Ditinggalkan Di Malam Pertama

Ditinggalkan Di Malam Pertama
Jauh


__ADS_3

"Kak Arum, kita ke ruang tengah yuk nonton! Sekarang ada acara pertunangan model terkenal dengan seorang pengusaha sukses yang di tayangkan secara live di stasiun TV."


Nina menarik lengan Arumi untuk menemaninya nonton. Sementara Arumi hanya bisa pasrah mengikuti langkah wanita itu. Arumi tersenyum sambil mendengarkan cerita Nina yang sangat heboh melihat artis-artis yang disukainya sedang tampil di sana.


"Kak Arum, lihatlah ... Dia sangat tampan bukan? Serasi banget dengan artis kesayanganku!" ucap Nina tersenyum.


Sementara Arumi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan Nina yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Arjuna mana Kak?" tanya Nina yang tidak melihat bocah itu.


"Arjuna pergi ke pasar malam sama Bik Salma, mungkin sebentar lagi pulang!" jawab Arumi tersenyum.


"Lihat deh Kak, Dia siapa? Wajahnya ... !"


"Kamu tonton saja, jangan berisik!" ucap Arumi tanpa menatap layar TV.


Namun, di detik berikutnya ia terkejut saat mendengar sebuah nama yang sangat familiar dipanggil, dan wanita itu pun langsung menoleh menatap TV seraya menatap orang yang tersorot kamera dan sedang melangkah menuju pentas.


"Dia siapa?" gumam Nina seraya menatap Arnold intens.


"Wajahnya begitu mirip dengan Arjuna!" Nina terus menatap layar TV tanpa berniat ingin mengubah saluran TVnya.


Sementara Arnold mengembangkan senyumnya, lalu ia menghadap kamera sebelum ia memainkan pianonya.


"Aku ingin menyanyi sambil main piano pada malam ini, dan aku khususkan lagu ini untuk seseorang yang selalu ada di hatiku, dan bayangannya yang selalu menemaniku di setiap langkahku!" ucap Arnold tersenyum.


"Apakah dia sudah meninggal, Tuan?" tanya MC seraya menatap Arnold dengan senyum lembutnya.


"Tidak, dia tidak meninggal, dia pergi meninggalkanku karena kebodohanku yang tidak bisa mengungkapkan cinta sebelum dia pergi menjauh!" ucap Arnold dengan senyum yang dipaksakan.


Arumi pun meneteskan air matanya menyaksikan acara itu, ia bahkan terisak hingga membuat Nina menoleh menatap wanita tersebut.


Nina langsung beranjak, lalu duduk di samping wanita itu. "Ada apa, Kak?" tanya Nina khawatir.


Wanita itu menatap Arumi curiga dan ia pun semakin mendengar dengan teliti setiap ucapan yang keluar dari bibir Arnold.


Arumi beranjak untuk mematikan TVnya. Namun, Nina mencegah wanita itu hingga membuat Arumi hanya bisa berdiam diri dan mendengarkan apa yang diucapkan pria tersebut.


"Kenapa Anda tidak mengungkapkan perasaan Anda jika Anda mencintainya, Tuan?" tanya MC.

__ADS_1


"Aku terlambat menyadari perasaanku. Sebelum dia pergi, aku hanya menganggapnya adik, tanpa aku sadari bahwa perasaan itu melebihi itu. Aku dulu sangat mencintainya bahkan hingga sekarang perasaan itu tidak pernah berubah."


"Jika Anda benar-benar mencintainya, kenapa Anda tidak berusaha untuk mencarinya Tuan?" tanya MC kembali.


"Karena sebelum dia pergi, dia bilang padaku bahwa dia akan menikah dengan orang lain, tapi sayangnya aku tidak bisa rela hingga saat ini! Karena aku masih dilimpahi penuh dengan penyesalan!" ucap Arnold.


"Baiklah, Tuan! Silakan nyanyikan lagu untuknya!" titah MC.


Arnold pun menganggukkan kepalanya, lalu ia mulai memainkan piano hingga membuat para tamu undangan terpana dan pandangannya tertuju pada pria itu, tak terkecuali Rainy yang menatap sang Kakak sendu.


...Hari demi hari telah kulewati...


...tak pernah aku bersamamu lagi...


...Tak pernah aku menduga...


...Kau akan pergi tinggalkan aku...


...Jauh kau pergi tinggalkan diriku...


...sepi hati ini mau membunuhku...


...Kucoba untuk cari penggantimu...


...namun tak ada yang sepertimu...


...Rindu aku sangat rindu ... kamu...


...terasa saja kau masih ada di dekatku...


...di saat aku terbangun terbangun dari tidurku...


...Rindu aku sangat rindu ... kamu...


...terasa saja kau masih ada di dekatku...


...di saat aku sendiri ......


...Jauh kau pergi tinggalkan diriku...

__ADS_1


...sepi hati ini mau membunuhku...


...kucoba untuk cari penggantimu...


...namun tak ada yang sepertimu...


...Rindu aku sangat Rindu ... kamu...


...terasa saja kau masih ada di dekatku...


...di saat aku terbangun dari tidurku...


...Rindu aku sangat Rindu ... kamu...


...terasa saja kau masih ada di dekatku...


...tak aku melupakan dirimu disaat aku sendiri ......


Lagu itu terus mengalun merdu di acara tersebut hingga membuat Arumi tidak kuasa menghentikan tangisannya.


Sementara di gedung itu, suara tepuk tangan pun bergemuruh saat mendengar suara Arnold yang begitu merdu, tak sedikit orang yang ikut menangis mendengar lagu tersebut.


Arnold yang bersikap dingin pada setiap orang, kini orang lain bisa melihat sisi kerapuhan pria itu melalui lagu yang ia lantunkan.


Rainy yang juga tidak kuasa mendengar lagu sang Kakak, kini menghampiri Kakaknya tersebut karena rasa khawatir yang melandanya.


"Kakak ... !" Rainy langsung menghambur memeluk Arnold yang berjalan melangkah mendekati Rainy yang juga melangkah untuk menghampirinya.


"Kakak adalah Kakak terhebat yang pernah Arum temui, aku yakin suatu hari Kakak akan menemukan kebahagiaan!" ucap Rainy dengan senyum yang mengembang. Akan tetapi, suara Rainy tidak terdengar keras, karena wanita itu tidak menggunakan mik.


"Itu pasti!" ucap Arnold seraya menghapus air mata Rainy yang mengalir deras, lalu tersenyum dan mengecup kening wanita itu.


Sementara Arumi semakin terluka melihat pemandangan tersebut. Ia tidak pernah bertemu dengan Rainy langsung sebelumnya, ia hanya melihat foto wanita itu, namun ia tidak dapat mengenali Rainy hingga membuat Arumi salah faham.


"Aku pikir semua ungkapan kesedihan tadi untukku, tapi ternyata aku salah, sekali lagi aku kecewa karena terlalu percaya diri!"


Rainy beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Kak, jelaskan padaku! Ada apa, Kak?" teriak Nina yang bingung dengan tingkah Arumi.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...TBC...


__ADS_2