Diperistri Dalam 10 Menit

Diperistri Dalam 10 Menit
Naif


__ADS_3

Mata Arina terus menyusuri pepohonan rindang dibelakang rumah tanpa melepaskan rangkulan Husein. Dengan tubuh yang menahan nafsu menggejolak di tubuh-nya dia terus memperhatikan cahaya kelap merah dari balik pepohonan itu.


Bagaikan sedang berada diatas awan Arina mendesah kuat ditelinga Husein seolah sedang menyemangati diri-nya dengan terus menekan kepala Husein agar tak berhenti dan menghisap-nya kuat. Sungguh energi Husein bagai tak pernah habis.


Dan benar saja Husein terus menerus menciumi kedua payu dara Arina secara bergantian tak henti sampai suara nafas Husein juga terdengar jelas ditelinga Arina.


Kini, tangan Husein mulai berani menyentuh bokong Arina pelan meraba-rabanya dengan terus menciumi payu dara Arina.


"Sudah Husein... Disini ada banyak pelayan" Arina menghentikan aktivitas Husein.


Segera saja Husein kaget karna rambut nya ditarik kuat agar menghindar dari payu dara cantik milik Arina. Walaupun merasa belum puas sama sekali tapi Husein juga memilih tak ingin melanjutkan karna rumah sebesar ini pasti banyak orang yang akan melihat.


Arina segera keluar dari kolam dengan dress yang sudah menjiplak di tubuh-nya meninggalkan Husein yang tampak dari sudut mata Arina sedang menenangkan dirinya rileks.


'Akhhh menjijikkan kenapa ayah harus berbuat sejauh ini' batin Arina dengan tatapan tajam memandang kembali kearah pepohonan.


Hampir saja dia membuat sang ayah curiga, jika matanya tak jeli melihat drone kecil dari arah pepohonan barang pasti kini dia dan Husein harus kembali dalam pengawasan ketat dari sang ayah.


Arina berjalan dengan cepat bertelanjang kaki menahan amarah memuncak dari dada-nya masuk kedalam rumah. Tiba-tiba saja langkah kaki-nya seketika terhenti kala melihat sesosok pria yang kini berdiri tepat di hadapan-nya.


'John? Ada apa dia kemari?' batin Arina kala melihat pria di depan-nya.


"Bajingan... Siapa yang mengijinkan dirimu masuk kerumah-ku ha? " Arina kembali meluapkan amarah-nya


John tidak menggubris perkataan Arina sama sekali dan membuka jas hitam yang kini ia kenakan untuk menutupi tubuh Arina. Kain itu sangat tipis membuat tubuh seseorang bagai tak memakai apapun jika terkena air.


"Kenapa hmm? Kau juga bernafsu pada-ku? " Tanya Arina melepaskan kembali jas itu dan mendekati tubuh John.


"Aku memaklumi sikap-mu saat ini, aku berharap kau bisa berprilaku lebih baik kembali setelah ini karna kau sudah menikah dengan pria agamis" Ujar John dengan wajah datar dan tegas.

__ADS_1


"Yahh seperti yang kau rencanakan" Tatap Arina tajam


John segera menunduk hendak mengambil jas yang di lepas Arina untuk mengenakan-nya kembali ketubuh Arina. Tiba-tiba saja kaki Arina dia letakkan kebahu kanan John menahan-nya agar tetap diposisi itu.


Tampak kaki mulus itu keluar dari sela-sela dress yang ia kenakan. Kaki putih itu kini berada tepat menyusuri bahu dan leher John lancang. Sangat terbuka.


"Kau belum menjawab-ku bajingan" Arina kembali berucap kasar


"Untuk apa kau bertanya sedemikian... Kau dari awal sudah tau apa tugasku kan nona Arina? " Ujar John tak kalah saing menatap tajam pada Arina.


Arina yang sedari awal masih menahan emosi seketika langsung bertambah emosi tidak tahan dengan kedatangan John sebagai fakta bahwa ayah-nya memang sangat susah dibuat percaya. Bagai disulut emosi Arina kembali mendorong John hingga terjatuh dengan kaki yang menginjak keras dada John.


"Arinaaa" Teriak Husein kaget atas apa yang sedang dia lakukan dan segera bergegas menghentikan Arina.


"Apa yang sedang kau lakukan... Dia kakak-mu Arina" Ujar Husein yang kembali membuat Arina marah besar


"Arinaaa" Husein kaget bukan main kala mendengar ungkapan kata yang kasar dari mulut sang istri.


"Apa ha? " Arina membalas teriakan Husein


"Arina dia suami-mu kau tak boleh bersikap seperti ini... Atau aku akan melaporkan ini pada ayah" John kembali berdiri


"Suami? Aku tak pernah mengingkan diirnya sebagai suami-ku. Tapi, kalian malah memaksa diriku untuk menikahi diri-nya. Aku dipaksa dan kau mengatakan aku harus menerima-nya" Suara Arina menggelegar didalam rumah itu.


"Ayah katamu? Laporkan saja, dari awal memang kalian tidak pernah berniat melepaskan aku" Arina kemudian menatap John dan berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Arina tunggu dulu" Husein menghentikan langkah Arina.


"Apa lagi ha?" Arina menepis tangan Husein.

__ADS_1


"Jadi s-selama ini... Kau" Husein tak tahan sampai lidah-nya terbata-bata mendengar ungkapan Arina pada-nya.


Segera saja Arina mengecup bibir Husein ganas didepan John dengan kasar dan tak henti meski Husein mencoba menolak Arina.


John yang melihat pandangan itu hendak pergi meninggalkan mereka bedua tapi terhenti kala mendengar penuturan Arina.


"Kau ingin menanyakan ini bukan? " Arina melepas kecupan-nya.


"Kau seharus-nya tak heran jika aku hanya menggunakan-mu. Padahal kau sudah tau aku seorang pe lesbi" Ujar Arina meremehkan keluguan Husein.


"Arina itu tak benar, kau sangat sering melakukan-nya dengan-ku kau tak mungkin masih menyukai perempuan..." Ujar Husein mengelak jawaban yang didengar-nya dari Arina karna barusan saja dia menerima sentuhan dari-nya


"Ya ya ya biar ku beritahu pada-mu Husein" Ujar Arina sembari melipat kedua tangan didada-nya.


"Coba kau pikir sedikit saja, kenapa orang tua-ku berusaha menikah-kan aku dengan dirimu sampai-sampai harus membuat diriku pingsan serta mengurung-ku bersama-mu jika bukan karna aku tidak bisa ditaklukkan dengan mudah? " Tutur Arina


"Kemudian bagaimana bisa kau menyangka aku sangat mudah ditaklukan hanya karna aku memberikan akses menyentuh tubuh-ku?" Arina menatap Husein yang kini tampak bingung dan tak percaya atas apa yang dia katakan.


"Kau salah Husein... Kau begitu naif, jika aku mudah ditaklukan pasti ayah-ku tak akan mendatangi pria agamis yang hidup dengan lingkungan terjaga seperti dirimu. Jangan merasa kau mengenal-ku" Seketika saja Husein membulat-kan matanya kaget.


"Jadi selama ini kau hanya"


"Iya benar sayang... Kau tak tau seberapa gila-nya aku, kau berpikir aku berbuat baik padamu dan keluarga-mu hanya karna aku sudah dapat cahaya illahi dari tuhanmu itu? " Arina kembali menggejolak merasa senang kala melihat ekspresi yang ditunjukkan Husein.


"Ada begitu banyak yang mengawasi-ku kau pasti tak tau itu karna kau sungguh naif... Cihhh aku bahkan tak ragu menelanjangi diriku di hadapan-mu"  Arina meludah jijik mengingat adegan panas-nya bersama Husein.


"Astaghfirullah Arina" Husein kaget


"Jadi... Kau tak perlu sok jadi pahlawan apalagi sampai mengatur hidu-ku. Bagiku kau hanya sebagai bidak catur saja... Ingat itu" Tambah Arina kembali dengan menyentuh lembut pipi Husein sebelum akhirnya meninggalkan Husein .

__ADS_1


__ADS_2