
Keesokan harinya, pagi pagi sekali, Joshua terbangun, dia melihat Philia tidur di sebelahnya, dia terus memperhatikan wajah Philia yang sedikit pucat tapi terlihat tenang. Dia mengelus keningnya dan pipinya, ada satu hal yang membuatnya penasaran, dia menyambar smartphonenya dan langsung turun dari tempat tidurnya kemudian keluar dari kamar, setelah itu dia cepat cepat ke basement, begitu sampai di basement, dia melihat pintu terbuka lebar, sepertinya kemarin Philia terburu buru keluar, dia masuk ke dalam dan menemukan pintu kapsul sudah terbuka, ruangan di dalam terasa sangat dingin. Joshua memeriksa mesinnya, dia melihat monitor kecil yang ada di sebelah tabung, ternyata di sana tertulis tanggal kemarin yaitu tepat setelah 2 tahun kapsul otomatis terbuka,
“Jadi ini penyebabnya, pantas dia bangun, berarti target papa untuk menyembuhkan dia adalah 2 tahun, persis nya kemarin.....papa kenapa kamu meninggal.....” Ujar Joshua sambil memegang tabung nya.
Setelah itu, dia memeriksa bagian dalam tabung yang belum pernah dia lihat sebelum nya, sesuai dengan cetak biru yang di pelajari, komponen di dalam sangat rumit dan tidak dia mengerti.
“Aku harus mempelajarinya....waktu Yuki tidak banyak, kalau memang aku belum bisa membuat jantung sintesis, aku harus menidurkan nya lagi....” Gumam Joshua di kepalanya.
“Josh ?” Seseorang memanggilnya dari pintu ruangan.
Joshua menoleh, dia melihat Philia sedang berdiri di pintu sambil mendekap tubuhnya sendiri karena kedinginan. Joshua langsung menghampirinya dan memeluknya, dia membawa Philia keluar dan menutup pintunya supaya hawa dingin tidak keluar dari ruangan.
“Maaf, aku membangunkanmu ya ?” Tanya Joshua.
“Tidak, aku terbangun dan kamu tidak ada....jadi aku menyusulmu ke sini....” Jawab Philia.
“Ayo naik, kamu masih pakai baju tidur, di sini dingin....” Ajak Joshua.
Keduanya kembali naik ke atas, setelah Philia duduk di meja makan, Joshua ke dapur untuk membuatkan makan pagi untuk mereka berdua. Tak lama kemudian, Joshua keluar membawa makanan dan menghidangkannya di atas meja. Philia tersenyum melihatnya, ketika dia mencicipi sup nya, air matanya keluar,
“Sudah lama sekali aku tidak merasakan sup miso seperti di jepang....” Gumam nya.
Joshua tersenyum dan membersihkan air mata Philia, dia juga membersihkan mulut Philia menggunakan serbet.
“Hehe...enak tidak ?” Tanya Joshua.
“Enak...sangat enak.....hik..hik...” Jawab Philia yang terus meneteskan air mata bahagia.
Keduanya makan sambil berbincang bincang tentang masa lalu, tapi Joshua tidak membiarkan dirinya hanyut, dia terus mencari cari ide untuk membuat jantung di smartphone nya. Tanpa sadar dia mengacuhkan Philia yang berbicar di depannya dan menjawab dengan “hmm.” Philia yang heran, menggeser kursinya dan mengintip apa yang sedang di kerjakan Joshua, ternyata Joshua sedang melihat lihat struktur jantung dan mempelajari nya.
“Um....kamu dokter jantung ?” Tanya Philia.
“Ah...oh kamu lihat ya....aku dokter spesialis bedah dan umum, aku sedang belajar saja....urusan universitas...” Jawab Joshua sambil mematikan smartphone nya.
“Aku pikir kamu dokter jantung hehehe.....” Balas Philia.
“Aku ingin menyembuhkan mu....” Balas Joshua.
“Aku tahu....tapi kamu jangan memaksakan diri....aku tidak apa apa kok...sudah bisa bersamamu lagi, aku sudah sangat senang.” Balas Philia sambil mengelus kepala Joshua dan tersenyum.
Joshua tidak menjawab, dia hanya mengangguk, setelah itu, Joshua menyimpan smartphone nya dan mereka meneruskan makan nya. Setelah itu, Joshua berpamitan kepada Philia untuk pergi ke kampus, tapi ketika dia baru keluar pintu, sebuah mobil hitam terparkir di depan rumahnya, seorang wanita turun dari mobil,
“Dokter....eh...Joshua....” Teriak wanita itu.
__ADS_1
“Oh Sharon....ada apa kesini ?” Tanya Joshua.
Sharon masuk ke dalam pagar, dia langsung berjalan masuk mendekati Joshua yang sedang berada di pintu.
“Aku mau mengajak mu ketemu papa, eh.....siapa dia Joshua ?” Tanya Sharon sambil menoleh kepada Philia.
“Aku Philia, aku istri Joshua....” Jawab Philia.
“Ah...rupanya kamu ya....ikut saja sekalian, gimana ?” Tanya Sharon.
“Hah...memang ada acara apa mau bertemu ayahmu ?” Tanya Joshua bingung.
“Ayahku mau bertemu kamu...makanya aku minta kamu ajak saja istrimu sekalian, paling dia mau ngobrol ngobrol....” Ujar Sharon.
“Baiklah, sebentar ya, aku ganti pakaian dulu....” Balas Philia yang kemudian berbalik masuk ke dalam.
Selagi Philia berjalan masuk ke dalam, Sharon melihat Philia dari belakang dan mengamatinya, kemudian dia menoleh kepada Joshua.
“Oi Joshua, dia umur berapa ? memang sudah boleh menikah ?” Tanya Sharon.
“Ah kalau di hitung dari tanggal lahir, sebenarnya dia seumur dengan ku, tapi karena tubuhnya kecil jadi dia anggap masih kecil, banyak kok yang bilang begitu hahaha...” Joshua berkilah sebab tidak mungkin dia bilang kalau selama ini Philia tidur di kapsul pendingin.
“Tapi bukankah kamu bilang dia sudah meninggal ya ? kamu beli bunga waktu itu untuk mediang istrimu kan ?” Tanya Sharon.
“Ah...itu...iya sih, dia mendadak pulang kemarin, aku sendiri kaget....” Jawab Joshua pucat.
“Ah iya, terima kasih Sharon.” Balas Joshua.
Tak lama kemudian, Philia keluar setelah berganti pakaian, kemudian mereka pamit kepada Alfons yang menjaga rumah dan naik mobil bersama Sharon. Di perjalanan, Philia terus melihat keluar jendela, dia melihat suasana kota yang penuh bangunan tinggi dan banyak orang yang berjalan kaki dengan mata berbinar binar. Joshua melihat nya dengan tersenyum, dia mengerti karena Philia selama ini tidak keluar dan tertidur di kapsul, jadi semua ini tentunya baru baginya. Akhirnya setelah melintasi tengah kota, mereka sampai di sebuah gedung besar yang merupakan gedung kementrian kesehatan. Setelah sampai di bagian depan lobby, penjaga pintu membukakan pintu mobil, Sharon, Joshua dan Philia turun dari mobil kemudian masuk ke dalam.
Mereka langsung menuju kantor menteri kesehatan di lantai atas, Sharon masuk ke dalam ruangan terlebih dulu dari Joshua dan Philia. Tak lama kemudian, Sharon keluar lagi untuk mengajak Joshua dan Philia masuk. Di dalam, Joshua melihat seorang pria paruh baya duduk di sofa dan menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
“Ah dokter Joshua, selamat datang, silahkan duduk...” Sapanya.
Joshua dan Philia langsung duduk di sofa yang berada di depan pria itu dan Sharon duduk di sebelah pria itu.
“Perkenalkan, namaku Frankie Marlini, seperti yang dokter lihat, jabatan ku di sini adalah menteri kesehatan, sebuah kehormatan aku bisa bertemu dengan dokter.” Ujar Frankie menjulurkan tangannya.
“Oh..iya...sama sama, sebuah kehormatan juga bisa bertemu anda....” Balas Joshua sambil menjabat tangannya.
Frankie menoleh melihat Philia dan menjulurkan tangannya kepada Philia yang langsung menyambutnya dengan bersalaman.
“Maaf dokter, tapi siapa wanita cantik yang ada di sebelahmu ?” Tanya Frankie.
__ADS_1
“Ah...dia istri saya, namanya Philia....” Jawab Joshua.
“Perkenalkan nama saya Philia.....” Tambah Philia.
Frankie berbisik kepada Sharon di sebelahnya dan Sharon membalas juga dengan berbisik kepadanya, setelah itu, Frankie menoleh kepada Joshua, sementara Sharon mengajak Philia keluar ruangan sebentar untuk melihat lihat gedung kementrian. Philia pergi keluar bersama Sharon meninggalkan Joshua dan Frankie sendirian,
“Baiklah, sebelumnya maaf dokter, aku ingin bertanya, apa istri anda sakit ?” Tanya Frankie.
Joshua langsung kaget karena Frankie bisa mengetahui kondisi Philia yang sedang sakit, dia serba salah ingin menjawabnya atau tidak, karena dia baru pertama kali bertemu dengan Frankie.
“Um....” Jawab Joshua.
“Aku mengerti, tidak apa apa, aku tidak akan bertanya lagi, tapi kalau dokter butuh bantuan, aku bisa bantu. Aku sudah dengar dari Sharon konsep organ sintetis yang dokter sampaikan padanya sewaktu berdiskusi di perpustakaan.” Balas Frankie.
Joshua melihat Frankie menghormati dirinya dan dengan tulus menawarkan bantuan, dia juga sudah mendengar mengenai dirinya yang ingin membuat jantung sintesis untuk merawat pasien yang membutuhkan, akhirnya dia memutuskan untuk bercerita tanpa menyinggung mesin pendingin ciptaan ayahnya.
“Jadi begini......”
Joshua menceritakan masalah kesehatan Philia akibat jantungnya yang lemah, dia juga mengatakan tujuan nya kenapa dia mengajukan konsep seperti yang di ceritakan Sharon. Frankie mendengarkan dengan sesksama dan berpikir,
“Aku mengerti, memang untuk penyakit seperti itu masih langka dan hampir tidak ada yang bisa melewatinya, tapi untuk konsep yang anda utarakan, aku cukup tertarik. Baiklah, aku akan membuat divisi di rumah sakit terbesar di kota, yang menangani khusus untuk hal ini.” Balas Frankie.
“Benarkah, terima kasih pak Frankie....” Balas Joshua senang.
“Sama sama dokter Joshua, aku akan menghubungi Robert segera....oh satu lagi, aku dengar dari Robert, katanya dokter anak dari dokter Johan ya ?” Tanya Frankie.
“Benar pak, aku anak dari dokter Johan Verden. Nama lengkap ku Joshua Verden.” Jawab Joshua.
“Hahahaha memang takdir susah di lawan...anda menolong kak Paolo, bertemu Sharon dan sekarang kita
bertemu, semua sudah takdir.” Frankie tertawa keras.
Joshua yang melihat Frankie tertawa ketika memastikan kalau dirinya anak dari dokter Johan menjadi sedikit bingung,
“Um...memang ada apa pak ?” Tanya Joshua.
“Dokter berarti anak dari kak Carolina, benar tidak ?” Tanya Frankie.
“Um benar, nama mama saya memang Carolina, namanya Carolina Verden....” Balas Joshua.
“Benar, tapi nama nya sebelum menikah adalah Carolina Marlini.....jadi boleh di bilang kita masih saudara...kamu adalah keponakan ku.” Balas Frankie.
“Hah....”
__ADS_1
Kepala Joshua seperti terkena sambaran petir, dia sama sekali tidak menduga kalau mamanya adalah kakak dari Frankie yang duduk di depannya dan Paolo yang membelikan rumah untuk nya karena dia menolongnya.
“Aku....anak yakuza ?” Pikirnya dalam hati.