
Marie diam saja, dia hanya menunduk dan menggigit bibirnya. Dia hanya berani melirik Joshua tanpa berani menatap mata nya yang melihat tajam pada dirinya. Joshua melihat buku yang sedang di pegang Marie, dia langsung menarik buku itu dari tangan Marie.
“Jangan pernah kotori buku ini dengan tangan mu...” Ujar Joshua sambil memeluk bukunya.
“Ma..maaf, kupikir ini buku ini adalah barang berharga bagimu.....” Ujar Marie menunduk.
“Lalu....mau apa kamu kesini, kamu tidak sebaik itu kan, hanya untuk mengantar buku ini...” Ujar Joshua ketus.
“Ti..tidak...tujuan ku hanya mengantar buku itu.....” Jawab Marie.
“Keluar kamu....aku tidak mau melihat mu.....” Ujar Joshua.
Marie langsung berdiri, dia membungkuk di depan Joshua dan keluar dari kamar darurat tempat Joshua terbaring. Joshua langsung melihat bukunya, buku yang sudah berkali kali dia buka dan tidak mengerti artinya. Dia membuka bukunya,
“Bagi siapapun yang membaca buku ini, berarti dia datang dari dunia ku sebelum nya.” Itulah tulisan di paling atas yang berada di sampul buku. Joshua kaget, karena dia bisa membaca buku itu, dia langsung membuka halaman pertama buku itu.
“Tidak salah lagi, ini tulisan kanji jepang.....aku bisa membacanya....” Ujarnya dalam hati dengan girang.
Joshua langsung membaca buku itu halaman demi halaman, ternyata isi buku itu adalah tulisan Philia kisah kehidupan dirinya di dunia yang bernama bumi dan negara bernama jepang. Dulu, dia bernama Shirakawa Yuki, dia hanya memiliki seorang ibu yang berjuang demi dirinya karena bercerai dengan ayah nya. Dia juga memiliki seorang teman masa kecil yang tidak memiliki orang tua dan tinggal bertetanggaan dengan nya bernama Murakami Kyosuke yang sangat dia cintai. Sepanjang hidupnya dia menyesal karena selalu menyusahkan ibu dan Kyosuke karena penyakit yang di deritanya.
Joshua membuka lembar terakhir di buku nya, ternyata isinya adalah penyesalan, kemarahan dan kesedihan di kehidupan nya sebagai Philia yang menderita penyakit sama seperti dirinya sewaktu hidup di jepang dan membuat ibunya meninggal dunia karena lelah mengurus dirinya. Kata kata yang di ucapkan Philia di buku itu sangat menusuk hati Joshua,
“Kenapa aku di reinkarnasi di dunia ini, dengan penyakit yang sama seperti dulu, apa semua ini main main, kenapa seperti ini, lebih baik aku mati, aku ingin mati, aku ingin bersama Kyo-kun...aku ingin bahagia, apa salah kalau aku memohon supaya aku bahagia....aku sudah muak hidup, hidupku sekarang juga tidak sampai umur 18 tahun...dewa mana yang main main dengan hidupku, aku marah, bunuh saja aku...bunuh aku.....”
Terlihat banyak bekas air yang sudah mengering di sisi tulisan nya. Dia sudah sering melihat bekas tetesan air mata itu, tapi begitu mengerti arti tulisan nya, bekas tetesan air mata itu memiliki arti sendiri baginya, dia benar benar merasakan penderitaan Yuki yang sekarang menjadi Philia. Joshua memeluk bukunya dan menangis tersedu sedu, muncul tekad baru di hatinya, dia berjanji akan menolong Philia meraih hidupnya kembali, dia yakin dia bisa melakukan nya. Setelah menarik nafas dalam dalam dan menenangkan dirinya, dia turun dari tempat tidur nya dan keluar dari kamarnya, dia menoleh dan melihat Marie masih duduk di kursi yang berada di depan kamar. Melihat Joshua keluar, Marie berdiri, tapi Joshua tidak memperdulikan nya.
Joshua berlari dengan maksud mencari ruang dokter kepala yang mengepalai seluruh dokter di rumah sakit itu. Setelah bertanya kepada beberapa perawat, akhirnya dia menemukan ruangan nya dan tanpa mengetuk lagi, dia masuk ke dalam ruangan, di dalam sudah ada seorang dokter yang menangani Sophie semalam di ruang operasi bersamanya dan seorang asisten dokter kepala.
“Siapa ?” Tanya dokter kepala.
“Namaku Joshua, aku mau bertanya dok....boleh aku di beri kesempatan bicara dengan anda ?” Tanya Joshua di depan pintu.
“Oh dia dokter yang semalam, dokter Robert.” Ujar dokter yang bersama Joshua semalam.
“Oh..benarkah dia orang nya Stephen ? bagus, silahkan masuk...dokter Joshua.” Ujar dokter kepala.
__ADS_1
Joshua langsung masuk ke dalam dan duduk di depan meja kerja dokter kepala yang bernama dokter Robert dan duduk di sebelah dokter Stephen yang bersama nya semalam.
“Langsung saja dok, disini bisa operasi jantung ?” Tanya Joshua.
Mendengar perntanyaan Joshua, kedua dokter itu saling menoleh dan melihat satu sama lain.
“Maksud anda operasi transplantasi jantung ?” Tanya dokter Robert.
“Tidak tidak, operasi pembuluh arteri jantung di dalam organ dan menggantinya dengan arteri jantung sintetis buatan.” Jawab Joshua.
“Maaf dok, tidak ada yang bisa melakukan itu di sini....” Jawab dokter Stephen.
“Stephen benar dok, mohon maaf sekali, kami biasanya melakukan operasi transplantasi tapi tingkat keberhasilan nya hanya 60% saja, karena biasanya organ yang mau di transplantasi tidak cocok dengan pasien dan mengakibatkan rusaknya jaringan.” Ujar Robert.
“Memang tidak di cek dulu sebelum di tranplantasi, seperti faktor genetik, dna dan paling minim golongan darah.” Ujar Joshua.
“Biasanya kami mengecek golongan darah, tapi sulit sekali mencari yang sama persis karena resus positif dan negatifnya di tambah keterbatasan nya donor organ tersebut.”
“Ah itu kan tidak terlalu pengaruh, kita bisa memasukkan darah yang sesuai dan secara perlahan mencampurnya sampai organ bisa menyesuaikan darah inang nya, asal yang penting dna nya mirip dan faktor genetik nya sesuai sehingga tidak menimbulkan kontradiksi....” Balas Joshua.
“Um...kami belum pernah mendengar hal semacam itu dok....maaf sekali.” Ujar Stephen.
“Tidak ada dok, mohon maaf sekali, negara ini adalah negara dengan ilmu kedokteran terkini dan yang dokter sebutkan tadi masih asing di telinga kami.” Jawab Robert.
“Ok ok, kalau begitu aku tanya, bagaimana cara menyembuhkan jantung yang lemah sejak lahir sampai di vonis berapa lama penderitanya hidup.” Ujar Joshua.
“Saat ini, selain melakukan transplantasi belum ada cara lain lagi, tapi seperti yang saya bilang tadi, tingkat keberhasilan nya hanya 60%, karena kasus ini jarang terjadi, jadi tidak banyak yang meneliti soal ini, walau sebenarnya banyak anak anak muda yang tidak bisa menikmati hidupnya karena penyakit ini.” Ujar Robert.
Joshua terdiam, dia yakin kalau ilmu kedokteran dan pengobatan belum sampai ke jaman dia terakhir di bumi, mungkin masih sekitar tahun 2011 sampai 2025 kalau di bumi. Joshua mengurut kening nya dengan tangan sementara dua dokter yang sedang bersama nya melihat Joshua dengan wajah yang bingung.
“Kalau begitu, boleh aku bekerja di sini dan meneliti di sini ?” Tanya Joshua.
Wajah kedua dokter yang bersamanya langsung ceria, mereka langsung berdiri dan menyalami Joshua.
“Sangat boleh dokter.....sangat boleh...” Ujar Robert.
__ADS_1
“Saya setuju sekali dokter, ada dokter sehebat anda di rumah sakit ini, pasti banyak pasien yang tertolong.” Tambah Stephen.
“Eh yakin dok, tapi masalah nya aku belum lulus kuliah kedokteran, apa tidak apa apa ?” Tanya Joshua.
Wajah kedua dokter itu langsung berubah menjadi terkejut dan mereka langsung berdiskusi satu sama lain sambil mengamati Joshua.
“Maaf dok, anda umur berapa, memang kalau di lihat anda masih muda sekali.” Ujar Stephen.
“Saya masuk kuliah waktu berumur 18 tahun dan sekarang saya tingkat dua, saya sekarang berumur 20 tahun.” Jawab Joshua.
Mendengar umur Joshua, kedua dokter itu semakin kaget dan kagum, sebab mahasiswa kedokteran yang belum lulus dan masih sangat muda sudah bisa melakukan operasi seperti semalam yang dokter spesialis bedah syaraf saja belum tentu bisa melakukan nya.
“Kenapa dokter Robert, dokter Stephen ?” Tanya Joshua.
“Tidak apa apa dok...eh, mohon maaf, nama anda siapa ?” Tanya Robert.
“Joshua, nama lengkap saya Joshua Verden....” Jawab Joshua.
“Verden ? jangan jangan anda anak dari dokter Johan Verden ?” Tanya Stephen.
“Benar, Johan Verden adalah papa saya..” Balas Joshua.
“Oh pantas, anda anak dari dokter peraih nobel dan terkenal, pantas anda sangat brilian, sayang dia sudah meninggal.....malah aku dengar dia meninggal karena di bunuh....” Ujar Robert.
“Apa ? anda barusan bilang apa ? papa saya di bunuh ? siapa yang membunuhnya ?” Tanya Joshua kaget.
“Hal itu hanyalah kabar yang beredar di dunia kedokteran, karena setelah dokter Johan meninggal, ada tiga dokter yang namanya naik ke permukaan, dokter Gared, dokter Inggrid dan dokter Tristan. Jadi banyak yang menduga mereka naik karena membunuh dokter Johan.” Ujar Stephen.
“Der.” Kepala Joshua langsung terasa seperti tersambar petir mendengar nama Tristan di sebut di depan nya dan di duga membunuh papanya juga papa mertuanya dalam kasus Joshua.
“Tristan....kurang ajar.....” Pikir Joshua dalam hati.
Melihat wajah Joshua yang berubah, Robert dan Stephen menjadi tidak enak hati dan berusaha menghibur Joshua. Robert langsung mengajukan proposal,
“Jadi bagaimana dokter Joshua, mau bekerja di sini ? sekalian sambil kuliah, aku dan dokter Stephen mengakui kemampuan anda.” Ujar Robert sambil menjulurkan lengan nya kepada Joshua.
__ADS_1
Joshua tidak menjawab, dia menjawab dengan menjabat tangan dokter Robert dan kemudian dokter Stephen. Joshua juga memberikan nomor smartphone nya kepada Robert dan Stephen. Setelah itu, Joshua keluar dari ruangan, selagi berjalan menuju kamarnya, hatinya menjadi kusut, sebab kalau benar dalang di balik kematian ayah dan ayah mertuanya adalah Tristan, dia tidak bisa tutup mata mengenai hal itu. Ketika sampai di depan ruangannya, dia melihat Marie masih duduk di situ,
“Geh....kenapa dia masih duduk di sana....” Pikir Joshua dalam hati.