari kala merasakan pipi-nya yang menyentuh dada mulus Arina tanpa penghalang kain dan menatap paha Arina yang ternyata sudah memakai baju yang sangat erotis.
"Aku siap-siap dulu ya" Ujar Arina melepas pelukan-nya.
"Mau aku bantuin biar cepat? " Tawar Husein
"Boleh" Jawab Arina tersenyum manis.
__ADS_1