Diperistri Dalam 10 Menit

Diperistri Dalam 10 Menit
Bab 17 Ketahuan Ummi


__ADS_3

Tok tok tok terdengar suara ketukan pintu berulang kali dari alam mimpi Arina. Sampai membuatnya terbangun.


Dia sangat terkejut ketika terbangun dengan posisi telanjang yang memeluk Husein yang juga terlelap di samping-nya.


"Nak" Ucap seseorang dari balik pintu kembali. Ternyata bukan mimpi, tapi kenyataan yang masuk kedalam mimpi.


Arina hendak membuka pintu kamar. Tapi, dia bahkan tak tau dimana Husein menyembunyikan kunci-nya.


"Husein, Husein bangun" Arina menggoyangkan Husein dengan sedikit keras membangunkan -nya


Husein menggeliat diatas kasur sebelum membuka matanya.


"Kenapa? " Tanya Husein setelah sedikit sadar.


"Itu kayaknya umi, ibu kamu" Arina menunjuk kebalik pintu.


"Umi? " Tanya Husein kembali


"Iya" Arina mengangguk dan kembali terdengar suara ketukan dari balik pintu.


Dengan segera Husein menuju pintu dan membuka-nya pelan dengan langkah kaki sempoyongan menahan kantuk.


Seketika Husein baru tersadar sekarang ini Arina sedang tidak mengenakan pakaian sama sekali dan langsung pergi kearah kasur menutupi tubuh Arina dengan selimut.


"Kamu ngapain? " Tanya Arina heran


"Aku gak ingat kamu gak pake baju" Ucap Husein ke telinga Arina


Arina juga tersadar seketika dan memegang erat selimut ditubuhnya. Pasalnya tubuh Arina kini penuh dengan bercak merah ulah Husein tadi.


"Kalian ngapain? " Tanya umi keheranan


"Enggak ada mi, Husein cuman mau mijitin punggung Arina aja" Ucap Husein mengelak dan memijit punggung Arina pelan.


"Badan kamu sakit nak? " Tanya umi


"I-iya mi" Jawab Arina mengikuti akting Husein.


"Kebetulan, tadi Umi nyari obat urut buat kamu, kata ayah kamu tadi malam kamu tabrakan kan nak? Jadi, umi pikir obat dokter bakal lebih ampuh kalo diiringi sama obat herbal juga" Tutur umi


"Iya Arina betul" Tambah Husein dengan tetap memegang erat selimut yang menutupi tubuh Arina.


"Sini mi, biar Husein pakein" Husein menadahkan tangannya kedepan umi.


"Emangnya kamu bisa ngurut? " Tanya umi kembali


Husein menggeleng pelan dengan sedikit tertawa.

__ADS_1


"Umi mau ngurut Arina? " Tanya Husein dengan sedikit terkejut baru sadar akan situasi saat ini dan semakin erat memegang ujung selimut ditubuh Arina.


"Lah iya  kan kamu juga tadi bilang Arina sakit makanya kamu pijitin" Ujar Umi sembari membuka botol herbal ditangannya.


Seketika mata Arina membulat sempurna menatap Husein yang kini dengan setia menutupi tubuhnya.


"Sini buka dulu selimutnya" Ucap Umi mendekat dan menarik selimut Arina


"Jangan dulu umi" Husein menghentikan tangan Umi


"Loh kenapa?" Tanya umi heran sembari menarik selimut Arina


"Enggak, jangan dulu umi" Ujar Husein kembali menarik selimut


"Kenapa jangan dulu" Tanya Umi. Hingga, membuat mereka saling tarik menarik selimut Arina.


Allahu akbar Allahu akbar suara adzan berkumandang menghentikan gerakan tangan mereka berdua.


Melihat Husein yang lengah Umi dengan segera menarik selimut Arina dari tangan Husein. Mendapati umi yang menarik selimut ditubuh-nya Arina dengan segera menarik kembali selimut itu dan menutupi dada-nya sembari menatap Husein yang masih terdiam dibelakang-nya tanpa reaksi.


Suasana hening seketika menyelimuti ruangan, Husein tak tau mau mengatakan apa kala melihat umi yang masih tercengang dengan tatapan terkejut melihat tubuh Arina tepat didepan-nya. Dia sungguh sangat malu sekarang ini sampai lidah-nya kaku tak bersuara atau mencari alasan lain.


"Kamu gak sholat jama'ah? " Tanya Umi pada Husein memecah keheningan.


"Iya Umi... Aku sholat dulu" Ucap Husein dengan menatap Arina terkejut yang tampak jelas dari mata Husein tak ingin ditinggalkan berdua dalam suasana canggung ini.


Arina memandangi Husein yang pergi berlalu meninggalkan  kamar sampai hilang dari balik pintu dengan perasaan yang tak ingin ditinggalkan dalam situasi ini. Kini, tinggal dia dan sang ibu mertua didalam kamar saat ini.


Umi terus memandangi Arina yang kini berusaha menutup tubuhnya meski masih kelihatan bercak merah dari lehernya.


"Gak papa nak, umi juga pernah muda" Ucap umi memecah keheningan


Arina tersenyum canggung mendengar ungkapan dari Umi.


"Umi malah senang kamu ternyata gak perlu waktu lama buat dekat sama Husein... Kamu gak perlu malu kok sayang" Tutur umi kembali agar Arina tidak perlu canggung.


"Pakai ini dulu biar Umi urut" Ujar Umi sembari memberikan kain sarung pada Arina.


"Iya Umi" Ucap Arina sembari menerima sarung itu dengan tangan kanan-nya yang dia paksakan.


Segera setelah Arina mengenakan sarung pemberian Umi. Umi langsung mengurut tubuh Arina pelan. Betapa kagetnya umi saat melihat leher, dada bahkan perut Arina yang penuh bercak merah. Dia tau ini baru saja terjadi sebab tadi pagi saat dia mengantar bubur tubuh Arina masih seputih susu. Umi yakin Husein dan Arina baru melakukannya. Tapi, yang umi tak habis pikir bagaimana bisa dia meninggalkan banyak bekas seperti ini ditubuh Arina. Umi menggeleng pelan melihat ulah anak-nya itu.


"Akhh" Pekik Arina kesakitan


"Sakit nak? " Tanya umi


"Iya umi" Jawab Arina

__ADS_1


"Tahan dulu ya" Ucap umi dan di anggukkan oleh Arina.


30 menit lamanya umi mengurut Arina, akhirnya kini selesai juga.


"Gimana rasanya? " Tanya umi setelah usai


"Nyaman umi, rasanya lebih enakan, tangan aku juga udah bisa digerakkin" Jawab Arina menggerakkan tangannya.


"Iya bekas jahitan itu jangan kena air dulu ya nak"


"Iya umi" Arina mengangguk sembari menatap dada sebelah kanan nya yang terbalut perban.


"Usahakan jangan pake baju yang bikin lukanya malah makin lembab ya nak, biar lukanya cepat kering" Tambah umi kembali


Arina mengangguk pelan tanda paham. Lama umi memandang Arina dalam diam, akhirnya umi angkat bicara.


"Nak..." Ujar umi lembut, Arina yang sampai detik ini ikut diam mengangkat kepala-nya menatap sang ibu mertua.


"Umi tau kamu dipaksa menikah sama Husein. Kehidupan yang kalian berdua jalani juga berbeda. Tapi, umi harap kalian bisa akur jadi suami istri kedepannya" Nasehat umi dengan tangan yang memegang tangan Arina


Arina mengangguk pelan kembali tanpa meninggalkan suara.


"Umi tinggal dulu ya" Ucap umi pamit pada Arina dan meninggalkan Arina sendirian didalam kamar.


Ketika umi keluar dari dalam kamar umi malah terkejut akan kehadiran Husein yang tiba-tiba muncul dengan nampan berisi nasi di tangan-nya.


"Astaghfirullah kaget umi dibuat kamu Husein" Umi menyebut


"Maaf umi" Jawab Husein dengan sedikit tertawa


"Ya udah masuk sana temanin Arina" Perintah umi


"Kamu jangan kasar-kasar dulu sama Arina, dia masih sakit. Kamu kok gak bisa tunggu dia sembuh dulu" Tambah umi menghentikan langkah Husein dan membuat-nya terpelongo kaget mendengar penuturan dari sang ibu yang tentunya pembicaraan itu pasti mengarah pada kejadian barusan.


Umi meninggalkan Husein yang masih terdiam di depan pintu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


Husein segera masuk kedalam kamar dengan nampan berisi nasi di tangannya.


"Kurang ajar... Kamu malah tinggalin aku berdua sama ibu kamu" Arina mengamuk kala melihat Husein muncul dari balik pintu dan melempari nya dengan bantal.


"Ya maaf... Aku tadi kan disuruh sholat Arina" Ucap Husein dengan wajah sesalnya.


"Kamu gak tau gimana canggung nya tadi pas umi liat ini" Celoteh Arina sembari menunjuk-nunjuk tubuhnya yang penuh bercak merah.


"Maaf Arina... Aku tadi sempat hilang akal" Husein kembali meminta maaf dari kejauhan.


Arina mendengus kesal dan akhirnya terdiam diatas kasur. Melihat Arina yang sudah tak lagi memberontak, Husein mendekat kearah Arina dan meletakkan nampan berisi nasi keatas meja.

__ADS_1


"Kayaknya luka kamu udah agak mendingan yah" Ujar Husein


"Iya lumayan" Ucap Arina


__ADS_2