Dr Josh and his sleeping wife

Dr Josh and his sleeping wife
Chapter 11


__ADS_3

Tidak terdengar suara apa apa di luar, tapi Joshua tetap tidak lengah, dia terus berdiri di sisi pintu dan bersiap, keringatnya keluar dan menetes jatuh ke tanah, tangan nya bergetar, dia terus mengumpulkan keberanian nya sambil sesekali menoleh melihat tabung dengan Philia di dalam nya. Tiba tiba, “Bum.” Terdengar suara ledakan kecil, “Cklek.” Joshua menarik pelatuk pistol nya,


“Tidak berhasil...” Ujar seorang pria di balik pintu.


Terdengar suara dering smartphone dari balik pintu, sepertinya ada seseorang yang sedang menerima telepon. Terdengar suara sayup sayup Tristan yang sedang bicara, kemungkinan Tristan yang sedang mengangkat telepon nya. Kemudian,


“Hei...kita mundur dulu, istriku mau membawa calon pembeli ke sini....bisa gawat kalau mereka melihat kita...cepat keluar.” Ujar Tristan.


Langsung terdengar suara alat alat di bereskan dan langkah langkah kaki yang sepertinya terburu buru, tiba tiba terdengar suara langkah hak tinggi sepatu wanita,


“Tristan sayang, peninggalan dokter Johan tidak akan kemana mana, baru saja aku terima pesan, pembeli yang mau melihat rumah ini bersama istrimu adalah kolega ku, jadi sementara kita aman...” Ujar seorang wanita yang tidak di kenali Joshua.


“Hahahaha luar biasa Inggrid sayang, kapsul pendingin nya silahkan kamu ambil, aku hanya ingin mengejar satu komponen yang ada di dalam nya yaitu hidup abadi.” Ujar Tristan.


“Inggrid ? komponen hidup abadi ?” Tanya Joshua di dalam pikiran nya.


“Iya sayang, hadiah nobel dan rangkin 1 di dunia kedokteran akan menjadi milik kita.....muach.” Ujar wanita bernama Inggrid yang sepertinya mencium Tristan.


“Muaaach....” Sepertinya Tristan juga balas mencium wanita itu.


Walau tidak melihat tapi perut Joshua merasa mual melihat nya, kemudian dia mendengar suara langkah kaki menjauh dari pintu dan hilang di kejauhan. Joshua langsung berpikir, dia berjalan kembali mendekati tabung tempat Philia berbaring, dia mengamati tabung itu sambil memegang dagunya dengan tangan nya.


“Mereka jelas mengincar alat ini.....tapi...apa maksud Tristan soal hidup abadi dan rasanya aku pernah mendengar nama Inggrid....bisakah kamu kasih aku petunjuk Philia.” Ujar Joshua.


Dia kembali melihat wajah Philia, ketika termenung melihat wajah Philia, barulah dia sadar kalau Philia tidak berubah dari dua tahun sejak pertama dia bertemu, bahkan sepertinya sejak berumur 16 tahun ketika di masukkan ke dalam kapsul, dia sama sekali tidak berubah. Joshua langsung mengambil amplop coklat dari dalam saku jaketnya dan membukanya, dia menggelar cetak biru mesin itu di tanah dan mulai mengamati nya. Joshua kaget, ternyata rancangan mesin itu jauh di luar dari dugaan nya, banyak sekali komponen yang dia tidak mengerti. Selagi di bumi saja, hal seperti ini masih masuk kategori  science fiction bagi penggemar cerita fiksi dan sepertinya mesin di depan, mesin yang digunakan Philia itu adalah mesin satu satunya di dunia.


“Wow....ternyata papa ku hebat sekali....aduh, coba aku membangkitkan ingatan ku 2 tahun lalu...aku pasti bisa berdiskusi dengan nya. Sungguh sayang dia sudah tidak ada.....aku harus bisa mempelajari ini....” Ujar Joshua.


Joshua mengambil buku catatan dan seluruh berkas di meja yang bertuliskan gagal . Dia membandingkan satu persatu berkas itu dengan cetak biru yang ada lantai. Setelah berjam jam mengamati dan mempelajari, akhirnya Joshua mengambil kesimpulan kalau Philia tidak bisa di pindahkan sama sekali, alasan kenapa ruangan, lorong dan seluruh basement  berhawa dingin ternyata untuk menjaga temperatur tabung supaya tetap stabil dan tidak berubah, sebab berubah 1 derajat saja bisa berakibat fatal bagi yang memakainya. Timbul masalah baru bagi Joshua, kalau memang Philia tidak boleh di pindahkan, satu satunya cara, dia harus membeli rumah itu atau paling tidak mengambil alih kembali rumah itu.

__ADS_1


“Bagaimana cara nya.....aku benar benar harus berbuat sesuatu....” Ujar Joshua.


Dia mondar mandir berkeliling ruangan sambil berpikir keras, dia terus mengotak ngatik smartphone nya untuk mencari ide dan masukan. Akhirnya dia duduk di kursi yang ada di dekat meja, dia meletakkan siku nya di atas meja sambil berpikir dan melihat tabung di depan nya yang menghadap pintu masuk.


“Aaargggh.....pusing aku....” Ujar Joshua sambil mengacak ngacak rambutnya.


Tiba tiba, “Dling.” Sebuah pesan masuk ke dalam smartphone nya. Ternyata pesan masuk dari dokter Robert, dia mengetahui nomer Joshua dari registrasi pasien, isi pesan nya,


“Dokter Joshua, anda sedang berada di mana ? ada pasien urgent yang harus segera di tangani, tapi beliau tidak bisa di bawa ke rumah sakit, anda bisa bantu ?”


Sebelum membalas pesan, Joshua dengan perlahan dan hati hati membuka pintu sambil memegang pistol dan mengintip keluar. Di luar sudah tidak ada orang, dia mengendap ngendap keluar dan naik ke atas dengan perlahan, ketika sampai di atas, dia melihat seluruh ruangan gelap, dia melangkah ke pintu utama dan tidak melihat ada tanda tanda seorang pun di dalam maupun di luar rumah. Joshua langsung memberikan pesan balasan kepada Robert dan alamat rumah nya. “Dling.” Sebuah pesan masuk lagi dari Robert dan isinya adalah jawaban “OK.”


Joshua kemudian membuka pintu utama dan dia duduk di teras menunggu Robert yang akan datang bersama pasien darurat nya. Tak lama kemudian, lima buah sedan hitam dan sebuah ambulan parkir di depan gerbang rumah Joshua. Beberapa orang yang membawa senjata api turun membukakan pagar, ambulan masuk ke dalam dengan posisi bagian belakang lebih dulu,


“Ini...orang orang apa ? jangan bilang yakuza lagi.....” Pikir Joshua melihat orang ramai turun dari mobil di depan nya.


Ambulan di buka, Joshua langsung lari menghampiri nya dan kemudian dia membuka garasi yang sudah kosong supaya pasien di taruh di situ untuk di periksa lebih dulu, sebab belum tentu pasien bisa di masukkan ke rumah yang harus menaiki tangga. Ketika pasien di dorong keluar oleh beberapa orang perawat, Joshua terkejut, karena pasien itu terlihat tertembak di bagian perut bawah nya dan melihat wajah, tato di dada nya dan bentuk tubuh nya, sudah jelas dia adalah pemimpin mafia. Tak lama kemudian Robert mengampiri Joshua.


“Baiklah, siapkan alat alat operasi, aku akan mengoperasi dia di garasi, sementara itu tolong berjaga di depan.” Ujar Joshua.


Kemudian para perawat dan anak buah langsung menurunkan peralatan medis dari ambulans dan mobil mereka yang masuk ke dalam pagar, setelah semua di masukkan ke dalam garasi, Joshua langsung menyulap garasinya menjadi kamar operasi di bantu oleh Robert. Joshua memakai sarung tangan, masker dan pakaian lapis hijau, dia sengaja melepaskan pakaian dasarnya supaya tidak mengganggu konsentrasi nya. Setelah itu garasi di tutup, seluruh anak buah bersenjata yang jumlah nya sekitar 20 orang berjaga di depan pagar sampai ke dalam pagar. Di dalam garasi,


“Bapak, maaf, di sini kita tidak ada bius total hanya ada bius lokal, mohon tahan sakitnya sedikit ya...” Ujar Joshua.


“Ti...tidak masalah...cepat lakukan dok.” Ujar pria yang terlihat perkasa itu dengan terengah engah.


Pria itu menarik handuk dan menggigit nya. Joshua mulai menyemprotkan cairan penahan sakit dan menyuntikkan obat bius lokal, setelah obat bekerja, dengan pisaunya dia mulai membuka luka tembak itu. Pria itu tidak mengerang sama sekali, walau wajah nya terlihat sangat merah menahan kesakitan. Setelah di lihat, ternyata peluru masuk separuh ke dalam ginjal. Dengan pinsetnya, Joshua mencabut pelurunya dan dengan cepat menjahit ginjal nya sampai tertutup rapat, kemudian dia menutup jaringan nya kembali dan menjahit lukanya dengan cepat. Setelah selesai, Joshua yang berkeringat membersihkan keringatnya dan bernafas lega, dia melihat jam tangan nya karena kebiasaan, operasinya hanya memakan waktu 1 jam 45 menit.


“Sudah selesai, mohon jangan berdiri dulu, berbaring dulu selama 2 jam...setelah itu anda sudah boleh di pindahkan.” Ujar Joshua.

__ADS_1


Melihat cara kerja Joshua yang luar biasa cepat dan rapi, Robert, para perawat, seorang anak buah yang sepertinya asisten pria yang terbaring dan beberapa anak buah bersenjata yang mengawal di dalam, bertepuk tangan. Pria yang terbaring dan baru selesai di operasi juga tersenyum melihat Joshua,


“Siapa nama anda dokter.....” Tanya nya sambil berbaring.


“Um...maaf pak, saya belum jadi dokter, saya masih mahasiswa kedokteran, nama saya Joshua.” Ujar Joshua memperkenalkan diri.


“Hahahahaha dengan kemampuan seperti anda tolong jangan merendah, nama saya Paolo Marlini, dari lubuk hati yang paling dalam saya sangat berterima kasih pada anda, bagaimana saya dapat membalas budi anda ?” Tanya Paolo yang masih terbaring di tempat tidur.


“Tidak usah, saya hanya melakukan tugas saya....” Ujar Joshua.


“Saya tidak bisa terima perkataan anda seperti itu, katakan, apa mau anda....sebisa mungkin akan saya kabulkan.” Ujar Paolo.


“Maaf pak Paolo...tapi tidak...”


“Saya sudah bilang saya tidak mau mendengar penolakan...apa anda tidak mengerti ?” Tanya Paolo memotong ucapan Joshua yang belum selesai dengan suara kencang.


Mendengar nada suara Paolo yang kencang, Joshua menoleh melihat Robert dan  asisten Paolo, keduanya mengangguk sambil tersenyum.


“Um....boleh saya minta waktu memikirkan nya dulu ?” Tanya Joshua.


“Saya benar benar heran, baru kali ini ada orang yang menolak di beri hadiah hahahaha....tapi saya menghargai anda, silahkan, anda pikirkan saja dulu...” Ujar Paolo.


“Dokter Joshua, anda mau jual rumah ini ? apa anda butuh uang ?” Tanya asisten Paolo.


“Oh....iya....um...yang mau jual mama mertua tiri saya....” Ujar Joshua.


“Hooo jadi kalau rumah ini di jual anda tidak punya rumah ? baiklah, Juan, telepon nomor di depan, berapa pun dia minta, bayar dan langsung urus semua atas nama dokter Joshua....” Teriak Paolo yang masih terbaring.


“Siap bos...” Balas Juan berseri seri.

__ADS_1


“Eh....kok....langsung....” Ujar Joshua bingung.


Asisten Paolo yang bernama Juan langsung menjalankan perintah bos nya, dia keluar dan menelpon nomor yang tertera di sana. Sementara Robert menepuk nepuk pudak Joshua sambil tersenyum.


__ADS_2