
“Yukiiiii.....” Teriak Joshua.
Dia langsung duduk di ranjang dan membuat dokter juga para perawat yang mengelilinginya menjadi bingung. Joshua langsung melihat sekeliling, dia menyadari dia ada di rumah sakit, dia menoleh dan melihat dokter, perawat yang ada di sekitarnya bengong melihat dirinya. Dia menoleh kepada dokter,
“Ini surga dok ?” Tanya nya langsung.
“Hah....maaf, tapi anda salah, ini bukan surga...” Jawab dokter langsung.
Para perawat yang mendengar pertanyaan Joshua, tertawa kecil karena pertanyaan yang di lontarkan Joshua.
“Kalau begitu, ini dimana dok ? rumah sakit jepang tidak seperti ini, amerika ? korea ? singapore ?” Tanya Joshua.
“Jepang ? Amerika ? Korea ? Singapore ? aku tidak mengerti maksud anda....” Ujar dokter bingung.
“Hah...jadi ini di mana dong dok, ini bumi bukan ?” Tanya Joshua mulai panik.
“Bumi ? aku tidak mengerti...baiklah, kita ada di negara Alvares, planet ini bernama Gaia, sudah puas ?” Ujar dokter yang sedikit kesal.
“Alvares ? Gaia ? aku jadi malah bingung nih....” Ujar Joshua memegang kepalanya.
“Sudahlah, kepala anda kena pukulan keras dan berdarah, mungkin ini adalah gejalan gegar otak, ijinkan saya mendiagnosa anda...” Ujar dokter.
“Hoo...ini bukan gegar otak dok, kalau gegar otak aku tidak akan sadar seperti ini dan berbicara sama dokter, bahkan aku tidak akan ingat siapa diriku.....sebentar....” Joshua mulai berpikir.
“Sepertinya anda mengerti ya.....” Balas dokter.
“Tidak tidak, aku mendiagnosa diriku sendiri, aku tidak pusing walau kepala ku nyeri bekas di pukul, aku tidak mual dan tidak muntah, penglihatan ku masih fokus dan telingaku tidak berdenging, hanya memang aku sedikit bingung, tapi selebihnya aku baik baik saja, tidak usah repot mendiagnosa dok, boleh aku pergi dari sini ?” Tanya Joshua langsung.
Medengar perkataan Joshua dokter tidak bisa berkata kata, sebab apa yang mau dia tanyakan kepada Joshua sudah di jawab oleh Joshua.
“Kalau begitu, bisa sebutkan nama anda ?” Tanya dokter.
“Namaku Kyosuke....eh...bukan...aku Joshua....eh....sebentar.” Jawab Joshua.
“Ok, anda belum boleh keluar, itu tandanya anda masih bingung, silahkan beristirahat dulu, kalau ada keluhan tekan tombol bantuan untuk memanggil perawat.” Ujar dokter.
“Uh....baik dok, aku mengerti.”
__ADS_1
Akhirnya Joshua kembali berbaring di tempat tidur, setelah para perawat dan dokter pindah kepada Sophie dan memeriksanya,
“Aku....kenapa aku ? ingatan siapa ini ? apa ini ingatan ku ?” Pikirnya sambil memandang langit langit.
Tiba tiba, “Prang.” Terdengar bunyi kencang di sebelah Joshua. Dia langsung menoleh, ternyata dia melihat tubuh Sophie kejang kejang dan sedang di pegangi oleh para perawat, dokter berusaha menganalisa apa yang terjadi. Melihat hal seperti itu ada di sebelah nya, Joshua langsung turun dari tempat tidurnya dan menghampiri tubuh Sophie, dia memegang kepala Sophie dan menempelkannya ke bantal di tempat tidur, ajaibnya tubuh Sophie langsung tenang kembali, kemudian dia melihat luka Sophie yang berada persis di ubun ubun,
“Dokter, siapkan ruang operasi....” Ujar nya.
“Apa...ruang operasi ?” Tanya dokter.
“Iya, otak nya mengalami pendarahan, kalau tidak segera di tutup, akan mengakibatkan pembengkakan otak dan paling parah dia lumpuh seumur hidup, ayo cepat....” Teriak Joshua.
“Ba..baik.....ayo semuanya, bawa pasien ke ruang operasi.” Teriak dokter.
Para perawat langsung membawa tempat tidur tempat Sophie terbaring ke ruang operasi, Joshua langsung memakai pakaian hijau dokter, sarung tangan dan masker. Begitu sampai di ruang operasi, Joshua langsung melakukan pembedahan otak, pertama setelah memberi Sophie bius total walau sedang pingsan, dengan hati hati dia melihat luka di kepala Sophie, dia melakukan proses pembedahan otak yang bernama kraniotomi yang melubangi kepala Sophie yang sudah dia gunting rambutnya dan memeriksanya, kemudian setelah menemukan luka yang menganga walau kecil di otak nya, dia langsung mengambil jarum dan benang kemudian menutup lukanya.
Dokter yang ada di sebelahnya kagum melihat keterampilan Joshua dalam melakukan pembedahan yang biasanya di lakukan oleh dokter ahli bedah syaraf, sedangkan para perawat berbisik dan bertanya “Siapa dokter itu.” Setelah selesai, dia menutup kembali lubang dan menjahitnya seperti sedia kala, tanpa sadar dia melakukan operasi itu selama 5 jam karena melakukan nya sendirian tanpa asisten. Setelah selesai,
“Fiuuh....selesai, sekarang tinggal menunggu 48 jam, kalau ada gejala sekecil apapun tolong kabari aku...” Ujar Joshua.
“Oi jangan bengong, kita harus mengawasi pasien selama 48 jam, tolong kalau ada gejala sekecil apapun beritahu aku....” Ujar Joshua lagi.
“Ah ya...benar....aku mengerti....” Ujar dokter.
“Baiklah, aku kembali ke kamar ku....” Balas Joshua.
Dia langsung berjalan keluar dan melepas sarung tangan juga pakaian pelapis nya yang penuh darah kemudian menaruhnya di nampan yang di sediakan di sebelah pintu yang memang khusus untuk menaruh sarung tangan dan pakaian. Setelah Joshua keluar dari kamar, seorang perawat bertanya kepada dokter,
“Um...dokter, apa dokter kenal dokter tadi ?” Tanya perawat itu.
“Aku tidak kenal....tapi kalau dia bisa melakukan seperti ini, tidak mungkin aku tidak kenal.....dia pasti dokter bedah ternama, aku harus cari tahu siapa dia...tolong salah satu ikuti dia, jangan sampai dia pergi dari rumah sakit.” Jawab dokter.
“Ba..baik dok....”
Seorang perawat keluar dari ruang operasi, dia langsung menuju ruang gawat darurat dimana Joshua di tempatkan, tapi ketika perawat sampai ke ruang gawat darurat, Joshua tidak ada di sana.
“Aduh...dia pergi.....” Gumam nya.
__ADS_1
“Siapa yang pergi ?” Tanya Joshua di belakang nya.
“Eh...” Perawat itu menoleh dan langsung mundur karena kaget melihat Joshua berdiri di belakang nya.
“Maaf dok, kupikir dokter sudah pergi....” Ujar perawat.
“Aku hanya dari kamar mandi mencuci tangan dan mengganti pakaian menjadi pakaian pasien. Aku tidak akan lari tenang saja....oh dan jangan panggil aku dokter, aku belum jadi dokter, masih mahasiswa kedokteran.” Balas Joshua.
“Bohong....mana mungkin mahasiswa kedokteran bisa melakukan operasi seperti tadi.” Ujar perawat sambil tersenyum dan mendekatkan tubuhnya kepada Joshua.
“Um...bisa mundur sedikit, kamu terlalu dekat.” Ujar Joshua yang risih.
“Ah maaf dok, saya keluar dulu, selamat beristirahat.....um...kalau ada apa apa panggil saya ya dok, nama saya Natalie hehe.” Ujar perawat bernama Natalie itu sambil menggoda karena sepertinya dia tertarik dengan Joshua yang sebenarnya tampan.
“I..iya....terima kasih...” Ujar Joshua sedikit grogi.
Natalie keluar dari ruangan dan menutup pintunya, Joshua langsung berbaring di tempat tidurnya sambil berpikir,
“Hmm ini bukan bumi ya ?” Tanya nya dalam hati.
Dia memejamkan matanya, kehidupan nya sebagai Joshua di dunia ini mulai keluar di benak nya, dari dia kecil sampai besar. Tiba tiba dia teringat kapsul pendingin yang berada di basement rumah nya, Joshua langsung terduduk,
“Philia....Yuki....tidak salah lagi.....Philia adalah Yuki......tapi, bagaimana aku membuktikan nya.”
Joshua kembali berbaring di tempat tidurnya, pikiran nya terus berjalan, ingatan dirinya ketika masih menjadi Kyosuke dari muda sampai meninggal dan dirinya sebagai Joshua, keluar silih berganti, dia mengangkat tangan nya ke atas dan menggenggam nya,
“Tubuh ini......lemah, aku masih ingat aku belajar karate dari umur 7 tahun sampai 13 tahun di kehidupan dulu, itulah sebabnya aku menjadi petarung dulu.....huuuh...penyesalan ku timbul lagi, tapi kali ini, aku bisa menolong Philia....aku yakin......” Ujar nya dalam hati.
Karena terlalu banyak berpikir, lama lama Joshua menjadi lelah dan di tambah nyeri di kepalanya akhirnya dia tertidur. Keesokan harinya,
“Uh....kepalaku sakit.....oh ya....aku di rumah sakit.....aku ketiduran rupanya...” Ujar Joshua yang membuka mata dan memegang kepalanya.
“Um...kak Joshua....sudah bangun....” Terdengar suara seorang gadis di sebelah nya.
Joshua langsung menoleh, dia melihat Marie sedang duduk di sebelahnya sambil memegang sebuah buku yang tampak usang di tangan nya. Tentu saja melihat Marie, Joshua menjadi geram,
“Mau apa kamu di sini ?” Tanya nya ketus.
__ADS_1