
Pagi hari itu semua sudah berada di ruang tamu berkumpul karna Arina ingin berbicara sebentar. Arina kini duduk dengan menggunakan abaya hitam yang sangat megah dan cantik yang dibarengi dengan hijab hitam dan make up natural diwajahnya. Wajahnya yang begitu cantik meski dalam balutan jilbab tak berkurang sedikitpun. Peristiwa semalam membuat mereka masih bergidik ngeri ketika mengetahui ternyata Arina bisa senekat dan segila itu dalam bertindak.
Ketika semua sudah berkumpul di ruangan tamu, Arina mulai berbicara dengan wajah yang datar.
"Sebelumnya maaf meski ini sangat mendadak bagi kalian. Tapi, saya tidak bisa berlama-lama di Osaka, sedangkan kalian sama sekali tidak akan aman berada disini tanpa perlindungan kami. Mau tidak mau kalian juga harus berangkat pulang bersama kami" Ucap Arina.
Dua pengawal yang ada di ruangan itu segera memberikan tiket keatas meja tepat berada didepan mereka masing-masing.
"Yang ada didepan kalian itu adalah tiket keberangkatan kalian" Ucap Arina dan mereka mengambil tiket yang sudah diberikan.
"Tiket pesawat yang dipesan berbeda-beda, untuk menjaga keamanan kalian. Hanya akan ada dua orang yang sama didalam satu pesawat dan jam penerbangan yang berbeda"
"Ada pertanyaan? "
"Aku" Ucap Reyhan
Arina mengangguk dan mempersilahkan Reyhan untuk bertanya.
"Bukankah lebih berbahaya jika kami dipisahkan? " Tanya-nya.
"Mereka tak akan meledakkan 4 pesawat sekaligus dalam satu waktu" Ucap Arina datar
"Satu lagi, setelah kita keluar dari pintu ini, kita sama sekali tidak saling mengenal. Atas peristiwa yang terjadi selama berada di Osaka anggap semua tidak pernah terjadi, kita tak akan pernah bertemu kembali meski dinegara yang sama" Ucap Arina tegas
__ADS_1
Mereka semua menunduk sopan tanpa tanya. John tiba-tiba datang dari arah belakang dengan sepatu putih ditangannya. Arina sama sekali tak terusik atas kedatangan John. Sementara, mereka semua dengan pandangan yang tak berani menatap Arina dan John secara bergantian.
John berjongkok di samping Arina dan membuka hak yang ia kenakan.
"Lukamu belum sembuh total kenakan saja sepatu yang lebih nyaman" Ucapnya sembari melepas hak itu dari kaki Arina.
Arina hanya terdiam tanpa kata tapi tidak menolak sama sekali atas perlakuan John. Dengan telaten John memasang-kan kaos kaki dan sepatu ke kaki Arina.
"Bentuk permintaan maaf? " Ucap Arina sembari mengangkat dagu John dengan ujung sepatu-nya.
'Astaghfirullah' batin Husein menyebut ketika melihat tingkah yang tak sopan itu didepan matanya.
"Iya maafkan aku" Ucap John dengan kepala yang terangkat.
"Kalau begitu, saya pergi lebih dulu" Ucap Arina dan berlalu meninggalkan mereka semua.
Arina berlalu dengan kedua pengawal dibelakangnya. Sementara, John akan berangkat setelah mereka semua siap.
"Apa saja agenda ku hari ini" Tanya Arina kepada pengawal-nya
"Hari ini nona hanya perlu minum teh bersama presiden dan berangkat ke Aceh untuk bertemu orang tua nona" Jelasnya
"Aceh? " Langkah Arina terhenti mendengar kota itu disebutkan
__ADS_1
"Iya nona, orang tua anda saat ini berada di Aceh"
"Ohh baiklah" Ucap Arina dan melangkah pelan.
Tak perlu menunggu lama kini Arina sudah sampai di bandara internasional, temu janji dengan presiden diundur karna ada hal mendadak yang tak bisa dibatalkan oleh pak presiden. Alhasil, Arina kembali sebentar ke rumahnya dan beristirahat dua jam sebelum dia akan pergi ke Aceh.
Tak lupa dia menyempatkan diri untuk pergi kerumah sakit memeriksakan lukanya sebelum ke Aceh. Arina yang awalnya sudah merasa baikan. Setelah pemeriksaan oleh dokter malah membuatnya lebih sakit karna ada sebagian sisi yang jahitan nya terbuka dan harus dijahit kembali.
Karna tak tahan melangkahkan kaki, Arina akhirnya didorong menggunakan kursi roda dan membawa satu untuknya dipakai nanti.
Husein dan Reyhan sudah sampai terlebih dahulu ke Indonesia. Teman-teman Husein mengatur kembali rencana untuk pergi bermain-main. Dikarenakan Husein yang secara tiba-tiba disuruh pulang kerumah, akhirnya mereka semua memutuskan akan menyusul ke rumah Husein dan memilih tempat hunting disana nanti dan akan pulang bersama-sama ke Jakarta. Kini mereka berdua sudah menuju rumah Husein.
Arina telah sampai di kota besar Aceh, dia menggunakan jet pribadi agar tidak butuh waktu lama agar sampai ke lokasi. Dari awal naik sampai tiba di tempat, Arina tertidur sepanjang jalan karna lelah dan menahan sakit yang saat ini dia rasakan. Mata Arina terbuka lebar ketika mendengar suara ribut-ribut.
Matanya yang cantik menatap seluruh isi ruangan yang tampak asing baginya. Iya tak ingat apa-apa setelah dirinya dijahit dirumah sakit, iya hanya ingat seorang dokter menyuntikkan obat bius padanya untuk menahan sakit dan tak mengingat apa-apa lagi.
"Saya terima nikahnya Arina Putri Sahara Binti Muhammad Padil dengan mahar tersebut dibayar tunai"
Sontak Arina terkejut bukan main seketika mendengar namanya disebutkan oleh suara orang yang tak ia kenal itu.
"Alhamdulilah" Suara orang teriak bersautan dari luar kamar.
Arina yang masih
__ADS_1