
Pukul tengah tujuh pagi Husein selesai dengan aktifitas hariannya dimulai mengaji sebelum adzan subuh dan mulai mengaji kitab kuning bersama kakak laki-lakinya dan buya. Tak ada sama sekali anak-anak santri yang berkeliaran saat ini. Sebab, sebelum ayah Arina datang kerumah buya yang posisinya adalah pondok pesantren. Ayah Arina terlebih dahulu membuat janji temu sebelum datang dan meminta seluruh santri dibubarkan beberapa waktu saja.
Meski, awalnya buya sempat bingung dan tidak setuju. Tapi, setelah beberapa lama membujuk akhirnya buya setuju. Karna, ayah Arina adalah orang yang berpengaruh bagi kedaulatan dan pemerintahan di Indonesia membuat buya juga setuju. Agar, tak ada orang luar yang tau temu janji diantara mereka berdua. Buya sangat menjaga diri untuk tidak bergabung dan terlibat dalam dunia politik. Oleh karna-nya buya setuju dan meliburkan santri selama tiga hari lamanya.
Teman Husein yang berencana akan datang tempo hari terpaksa dia batalkan dan tidak bisa ikut serta dalam waktu yang dekat. Reyhan juga akhirnya pulang kembali ke Jakarta melihat situasi Husein saat ini. Husein juga berpesan kepada Reyhan agar merahasiakan seluruh kejadian pada hari ini dan fakta bahwa dirinya telah menikah termasuk kepada teman-temannya.
Husein keluar dari masjid menuju kamarnya untuk melihat keadaan Arina.
Husein melangkah pelan dan meletakkan al-quran beserta kitab kuning keatas meja sebelum menuju keranjang memeriksa keadaan Arina.
Arina masih tertidur dengan warna wajah yang memerah seperti tomat. Segera Husein memegang kening Arina dan merasakan suhu yang begitu panas, Arina demam.
Tak perlu pikir panjang Husein langsung bergegas kedapur untuk mengambil air hangat dengan sebuah handuk didalamnya.
"Kenapa bawa itu nak? " Tanya umi ketika melihat Husein
"Arina demam umi" Jawab Husein
"Oalah... Parah nak? " Tanya umi kembali
"Lumayan umi"
"Ya udah kamu kompres dulu, umi bikin bubur dulu buat Arina ya" Ucap umi dan di anggukan oleh Husein kemudian berlalu meninggalkan umi didapur.
Dengan ceketan Husein mengompres kepala Arina dengan air hangat yang dia bawa tadi. Tampak handuk putih itu langsung berwarna merah bekas darah dari rambut Arina karna kejadian tadi malam. Alhasil, Husein akhirnya membersihkan wajah Arina dengan air yang rencananya dia gunakan untuk mengompres Arina. Meski Husein terkadang merasa sedikit risih saat menyentuh Arina. Pasalnya dia sama sekali tak pernah menyentuh wanita. Bahkan, hanya sekedar salaman dengan kakak ipar perempuan istri dari saudara kandung-nya sendiri, apalagi sampai menyentuh seperti sekarang ini.
Dengan perasaan yang gugup dan hati bergetar Husein perlahan membersihkan seluruh tubuh Arina dengan handuk yang ada di tangannya. Meski Arina sudah menjadi istri sah-nya tetap saja Husein masih merasa malu dan menyebut kala melihat tubuh Arina.
__ADS_1
Tangan Husein kini mulai membersihkan leher dan lengan Arina yang seputih susu, matanya tak bisa lepas kala melihat tubuh cantik milik Arina. Husein menelan air ludahnya ketika melihat dua gumpalan di tubuh Arina yang bersembunyi dari balik kain sarung yang ia kenakan sebagai penutup.
"Kamu ngapain?" Tanya Arina ketika melihat Husein yang memandangi dirinya
Sontak Husein kaget melihat Arina yang sudah terbangun lebih tepatnya dia terciduk telah melihat Arina dengan pandangan yang memalukan seperti yang dia lakukan barusan. Husein langsung mundur menjauh dari Arina dengan kepala menunduk.
"Tidak ada, tadi kamu demam jadi aku kompres" Jawab Husein dengan gugup
Arina hanya diam tak memperhatikan wajah Husein yang menahan malu. Tangannya memegangi dahinya memang hangat walaupun tidak begitu parah seperti sebelumnya
Dengan sigap Husein membantu Arina untuk duduk dan meletakkan beberapa bantal dibelakang punggung Arina.
Arina yang melihat dirinya sudah lebih bersih dari sebelumnya langsung memandangi Husein yang masih memegang handuk kecil berwarna putih yang sudah berubah warna.
"Kamu yang bersihin badan aku barusan? " Tanya Arina
"Memangnya aku ada nanya kamu ngapa ngapain aku aja? "
"Eh enggak sih" Husein kikuk
"Jangan-jangan kamu udah macam-macam sama aku ya? " Selidik Arina mencoba melihat ekspresi Husein
"Ehh enggak kok Arina... Aku cuman bersihin badan kamu aja" Jelas Husein membela diri dengan mata polos menatap Arina
"Ya udah" Jawab Arina ketus ketika mendapati mata polos dari Husein.
Arina memejamkan kepala-nya merasakan ngilu yang masih begitu sakit atas kejadian tadi malam luka jahitan itu malah semakin parah. Hingga, membuat Arina sangat susah bergerak, luka di dada, lengan, perut dan ************-nya berdenyut tanpa henti. Ini sudah ketiga kali-nya luka-luka itu dijahit kembali setelah berulang kali terbuka.
__ADS_1
Ditambah kejadian tadi malam dimana dirinya terbanting dan berulang kali terguling beberapa meter dengan mobil yang ia kenakan membuat tubuhnya semakin remuk dan tidak bisa digerakkan. Alhasil, kali ini pasti tidak akan bisa sembuh dalam jangka waktu yang cepat.
Arina mendesah kecil mengingat rentetan kejadian beberapa hari ini yang sangat membuat diri-nya begitu lelah. Ditambah dia yang kini tinggal dengan seorang pria yang entah kenapa bisa merubah gelar gadis-nya menjadi seorang istri. Ayah yang biasanya sangat lembut pada-nya juga malah berubah sikap menjadi dingin dan kasar pada-nya. Arina hanya bisa menahan sesak didada-nya kala mendapat ancaman tentang organisasi-nya.
Dia tak masalah harta ayah-nya akan jatuh ke tangan siapa saja karna dia juga mempunyai sejumlah perusahaan didalam dan luar negara dengan pendapatan yang tinggi. Meski, jika dibandingkan dengan pendapatan yang dicapai ayah-nya jauh lebih besar dari-nya.
Organisasi yang sudah dia bangun dari dahulu sejak sekarang tak bisa bubar begitu saja hanya karna sebuah ikatan yang menjijikan ini. Terlebih jika organisasi ini terekspos ke awak media maka akan begitu banyak konsekuensi yang akan ditanggung. Mau tak mau Arina hanya bisa diam meski jiwanya ingin membakar seluruh bumi ini.
Entah kenapa Husein bisa-bisanya menjadi kunci dari keselamatan organisasi miliknya yang padahal sudah dia tutup rapat-rapat agar tak ada yang mengetahui termasuk ayah-nya sendiri. Arina langsung memojokkan segala kemungkinan dan kecurigaan pada john seorang. Sebab, lelaki itu tak pernah lepas dari sisi-nya. Meski, sejauh ini dia selalu diam tanpa kata melihat segala perlakuan dan seluruh fakta yang dia ketahui tentang Arina.
Arina membuka mata-nya setelah lelah dengan isi pikiran-nya dan memandang Husein yang juga ternyata tengah melihat kearah-nya.
"Liat apa kamu?" Tanya Arina sangar risih melihat Husein yang memandang-nya entah sejak kapan
"Enggak ada" Jawab Husein dengan mata satu dan suara lembut-nya.
Terdengar suara pintu kamar diketuk pelan dari luar dengan suara lembut yang memanggil dari balik pintu.
"Nak.... " Ketuk-nya
"Iya umi, sebentar" Ucap Husein dan bergegas berjalan kearah pintu
Tampaklah seorang wanita paruh baya dengan wajah yang tenang muncul dari balik pintu, jilbab-nya yang panjang membuat dirinya semakin tampak seperti wanita terhormat. Wanita itu berjalan kedekat Arina dengan sebuah nampan berisi segelas susu putih dan bubur kacang yang telah dia buat barusan dan duduk dikursi yang tadi Husein duduki tepat disebelah Arina.
"Bagaimana keadaan-mu sekarang nak, tadi kata Husein kamu demam" Ucapnya basa-basi mencoba berbicara dengan ramah
"Gak masalah, ibu gak perlu khawatir" Jawab Arina ketus datar tanpa memandang ibu-nya Husein yang lebih tepatnya adalah ibu mertuanya
__ADS_1
Ibu Husein hanya tersenyum mendengar tutur kata dari Arina yang mungkin masih belum bisa menerima keadaannya saat ini.