
“Para penumpang yang terhormat, kereta sudah sampai di pemberhentian terakhir, mohon periksa kembali barang bawaan anda dan hati hati melangkah keluar.”
Sebuah pengumuman berkumandang di dalam gerbong kereta yang baru saja sampai di stasiun yang berada di sebuah kota besar bernama Hamsphere. Seorang anak muda turun dari kereta, membawa ransel yang besar di punggung nya. Dia melangkah menuju pintu keluar dari stasiun, ketika sudah di luar,
“Akhirnya aku sampai ke sini....” Ujar nya sambil melihat pemandangan kota di depan nya.
Dia melepas ranselnya dan merenggangkan tubuh nya yang pegal karena sudah terlalu lama duduk di dalam kereta. Setelah selesai merenggakan tubuh nya yang pegal, dia mengeluarkan smartphone dari saku nya, dia membaca pesan dari ayah nya sekali lagi yang isinya,
“Begitu sampai kota Hamsphere langsung ke rumah bapak Roderick ya, papa mengandalkan mu, ini alamatnya......”
“Duh...aku tidak tahu dimana alamat ini berada.....papa dadakan banget sih, sebenarnya aku kan hanya mau kuliah di sini...” Ujarnya dalam hati.
Dia menoleh ke kanan dan kiri melihat sekeliling, sebuah taksi berhenti persis di depan dirinya, seorang penumpang turun dari taksi, sebelum taksi itu pergi, dia langsung berlari meraih taksi itu. Dia mengetuk kaca penumpang di depan dan pengemudi taksi membuka jendelanya.
“Permisi pak, tahu tidak alamat ini ?” Tanya nya.
“Oh tahu dek, naik saja, saya antar....” Jawab pengemudi taksi.
“Baiklah pak....saya naik ya....”
Pemuda itu langsung menaiki taksi yang baru saja menurunkan penumpang nya, wangi parfum penumpang wanita itu masih tercium di dalam taksi. Ketika duduk, dia meraba kursi tempat duduk di sampingnya dan dia menemukan sebuah dompet. Dia langsung meminta pengemudi taksi berhenti sambil memperlihatkan dompetnya. Pengemudi taksi memasang lampu berhenti darurat dan dia turun mengejar penumpang wanita yang turun barusan. Karena wanita itu belum jauh, dia langsung berhasil mengejarnya,
“Permisi bu, maaf ini dompetnya tertinggal di taksi.” Ujar nya dari belakang.
Wanita itu menoleh dan berbalik, pemuda itu terkesima dengan kecantikan nya yang ternyata seperti seorang model itu. Tapi dia langsung sadar dan memberikan dompetnya kepada wanita itu, setelah wanita itu memeriksa dompetnya,
“Terima kasih ya....sudah mengembalikan dompetku dengan utuh.” Ujar wanita itu sambil tersenyum sinis karena melihat penampilan Joshua.
“Sama sama, baiklah, saya permisi dulu, taksi nya sudah menunggu...” Pemuda itu langsung berbalik dan berlari pergi.
Pemuda itu kembali menaiki taksinya, pengemudi langsung menjalankan taksi dan mereka berangkat menuju alamat yang di perlihatkan oleh pemuda itu. Sepanjang perjalanan, pemuda itu melihat keluar jendela, dia melihat betapa megahnya kota yang dia datangi, gedung tinggi menjulang dengan jumlah banyak bagaikan hutan beton, banyaknya mobil dan motor di jalan raya, para pejalan kaki berjalan di sisi trotoar dengan tertib dan patung besar yang berada di tengah kota lengkap dengan kolam berbentuk lingkaran.
“Kota ini besar sekali ya....” Ucap pemuda itu kagum.
“Oh kamu baru datang dari luar kota ya dek ?” Tanya pengemudi taksi.
“Iya pak benar, aku baru kali ini berada di kota ini.” Jawab pemuda itu.
“Wah....kamu ke kota mau apa ? berkerja ? kuliah ?” Tanya pengemudi taksi itu.
__ADS_1
“Aku mau kuliah pak, ambil jurusan kedokteran...” Jawab pemuda itu.
“Hebat, mumpung masih muda, jangan menyerah ya...saya doakan supaya berhasil dan sukses.” Balas pengemudi taksi.
“Wah terima kasih sekali pak.....” Balas pemuda itu.
Akhirnya setelah cukup lama berjalan, taksi tiba di bagian selatan kota yang penuh dengan perumahan elit dengan rumah yang luas dan besar bagai istana. Komplek perumahan itu di batasi oleh pagar pengaman, berarti tidak boleh sembarang orang masuk ke dalam komplek itu. Taksi yang mau masuk harus di cek dulu di gerbang dan di tanya mau menemui siapa di komplek itu, tak terkecuali taksi yang di naiki pemuda itu, ketika sampai di gerbang,
“Maaf permisi, ada keperluan apa ke komplek ini ?” Tanya seorang penjaga.
“Oh aku sedang mencari rumah yang beralamat di sini....milik keluarga bapak Roderick....” Jawab pemuda itu sambil memperlihatkan smartphone nya.
“Pak Roderick ya, baiklah, anda lurus saja, gang ke tiga di sebelah kanan belok, lalu lurus saja, rumah nya yang paling besar berada di paling ujung.” Ujar penjaga.
“Baik pak, terima kasih...” Balas pemuda itu.
Taksi berjalan memasuki gerbang yang sudah di bukakan oleh penjaga yang bertanya barusan. Sesuai arahan penjaga, taksi tiba di depan sebuah rumah besar berwarna putih dengan dua buah pilar besar berada di depan nya, rumah tersebut berada di depan taman komplek dan memiliki halaman luas.
“Dek, benar nih ini rumah nya ?” Tanya pengemudi taksi.
“Kalau menurut alamat sih benar ya pak....” Jawab pemuda itu ragu ragu.
“Wuih...hebat dek, kenalan papa mu....baiklah ongkos nya jadi 80.000....”
“Loh kok sudah pergi, uangku tinggal selembar itu padahal....ya sudah lah....” Ujar pemuda itu dalam hati.
Dia kembali memandangi rumah di depan nya sambil memanggul ransel nya, berkali kali dia mengecek alamatnya menggunakan aplikasi peta di smartphone nya dan tidak salah lagi kalau rumah di depan nya adalah rumah nya. Akhirnya dia memberanikan diri menekan bel yang ada di bagian depan pagar rumah itu.
“Ding dong.” Terdengar suara bunyi bel yang nyaring di dalam rumah, tak lama kemudian seorang pria yang mengenakan seragam security membuka pagar, pria itu keluar dan menemui pemuda itu. Sebelum bertanya, security itu melihat penampilan pemuda yang ada di depan nya, dia mengamati pemuda itu dari atas ke bawah lalu kembali lagi ke atas, walau tampan tapi penampilan nya kurang cocok berada di komplek itu, barulah security itu bertanya,
“Ada yang bisa di bantu ?” Tanya nya ketus.
“Maaf pak, apa benar di sini rumah bapak Roderick ? Nama saya Joshua Verden, saya datang dari kota Thules....” Ujar Joshua.
“Benar, ini rumah bapak Roderick, ada keperluan apa kesini ?” Tanya security itu semakin ketus.
“Ini pak, saya di minta kesini oleh papa saya....” Ujar Joshua sambil memperlihatkan nama papanya di smartphone.
“Sebentar.....” Jawab security.
__ADS_1
Security itu langsung masuk menutup kembali pagarnya, terdengar suara langkah orang berlari di balik pagar. Joshua menjadi sedikit heran, karena mendapat sambutan yang kurang ramah dari security. Tak lama kemudian, security itu kembali membuka pagar, kali ini dia datang bersama dengan seorang wanita berpakaian pelayan keluar,
“Saudara Joshua ?” Tanya wanita itu.
“Benar bu, saya Joshua.” Jawab Joshua.
“Baiklah, ayo ikut aku....” Ajak wanita itu ketus.
Wanita itu berbali, security membuka pagarnya lebar lebar dan mempersilahkan Joshua masuk dengan wajah yang sangat tidak enak di lihat. Joshua masuk mengikuti wanita berpakaian pelayan itu ke dalam ruang tamu. Setelah di dalam, ketika Joshua mau duduk di sofa,
“Hei...jangan duduk di sofa, duduk di lantai.” Ujar wanita itu.
Joshua yang tidak mengerti akhirnya menuruti permintaan wanita itu walau hatinya sedikit bingung,
“Apa begini ya tata cara menerima tamu di kota ini ?” Tanyanya dalam hati sambil menoleh kepada pelayan yang berwajah masam.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya yang bertubuh gemuk dan pendek masuk ke ruang tamu, dia mengenakan pakaian tidur ala bangsawan yang terlihat mewah dan berwarna merah.
“Joshua ?” Tanya nya begitu masuk ke dalam ruang tamu.
“Benar pak, saya Joshua...” Jawab Joshua.
“Hah...kenapa kamu duduk di bawah, ayo naik ke atas....” Ujar pria itu sambil menghampiri Joshua dan menyuruhnya duduk di atas.
“Um...bapak siapa ?” Tanya Joshua.
“Saya teman papamu....nama saya Calvin Roderick. Ayo, siapa yang suruh kamu duduk di bawah seperti itu....” Ujar Calvin menoleh kepada pelayan di sebelah Joshua.
“Maaf tuan, saya pikir dia pekerja baru di sini...” Ujar pelayan yang di lirik tajam oleh Calvin.
“Tolong lain kali tanya dulu, dia ini menantu saya, jangan kurang ajar....mengerti...sekarang kamu keluar...” Bentak Calvin.
“Ba..baik tuan....” Pelayan itu berjalan mundur dan langsung keluar dari ruang tamu.
Kemudian Calvin mendorong perlahan punggung Joshua dan meminta duduk di sofa, kemudian dia duduk di depan Joshua dan melihat wajah Joshua.
“Loh kenapa Joshua, kok wajah mu seperti itu ?” Tanya Calvin.
“Anoo....pak, saya...tadi bapak bilang apa ? menantu ?” Tanya Joshua yang dari raut wajahnya ketahuan kalau dia bingung setengah mati.
__ADS_1
“Loh, Johan tidak bilang apa apa pada mu ?” Tanya Calvin.
Joshua tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya. Calvin langsung menunduk dan mengurut kening nya dengan tangan nya.