
"Ada apa?" tanya Adit seraya menatap Arumi dari samping, wanita itu duduk di sebuah pinggiran sungai sambil bermain air di sana.
"Aku menerima lamaranmu, dengan syarat kau harus menyayangi Arjuna sama seperti anakmu sendiri, dan jika suatu hari nanti kita dikaruniai anak, aku ingin kau tidak membeda-bedakan antara anak kandung dan anak tiri!" ucap Arumi dengan senyum lembutnya.
Deg
"Apakah aku tidak salah dengar?" tanya Adit yang masih menatap Arumi yang sedang asyik bermain air tanpa menoleh padanya.
Arumi menoleh, menatap Adit dengan tatapan teduhnya, lalu ia menggeleng sambil tersenyum lembut.
"Aku bahagia Arum, akhirnya kau menerimaku, kalau soal Arjuna, kau tidak perlu memintanya, bahkan jika kau tidak yakin padaku, kamu boleh memakai alat pencegah kehamilan hingga kita hanya akan memiliki Arjuna sebagai anak kita," ucap Adit tersenyum.
"Aku mencintai kalian tanpa syarat!" ucap Adit.
Arumi tersenyum mendengar ucapan pria tersebut, ia merasa bahagia karena bisa memberi Arjuna seorang ayah, namun ia juga sedih karena ia tidak pernah bisa melupakan Arnold.
"Dit, boleh aku jujur?" tanya Arumi seraya beranjak dari tempatnya, lalu wanita itu melangkah mendekati Adit yang masih berdiri seraya menatapnya intens.
"Silakan! Mengapa tidak?" Adit tersenyum tulus.
"Maafkan aku jika kamu merasa dimanfaatkan, tapi perlu kau tahu, bahwa aku melakukan ini karena Arjuna sangat membutuhkan sosok seorang ayah, aku tidak bisa memberinya ayah jika aku tidak menikah," ucap Arumi tersenyum.
"Aku mau menerima lamaranmu karena Arjuna, jadi maafkan aku yang belum bisa mencintaimu!" ucap Arumi tersenyum kaku, ia berdiri di hadapan Adit dengan mata yang menatap pria itu lekat.
"Aku tahu itu, meskipun aku tidak melihat cinta di matamu, tapi aku yakin suatu saat hatimu akan luluh dengan ketulusan!" ucap Adit tersenyum seraya menatap Arumi tak kalah lekatnya.
"Aku berharap seperti itu!" jawab Arumi.
"Dan aku pun akan mewujudkan harapanmu!"
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Arumi.
"Terima kasih yang sama!" jawab Adit seraya mencubit hidung Arumi.
"Adit ... !" panggil Arumi tersenyum.
"Iya, Sayang!"
"Apaan sih? Sayang, Sayang! Kita belum nikah!" Arumi mencoba mengingatkan.
"Tapi sekarang kau calon istriku!" ucap Adit.
"Terserah!" Arumi melangkah meninggalkan tempat itu dengan Adit yang mengekor di belakangnya.
"Minggu depan kita ke Jakarta, aku ingin mengenalkanmu pada orang tuaku!" ajak Adit.
Deg
"Ya, harus! karena kita akan tinggal di sana setelah nikah nanti!" ucap pria itu.
Arumi pun susah untuk menelan ludahnya kembali karena ia belum siap untuk bertemu dengan Ayah dari anaknya tersebut.
__________
Sementara di tempat lain, Arnold duduk di bangku taman dengan Rainy yang kebetulan mampir ke rumah kakaknya tersebut.
"Sampai kapan Kakak akan terus begini?" tanya Rainy yang melangkah mendekati sang Kakak dan duduk di samping pria itu.
"Memangnya Kakak kenapa, Rain? Kakak baik-baik saja!" jawab Arnold dengan mata yang menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Tidak, Kakak tidak baik-baik saja, aku tahu itu!" Rainy menyangkal ucapan Arnold.
"Tatap mataku, Kak! Tatap!" Arumi menarik kepala Arnold yang membuang muka, wanita itu menatap mata sang Kakak lekat dari jarak yang begitu lekat. Wanita itu menangkup wajah Arnold seraya menatapnya sendu.
"Kenapa, Kak? Kenapa Kakak selalu menahan beban sendiri, Tadi kebetulan aku bertemu dengan Regita, dia cerita semuanya tentang kakak!" ucap Rainy seraya menatap wajah kakaknya sendu.
"Apa yang dia ceritakan? Masa lalu biarlah menjadi masa lalu, kau tidak perlu mengungkitnya lagi!" ucap Arnold datar.
"Tapi karena masa lalu kakak begini!" ucap Rainy dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
"Memangnya Kakak kenapa, Rain? Kakak baik-baik saja!" ucap Arnold tersenyum seraya menoleh sekilas pada wanita itu.
"Tapi yang aku lihat kakak tidak begitu, Kakak sangat berbeda dengan kakakku yang dulu, sekarang kakak sering melamun, jarang tidur, jarang makan dan lihatlah, kondisi kakak seperti orang gila!" ucap Rainy dengan air mata yang terus menetes dari kedua pelupuk matanya.
"Hey, kenapa kamu menangis? Bukankah kamu sudah berjanji pada kakak bahwa kamu tidak akan mengeluarkan air matamu lagi?" Arnold tersenyum seraya mengahapus air mata sang adik.
"Tapi kakak yang membuatku begini! Kakak anggap aku apa? Selama ini kakak tidak pernah berbagi kesedihan kakak padaku, yang kakak lakukan hanya melamun tidak jelas!" ucap Rainy.
"Sayang bukan begitu tapi ... "
"Sudahlah Kak! Percuma aku ngomong panjang lebar sama Kakak, tapi pada kenyataannya Kakak tidak pernah menganggapku adik!" Rainy beranjak dan hendak melangkah untuk meninggalkan pria tersebut.
Namun, Arnold langsung memeluk adiknya dari belakang. "Please ... jangan katakan itu lagi, kamu segalanya bagi kakak!" ucap Arnold dengan air mata yang tiba-tiba menetes dari pelupuk matanya.
Rainy pun memejamkan matanya seraya menangis dengan tangisan pilunya. "Aku tahu itu, Kak. Kakak sangat menyayangiku hingga Kakak tidak sempat memikirkan kebahagiaan Kakak sendiri! Jadi Rainy mohon ... Please ... berbagilah kesedihan Kakak pada Rainy!" ucap wanita itu dengan air mata yang membasahi seluruh wajahnya.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
__ADS_1