
Ketika pintu di buka, Joshua sedikit lega, karena yang datang ternyata Robert dan asisten nya. Keduanya masuk ke dalam kemudian menutup kembali pintu nya.
“Oh dokter Joshua sedang di sini ?” Tanya Robert menyapa Joshua.
“Aku sedang menjenguk tante Sophie, dokter Robert....” Jawab Joshua.
“Baiklah, aku mengerti, aku ada perlu sedikit dengan Natalie dan Marie...” Balas Robert sambil menoleh melihat Natalie dan Marie.
Robert mengatakan kalau Natalie boleh bekerja kembali di rumah sakit setelah absen selama 1 bulan bersama Marie, mereka berdua di ijinkan tinggal di asrama perawat yang berada di belakang rumah sakit. Tapi untuk Marie, dokter Robert menganjurkan untuk terus melakukan pemeriksaan terhadap rahim nya yang pernah keguguran. Marie menyanggupi nya dan bersedia berkerja di rumah sakit sebagai perawat sebab dia sudah tidak mau bersekolah lagi. Setelah itu, Natalie dan Marie menceritakan semuanya kepada Robert di depan Joshua, Alfons dan Sophie.
“Jadi keributan tadi mengenai hal ini, sangat tidak mungkin dokter Joshua melakukan hal itu.....kalau boleh tahu, anda ada hubungan apa dengan perempuan tadi dokter Joshua ?” Tanya Robert yang tidak tahu.
“Dia istri muda papa mertua ku, dokter Robert....” Jawab Joshua.
“Oh yang katamu kemarin menjual rumah itu ya...yang berurusan dengan pak Juan.” Balas Robert.
“Benar dokter....orang yang sama.” Balas Joshua.
“Aku mengerti, baiklah, aku harus menghadiri rapat direksi dulu, tenang saja dokter Joshua, Natalie dan Marie aman di sini....pemegang saham terbesar disini adalah pak Paolo jadi tidak akan berani yang mengusik mereka lagi.” Ujar Robert sambil tersenyum.
“Baik, terima kasih dokter....” Ujar Joshua.
Robert keluar kembali dari kamar bersama dua asisten nya. Joshua sedikit bernafas lega, walau begitu, dia melihat wajah Marie yang sedih karena tingkah laku ibunya. Tapi Joshua tidak bisa berbuat apa apa, Natalie terlihat lebih bisa menghibur Marie di banding dirinya, jadi dia diam saja tanpa berkata apa apa. Setelah selesai menjenguk dan berbincang dengan Sophie yang mungkin bulan depan sudah boleh pulang, Joshua dan Alfons berjalan pulang ke rumah nya.
Ketika masuk ke dalam komplek, dari kejauhan, Joshua dan Alfons melihat beberapa mobil berhenti di depan rumah mereka. Ketika di amati dengan seksama, ternyata mobil mobil itu adalah mobil polisi.
“Kenapa ada mobil polisi di depan rumah kita ?” Tanya Joshua.
“Aku tidak tahu tuan....apa kita mau pergi dari sini ?” Tanya Alfons.
“Jangan, kita tidak bersalah, sebaiknya kita hampiri mereka dan tanyakan.” Jawab Joshua.
Keduanya berjalan dengan cepat dan menghampiri para polisi yang berdiri di depan pagar rumah. Joshua melihat Tristan ada di antara para polisi itu,
“Itu dia pak orang nya, manusia tidak tahu diri yang sudah memperkosa dan menculik anak saya....” Teriak Tristan sambil menunjuk Joshua.
“Hah...aku tidak berbuat apa apa pada Marie.” Balas Joshua.
__ADS_1
“Maaf, saudara Joshua, sebaiknya anda ikut kami dulu dengan tenang ke kantor untuk penyelidikan.” Ujar seorang polisi.
“Baiklah, aku ikut ke kantor polisi untuk menjelaskan semuanya.” Ujar Joshua.
Tapi beberapa polisi langsung membekuk Joshua dan memborgol tangan nya di belakang membuat Joshua jadi kesakitan.
“Aduh...hei...apa apaan ini....kenapa kalian malah memborgolku, aku kan sudah bilang aku akan ke kantor untuk memberi keterangan.” Teriak Joshua.
Seorang polisi langsung membuat Joshua menunduk dan menghantamkan kepalanya ke kap mobil. Alfons yang melihatnya langsung berteriak dan maju ke depan,
“Hei, dia kan sudah bilang mau ke kantor polisi untuk menjelaskan, kenapa malah di tangkap dengan kasar seperti ini....lepaskan dia...” Teriak Alfons sambil menarik polisi yang membenamkan kepala Joshua ke kap mobil.
“Hah...mereka datang kesini untuk menangkap bukan minta penjelasan, kamu hanya security yang tidak tahu apa apa....diam dan jangan bicara.....bawa dia....” Teriak Tristan kepada para polisi.
“Anda keterlaluan, saya akan laporkan ini...” Teriak Alfons sambil menoleh melihat Tristan.
“Silahkan saja, aku sudah membuat laporan lengkap kepada polisi dan dia sudah tidak bisa kabur lagi, sebaiknya kamu carikan tuan mu pengacara untuk membebaskan nya hahahah...” Ujar Tristan.
Joshua langsung di masukkan secara paksa ke dalam mobil polisi, sebelum mobil berjalan, Joshua sempat menoleh melihat Alfons yang terlihat marah, dia hanya mengangguk saja, Alfons yang mengerti langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pagarnya supaya Tristan tidak masuk ke dalam sambil melihat mobil polisi yang membawa Joshua pergi menjauh.
Ketika sampai di kantor polisi, Joshua tidak di bawa ke ruang interogasi, melainkan langsung di masukkan ke dalam sel oleh seorang polisi, smartphone dan dompetnya di sita oleh polisi, Joshua bertanya kepada polisi yang membawanya.
“Ini perintah dari komisaris....saya juga tidak bisa berbuat apa apa...anda tenang saja dulu di sini...” Jawab polisi itu.
“Komisaris ? ijinkan aku bicara dengan komisaris....” Teriak Joshua.
“Aku akan sampaikan kepada komisaris kalau anda mau bicara, sementara itu anda tunggu di sini....” Balas polisi sambil melangkah pergi.
“Paling tidak ijinkan aku mengatakan sesuatu hei.....” Teriak Joshua.
Tapi polisi yang membawa nya ke sel sudah kembali naik ke atas untuk kembali ke kantor dan tidak mendengar. Joshua memegang jeruji besi sel nya, kepalanya menunduk menempel ke jeruji,
“Kenapa begini....Yuki....semoga Tristan tidak masuk ke dalam rumah...” Pikirnya khawatir.
Joshua berjalan masuk ke dalam sel nya dan duduk di sisi tempat tidur yang keras di dalam sel. Tiba tiba terdengar beberapa suara langkah kaki menuruni tangga dengan terburu buru, Joshua berdiri dan melihat beberapa polisi turun memapah seorang remaja bertubuh besar dan berpakaian preman, Joshua melihat kaki preman itu tertembak, seorang polisi membuka sel dan para polisi yang lain melemparkan preman itu ke dalam sel Joshua. Melihat pria yang kaki nya terluka, Joshua langsung memeriksanya,
“Hei....dia tertembak....” Teriak Joshua kepada para polisi yang membawanya.
__ADS_1
“Dia jambret dan berusaha melarikan diri....itulah akibatnya....” Ujar seorang polisi sambil meremehkan.
“Sudah....kubilang, aku bukan jambret....orang itu memberikan tasnya pada ku dan tiba tiba aku di tuduh.....karena kalian memaksaku, aku jadi lari....” Ujar pemuda itu.
“Jangan banyak bicara, kami sedang memanggil dokter ke sini...tunggu saja....” Teriak polisi itu sambil memukul jeruji.
Joshua yang melihat kaki pemuda itu mengalami pendarahan yang hebat karena masih ada peluru bersarang di dalam nya langsung merobak kain celana nya, dia melihat luka menganga karena tertembak di daerah pahanya, Joshua membuka pakaian nya dan menekan lukanya dengan bajunya, setelah itu dia menoleh kepada para polisi di depan,
“Hei, beri aku pisau dan pinset...bawakan kotak p3k, aku keluarkan peluru ini di sini sekarang....kalau dibiarkan dia bisa kehilangan banyak darah...” Ujar Joshua.
“Hah....kamu...kamu hanya seorang tahanan...”
Belum selesai polisi itu berbicara, seorang polisi di sebelahnya menghentikan teman nya, dia menatap Joshua dengan serius, kemudian dia mengangguk dan langsung pergi. Para polisi juga mengikuti nya pergi ke atas, meninggalkan Joshua dan pemuda itu,
“Siapa namamu ?” Tanya Joshua.
“Alex.....aku tidak bersalah, benar....aku tidak bersalah....” Jawab Alex.
“Aku percaya padamu Alex...namaku Joshua...aku akan menolong mu...” Ujar Joshua.
“Terima....kasih.....”
Alex terpejam dan kepalanya terkulai lemas, dia pingsan karena kehilangan banyak darah. Tak lama kemudian, seorang polisi yang pergi pertama kali tadi kembali membawa sebilah pisau, pinset kertas dan kota p3k. Dia menaruh semuanya di dalam sel melalui celah jeruji,
“Pinjam korek api.....” Teriak Joshua sambil meraih pisau dan pinsetnya.
Polisi itu membuka kantung nya dan melemparkan sebuah korek api gas kepada Joshua yang menangkap nya. Langsung saja Joshua memanasi pisau itu, sambil memanasi pisau, tangan sebelahnya mengambil alkohol dan menyiram luka nya dengan alkohol, kemudian dia memperbesar lukanya dengan mengiris garis horisontal melewati lukanya dan kemudian mengiris garis vertikal, setelah itu, dia memasukkan pinsetnya ke dalam dan perlahan lahan menarik pelurunya keluar. “Pling.” Peluru yang masih penuh dengan darah jatuh ke lantai, Joshua menyiramkan alkohol sekali lagi ke luka yang masih menganga untuk menghentikan pendarahan, kemudian dia mengobati lukanya menggunakan obat luka dari kotak p3k dan menempelkan kain kasa.
Setelah itu, Joshua membalut paha pemuda itu menggunakan perban yang ada di dalam kotak p3k.
“Selesai....hup...”
Joshua mengangkat tubuh pemuda yang kurus itu naik ke atas tempat tidur dan dia membaringkan nya. Setelah itu dia duduk di sisi tempat tidur, polisi yang menunggu di depan membuka sel dan masuk ke dalam, dia membereskan kotak p3k, pisau dan pinset yang di gunakan oleh Joshua. Tapi ketika dia mau mengambil pelurunya,
“Tunggu....” Teriak Joshua.
Joshua berdiri, dia mengambil pelurunya lalu membersihkan nya menggunakan pakaian nya dan menaruh nya di kantung untuk di jadikan bukti. Polisi di depannya tersenyum dan melangkah keluar. Dia kembali mengunci sel nya dan pergi naik ke atas.
__ADS_1
“Huh....polisi di dunia ini main tangkap dan tembak saja ya....sepertinya hukum di dunia ini tidak sama seperti di bumi...” Pikirnya dalam hati.
Dia melihat peluru yang di ambil nya dan menoleh melihat pemuda yang sedang tidur terlelap di tempat tidur yang ada di belakangnya.