Dr Josh and his sleeping wife

Dr Josh and his sleeping wife
Chapter 10


__ADS_3

Keesokan harinya, akhirnya Joshua di ijinkan pulang ke rumah nya karena sudah tidak ada masalah luka di kepalanya. Sebelum pulang, dia sempat ke kamar Sophie yang baru saja di pindahkan setelah 48 jam di ruang intensif ke kamar rawat inap, walau belum sadarkan diri, operasi yang di lakukan Joshua berhasil dan Sophie sudah selamat. Joshua duduk di sebelah tempat tidur Sophie, dia memegang tangan Sophie dan menggenggam nya,


“Aku pergi dulu tante Sophie, aku akan kembali ke sini menjenguk mu...” Ujar nya.


Setelah itu, Joshua yang kepalanya masih di perban berdiri dan keluar dari kamar Sophie, dia berjalan keluar dari rumah sakit dan berjalan kaki menuju rumah nya karena tidak memiliki uang sepeser pun. Dia berjalan dengan cepat karena khawatir dengan kondisi rumah karena tidak ada Alfons dan Sophie. Tanpa lelah, dia terus menggerakkan kakinya untuk melangkah maju. Fokusnya hanya satu, dia harus cepat sebelum terjadi sesuatu hal yang tidak dia inginkan terhadap Philia. Jarak dari rumah sakit ke rumahnya cukup jauh, di tengah perjalanan dia mencoba menumpang pada orang orang yang memiliki tujuan sama sambil terus berjalan.


Sore harinya, setelah berjuang sepanjang hari menahan lelah dan lapar, akhirnya dia sampai di rumah nya. Joshua sedikit lega melihat rumah nya yang gelap, tidak ada satu lampu pun yang menyala, tapi ada sebuah papan di depan pagar yang membuat hatinya geram karena papan itu berisi tulisan di jual dengan nomor Amira sebagai penjual nya.


“Keterlaluan.....berbeda banget ibu dan anak.....dia tidak sadar apa, anaknya sudah menjadi korban.” Pikirnya dalam hati.


Dia membuka gerbang yang tidak di kunci dan masuk ke dalam, setelah masuk, dia menutup gerbang nya dan menguncinya dari dalam. Dia melangkah masuk ke dalam rumah dan dengan cepat menuju basement. Di depan pintu, Joshua yang sudah hafal angka sandinya, menekan kombinasi angka di alat yang berada di samping pintu. “Cklek.” Kunci terbuka dan dia masuk ke dalam, hatinya lega bukan kepalang melihat Philia masih tertidur di dalam tabung yang kondisi nya masih menyala.


“Syukurlah, tidak terjadi apa apa terhadapnya...” Ujar nya dalam hati dengan perasaan lega.


Joshua mendekati tabung kapsul pendingin dan memegang kaca nya. Dia memperhatikan wajah Philia yang tertidur sambil tersenyum,


“Kali ini....kali ini aku pasti bisa menyelamatkan mu Yuki.....” Ujarnya sambil melihat wajah Philia.


Kemudian dia teringat adegan masa lalu ketika dia sedang berjalan pulang bersama Yuki dari sekolah. Yuki tiba tiba berjalan di depan nya dan berbalik melihat nya sambil berjalan mundur,


"Kyo-kun, kira kira isekai ada ga ya ?" Tanya Yuki sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Hahaha aku tidak tahu, kamu memang penggemar manga dan light novel tema isekai kan ?" Tanya Kyosuke sambil tersenyum.


"Hehehe iyaa, semoga kalau aku meninggal nanti aku bisa ke isekai, nanti kamu susul aku ya....janji loh." Ujar Yuki sambil mendekatkan wajahnya.


"Pasti, kalau kamu ke isekai pasti aku susul..." Balas Kyosuke walau dia merasa sedikit sedih.


Joshua memandangi tabung di depan nya sambil tersenyum, dia melihat wajah Philia yang terlihat tenang saat tertidur.


"Aku menepati janji ku Yuki, menyusul mu ke isekai....walau tidak ada fantasinya." Ujar Joshua sambil memandangi wajah Philia.


Karena sudah terlalu lelah, Joshua berbalik dan bersender ke tabung Philia yang ada di belakang nya, dia terduduk walau tangan nya masih memegang tabung di belakang nya.


Selagi melepas lelah dan termenung, tanpa sengaja dia melihat ke meja yang ada di sebelah tabung, Joshua berdiri dan melihat kertas berserakan di atas meja. Begitu di perhatikan ternyata semua nya adalah design kapsul pendingin yang sedang di pakai oleh Philia, tapi di setiap lembar kertas itu, ada tulisan “Failure.” “Rejected.” “Denied.” Dan lainnya. Joshua melihat semua itu adalah tulisan papanya, berarti semua yang ada di meja itu adalah design mesin yang tidak berhasil yang di kerjakan oleh papanya. Ada juga beberapa tulisan dan catatan yang sepertinya di tulis mertuanya, akhirnya Joshua mengambil kesimpulan kalau tabung di hadapan nya ini adalah hasil kerja keras papa nya dan papa mertuanya.


“Tristan mau mengambil nya ? tidak akan ku biarkan....” Pikir Joshua dalam hati.


Dia juga berpikir alangkah hebat papa nya dan papa mertuanya yang bisa mempunyai ide membuat mesin ini dan mewujudkan nya. Dia langsung menghampiri tabung dan memegang kembali kacanya,


“Lihat Yuki, banyak orang yang berkerjasama untuk menyelamatkan mu, yang membuat ku senang, papa ku dan papa mu berhasil mewujudkan nya, tunggulah sebentar lagi, aku pasti akan menyelamatkan mu.” Ujar nya di depan Philia yang tertidur.


Tiba tiba smartphone nya berbunyi, ada nomor tidak di kenal mengirimkan pesan kepadanya, Joshua membuka pesan itu dan melihat sebuah foto yang memperlihatkan Marie bersama Natalie sedang berada di tepi sungai. Kemudian sebuah pesan masuk yang mengatakan kalau nomor ini adalah nomor Marie yang baru. Joshua menyimpan nomornya, tapi menggunakan nama samaran. Setelah itu, dia keluar dari basement dan menutup pintunya, dia ke atas dan menuju ruang kerja papa mertuanya. Dia langsung menuju ke meja kerja papa mertuanya dan meraba di bagian bawah mejanya. Ternyata, sesuai yang di katakan Marie, di bawah nya ada sebuah amplop coklat tertempel persis di bawah meja.

__ADS_1


“Hmm....jadi ini ya yang di maksud Marie....” Pikir nya.


Dia membuka amplop nya dan melihat cetak biru kapsul pendingin yang sudah sempurna, di belakang nya ada nomor seri pendaftaran memohon hak paten untuk mesin tersebut. Melihat berkas itu sangat penting, Joshua langsung memutuskan untuk membawanya, dai memasukkan nya ke dalam bagian dalam jaketnya. Setelah itu, dia memeriksa laci laci yang ada di meja, dia menemukan sebuah pistol dan sebuah foto di dalam laci. Joshua mengambil pistolnya dan melihat fotonya, di dalam foto tergambar sebuah kabin yang cukup besar berlokasi di dalam hutan, dia membali fotonya dan tertera sebuah alamat di sana.


“Aku bisa memindahkan Philia ke kabin ini.....sekarang aku harus mencari caranya, supaya mesin tetap berjalan selama di pindahkan.” Pikirnya.


Dia terus berpikir dan berpikir, ketika sedang tenggelam dalam pikiran nya, sebuah mobil berhenti di depan pagar, dia melihat dari jendela ruang kerja, beberapa orang turun dari dalam mobil. Ketika dia memicingkan mata, dia melihat salah satu orang itu adalah Tristan. Dengan cepat, Joshua turun ke bawah dan berlari ke basement, dia menekan sandinya dan masuk ke dalam lalu menutup pintunya. Dia bersiaga di dalam sambil memegang pistol yang di bawanya.


“Semoga dia tidak kesini....” Pikirnya.


Tapi, “Tap....tap...tap...” Terdengan suara langkah kaki beberapa orang sedang menuju ke arah pintu, Joshua langsung berdiri di sisi pintu sambil bersiaga dan memegang pistol yang sudah terisi penuh di tangan nya. Suara langkah kaki akhirnya berhenti di depan pintu.


“Hei, bisa kamu membuka kunci ini ?” Suara Tristan yang bertanya terdengar oleh Joshua.


Sepertinya seorang maju ke depan dan mengotak ngatik kunci nya. Keringat Joshua mulai deras bercucuran, kalau seandainya mereka bisa membuka pintu dan masuk, dia sudah berencana akan langsung menembak nya. Tapi,


“Tidak bisa bos, kunci ini rakitan yang punya rumah ini.....kita tidak bisa membukanya.” Balas seorang pria yang sepertinya ahli soal membuka kunci.


“Huh...payah, katanya ahli kunci ternama...” Sindir Tristan


Mendengar sindiran Tristan, beberapa pria protes dan akhirnya terjadi debat di luar pintu. Joshua masih terus bersiaga dan mengumpulkan keberanian nya untuk menembak siapa saja yang masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2