Ditinggalkan Di Malam Pertama

Ditinggalkan Di Malam Pertama
Terlalu mencintaimu


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, kini Arnold dan Arumi semakin dekat, dan mereka pun bersahabat baik hingga membuat Arumi tanpa sadar menyukai pria itu.


Begitu pun dengan Arnold, pria itu mulai merasa nyaman saat dekat dengan Arumi hingga ia merasa yakin untuk memutuskan pertunangannya dengan Rina, meskipun ia belum tahu pasti tentang perasaannya pada Arumi entah sebagai adik atau melebihi itu.


Arnold juga bersepakat dengan Rina  bahwa mereka tidak akan saling mengusik satu sama lain setelah ia memberi Rina sedikit hartanya sebagai balas budi.


Setiap hari Arnold dan Arumi menghabiskan waktu berdua baik di kantor maupun di luar kantor hingga keduanya terkenal sebagai pasangan kekasih yang serasi di kantor pria itu. 


Seperti pada siang itu, saat mereka hendak menemui klien untuk meeting, Arumi melangkah terlebih dahulu keluar dari ruangan CEO, sepatu Arumi pun tiba-tiba patah sebelah, hingga membuat Arumi terjatuh dan sedikit lecet.


Arnold yang masih membereskan berkas-berkasnya langsung lari menuju wanita itu. "Arum …! Kamu tidak apa-apa?" tanya Arnold khawatir. Pria itu duduk menjongkok di depan wanita tersebut.


Arumi mengulum senyumnya, wanita itu  merasa tersentuh dengan perhatian pria itu, dan lukanya pun tidak terasa sakit saat menatap wajah tampan atasannya tersebut.


"Aku tidak apa-apa, hanya saja sepertinya sepatuku patah sebelah!" ucap Arumi dengan senyum yang masih terukir indah di bibirnya.


"Kalau sepatunya patah buang saja! Nanti aku akan menyuruh Doni untuk membelikan sepatu baru untukmu!" ucap Pria itu tersenyum lembut.


"Terima kasih, tapi aku harus memakainya dulu, kalau aku berjalan tanpa alas kaki, nanti karyawan kantor akan menatapku aneh," ucap Arumi tersenyum.


Tanpa banyak kata Arnold berdiri dan menjongkokkan badannya di depan wanita itu. "Naik!" titah Arnold.


"Hah … Maksudnya?" tanya Arumi mengerutkan kening.


"Aku akan menggendongmu!" ucap Pria itu tersenyum.


"Tapi … "


"Tidak usah tapi-tapian, cepat naik!" titah pria itu tersenyum seraya menepuk punggungnya.


Arumi pun berdiri perlahan, lalu ia menaiki punggung pria itu dengan senyum kaku. Setelah itu, Arumi pun semakin mengembangkan senyumnya saat Arnold membawanya lari menuju lift. 


Keduanya pun tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu sendiri dengan tingkah mereka yang seperti anak kecil hingga karyawan kantor itu ikut mengembangkan senyum melihat sepasang sahabat yang mereka pikir pasangan kekasih itu.


"Turunin aku, kita jadi sorotan karyawan kantor, lagi pula di lift ini cuma kita berdua!" ucap Arumi.


"Tidak perlu, sepertinya kamu kurang makan, tubuhmu ringan banget serasa menggendong bantal!" ucap Arnold.


"Mana ada bantal seberat aku? Jangan ngada-ngada deh!" Arumi semakin mengeratkan pelukannya pada pria itu dengan dagu yang mengait pada bahu pria itu, dan Arnold pun menoleh hingga bibir Arumi menyentuh pipi pria itu dan bertepatan dengan itu pintu lift terbuka hingga mereka berdua tampak lagi bermesra-mesraan, dan mereka bertatapan dengan cukup lama.


"Maaf," ucap Seseorang yang berdiri di depan lift tersebut.


Seketika Arnold terkejut mendengar suara yang tidak asing baginya. Ia menoleh begitupun dengan Arumi. 


"Gita …!" gumam Arnold dengan wajah terkejut.


Wanita itu langsung menjauh saat melihat pemandangan yang begitu mesra di depannya. Namun, Arnold langsung mengejar wanita itu melupakan Arumi yang masih berdiri mematung di dalam lift.


"Gita?" gumam Arumi seraya menatap punggung Arnold yang lari menjauh. 


"Tidak, aku tidak boleh sakit hati. Hati Kak Arnold memang miliknya, aku tidak boleh egois. Cinta tidak harus memiliki, dan mungkin ini terlalu cepat untuk dibilang cinta!" gumam Arumi tersenyum.

__ADS_1


Wanita itu hendak melangkah, namun suara seseorang menghentikan langkahnya. "Nona Arum!" panggil Doni~ sekretarisnya Arnold.


Arumi menoleh menatap Doni yang mendekat ke arahnya dengan membawa paper bag di tangannya.


"Ini sepatu yang Anda butuhkan Nona!" Doni menyerahkan paper bag itu pada Arumi, dan Arumi pun mengambil paper bag tersebut lalu membukanya, lalu memakai sepatu tersebut.


"Terima kasih Don!" ucap Arumi tersenyum.


"Sama-sama Nona! Oh iya, Tuan Arnold kemana?" tanya pria itu seraya mengerutkan kening. 


"Dia lagi ada urusan mendadak, lebih baik kita langsung ke restoran saja untuk meeting dengan Klien!" ajak Arumi.


"Maaf Nona! Tapi meetingnya di tunda, karena klien kita berhalangan!" ucap Doni datar. 


"Baiklah, kalau begitu aku makan siang di ruangan saja!" ucap Arumi tersenyum.


"Kalau begitu aku duluan Don!" pamit Arumi. Lalu wanita itu kembali ke lift tanpa menunggu jawaban dari pria itu. Sementara Doni menaiki lift yang lain.


__________


"Tunggu!" Arnold memegang pergelangan tangan Regita yang hendak memasuki taksi. 


"Ini ongkosnya, Pak! Aku membatalkan pesanannya!" Arnold mengeluarkan lembaran uang yang berwarna merah dan menyerahkannya pada sopir taksi yang Regita pesan."


"Kenapa kamu membatalkan taksinya?" tanya Regita dengan kening yang mengerut.


"Ikut aku!" Arnold menarik pergelangan tangan Regita,lalu membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu selalu tahu apa yang kurasakan, tapi sayangnya kita tidak ditakdirkan untuk bersama!" ucap Regita dengan senyum yang dipaksakan.


"Aku tidak ingin mengungkit masa lalu kita, cukup melihat kamu bahagia itu sudah membuatku senang, dan perlu kau tahu bahwa kebahagiaanku adalah senyuman dari orang-orang yang kucintai!" ucap Arnold seraya mengalihkan pandangannya dari wanita itu.


"Jika kamu tidak ditakdirkan untukku, aku ikhlas menerimanya. Dan aku harap kamu bahagia dengan pernikahanmu," ucap Arnold tanpa menatap wajah Regita.


"Tapi aku tidak bahagia Ar!" ucap Regita dengan air mata yang mengalir dengan wajah tertunduk.


Arnold menoleh menatap wanita yang dicintainya kembali. Ia menghapus air matanya. "Kenapa? Apakah suamimu menyakitimu?" tanya Arnold menatap Regita dengan wajah sendu.


Regita menggeleng dengan air mata yang terus jatuh dari pelupuk matanya. "Lalu kenapa?" tanya Arnold lembut.


"Hatiku terlalu mencintaimu, dan aku tidak bisa mencintainya meskipun sekuat tenaga aku berusaha!" ucap Regita dengan tangisan pilunya.


Arnold menangkup kedua pipi wanita itu hingga mata keduanya bertemu. "Cobalah ikhlas menerima takdir, karena ikhlas tidak akan pernah mengenal rasa sakit!" ucap Arnold tersenyum.


"Apakah kau sudah benar-benar melupakanku?" tanya Regita sendu. 


Arnold menghapus air mata Regita kembali, lalu ia mengalihkan tatapannya dari wanita yang ia cintai.


Arnold tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Jujur saja aku sulit untuk menghapus kenangan kita, namun aku sadar bahwa kamu bukanlah takdirku, jadi aku ikhlas dengan takdir yang telah digariskan untuk kita," ucap Arnold.


"Cobalah untuk mencintai suamimu! Apalagi sebentar lagi kalian akan memiliki anak, aku tidak ingin mengusik rumah tangga kalian!" ucap Arnold tersenyum. 

__ADS_1


"Jika kamu seperti ini, kamu bukan hanya menyakiti dirimu sendiri, tapi kamu juga menyakiti anak yang ada dalam kandunganmu!" ucap Arnold mencoba memberi Regita penjelasan.


Regita mengangguk sambil mengahapus air matanya yang terus mengalir.


"Regita yang aku kenal, adalah Regita yang kuat, tidak mudah menangis apalagi mengeluh!" ucap Arnold.


"Aku akan mencoba ikhlas, dan menerima takdir kita yang tidak mungkin bersatu," ucap Regita seraya mengahapus air matanya dan tersenyum menatap orang yang ia cintai.


"Itu baru Regita," ucap Arnold tersenyum.


"Oh iya, kenapa kamu berada di Indonesia?" tanya Arnold seraya mengerutkan kening. 


"Aku hanya ingin jalan-jalan di negara ini dan menghadiri undangan dari Kak Brata dan Regina," jawab Regita.


"Oh … iya aku lupa kalau kamu adik iparnya Tuan Brata. Aku juga diundang di acara syukuran lahirnya anak pertama mereka." Arnold tersenyum.


"Kalau begitu aku langsung pamit Ar! Regita hendak membuka pintu mobil pria itu, namun Arnold mencegahnya.


"Pindah ke depan saja! Biar aku antar!" titah Arnold.


"Terima kasih, tapi bagaimana dengan kekasihmu?" tanya Regita dengan alis yang mengerut.


"Kekasih?" tanya Arnold bingung.


"Iya, orang yang kamu gendong di lift tadi!" Regita menatap Arnold intens.


Arnold pun menepuk jidatnya. "Astaga … kenapa aku bisa melupakan Arumi!" ucap Pria itu.


"Ya sudah sana! Biar aku pesan Taksi online saja!" ucap Regita dengan senyum tulusnya.


"Tidak perlu, dia pasti sudah kembali!" ucap Arnold seraya membalas senyuman wanita itu.


"Tapi bagaimana jika dia salah paham dengan hubungan kita?" tanya Regita.


"Dia sahabatku, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia!" jawab Arnold.


Regita mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku pikir dia kekasihmu!" 


"Bukan, dia sahabatku sekaligus asisten pribadiku!" 


"Baiklah, kita langsung ke rumah Tuan Brata!" ucap Arnold seraya melajukan mobilnya meninggalkan kantor tersebut.


Sementara Arumi memandangi mobil Arnold yang melaju meninggalkan kantor itu dengan perasaan tak yang tidak bisa diartikan.


...🌺🌺🌺🌺...


...TBC ...


Jangan lupa like, komen and Vote ya Guys 🥰


Bab ini biasanya dua Bab, tapi Othor satukan biar panjang kayak kereta 🤣🤭

__ADS_1


__ADS_2