
Di sebuah desa terpencil, Arumi membangun sebuah warung kecil, dan mempekerjakan seorang wanita paruh baya dari warga desa tersebut.
Warung itu cukup ramai karena di desa tersebut belum terlalu banyak toko, meskipun ada jaraknya sangat jauh antara satu toko ke toko lainnya.
"Bik Salma, Arum istirahat sebentar ya? Arum lagi pusing banget, Bik!" ucap Arumi tersenyum lembut.
Wanita itu mencuci piring dengan Bik Salma yang memasak, karena wanita itu mual setiap mencium bumbu dapur.
"Istirahat saja, Nak! Nak Arum 'kan lagi hamil, jadi wajar saja jika Nak Arum mudah lelah dan pusing!" ucap Bik Salma tersenyum.
"Baik, Bik!" jawab Arumi tersenyum.
Arumi pun keluar dari dapur dan melangkah menuju kamarnya, lalu ia duduk di sebuah kursi di dekat jendela kamar tersebut.
Wanita itu membangun warung dengan rumah yang terhubung di belakangnya. Selama ia bekerja dengan Arnold, wanita itu hidup hemat, karena ia sadar diri jika ia tidak punya keluarga yang akan membantunya jika ia dalam kesulitan.
Dan ternyata wanita itu tidak sia-sia menabung, karena ia tidak mungkin bekerja dengan orang lain jika dalam keadaan hamil.
Arumi duduk di dekat jendela kamarnya seraya memandangi dedaunan hijau yang menyejukkan mata, karena tanaman di sawah-sawah di dekat warung tersebut tampak begitu indah dari jendela kamar wanita itu.
Arumi tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih rata, ia tersenyum saat mengingat kebersamaannya dengan Arnold.
"Maafin Mama, Nak! Mama tidak bisa membuatmu bisa dekat dengan Papa, karena mama yang salah dalam hal ini, mama tidak pernah menolak apa yang terjadi di malam itu,"
"Jika papamu menghadirkanmu dalam rahim mama tanpa sadar, tapi berbeda dengan mama, mama melakukannya dengan kesadaran penuh."
"Jika saja papamu tahu kalau kau hadir, mungkin saja dia menerimanya, tapi entah mengapa? Mama sendiri yang takut, takut papamu menolak dan hanya akan membuat mama lebih sakit, papamu orang yang terhormat dan baik hati, jika semua orang tahu kalau mama hamil di luar nikah, maka mama akan merusak nama baiknya."
"Semoga suatu saat kau mengerti, Nak. Jika nanti kita hanya akan hidup berdua, tanpa Papa di sisi kita."
Arumi menitikkan air mata sambil tersenyum dan menghapus air matanya, lalu beranjak dan kembali ke warung setelah mencuci muka.
_______
"Kamu mau kemana, Git?" tanya Regan yang melihat sang istri sudah rapi dan berdandan dengan begitu cantik.
Regan mengerjap-ngerjapkan matanya seraya duduk di atas tempat tidur dan menatap ke arah sang istri dengan alis yang mengkerut.
"Aku mau kembali ke Singapura!" jawab wanita itu datar, lalu ia menarik kopernya tanpa menunggu jawaban dari Regan.
Regan yang melihat sang istri melangkah menuju pintu keluar, pria itu langsung melompat dari tempat tidurnya dan menghadang sang istri. Ia langsung mengunci pintunya hingga membuat Regita kesal.
"Regan, kamu apa-apaan sih?" Regita menatap tajam suaminya.
"Kamu yang apa-apaan? Kamu mau pergi tanpa se izinku?"
"Bukan urusanmu!"
"Tidak! Kita tidak akan kembali ke Singapura, kita akan tetap tinggal di sini sampai anakku lahir!" Regan menatap Regita tak kalah tajamnya.
"Tapi aku mau kembali ke Singapura!"
"Pokoknya aku mau anak kita lahir di Indonesia, dan aku mau dia dekat dengan orang tuaku, agar jika suatu hari nanti kamu pergi, aku tidak perlu khawatir untuk mengurus anakku sendiri, karena ada orang tuaku yang akan membantunya!"
Deg
Seketika Regita mematung mendengar ucapan Regan, wanita itu mengingat ucapannya sendiri beberapa bulan yang berlalu.
Flashback On
"Aku dimana? Regita mengerjap-ngerjapkan matanya melihat sekelilingnya, wanita itu terkejut saat mendapati seorang pria yang tidur di sampingnya dengan keadaan sama-sama polos.
"Akh β¦ " teriak Regita.
Regan pun langsung terduduk karena terkejut mendengar teriakan seseorang di sampingnya.
Pria itu menoleh dan ia melihat tubuh polos Regita dan ia pun beralih menatap tubuhnya yang sama polosnya dengan wanita itu.
"Akh β¦ "
Regan juga berteriak sama seperti Regita, beruntung kamar itu kedap suara hingga teriakan keduanya tidak terdengar dari luar kamar.
"Kamu siapa? Ini kamarku, ngapain kamu di sini?" tanya Regita menatap Regan merah padam.
"Kamu yang siapa? Ini kamarku!" ucap Regan.
"Dasar pria bodoh, udah salah masih ngaku-ngaku kamar lagi!" Regita mengambil bantal guling lalu menggebuki Regan tanpa ampun.
Regan pun lari untuk menghindari wanita tersebut, dan Regita pun melemparnya dengan semua bantal-bantal di kamar itu karena ia kesulitan untuk berlari.
Setelah itu, Regita pergi ke kamar mandi dengan keadaan polos hingga membuat Regan menelan ludahnya karena melihat pemandangan itu.
"Heh, kamu tidak malu memperlihatkan tubuhmu pada pria lain?" tanya Regan seraya menatap Regita dengan nafsu yang ia tahan susah payah.
Regita menoleh menatap Regan yang berdiri seraya menatapnya intens.
"Kamu juga tidak malu memperlihatkan burungmu yang berdiri tegak padaku?" tanya Regita balik.
"Dasar wanita gila!" Regan mengambil bantal lalu melemparnya pada kepala Regita.
"Dasar pria bodoh!" Regita mengambil Bantal yang dilemparkan Regan, lalu melemparnya balik pada pria itu.
Regan hendak melempar wanita itu kembali. Namun, secepat kilat Regita lari dan menutup pintu kamar mandi tersebut dengan kasar.
Seusai mandi, Regita lupa membawa handuk, dengan santainya di berjalan dengan tubuh polosnya dan melewati Regan seraya mengambil baju-bajunya yang berserakan di lantai dan memakainya di depan pria itu.
Tubuh polos yang terlihat sangat mulus, dan tetesan-tetesan air dari ujung rambut wanita itu membuat Regan tergoda dan tidak bisa menahan nafsunya lagi, hingga ia memilih lari ke kamar mandi untuk melampiaskan hasratnya dengan bermain solo karir.
Sementara Regita menunggu pria itu di sofa kamar hotel tersebut sampai Regan selesai membersihkan diri. Ia menatap sekeliling kamar itu, dan ia pun terkejut saat menyadari bahwa kamar tersebut adalah kamar Regan, bukan kamar dirinya.
Setelah satu jam lebih, akhirnya Regan keluar dari kamar mandi degan Regita yang menatapnya tajam. "Kamu mandi atau pingsan sih di dalam? Mandi saja lebih satu jam!" Regita memutar bola matanya malas.
"Ini semua gara-gara kamu!"
__ADS_1
"Loh, kok aku?"
"Jika saja kamu tidak pamerin tubuh polosmu itu, mungkin aku tidak akan lama di kamar mandi!" ucap Regan kesal.
"Memang apa hubungannya kamu lama di kamar mandi dengan tubuh polosku?" tanya Regita seraya mengerutkan kening.
"Sudahlah, mending kamu pergi! Aku tidak mau melihatmu lagi!" ucap Regan kesal.
"Jika aku hamil karena perbuatan semalam gimana?" tanya Regita menatap Regan dengan mengerutkan keningnya.
Deg
Regan tersenyum mendengar pertanyaan Regita, lalu ia menatap wanita itu dengan wajah ceriannya. "Ya, bagus! Berarti aku akan segera menjadi seorang ayah!" ucap Regan tersenyum.
"Apa?" Regita terkejut melihat reaksi Regan yang terlihat sangat bahagia.
"Kamu kenapa sih?" tanya Regan.
"Kamu yang kenapa? Mana ada orang senang kalau punya anak di luar pernikahan."
"Ada. Aku buktinya!"
"Stres!" umpat Regita.
"Aku memang stres! Aku ditinggalkan istriku dengan alasan aku tidak bisa memberinya anak! Jika sampai kamu hamil berarti aku bisa membuktikan ucapanku bahwa aku bisa memiliki keturunan!" ucap Regan tersenyum.
"Gila!" umpat Regita lagi.
"Nanti malam kita menikah!" Regan menatap Regita dengan senyum penuh arti.
"Tidak! Aku tidak mau menikah denganmu! Sekalipun aku hamil, aku akan menggugurkannya!" ucap Regita kesal.
Regan mengepalkan kedua tangannya. "Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Regan menarik paksa tangan Regita dan mencekalnya erat.
"Hey, kamu mau apa?" teriak Regita yang melihat Regan menyeret paksa dirinya dengan wajah merah padam.
Regan tak menjawab pertanyaan wanita itu, ia mengambil ikat pinggangnya dan mengikat tangan wanita itu ke belakang.
Setelah itu, ia menghubungi sekretarisnya dan mencari tahu tentang jati diri Regita, lalu ia menikahi wanita tersebut dengan Regita yang menerimanya secara terpaksa karena Regan mengancamnya akan memberi tahu orang tuanya dan semua orang tentang hubungan intim mereka.
"Sekarang kamu istriku!" Regan menarik sebelah sudut bibirnya setelah mereka sah menjadi suami istri.
"Sinting!" Regita mengalihkan tatapannya dari Regan, ia membenci pria itu karena ia tidak bisa menikah dengan orang yang ia cintai karena pria tersebut.
Regan pun meminta restu pada keluarganya juga keluarga Regita tentang pernikahan mereka yang dadakan, dan kedua belah pihak sama-sama merestui keduanya tanpa curiga.
Selama dua bulan Regita terus diawasi oleh bodyguard, dan setelah itu Regita benar-benar terbukti hamil, yang membuat Regan sangat bahagia dan menjaga wanita itu dengan sangat baik.
Bahkan Regan secara rutin menagajak Regita periksa hanya untuk melihat perkembangan buah hatinya.
Berbeda dengan Regan, Regita selalu dipenuhi dengan emosi saat mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung benih pria itu, karena yang ia inginkan untuk menjadi suaminya hanyalah Arnold bukan orang lain.
___________
"Setelah anak ini lahir, aku mau kita pisah! Dan aku tidak mau mengurus anakmu ini, aku ingin tetap tinggal di sini, dan kamu bawa anakmu pergi jauh dariku, kalau perlu kau bawa anak ini ke Indonesia dan tinggal dengan keluargamu, karena aku membencinya dan aku tidak mau melihatnya!"
"Stop, Git! Ucapanmu terlalu keji, jika kamu memang tidak menginginkan anak ini, aku akan membawanya jauh darimu, tapi jangan harap kamu bisa menemuinya suatu saat nanti, karena anak ini hanya anakku, bukan anakmu!" ucap Regan seraya memegang perut datar Regita dan menatap wanita itu dengan emosi yang membuncah.
Setelah itu Regan menjongkok dan mensejajarkan kepalanya dengan perut datar Regita, lalu ia mengecupnya penuh kasih sayang.
"Hanya sembilan bulan kamu ada di sini, Nak! Setelah itu kamu akan tinggal sama Daddy!" ucap Regan.
Sementara Regita mengepalkan kedua tangannya menahan kekesalan mendengar ucapan pria tersebut.
Setelah itu Regan berdiri, lalu menatap Regita dengan amarah yang ia tahan. "Jaga anakku baik-baik! Jika sampai dia kenapa-kenapa? Jangan harap hidupmu akan tenang!" ancam Regan.
"Aku mau meeting, jangan kemana-mana!"
"Aku tahu kamu lebih buruk dari hewan, hewan saja menyayangi anaknya dan menjaganya dengan sangat baik, tapi kamu ...?" Regan menghentikan ucapannya.
"Ku peringatkan padamu lagi, jika kau macam-macam, apalagi sampai melukai anakku, ingatlah! Aku sendiri yang akan membunuhmu!" Regan pun melanjutkan langkahnya tanpa menoleh pada wanita tersebut.
"Arghhh... "
Regita meluapkan kekesalannya setelah pria itu menghilang dari balik pintu dengan membuang benda-benda di kamar tersebut.
Setelah itu Regan menugaskan bodyguard untuk menjaga sang istri karena ia takut Regita berbuat nekat.
Flashback off
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
...TBC...
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh π₯°
Sambil nunggu Othor update, mampir yuk ke Karya teman Othor dengan judul dan cover seperti di bawah πππ
Judul : Duda Cassanova terjerat gadis barbar
Author : Oktavia Hamda Zakhia
Jika tidak ingin baca abaikan saja π₯°
Karena Othor hanya bantu promosi, bukan pemaksaan ya, Sayang π
Berikut cuplikan babnya πππ
Setelah mendapat laporan dari mata-mata itu dia membanting pintu dengan pintu sambil langkahnya menuju ke arah ranjang lalu tak lama kemudian jemarinya menari-nari di atas keyboard.
Sebab gadis itu tengah menyelidiki kejadian yang menimpa om-nya dengan mengambil alih kendali atas perbuatan yang dilakukan oleh Morgan Gayatri Smith.
__ADS_1
Sekitar lima belas menit berlalu dan alangkah terkejutnya gadis itu mendapat kenyataann yang menampar dirinya. Perbuatan yang dilakukan oleh om-nya itu berasal dari kesalahan fatal dan lebih mengejutkan sang om terjebak dalam pengaruh obat penggrasang dosis tinggi.
Orang yang menjebak om-nya itu merupakan seseorang dibenci oleh dirinya sendiri.
Mau sehebat apa pun kau tak akan pernah bisa mendapatkan om-ku karena aku sangat tahu tujuanmu mendekatinya dan kupastikan setelah ini aku tak akan pernah memercayai setiap bualan yang aku ucapkan.
Bahkan jemari gadis itu terus menerulusi di atas keyboard untuk mencari wajah seseorang yang harta berharga terenggut paksa dan tercenganglah dia ketika menemukan wajah tersebut.
"Sialan si bujang lapuk ini ... sudah mengecewakanku dan dia malah merenggut harta miliknya ... kali ini aku tak akan pernah memaafkanmu dan sebelum itu lebih baik aku menghukum sampai dia kau bawa ke hadapanku."
Tekadnya bulat karena dia akan memberi hukuman untuk sang bujang lapuk agar mau bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya itu.
Bahkan dirinya berjanji akan menemui orang itu secara diam-diam dan meminta maaf atas nama si bujang lapuk serta memberi sebuah kartu limited edition untuk memberikan kehidupan karena dia sangat yakin gadis yang direnggut paksa oleh om-nya menghasilkan seorang anak.
Menyelidiki latar belakang dari gadis tersebut yang tak membutuhkan waktu lama dia dikejutkan dengan data gadis yang begitu familier dibenaknya.
Sungguh malang nasibmu di saat kau banting kerja keras untuk kedua orang tuamu, tapi apa yang kau jaga harus terenggut oleh om-ku. Namun, itu tak akan ada artinya bagimu dan aku janji akan membantumu bersembunyi karena aku ingin dirinya menyadari kesalahan yang telah diperbuat.
Dia pun teringat esok pagi akan mengunjungi makam mendiang sang mama dan saat itu dirinya akan memberi pelajaran untuk si bujang lapuk tersebut, yang hanya karena suatu kesalahan terpaksa Araela Ayudia Gayatri Smith begadang sambil membereskan kekacauan yang dibuat oleh, Morgan dengan menghapus beberapa rekaman dan menyisakan beberapa bagian penting untuk menghilangkan jejak sang gadis terenggut.
*
*
*
Keesokan hari sinar mentari telah menyambut di sebuah tempat yang menjadi saksi peluh keringat antara Morgan dan seorang gadis direnggutnya.
Bujang lapuk itu meringis sakit di kepala karena obat peranggsang benar-benar mengendalikan pikirannya yang tanpa disadari ia tak memakai apa pun selain tubuh kekarnya polos tanpa sehelai benang.
"Apa yang terjadi? Arghh ... sialan! Dia benar-benar wanita licik yang ingin menjebakku dengan trik murahan, tapi mengapa aku bisa sampai di sini? Lalu darah ini milik siapa? Kemeja dan celanaku pun tak ada di tempatnya. Kenapa hanya benda sialan ini yang tertinggal." Morgan bermonolog sembari memikirkan seseorang yang telah direnggutnya paksa.
Pria itu menyambar ponsel untuk menghubungi mata-mata yang menjadi bayangannya sambil terus memikirkan kejadian menimpanya.
Tak berselang lama kemudian panggilannya pun tersambung yang tanpa berbasa-basi pria itu menyuruh sang mata-mata, membawakan pakaian ganti karena dirinya teringat akan mengunjungi makam seseorang yang begitu berharga untuk bujang lapuk itu.
"Jangan lupa setelah kau membawakanku ganti ... minta rekanmu yang lain untuk memeriksa rekaman ini ... harus segera kau laporkan kepadaku sekarang!"
"A ... nu, tuan muda ... mengenai itu sudah ada orang lain yang menghapus jejaknya."
"Kau tidak mencandaiku bukan?"
"Saat saya baru sampai di sini malam tadi ... semua rekaman itu sudah terhapus dan jejaknya pun tidak lagi, tuan muda."
"Kutunggu kau di sini dan jangan lupa bawakan apa yang sedang kubutuhkan!"
Panggilan itu pun berakhir dengan dirinya yang mematikan. Tak ingin membuat si bayi mungil-nya menunggu pria itu pun membersihkan diri. Bahkan dia terbawa suasana saat sedang berbagi peluh yang ternyata membuat candu berbahaya bagi Morgan.
"Arghh ... sialan! Rasa itu membuat candu berbahaya untukku ... hei, siapa pun kau harus bertanggung karena tubuhmu membuat dia kembali tegak."
Citra seorang gadis yang direnggut oleh si bujang lapuk membuat sang pria tak berhenti memikirkan setiap rasa yang selalu terbayang-bayang di angannya.
Setengah jam berendam di air dingin sambil menenangkan sesuatu yang mengamuk. Akhirnya Morgan mengakhiri ritual dan menyambar cepat sebuah paper bag yang berisi pakaian ganti.
Tak lupa dirinya menyuruh mata-mata untuk membawa dan menyimpan sebuah benda tertinggal yang akan dia simpan sendiri sebagai pengingat bahwa dirinya tak akan melupakan malam hangat yang begitu panjang.
"Jangan sampai bayi mungilku mengetahui hal ini ... bawa dan letakkan di dalam kamarku ... karena nanti aku sendiri mengaturnya."
"Baik, tuan muda."
"Jika nanti kau bertemu wanita yang mengaku-ngaku pernah tidur denganku ... jangan pernah sedikit pun kau memercayainya ... pastikan kau dan rekan-rekanmu terus mencari keberadaannya setelah memeriksakan darah ini. Paham!"
Morgan melangkahkan kakinya setelah itu dia memutuskan untuk pulang karena sekarang janjinya akan menemani sang bayi mungil berkunjung ke makam.
*
*
*
Sementara itu, di sebuah kantor sudah dua hari ini Prasetya menginap di dalam ruangan yang hanya dia sendiri mengetahui ruangan rahasianya.
Mengingat pria baya itu enggan kembali ke mansion karena merasa kecewa dengan istri kedua yang berpuluhan tahun dia nikahi itu.
Sebab, wanita itu selalu menghasut pikiran untuk membenci seorang anak kandung yang tak pernah dianggap ada, demi menyayangi seorang anak yang sama sekali tak ada hubungan darah dengannya.
Maafkan aku atas semuanya dan jika memang ayah menjodohkanmu dengan pilihannya. Papa akan merestuinya dan aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu. Semoga engkau memaafkan kekhilafan yang pernah kulakukan untuk kalian.
Prasetya memutuskan akan mengunjungi makam seseorang yang selama menjadi bayangan penyesalannya dan dia juga akan menebus semua luka yang ditorehkan kepada putri tunggalnya.
Berbicara mengenai putri tunggal pria baya itu sedikit ragu dengan status Sonya yang selama ini melekat sebagai bagian dari keluarga Smith.
Rahasia apa yang selama ini begitu rapi disembunyikan, bahkan kemunculan Bastian pun saat ini menjadi tanda tanya dibenak pria baya itu.
Apakah ada sesuatu yang selama ini terlewatkan? Untuk itulah dia berusaha mati-matian bertahan sampai menemukan, titik rasa penasaran yang beberapa terakhir ini mengganggu pikirannya.
Setelah berlama-lama merenung di dalam kamar pribadi rahasianya, pria baya itu akhirnya keluar dari kamar dan tak lupa menanyakan beberapa kepada sekretaris pribadi, yang ternyata ia adalah asisten bayangan dari Tuan Besar Gunawan Gayatri Smith.
"Apakah istriku datang mencariku?" Prasetya tanpa berbasa-basi langsung menodongnya.
"Ya, Pak Pras ... sudah dua hari terakhir nyonya dan nona mencari keberadaan, Anda."
"Lalu apa kau mengatakan aku dua hari terakhir bersembunyi di ruangan rahasiaku? Apa mereka menemukan ruangan rahasia itu?"
Ruangan rahasia yang dimaksud tempat persembunyian selama dua hari terakhir. Mengingat tidak ada seorang pun yang mengetahui, hanya sang pemilik dan sekretaris di depannya ini yang mengetahui tempat tersebut.
"Tidak, Pak ... nyonya hanya menggeledah beberapa tempat saja ... bahkan beliau acuh-acuh saat melewati ruangan rahasia, Anda."
"Pastikan dia tidak menemukan ruangan rahasia milikku ... karena tempat itu hanya aku yang bisa mendatanginya ... apa kau paham tugasmu!"
"Baik, Pak Pras."
"Hari ini kau yang mengambil alih rapat dan pastikan permintaanku kemarin sudah kau laksanakan. Jika nyonya mencariku katakan aku sedang tidak ingin diganggu."
__ADS_1
Tanpa menoleh ke belakang Prasetya melangkahkan kaki ke tempat di mana dia akan mengunjungi seseorang yang selama ini begitu sangat berharga untuk pria baya tersebut.