
"Aku tidak pernah menyangka kau bisa sekejam itu pada orang lain, dan aku tidak mengerti mengapa kau melakukan kejahatan seperti itu pada Arnold, padahal dia tidak pernah mengusikmu!" ucap Regita yang dipenuhi dengan kekecewaan.
"Aku mencintaimu, Git! Aku mencintaimu! Itulah alasanku mengapa aku melakukan kejahatan yang sekejam itu pada orang lain!" sentak Regan dengan wajah berapi-api.
Jedduarrr ....
Regita terkejut mendengar pernyataan perasaan Regan hingga membuat ia bungkam tanpa bisa marah pada suaminya kembali.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Regita balik badan. Lalu menatap Regan intens.
"Tidak, aku memang mencintaimu, tapi kau tidak pernah menoleh padaku karena yang kau lihat hanya Arnold, Arnold dan Arnold hingga membuat aku nekat untuk menjauhkan dia darimu dengan cara yang licik."
Deg
Seketika Regita menundukkan kepalanya, ia dipenuhi dengan perasaan bersalah karena sikapnya pada Regan yang selalu kasar dan tidak pernah menghargainya.
"Maafin aku!" ucap Regita dengan wajah yang tertunduk dengan setitik air matanya yang menetes.
"Hey, untuk apa kau minta maaf? Aku pantas mendapatkan itu, karena memang akulah yang menjadi penghalang kebahagiaanmu!" ucap Regan seraya memegang kedua pundak Regita dan menatap wanita itu penuh kelembutan.
"Tapi ... "
"Tidak, aku yang kejam karena tidak pernah memikirkan penderitaan orang lain, aku mengorbankan orang yang tidak bersalah karena keegoisanku!"
"Tapi sekarang aku akan mengatakan tentang kebenaran itu pada Arnold, aku akan berusaha untuk menebus kesalahanku, meskipun aku tahu yang terjadi tidak mungkin bisa dikembalikan! Tapi setidaknya, jika Arnold tahu aku sedikit lega karena wanita itu tidak akan terlantar lagi jika Arnold mau bertanggung jawab," ucap Regan.
"Maksudnya?" tanya Regita penasaran.
Regan pun menceritakan yang terjadi pada Arnold dan Arumi hingga wanita itu menghilang karena sesuatu yang tidak Regan ketahui penyebabnya.
"Tapi kemana dia sekarang?" tanya Regita.
"Entahlah ... ! Tapi dia tidak punya siapapun!" ucap Regan.
Regita pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawaban suaminya tersebut.
"Ya sudah, aku berangkat dulu!" pamit Regan.
"Apa kau yakin akan mengatakan semuanya?" tanya Regita seraya menatap Regan khawatir. Wanita itu sangat tahu bagaimana Arnold jika dalam keadaan marah besar.
"Kenapa tidak? Jika aku berbuat salah, maka aku harus menebusnya agar aku tidak punya beban."
"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu!" pamit Regan kembali seraya mengangkat tangannya dan membelai pipi Regita.
Regita pun menganggukkan kepalanya, lalu Regan mengecup kening Regita lembut seraya memejamkan matanya menikmati ciuman itu.
Sementara Regita menerimanya pasrah ia sadar bahwa ia juga mulai mencintai suaminya tersebut.
__ADS_1
"Bicaralah pelan-pelan, aku yakin Arnold akan mengerti jika kamu mengatakan dalam keadaan tenang." Regita tersenyum tipis.
Regan mengangguk, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu. Sementara Regita memejamkan matanya setelah bayangan Regan menghilang dibalik pintu.
"Aku telah melakukan banyak kesalahan, seandainya aku tidak mengabaikannya selama ini, mungkin saja dia tidak akan melakukan hal sebesar itu," gumam Regita dengan perasaan bersalah.
____________
Setelah memukuli Sky habis-habisan, Arnold melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pria itu dipenuhi dengan amarah, hingga ia hampir menabrak sebuah mobil di depannya yang berhenti mendadak.
Arnold yang dipenuhi dengan emosi yang membuncah, ia langsung keluar dari mobil tersebut dan ia pun hendak memaki-maki orang yang punya mobil yang berhenti mendadak itu, namun setelah ia melihat seseorang yang keluar dari mobil tersebut, seketika kemarahannya mereda dan berganti menarik kedua sudut bibirnya.
"Regina ... ?" Arnold tersenyum saat melihat mantan tunangannya itu seraya membuka pintu mobilnya dan melangkah padanya yang sedang berdiri di samping mobil tersebut.
"Kak Arnold?" Regina tersenyum saat melihat pria itu yang telah lama tidak ia jumpai.
"Gina?" ucap Arnold tersenyum.
"Maafin Gina, Kak! Gina baru belajar mengemudi makanya Gina Reflek berhenti mendadak saat melihat mobil Kakak melaju sangat kencang, Gina ketakutan tadi Kak, saat melihat mobil Kakak dari kaca spion!" ucap Regina seraya menundukkan kepalanya.
Arnold mengerutkan kening mendengar ucapan Regina karena yang ia tahu betul bahwa wanita itu memang bisa mengemudi mobil sendiri.
"Bukankah kamu memang bisa mengendarai mobil, Gin?" tanya Arnold bingung.
"Iya bisa, tapi sejak aku hamil anak pertama, aku tidak pernah mengendarai mobil sendiri lagi hingga aku merasa takut untuk mengemudi sendiri seperti saat ini, Kak!"
"Aku punya 3 dengan yang masih ada dalam perutku!" jawab Regina tersenyum.
"Waw … selamat ya!" ucap Arnold dengan kedua sudut bibir yang terangkat ke atas.
"Terima kasih," ucap Regina membalas senyuman pria itu.
"Oh iya, maafin keluarga kami!" ucap Regina dengan perasaan bersalah.
"Kenapa harus minta maaf?" tanya Arnold seraya mengerutkan keningnya.
"Kami banyak melakukan kesalahan padamu, pertama dari aku, setelah itu Regita. Kami tidak bermaksud untuk mempermainkanmu, tapi takdir yang menggariskan jalan hidup kita untuk seperti ini!" ucap Regina menatap Arnold sendu.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak pernah marah pada kalian, apalagi kamu. Sifat kamu sama seperti Rainy hingga membuatku sangat nyaman saat bicara denganmu!" ucap Arnold dengan senyumnya yang tidak memudar.
"Rainy?" Regina mengerutkan keningnya.
"Iya, Rainy. Dia adikku!" ucap Arnold tersenyum.
"Owh … !" Regina menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah Kak, aku harus buru-buru pulang sebelum suamiku tahu kalau aku mengendarai mobil sendiri!" pamit Regina tersenyum.
__ADS_1
"Kamu tidak pamit?" tanya Arnold dengan menaikkan sebelah alisnya.
Regina menggeleng pelan hingga membuat Arnold merasa aneh karena yang ia tahu, Regina bukanlah tipe wanita pembangkang.
"Tumben kamu begitu?" tanya Arnold bingung.
"Entahlah, mungkin ini bawaan bayi hingga aku pengen banget mengendarai mobil sendiri Kam," jawab Regina tersenyum kaku.
"Lain kali kamu jangan begini lagi, kamu bukan hanya membahayakan kamu sendiri, tapi kau juga membahayakan anak dalam kandunganmu!" ucap Arnold.
"Lebih baik aku mengantarmu saja, bahaya jika kau sedang hamil mengemudi mobil sendiri!" ucap Arnold.
"Tidak perlu, Kak! Rumahku cuma di depan sana! 1 kilo lagi dah sampai," tolak Regina halus.
Drt… drt … drt …
Dering ponsel Arnold pun bergetar di saku jasnya, ia mengangkat panggilan itu seraya mengerutkan kening.
"Kenapa dia ingin menemuiku?"
" ..... "
"Baiklah, suruh tunggu saja, aku masih dalam perjalanan!" jawab pria itu datar. Lalu Arnold mematikan sambungannya dan menatap Regina kembali.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya! Aku harus segera ke kantor karena ada yang menungguku di sana!" ucap Pria itu tersenyum.
Regina pun menganggukkan kepala, lalu Arnold melangkah menuju mobilnya, dan melajukan mobil tersebut meninggalkan Regina yang masih berdiri di samping mobil wanita itu.
Setelah beberapa saat dari kepergian Arnold, Brata datang sebelum wanita itu memasuki mobilnya.
"Eh, Sayang …!" ucap Regina tersenyum cengengesan setelah melihat suaminya berjalan mendekat.
"Kamu bandel ya, Sayang! Sudah kubilang jangan pernah mengendarai mobil sendiri, masih saja tidak denger!" ucap Brata seraya menggendong tubuh Regina ala bridal style, membawanya masuk kedalam mobilnya dan mendudukkan wanita itu perlahan.
"Kamu lebay banget sih, Sayang! Aku 'kan cuma hamil, bukan sakit parah!" ucap Regina setelah Brata duduk di kursi kemudi dengan wanita itu yang duduk di sampingnya.
"Iya, aku tahu kamu hamil, tapi aku tidak mau terjadi sesuatu pada calon buah hati kita karena kecerobohanmu!" ucap Brata kesal.
"Lebay!"
"Terserah!"
"Lebay,"
Setelah perdebatan panjang, mereka pun kembali ke rumahnya dengan Brata yang mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan sedang.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
__ADS_1
...TBC...