Ditinggalkan Di Malam Pertama

Ditinggalkan Di Malam Pertama
Ikhlas


__ADS_3

Malam harinya, Rainy belum bisa memejamkan matanya, wanita itu teringat dengan ungkapan perasaan Sky hingga ia memilih beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar tersebut.


Rainy pergi ke taman rumahnya dan duduk di sebuah kursi panjang di taman tersebut. Rintik hujan pun mulai turun, namun Rainy tidak berniat untuk kembali masuk ke dalam rumahnya, ia bermain hujan dengan kepala yang menengadah ke atas seraya memejamkan mata, menikmati air hujan yang mengguyur tubuhnya.


"Aku mencintaimu, Mas! Aku mencintaimu!" ucap Rainy dengan air mata yang mengalir mengikuti aliran air hujan diwajahnya.


Semalaman Rainy hanya duduk di bangku taman tersebut dengan pakaian basah kuyup karena di guyur hujan semalaman hingga wanita itu kehilangan kesadarannya. 


Keesokan harinya. 


Arnold mencari Rainy ke kamarnya, namun wanita itu tidak ada di kamar tersebut hingga membuat pria itu khawatir dan ia langsung menanyakan keberadaan adik kesayangannya tersebut pada seluruh pelayan rumah mewah itu, namun tidak ada satu orang pun yang melihatnya.


Ia pun langsung lari menuju halaman rumahnya, lalu menuju taman, ia dibuat terkejut setelah melihat sang adik yang basah kuyup di kursi panjang taman tersebut dengan keadaan tak sadarkan diri.


"Rain … !" teriak Arnold.


Pria itu langsung lari mendekati sang adik dan menggendongnya seraya membawa masuk dengan wajah yang dipenuhi ke khawatiran setelah melihat wajah pucat adiknya tersebut.


Setelah itu, ia menghubungi Awan untuk datang ke rumahnya. Lalu, ia memanggil pelayan untuk mengganti baju sang adik.


Beberapa saat setelah baju Rainy diganti oleh pelayan, pria itu menghampiri adiknya ke kamar wanita itu dan duduk di samping Rainy seraya menatapnya sendu, setelah mendengar gumaman sang adik dari alam bawah sadarnya. 


Ia memegang tangan Rainy yang terasa panas. Sementara wanita itu terus mengigau hingga membuat Arnold tidak tega melihatnya. 


"Aku mencintaimu, Mas!" gumam Rainy.


Wanita itu terus menerus mengulang-ulang kata-kata itu hingga tanpa terasa air mata Arnold menetes. 


"Aku ingin kau bahagia, Rain! Bukan seperti ini!" ucap Arnold seraya mengusap air matanya.


Lalu ia menghubungi sahabatnya untuk memeriksa keadaan sang adik.

__ADS_1


________


Beberapa menit kemudian, pria itu datang ke rumah pria itu. Ia tersenyum saat melihat Arnold duduk di sisi ranjang Rainy dengan wajah cemas.


"Dari mana saja kamu?" tanya Arnold tanpa menoleh pada Awan yang melangkah mendekati ranjang adiknya tersebut.


"Maaf, tadi aku mengobati pasien terlebih dahulu, makanya aku lambat!" ucap Awan menarik kedua sudut bibirnya.


"Ya sudah, cepat periksa adikku!" titah Arnold.


Awan pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Lalu ia langsung mengecek suhu tubuh Rainy.


Setelah itu ia berbincang-bincang dengan Arnold~ sahabat baiknya tersebut. "Bagaimana dengan kondisi adikku?" tanya Arnold datar. 


Pria itu duduk bersebrangan dengan sahabatnya dengan tubuh yang disandarkan pada sofa.


Awan tersenyum dengan wajah tertunduk. "Rainy tertekan, hal ini tidak baik untuknya. Aku harap kamu tidak memaksakan kehendak untuk menikahkannya denganku!" ucap Awan mengangkat kepalanya kembali dan menatap Arnold intens.


"Kenapa?" tanya Arnold.


"Maka kemungkinan Rainy akan mengalami gangguan kejiwaan!" ucap Awan dengan wajah sendu.


Deg 


Arnold langsung duduk tegap karena terkejut mendengar ucapan sahabat baiknya itu. "Ini bukan alasanmu untuk menjauhi adikku, 'kan?" tanya Arnold seraya memicingkan matanya.


"Untuk apa aku melakukan itu? Aku sangat mencintai adikmu, tapi aku tidak bisa melihatnya bersedih, apalagi keadaannya sampai seperti itu!" ucap Awan tersenyum hambar. 


"Maksudmu?" tanya Arnold.


"Aku ikhlas melepas Rainy untuk kembali pada Sky jika memang itu kebahagiaannya, karena ikhlas tidak akan pernah mengenal rasa sakit!" ucap Awan tersenyum.

__ADS_1


"Aku mohon, restui hubungan mereka demi kebaikan semua orang, jika aku menikah dengan adikmu, bukan hanya dia yang terluka tapi kau kan melukai hati banyak orang!" ucap Awan masih dengan senyum di bibirnya.


"Kamu terlalu baik untuk disakiti!" ucap Arnold menatap sahabatnya sendu.


"Aku akan berangkat ke Swiss hari ini dan aku ingin menitipkan surat ini untuk Rainy! Tapi jangan katakan kalau aku pergi, katakan setelah pernikahannya!" pinta Awan.


"Maksudmu apa?" tanya Arnold mencoba mencerna ucapan pria itu.


"Pernikahan ini akan tetap dilanjutkan, tapi calon pengantin prianya bukan aku, tapi Sky!" ucap Pria itu tersenyum.


"Apakah kau memang merencanakan semua ini sejak lama?" tanya Arnold curiga. 


"Tidak juga, tapi setelah ada seorang gadis yang datang ke rumahku dan rela melakukan apapun untuk membuat mamanya kembali, dan melihat seseorang yang rela dipukuli habis-habisan karena menyadari kesalahannya, juga melihat seseorang yang sangat tertekan meskipun dalam keadaan tersenyum," ucap Awan menatap Arnold dengan senyum ketulusan. 


"Maafin, aku! Karena keegoisanku, kalian tersiksa!" ucap Arnold dengan perasaan bersalah. 


"Jangan menyalahkan diri sendiri, kau hanya menginginkan yang terbaik untuk adikmu, jadi semua ini bukan salah kamu, tapi takdir kita memang sudah digariskan untuk seperti ini!" ucap Awan dengan senyum tulusnya.


"Aku langsung ke Bandara!" ucap Awan dengan senyum yang masih terukir di bibirnya.


"Biar aku antar!" ucap Arnold seraya beranjak.


"Tidak perlu!" tolak Awan tersenyum.


"Kau hanya perlu berjanji bahwa kau akan menyatukan mereka agar pengorbananku tidak sia-sia!" pinta Awan tulus.


"Baiklah, aku janji! Kalau begitu biar aku mengantarmu ke depan saja!" ucap Arnold tersenyum.


Awan pun menganggukkan kepalanya, lalu melangkah mendahului sahabatnya tersebut.


...🌺🌺🌺🌺🌺...

__ADS_1


...TBC ...


__ADS_2