Ditinggalkan Di Malam Pertama

Ditinggalkan Di Malam Pertama
Adikku lebih berarti


__ADS_3

2 Bulan kemudian. 


"Howek … Howek … "


Satu Minggu Arumi izin karena merasa tidak enak badan. Wanita itu muntah-muntah, ia bolak balik luar dari kamar mandi mengeluarkan semua isi perutnya setiap ia makan.


Bahkan, wanita itu selalu ingin menatap wajah Arnold setelah satu Minggu wanita itu tidak masuk kerja.


"Kenapa aku pusing banget ya? Badanku meriang juga. Mungkin lebih baik aku periksa ke dokter. Sudah beberapa Minggu aku begini." Arumi bergegas mengambil tas selempangnya dan menaiki taksi untuk memeriksakan kondisinya ke dokter. 


Sesampainya di rumah sakit, wanita itu langsung diperiksa oleh dokter setelah mengantri cukup lama.


Ia duduk bersebrangan dengan dokter yang memeriksanya, dengan wajah yang menatap dokter tersebut intens.


"Bagaimana dengan keadaanku, Dok?" tanya Arumi tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kapan Anda terakhir datang bulan, Nona?" tanya Dokter yang memeriksa keadaan wanita tersebut.


Deg


Arumi mengingat-ingat kapan ia datang bulan, ia langsung merasa was-was saat dokter menanyakan tanggal terakhir ia datang bulan, dan setelah ia berhasil mengingatnya, wanita itu langsung meneteskan air matanya. 


"Tidak, tidak mungkin!" gumam Arumi. 


"Anda kenapa, Nona?" tanya dokter itu dengan kening yang mengerut.


"Kalau begitu Anda bisa tes urine Nona! Untuk memastikan ucapanku benar atau salah!" Dokter tersebut menyodorkan alat tes kehamilan pada Arumi dengan wajah yang tersenyum lembut.


Dengan tangan bergetar wanita itu mengambil alat tersebut, lalu ia bergegas ke kamar mandi untuk memastikan kebenarannya. 


Di dalam kamar mandi Arumi memejamkan matanya untuk melihat hasilnya, ia membuka matanya perlahan, lalu setelah melihat hasilnya, ia tersenyum sambil memegang dadanya yang terasa bergemuruh tak karuan.


"Andai saat ini kamu suamiku Kak, mungkin saat ini akulah orang yang paling bahagia di dunia, karena aku bisa menjadi ibu dari anakmu! Tapi sekarang aku bingung, mau bilang apa sama kamu, dan aku takut kamu hanya akan menyuruhku untuk menggugurkan kandungan ini!" Arumi meluruhkan badannya di balik pintu seraya melihat dua garis merah yang tertera pada tes kehamilan tersebut.


"Tidak, walau bagaimanapun semua ini salahku, aku harus pergi jauh dari Kak Arnold, aku tidak ingin membuatnya malu karena aku hamil di luar nikah, selain itu aku tidak rela jika seandainya Kak Arnold tahu dan akan menyuruhku untuk membuang anak ini!" gumam Arumi seraya mengelus perutnya yang masih datar.


"Iya, aku harus pergi, aku harus pergi!" ucap Arumi seraya menghapus air matanya. Lalu ia merusak alat tes kehamilan tersebut supaya tidak ada yang melihat hasilnya. 


Arumi keluar dari toilet dan bersikap sok sibuk dan pura-pura mengangkat telepon untuk menghindari pertanyaan sang dokter. Ia tidak ingin seorang pun tahu tentang kehamilannya termasuk dokter yang memeriksanya.


"Dok, aku langsung pamit ya! Aku buru-buru! Dan hasilnya garis satu!" ucap Arumi seraya melangkah menuju pintu keluar tanpa menunggu jawaban sang dokter. Sementara dokter tersebut tersenyum melihat tingkah aneh pasiennya.

__ADS_1


_____________


"Apa?"


"Jadi kamu berhasil membujuk Rainy untuk kembali ke Indonesia? tanya Arnold dengan wajah penuh kebahagiaan.


" ....... "


"Terima kasih, Awan! Berkat kamu adikku sembuh dari trauma masa lalunya! Dan pastikan jangan sampai dia bertemu dengan Sky! Aku percayakan Adikku padamu!" ucap Arnold dengan senyum yang tak memudar.


" ....... "


"Baiklah … besok aku sendiri yang akan menjemput kalian, aku sangat merindukan adik kesayanganku dan tidak sabar untuk bertemu dengannya!" ucap Arnold yang terus mengembangkan senyum.


Tok tok tok … 


"Baiklah … aku tutup dulu panggilannya, jaga adikku baik-baik!" ucap Arnold denganwajah yang penuh dengan pancaran kebahagiaan.


Lalu suara ketukan pintu terdengar kembali saat ia menutup sambungan teleponnya dengan sahabat baiknya tersebut.


"Masuk!" teriak Arnold seraya menatap ke arah pintu dan muncullah seorang wanita dari balik pintu setelah ia mengizinkan untuk memasuki ruangannya.


"Arum …? Kamu sudah sembuh?" tanya Arnold setelah melihat asisten pribadinya yang muncul dari balik pintu ruangannya tersebut.


"Bukankah selama ini kita sudah saling berbagi suka duka? Lalu, kenapa kau mesti bersikap seperti orang ragu seperti itu?" tanya Arnold yang melihat wajah Arumi seperti tersenyum terpaksa.


"Ini, Kak!" Arumi menyodorkan selembar kertas pada Arnold dengan Alis Arnold yang terangkat sebelah. 


"Apa ini?" tanya Arnold bingung.


"Baca saja!" ucap Arumi yang masih dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. 


Arnold pun mengambil kertas itu dan membacanya dengan wajah terkejut. "Surat pengunduran diri?" tanya Arnold seraya menatap Arumi intens. 


"Iya, Kak! Maaf aku tidak memberi kabar pada Kak Arnold sebelumnya. Aku ingin menikah dan kembali ke Surabaya hanya untuk akad pernikahan."


Jedduarrr 


Arnold terkejut mendengar penuturan wanita yang telah beberapa bulan menjadi sahabatnya tersebut.


"Ada apa ini? Kenapa aku sesak saat mendengar Arumi akan menikah? Bahkan aku susah buat nelan ludahku sendiri!" batin Arnold.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak ingin mengundangku?" tanya Arnold tersenyum menahan sesak.


"Kami tidak akan mengadakan Resepsi, Kak. Karena aku dan calon suamiku sama-sama tidak punya keluarga, jadi kami hanya ingin mengadakan Akad di panti asuhan saja!" ucap Arumi berbohong.


"Kapan kamu akan menikah?" tanya Arnold menatap Arumi intens.


Pria itu ingin mencegah kepergian sahabatnya tersebut, namun raganya tetap diam karena ia takut menjadi penghalang kebahagiaan Arumi.


"Besok, Kak!" 


"Secepat itu kah?" 


"Lebih cepat, lebih baik."


"Ya sudah, semoga bahagia!" Arnold mengulurkan tangannya pada Arumi dan Arumi pun menjabat tangan pria tersebut.


"Aku akan merindukanmu, Kak!" ucap Arumi dengan air mata yang menetes tanpa bisa ia cegah.


"Aku juga begitu, Rum!" 


"Maaf aku tidak bisa datang ke pernikahanmu! Karena besok adikku kembali ke Indonesia!" ucap Arnold yang dipenuhi dengan perasaan bersalah.


"Tidak apa-apa, Kak!"


"Karena memang yang itu yang aku harapkan, maafkan aku harus pura-pura!" batin Arumi.


"Kak Arnold berpisah dengannya bertahun-tahun, sambutlah kedatangan adikmu, kita akan bertemu di lain waktu jika takdir mengizinkan!" 


"Terima kasih atas pengertiannya, Rum!" 


"Sama-sama, Kak!" 


Sepasang sahabat itu saling melepaskan genggaman tangannya, lalu sama-sama tersenyum kaku. 


Arumi melangkah meninggalkan ruangan tersebut dengan Arnold yang menatap langkah wanita itu hingga bayangannya menghilang. 


"Kamu berarti bagiku, Rum! Tapi adikku lebih berarti lagi, dia segalanya bagiku dan dia satu-satunya keluargaku saat ini! Jadi maaf, aku terpaksa mengabaikanmu demi menyambut kedatangan adikku yang sudah 5 tahun tidak kujumpai!" gumam Arnold tersenyum sendu.


"Kenapa aku merasa sesak? Tidak, aku tidak mungkin jatuh hati padanya! Aku hanya menganggap Arumi sebagai adikku, tidak lebih!" Arnold menggeleng-gelangkan kepalanya. Lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


Sementara Arumi, langsung menerjunkan air matanya saat tubuhnya membelakangi Arnold, namun wanita itu langsung menghapusnya sebelum ada orang lain yang melihat.

__ADS_1


...🌺🌺🌺🌺🌺...


...TBC...


__ADS_2