Diperistri Dalam 10 Menit

Diperistri Dalam 10 Menit
Bab 21 Diluar


__ADS_3

Kurang lebih 15 menit akhirnya Arina selesai dengan pakaian-nya dibantu Husein.


"Sudah? " Tanya Husein mengancingkan gamis yang dikenakan Arina.


"Sudah" Jawab Arina melalui cermin lemari melihat Husein dibelakangnya.


Arina mengenakan gamis corak yang sangat besar dan kembang dengan bordiran kecil yang indah disisi-sisi tangan dan bawah baju. Tubuhnya yang indah membuat baju itu seperti dipakai oleh model. Ditambah jilbab yang tidak begitu panjang menutupi kepala-nya. Sementara Husein, dia seperti biasa hanya mengenakan kain sarung bermotif cantik dibawah dengan warna utama putih ditambah dengan baju koko berwarna hitam yang sama sekali tidak menghilangkan jejak ketampanan-nya.


"Ayo" Ajak Husein dengan memegang lengan Arina memapah-nya keluar dari kamar


"Loh" Umi terkejut melihat Husein membawa Arina keluar dari kamar. Padahal, sesuai kesepakatan Arina tidak boleh keluar dari kamar


"Gak papa Umi, Husein udah minta ijin" Menjelaskan kebingungan Umi.


"Mau kemana malam-malam?" Tanya buya yang juga kini duduk disofa teras rumah.


"Husein mau ngajak Arina keluar makan buya" Jawab Husein sopan


Buya menatap Arina yang hanya diam melihat mereka semua tanpa tertunduk sama sekali dengan Husein yang memegang tubuh-nya erat. Buya hanya mengangguk pelan dengan hati yang senang ternyata Husein memang benar bisa dipercaya.


"Kalau begitu jangan lama-lama pulang-nya, jangan kelamaan diluar" Ujar buya kembali


"Iya buya... Kalau gitu kami pamit dulu ya buya, umi" Pamit Husein setelah mengucapkan salam.


"Baru juga sehari udah nempel gitu, dasar anak muda" Celutuk umi melihat kepergian Husein


"Ya bagus" Jawab buya dengan mata yang mulai fokus membaca kitab kuning ditangan-nya


"Umi kira Husein bakal susah dekat sama perempuan loh buya, soalnya dia gak pernah mau bahas perempuan apalagi sampai dekat" Ujar umi sembari duduk disebelah buya.


"Syukur-lah, semoga mereka berdua menjadi keluarga yang bahagia dunia akhirat" Jawab buya dan di aamiinkan oleh umi.


Husein memapah Arina pelan menuju parkir mobil. Mata Arina tak berhenti memandang ke-sekeliling rumah Husein. Pesantren itu sangat luas dengan bangunan tiga tingkat keatas dengan halaman yang sangat luas. Tapi, suasana sunyi dan hening menyelimuti lingkungan itu. Husein membuka-kan pintu mobil dan membantu Arina duduk kemudian berlalu ke setir mobil.


Melihat wajah Arina yang berkerut bingung menatap sekeliling gedung yang kosong tak berpenghuni Husein langsung menjelaskan situasi yang terjadi.

__ADS_1


"Buya ngeliburin santri selama tiga hari, lusa gedung-gedung itu bakal udah berisi"


"Ohhh ada perayaan apa? " Tanya Arina sampai semua santri diliburkan.


"Enggak ada perayaan apa-apa kok" Jawab Husein sembari mulia menyetir mobil


"Terus? " Tanya Arina kembali


"Kata buya ayah kamu yang minta" Jawab Husein satu-satu.


"Ayah aku? Kok bisa?" Tanya Arina kembali tak sabaran mendengar penjelasan Husein yang kurang memuaskan pertanyaan-nya.


"Jadi gini,..." Jawab Husein memandang Arina lucu ekspresi-nya, dan mulai melanjutkan ucapannya.


"Jadi, sebelum datang kesini, ayah kamu minta buya buat bubarin anak santri beberapa hari aja. Awalnya, buya juga gak tau kenapa ayah kamu nyuruh gitu. Tapi, karna buya gak pengen terlihat berhubungan dengan politikus meskipun ayah kamu teman buya. Akhirnya, buya setuju" Jelas Husein sembari menatap Arina sesekali.


"Terus... Ternyata ini niat ayah kamu" Jelas Husein dan Arina tau apa maksudnya Husein


"Terus kamu kok mau nikahin aku? Kamu dipaksa sama ayah aku? Dia ngancam apa sampe kamu rela nikahin aku? " Selidik Arina


"Bohong, kamu kan udah liat kelakuan aku di Osaka, gak mungkin kamu rela buat nikah sama orang kayak aku, secara kamu harusnya nikah sama ustzah-ustazah berjilbab panjang, lagian kayaknya di pesantren yang kamu punya itu banyak pilihan yang cocok sama kamu" Cerewet Arina pada Husein


Husein menghela nafas sebentar sebelum menjawab perkataan Arina


"Aku juga gak tau awalnya kenapa tiba-tiba di suruh pulang sama buya. Tapi, aku lebih kaget pas ayah kamu tiba-tiba minta aku nikahin anak-nya yaitu kamu. Aku bisa aja nolak ayah kamu tapi aku makin heran pas buya sama umi juga ikut ngedukung aku buat halalin kamu. Buya sama umi gak pernah bahas hal yang berhubungan wanita apalagi pernikahan, aku jadi ragu buat nolak permintaan ayah kamu"


"Tapi, kalo kamu ragu harusnya ngapain mau nikahin aku" Arina kembali memburu


"Aku gak pernah menolak permintaan buya dan umi, dari dulu aku mendedikasikan hidupku untuk berbakti pada mereka. Sejauh ini, apapun perintah buya dan umi tak pernah merugikan-ku tentu pilihan mereka yang terbaik buat-ku mereka gak mungkin menjerumuskan aku dan buat aku jadi sengsara meski dengan cara yang susah aku Terima" Jelas Husein panjang lebar.


Arina terdiam mendengar penjelasan Husein. Meski, Arina masih bimbang atas kebenaran dari penjelasan Husein. Tapi, pernyataan yang dibuat ayahnya tempo hari membuat dia sedikit yakin walau tidak sepenuhnya. Bahwa, Husein memang tidak diancam atau diiming-imingi harta sama sekali.


Melihat Arina yang terdiam tanpa suara, Husein segera menoleh kearah Arina yang menatap luar jendela mobil.


Lama Arina menatap keluar jendela melihat pemandangan tempat tinggal Husein, Arina akhirnya membuka jendela mobil merasakan udara malam dan mengeluarkan tangan-nya merasakan angin yang berhembus dan menari-narikan tangan-nya lentik.

__ADS_1


Husein tersenyum melihat Arina yang tampak senang dari sudut mata-nya. Tidak perlu lama. Akhirnya Husein sampai ke tempat tujuan.


Sebuah cafe yang bernuansa Korea dengan menu makanan khas Korea. Seperti yang Arina inginkan tadi siang. Husein segera turun dari dalam mobil dan melangkah membuka-kan pintu mobil untuk Arina dan membantu-nya berjalan.


Husein berjalan dengan tangan yang merangkul kedua lengan Arina agar tidak terjatuh menuju cafe. Husein meminta ruangan yang privat agar mereka lebih leluasa. Terlebih, dirinya yang sudah dikenal awak media membuat dirinya akan bermasalah jika ada yang melihat dirinya berdekatan dengan wanita. Walaupun wanita yang kini dia rangkul adalah istrinya. Tapi, pernikahan mereka belum dia publish dan hanya orang tertentu yang mengetahui pernikahan-nya dengan Arina. Dia bahkan mengenakan masker dan topi untuk menutupi dirinya.


Dengan pelan Husein akhirnya sampai ke tempat yang ia minta. Segera, Husein mendudukkan Arina di sebuah ruangan persegi empat seperti sebuah kamar dengan hanya terisi satu meja dengan ambal lembut dan tebal sebagai tikar sebagai alas duduk. Menambah nuansa budaya Korea dicafe ini.


Setelah mereka masuk, seorang pelayan dengan pakaian hanbok sederhana masuk kedalam ruangan dengan sebuah buku menu dan buku tulis di tangan-nya.


"Kamu mau yang mana? " Tanya Husein membuka buku menu


"Aku mau Jajangmyeon, chicken Hot, sushi, sama daging sapi bakar... Minumnya es krim vanila sama Coca-Cola" Arina membacakan menu yang ia inginkan.


"Kamu mau makan sebanyak itu? " Tanya Husein terkejut


"Iya" Arina mengangguk


Husein menggeleng kepala tidak percaya dengan muatan perut Arina.


"Jajangmyeon-nya sama chicken Hot-nya masing-masing dua, sushi, daging sapi bakar, Minumnya es krim vanila, Coca-Cola sama jeruk peras aja satu ya" Ulang Husein kembali pada pelayan yang ada didepannya.


"Baik Pak, ini total-nya" Ujar pelayan menunjukkan note pembayaran pada Husein.


"Sebentar ya" Husein melihat note pembayaran kemudian mencari-cari dimana dompet-nya.


"Astaga... Kamu liat dompet-ku Arina? " Tanya Husein


"Mana aku tau" Jawab Arina ketus memandang Husein


"Apa ketinggalan dimobil ya? Aku cari sebentar dimobil ya, kamu tunggu di sini dulu jangan kemana-mana" Husein menatap Arina sebelum berdiri


"Tolong jagain istri saya dulu disini sebentar" Pinta Husein pada pelayan itu dan diberi anggukan.


Segera Husein kembali keluar cafe dengan sedikit bergegas.

__ADS_1


__ADS_2