Ditinggalkan Di Malam Pertama

Ditinggalkan Di Malam Pertama
Memulai hubungan


__ADS_3

"Mommy ... !" Panggil Arjuna dengan kening yang mengerut.


Arnold dan Arumi menoleh pada Arjuna, dan mereka pun reflek melepaskan pelukannya setelah melihat seorang anak kecil yang berdiri seraya menatap keduanya bingung.


"Dia siapa?" tanya Arnold seraya menatap Arjuna yang melangkah mendekat.


"Mommy, apakah dia Papa Arjuna!" tanya bocah kecil itu seraya menatap Arnold dengan mata yang berkaca-kaca.


Deg


Seketika Arumi terdiam, ia teringat tentang sesuatu yang ia tonton di TV saat ia memeluk seorang wanita.


"Aku tidak ingin merusak ruamah tangga Kak Arnold jika dia sudah menikah!" batin Arumi.


Wanita itu terus menetskan air mata, ia bingung harus menjawab apa, ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


"Tapi Arjuna berhak tahu siapa papanya! Aku akan memberitahu Kak Arnold, lagi pula dia tidak mungkin mengambil Arjuna karena dia sudah punya kebahagiaan lain!"


Arumi terus membatin dengan air mata yang mengalir tiada hentinya. Wanita itu bingung, ia menatap Adit yang menatapnya penuh kesedihan dengan air mata yang juga mengalir dari kedua sudut matanya.


"Rum ... !" panggil Arnold Pelan.


Brakkkkk...


"Apa ini?" Putri menatap Arnold dan Arumi tajam.


"Kalian menyakiti hati adikku, jelaskan apa yang terjadi!" sentak Putri dengan emosi yang membuncah.


"Sayang ... !" panggil Roy lembut.


"Diam Mas! Aku tidak ingin melawanmu!" Putri menatap Roy tak kalah tajamnya.


"Putri!" sentak Ryan.


"Duduk!" titah Ryan menatap putrinya tajam.


"Sekarang kalian jelaskan dengan apa yang terjadi!" titah Ryan seraya menatap wajah Arnold dan Arumi bergantian dengan datar.


"Maafin Gita, Dad! Apa yang terjadi pada Arnold dan Kak Arum adalah kesalahan Gita!" ucap Regita dengan wajah tertunduk.


"Apa maksudmu?" tanya Ryan menatap putrinya penuh tanya.


"Lihatlah wajah Arjuna, perhatikan dia baik-baik, tanpa Kak Arum kasih tau pun aku tau, kalau Arjuna itu anaknya Kak Arnold," ucap Regita seraya menatap Ryan dengan air mata yang terus mengalir dari kedua pelupuk matanya.


"Cukup Sayang, ini salahku. Aku yang egois karena aku cemburu, aku menjebak mereka hingga mereka melakukan ... " Regan menghentikan ucapannya hingga membuat Ryan semakin murka.


"Katakan dengan jelas! Jangan berbelit-belit!" sentak Ryan dengan tangan yang terkepal.

__ADS_1


"Aku menjebak Arnold dan Arumi karena cemburu melihat istriku tidak bisa melupakan Arnold dan mengabaikanku, Dad! Aku memberi Arnold obat perangsang hingga dia meniduri Arumi yang mungkin Arjuna hasil kesalahanku pada malam itu!"


Jedduarrr ...


Adit semakin terkejut mendengar kenyataan itu, ia tidak menyangka bahwa yang membuat hidup Arumi hancur adalah adik iparnya sendiri.


"Kurang ajar!" umpat Adit yang melangkah hendak memukuli adik iparnya tersebut.


Namun, Rani mengahalanginya dengan berdiri di depan menantunya untuk menghalangi putranya tersebut. Sementara tangan pria itu mengambang dan terhenti di depan wajah Rani.


"Jangan Sayang! Kita selesaikan masalah ini baik-baik, kita tidak perlu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah." Adit menurunkan tangannya yang terkepal.


"Tapi dia keterlaluan, Mom!" ucap Adit menahan amarah.


"Kamu juga, Arnold! Seharusnya kamu sebagai laki-laki, kamu nikahi Arumi bukan malah menelantarkan mereka hingga menjadi bahan bullyan orang-orang!" ucap Adit menatap Arnold tajam.


"Ini bukan salah Kak Arnold, Mas! Ini semua salahku karena Kak Arnold menyangka Regita lah yang ia tiduri!" ucap Arumi dengan air mata yang mengalir begitu saja.


"Maafin, aku!" ucap Arnold.


"Tidak, Kak! Semua ini bukan salahmu. Jika Kakak melakukan tanpa sadar, tapi aku melayanimu penuh kesadaran!" ucap Arumi dengan air mata yang terus mengalir deras.


"Tapi kenapa kau mau melakukannya? Kenapa kamu mengorbankan hidupmu? Seharusnya kamu memanggil dokter pada waktu itu!" ucap Arnold.


"Aku mencintaimu, Kak. Dan sampai sekarang pun aku tidak menyesali perbuatanku itu, terserah kamu menganggapku apa? Tapi karena malam itu aku mempunyai Arjuna!" ucap Arumi seraya menoleh pada putranya yang menangis tanpa suara.


"Jadi ini alasan Mama, kenapa Mama tidak membawaku untuk bertemu Papa? Aku tidak diizinkan bertemu Papa karena Papa tidak menginginkan aku!" tanya Arjuna seraya menatap Arnold dengan air mata yang mengalir dari kedua pelupuk matanya.


Ia tidak menyangka bahwa ia telah memiliki anak dari seseorang yang dicintainya tanpa sadar.


"Stop! Aku tidak ingin dipeluk kalian, sekarang aku sadar bahwa aku adalah anak yang tidak diinginkan. Meskipun aku anak kecil, tapi bukan berarti aku tidak bisa memahami pembicaraan orang dewasa!"


"Aku pergi!" ucap Arjuna yang hendak pergi melangkah meninggalkan tempat tersebut.


Arnold menahannya, ia langsung menggendong tubuh Arjuna, dan memeluk putranya erat. "Izinkan Papa menebus kesalahan Papa, Papa janji Papa tidak akan membuat kalian kecewa lagi!" ucap Arnold dengan air mata sedihnya.


Adit dan seluruh keluarganya hanya menyaksikan mereka terdiam, tidak ada yang menyela antara pembicaraan ayah dan anak yang baru di pertemukan itu.


"Tidak, Pa. Papa tidak akan bisa bersama Arjuna dan Mama, karena mama akan menikah dengan Om Adit!" ucap Arjuna seraya memberontak.


Deg


Arnold terkejut mendengar ucapan putranya, ia tersadar dengan acara lamaran itu. Ia juga baru sadar bahwa Adit membawa Arumi karena ingin memperkenalkan wanita yang akan pria itu nikahi.


"Demi kebahagiaan Juna, Om Adit akan mengalah, Om Adit akan menikah dengan orang lain nanti. Sedangkan Mama Juna akan menikah dengan Papa Juna," ucap Adit dengan senyum tulusnya.


Jedduarrr ...

__ADS_1


Semua orang terkejut mendengar ucapan Adit, hingga semuanya menoleh pada pria itu. "Apa kamu serius?" tanya Putri seraya menatap wajah Adit tajam.


"Kenapa tidak? Cinta tidak harus memiliki, Kak! Mungkin Arumi bukan jodohku!" ucap pria itu.


"Adit ... ! Apa kamu yakin?" tanya Arumi dengan senyum sendunya.


"Aku yakin, kamu tenang saja, kamu di bawa aku ke sini itu sudah jalan takdir, takdir untuk mempersatukan kalian Kemabli!" ucap Adit.


"Terima kasih, Dit! Terima kasih!" ucap Arumi tersenyum.


"Jika kamu melepaskan Arumi, lalu kamu bagaimana?" tanya Putri yang menatap adiknya tidak tega.


"Kakak tidak perlu khawatir, aku bukan orang yang lemah, aku bahagia jika melihat orang yang kucintai bahagia."


"Percuma aku memiliki raga Arumi, jika pada kenyataannya hati Arumi milik orang lain, aku yakin aku pasti akan menemukan kebahagiaanku!" ucap Adit.


"Baiklah, jika itu keputusanmu! Aku bangga padamu, Nak!" ucap Ryan tersenyum tipis.


"Aku juga bangga memiliki, Kakak seperti Kak Adit," ucap Regina.


"Aku juga!" ucap Regita.


"Apalagi aku!" ucap Rani dengan senyum yang mengembang.


"Terima kasih karena kalian mengerti posisiku, tapi aku tidak ingin menjadi istri Kak Arnold, Kak Arnold mengakui Arjuna saja aku sudah merasa sangat cukup," ucapkan Arumi tersenyum.


"Kenapa kamu tidak ingin menikah denganku?" tanya Arnold bingung.


"Aku hanya tidak ingin menjadi yang kedua, Kak! "


"Kedua?" Sepertinya kamu salah paham," ucap Arnold tersenyum.


"Terus, Wanita yang memelukmu di TV itu siapa?" tanya Arumi.


Arnold mengingat-ingat kapan dia pelukan dengan seorang wanita, setelah mengingatnya ia tersenyum seraya menatap Arumi lekat.


"Maksud kamu Rainy? Rainy itu adekku, Rum!" ucap Arnold.


Arumi pun salah tingkah setelah tahu tentang kebenarannya. Ia menundukkan kepalanya karena malu.


"Ya sudah, Kalian bicarakan masalah kalian di tempat yang sekiranya nyaman, kami mengizinkan kalian untuk bersatu kembali." Ryan tersenyum meskipun ia tidak tega melihat putranya yang terluka.


"Terima kasih, Om, Tante dan semuanya!"


"Maafin kami yang membuat kalian ikut dalam masalah kami!" ucap Arnold.


"Maafin Arumi juga karena Arumi kalian jadi syok seperti ini!" ucap Arumi tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu, Arnold ingin mengajak mereka berdua ke suatu tempat dulu, Om. Kami masih butuh bicara sebelum memulai hubungan ke jenjang yang lebih serius !" pamit Arnold.


TBC


__ADS_2