Ditinggalkan Di Malam Pertama

Ditinggalkan Di Malam Pertama
Kak Arnold pasti menerimanya


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi pada Kakak? Apakah orang tua suami Kakak kejam?" tanya Nina.


Arumi tersenyum kembali. "Tidak."


"Anak ini hadir karena kesalahan. Jika saja kakak mengandungnya dalam status menikah, mungkin saat ini aku menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini!"


Jedduarrr …


"Jadi Kakak belum menikah?" tanya Nina dengan wajah terkejut, hingga ia menatap Arumi dengan mata yang membola.


"Kenapa? Kamu pasti jijik lihat manusia kotor seperti Kakak, 'kan?" tanya Arumi seraya menatap Nina dengan senyum kakunya.


"Kenapa Kakak cerita yang sebenarnya pada Nina? Apakah Kakak tidak takut diusir dari kampung ini jika Nina sampai membeberkan rahasia Kakak?" tanya Nina seraya menatap Arumi intens.


"Untuk apa aku berbohong pada kalian? Suatu saat kalian akan tahu sendiri tentangku meskipun serapat apa pun aku berusaha menyembunyikannya."


"Aku tidak bisa hidup dalam kebohongan dengan orang yang dekat denganku! Dan aku juga tahu, bahwa kalian adalah orang yang baik hati!" jawab Arumi menghembuskan nafasnya kasar.


"Jika kamu dan Bik Salma merasa terganggu dengan kehadiranku, maka aku akan pergi lagi ke tempat yang lebih jauh!" ucap Arum dengan senyum tipisnya.


"Jangan, Kak! Jangan pergi! Aku akan menjaga rahasia Kakak!" ucap Nina dengan wajah cemas karena takut Arumi salah paham.


Arumi tersenyum seraya mengehentikan langkahnya dan menatap Nina dengan tatapan teduhnya. "Aku tidak ingin membuat kalian terbebani dengan kehadiranku!" ucap Arum.


Nina juga berhenti dan berdiri di samping wanita itu seraya membalas senyuman Arumi.


"Kak Arum, Kakak tidak perlu khawatir, aku dan ibuku sangat berterima kasih pada Kakak, karena Kakak telah mempercayai kami dan mengizinkan kami bekerja dengan Kakak!" ucap Nina dengan senyum tulusnya.


Arumi pun lega mendengar jawaban dari gadis itu, ia melangkahkan kakinya kembali dengan Nina yang terus mengikutinya.


"Kenapa kau tidak membenciku?" tanya Arumi dengan mata yang menatap lurus ke depan.


"Karena aku sangat tahu pasti menjadi seorang anak tanpa ayah, Kak!" ucap Nina


seraya mengingat perjalan hidupnya.


"Maksudmu?" tanya Arumi dengan menatap Nina bingung.

__ADS_1


"Ayahku meninggal bahkan sebelum ibuku melahirkan aku, hingga ia dianggap hamil di luar nikah oleh semua orang kampung karena ibuku menikah dengan orang kota dan tinggal di sana, Kak."


"Sejak kepergian ayah, ibuku diusir oleh keluarga ayah hingga terpaksa Ibu kembali ke desa ini dan tinggal dengan kakek dan nenek," ucap Nina.


"Berarti kamu punya keluarga di kota?" tanya Arumi penasaran.


"Bisa dibilang seperti itu, Kak!"


"Tapi meskipun mereka keluargaku, aku merasa mereka bukan keluargaku, karena mereka tidak pernah mengharapkan kehadiranku dan kehadiran ibuku!" ucap Nina dengan wajah sendu.


"Kamu masih lebih beruntung daripada aku, Nin! Kalau kamu masih punya ibu untuk menemani dan terus mendukungmu, kalau aku dibesarkan di panti, dan saat aku menikah, suamiku meninggal pada malam pertama," ucap Arumi seraya tersenyum sendu.


"Kakak sudah menikah? Lha … tadi katanya Kak Arum belum menikah?" Nina semakin penasaran dengan kisah hidup Arum.


"Kita duduk di sana dulu yuk, Kak!" ajak Nina dengan tangan yang menunjukkan pada sebuah warung tempat orang berteduh saat panas atau pun hujan, dan tempatnya pun juga sangat indah karena bisa melihat pegunungan dan keindahan alam lainnya, seperti sawah dan pepohonan.


Arumi mengengguk dengan senyum lembutnya. Lalu, Nina meletakkan sepedanya di bawah pohon dipinggir jalan.


"Apa di sini aman, Nin?" tanya Arumi karena takut sepeda Nina dibawa orang.


"Tempat ini sangat nyaman, Nin!" ucap Arumi tersenyum sambil memejamkan matanya dan menghirup udara pagi yang menyejukkan.


Nina hanya tersenyum mendengar ucapan wanita itu seraya menatap Arumi dari samping.


"Oh iya, Nin. Kenapa di sini sepi banget ya?" tanya Arumi bingung.


"Di jalan ini memang sangat sepi kalau jam segini Kak, soalnya warga lagi pada sibuk mencari rumput, mereka lewat pinggiran sawah, tidak menggunakan sepeda apalagi motor, makanya sepi!" jawab Nina tersenyum seraya menatap wajah Arumi dari samping.


"Owh ... !" Arumi mengengguk-anggukan kepala sambil melihat sekelilingnya.


"Oh iya, Kak! Kata Kakak, Kakak punya suami, tapi kenapa Kakak bilang Kakak hamil di luar nikah. Aku bingung dengan kisah perjalanan hidup Kakak!" Nina menatap Arumi dengan kening yang mengerut.


Arumi tersenyum, lalu menceritakan tentang perjalanan hidupnya mulai dari menikah sampai pertemuannya dengan Arnold hingga membuat Nina menatap wajah Arumi dengan wajah sendunya.


"Kamu kenapa?" tanya Arumi yang melihat raut perubahan wajah Nina.


"Aku tidak apa-apa, Kak! Aku pikir perjalanan hidupku dan ibuku sangat sulit hingga aku pikir, tidak ada orang yang lebih menderita daripada kami, tapi setelah mendengar cerita Kak Arum, ternyata aku salah besar. Aku malu Kak, karena selama ini aku suka mengeluh!" ucap Nina seraya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Hey, kenapa malu. Kakak juga suka mengeluh bahkan aku sempat ingin bunuh diri, bukankah kelakuan kakak melebihi anak-anak?" tanya Arum tersenyum.


"Tidak, Kak! Jika aku berada di posisi Kakak, mungkin aku akan melakukan hal yang sama!" ucap Nina yakin.


"Berarti semua apa yang Kakak lakukan sudah benar? Termasuk menjauhi Kak Arnold?" tanya Arumi seraya mengalihkan tatapannya dari Nina.


"Itu yang tidak benar, Kak. Seharusnya Kakak bukan lari, tapi katakan pada Kak Arnold tentang semuanya, aku yakin dia akan bertanggung jawab!" ucap Nina seraya menatap Arum dengan penuh penekanan.


"Kenapa kau se yakin itu?" tanya Arumi seraya menoleh menatap Nina dengan wajah penuh tanya.


"Kalau dari cerita Kakak, Kak Arnold itu orang yang super baik bahkan bisa dibilang malaikat penolong, jadi kenapa Kak Arum mesti ragu?"


"Meskipun Kak Arnold tidak mencintai kakak, tapi aku yakin, jika kalian menikah cinta itu akan mudah tumbuh, karena aku tahu kalau Kak Arum adalah orang yang sangat baik!" ucap Nina.


"Dari mana kamu tahu aku kalau aku baik? Aku baru di kampung ini!" ucap Arum.


"Aku tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenal seseorang Kak, tapi aku bisa melihat dari mata Kakak, kalau kakak adalah orang yang tulus!" ucap Nina tersenyum.


Arumi pun membalas senyuman gadis itu. "Ya sudah, ayo kita ke pasar, bisa-bisa Nanti kita kesiangan. Kasian Bik Salma sendirian di warung." Arumi beranjak dari tempat duduknya.


"Ya sudah, ayo Kak!" Nina tersenyum sambil mengulurkan tangannya agar Arumi melangkah terlebih dahulu.


Kedua wanita itu akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju pasar dengan Nina yang mengayuh sepeda tersebut.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku, Sayang 🥰


Jangan lupa dukungannya ya? Like, Komen and Vote ❤️


Give Away Insya Allah akan di umumkan tanggal 1 November 2022 🥰


Tamat ataupun tidak Othor akan kasih jika mencukupi Syarat ❤️


Syaratnya adalah, dukungan harus mencapai 3000 poin / Mencapai Top Fans 🥰

__ADS_1


__ADS_2