
Setelah meminta Juan mengurus semuanya, Paolo kembali memejamkan mata dan tertidur di tempat tidur. Joshua yang masih kaget karena Paolo memutuskan membeli rumah mertuanya untuk dirinya, berbisik kepada Robert.
“Dok, sebenarnya siapa sih Paolo Marlini yang terbaring di depan itu ?” Tanya Joshua.
“Ah benar juga, anda belum mengenal nya ya dok, baik, Paolo Marlini adalah pemimpin keluarga besar Marlini, keluarga yang mengepalai banyak perusahaan perusahaan besar yang memiliki andil besar pada negara kita. Selain itu, dia juga seorang pejabat di pemerintahan, itulah sebabnya dia tidak bisa di bawa ke rumah sakit, sebab jika wartawan mencium kehadirannya akan menjadi berita besar.” Jawab Robert.
“Oh aku pikir yaku...eh...mafia dok....” Balas Joshua.
“Yah, di bilang mafia juga tidak salah, banyak perusahan dan keluarga saingan keluarga Marlini yang berusaha mengambil alih dan menyingkirkan mereka, jadi sangat wajar kalau Marlini mempunyai pasukan sendiri demi pengamanan untuk mereka sendiri.” Balas Robert.
“Maaf dok, aku baru tahu, aku main mengoperasi dia saja tanpa mengetahui siapa dia....” Balas Joshua.
“Hahahaha...anda menyelamatkan nyawa dok, sekarang saya malah yakin sama anda, anda tidak pandang bulu dan tidak bertanya asal usul pasien, tidak seperti dokter lain yang hanya mau melayani pasien tertentu. Aku malah senang yang seperti anda dok.” Ujar Robert.
“Aduh..dok, mohon maaf, tapi aku belum jadi dokter, aku masih kuliah, jadi aku mohon tolong rahasiakan kemampuan ku....” Balas Joshua.
“Pasti dok, bagi saya, anda sudah menjadi dokter yang bahkan melebihi kemampuan ku secara pribadi, jadi sekarang ijinkan saya membantu dokter, kalau dokter menginginkan ijasah dan ijin praktek, saya bisa mengusahakan nya, tanpa harus lulus dari universitas.” Balas Robert.
“Itu saya tidak mau dok, saya mau yang normal normal saja....” Balas Joshua.
“Saya mengerti, tapi kalau ada pasien darurat seperti ini atau pasien yang sulit di tangani pihak rumah sakit, saya selaku kepala rumah sakit terbesar di kota ini, mohon ijin untuk minta bantuan nya ya dok.” Balas Robert menjulurkan tangannya.
“Aku akan bantu semampuku dok.....jadi aku pasti bersedia membantu jika masih di dalam kapasitas kemampuan ku.” Balas Joshua menjabat tangan Robert.
Tak lama kemudian, Juan kembali masuk ke dalam untuk melapor, ketika melihat Paolo sedang tidur, dia datang menghampiri Joshua dan Robert yang sedang berbincang,
“Dokter Joshua, saya sudah mendapat kesepakatan harga dengan ibu tiri dokter, dia sudah setuju dan pembayaran down payment sudah saya berikan. Tapi ada satu hal yang dia tanyakan dan harus saya tanyakan kepada dokter.” Ujar Juan.
“Um...pertanyaan nya apa ya ?” Tanya Joshua.
“Dia minta di ijinkan tinggal di sini bersama suaminya, saya belum menjawab dan saya bilang saya tanyakan dulu....” Jawab Juan.
Wajah Joshua langsung berubah, dia terlihat kesal dan marah, tangan nya mengepal dan gemetar, dia ingat sekali perlakuan mertua tirinya dan suami barunya kepada dirinya, bukan hanya itu, dia tahu sekali tujuan Tristan yang ingin mengambil kapsul pendingin ciptaan ayahnya yang sedang di gunakan oleh Philia istrinya. Dia menoleh melihat Juan,
“Sejujurnya saya tidak mau kalau dia dan suami barunya tinggal di rumah mertua saya.....mengingat papa mertua saya dan istri saya sudah tidak ada, di tambah dia sudah punya suami baru, seharus nya kita sudah tidak ada hubungan apa apa.” Balas Joshua.
__ADS_1
“Baik, saya mengerti, saya sampaikan dan atur semuanya....terima kasih dokter.”
Juan langsung kembali keluar dari garasi sambil menelpon, kemudian dari dalam garasi, Joshua melihat Juan masuk ke dalam mobil dan pergi. Joshua mengajak Robert ke dalam, dia juga meminta tolong kepada para perawat dan anak buah Paolo untuk memindahkan tempat tidur Paolo ke dalam melalui pintu dari garasi. Setelah di dalam, Joshua dan Robert duduk di meja makan, sedangkan tempat tidur Paolo di taruh di sebelah nya.
Dua jam pun berlalu, sebuah mobil datang dan masuk ke dalam gerbang, melihat ada mobil masuk ke gerbang, Joshua membukakan pintu depan untuk langsung ke ruang tamu. Juan turun dari mobil membawa berkas, dia langsung masuk ke dalam ruang tamu untuk menemui Joshua,
“Dokter, ini surat perjanjian nya...” Ujar Juan sambil memberikan surat kepada Joshua yang menyambutnya di ruang tamu.
Tiba tiba, sebuah mobil berwarna merah datang dan langsung berhenti di depan pintu rumah, Amira turun bersama dengan Tristan dan berlari masuk ke dalam,
“Hei Joshua, kamu benar benar kurang ajar ya.....” Teriak Amira.
“Hah...memang aku kenapa ?” Tanya Joshua.
“Kamu berani sekali membeli rumah ini......kita berdua di desak oleh pengacara mu untuk menandatangani surat yang kamu pegang itu.” Jawab Amira.
“Seperti yang saya bilang barusan, saya sudah memberikan down payment atas nama dokter Joshua tanpa bernegosiasi dengan kalian, kami menyetujui permintaan harga kalian dan sebagai pengacara, saya mengesahkan nya.” Balas Juan.
“Hah...dokter ? siapa dokter ?” Tanya Tristan.
“Apa ? tidak salah, dia mahasiswa kampungan yang tidak becus berbuat apa apa....ini semua tidak masuk akal, aku akan menuntut kalian.” Teriak Tristan.
“Silahkan, semua sudah jelas hitam di atas putih, saya sebagai pengacara dokter Joshua akan menjawab tuntutan anda...” Balas Juan.
“Awas kamu Joshua.....benar benar kurang ajar kamu....” Teriak Amira.
Tristan maju ke arah Joshua dan berniat memukul nya, Joshua mengangkat tangan untuk melindungi wajah nya, tapi langkah Tristan terhenti karena dia melihat seseorang di belakang Joshua,
“Ada apa ini ribut ribut.....aku sampai terbangun....”
Joshua menoleh, dia melihat Paolo yang di papah Robert keluar dari dalam karena mendengar suara ribut di ruang tamu.
“Tu..tuan Paolo Marlini.....ke..kenapa anda bisa di sini ?” Tanya Tristan.
“Oh rupanya anda.....saya sedang di rawat di sini oleh dokter Joshua dan dokter Robert. Seharusnya saya yang bertanya, mau apa anda ke sini....” Ujar Paolo.
__ADS_1
“Dokter....sejak kapan jongos ini jadi dokter...” Teriak Amira.
“Amira...diam...” Teriak Tristan yang tahu siapa Paolo.
“Heh perempuan, kamu panggil penolong jiwa saya apa barusan ?” Tanya Paolo sambil menjentikkan jarinya.
Beberapa pengawal keluar dari dalam dan langsung menodongkan senjata api mereka kepada Tristan dan Amira.
“Rumah ini saya yang belikan untuk dokter Joshua, lalu apa mau kalian ?” Tanya Paolo.
“Ma..maaf...tuan Paolo...Amira, kita pergi.” Tristan langsung berbalik sambil menarik tangan Amira.
“Tapi Tristan....anak kampung itu....” Teriak Amira.
“Jangan banyak bicara....kita pergi...” Bentak Tristan.
Tristan menarik paksa Amira keluar dari rumah dan naik ke mobil mereka, tanpa menunda, mobil langsung berputar dan keluar dari pagar. Joshua melihat Juan yang berdiri di depan nya dengan wajah puas, dia tidak menyangka sama sekali kalau Juan itu adalah pengacara.
“Um...pak Juan, anda pengacara ?” Tanya Joshua.
“Ah benar dokter, saya pengacara pribadi tuan Paolo.....mohon maaf saya baru memperkenalkan diri.” Jawab Juan.
“Dokter Joshua, untuk sementara, ijinkan aku meninggalkan dua orang anak buah ku di sini untuk berjaga jika mereka kembali, sekarang aku harus pamit, aku sudah bisa berjalan, sekali lagi terima kasih yang sebesar besarnya karena telah menyelamatkan nyawaku.” Ujar Paolo sambil menjulurkan tangan nya.
“Sama sama tuan Paolo, saya yang berterima kasih kepada anda, berkat anda, satu masalah saya selesai....” Balas Joshua.
“Hahaha...bantuan dari saya tidak seberapa, uang bisa di cari, tapi nyawa hanya 1....saya permisi dokter Joshua....” Balas Paolo.
“Baik tuan Paolo, terima kasih sekali lagi.”
Paolo yang di papah Rober dan Juan keluar dari rumah dan naik ke dalam mobil hitam panjang yang menjemputnya persis di depan pintu masuk. Dua orang anak buah Paolo memperkenalkan diri kepada Joshua dan berjaga di pos jaga. Tapi Joshua meminta mereka masuk ke dalam dan menganggap seperti rumah sendiri.
Setelah itu, Joshua kembali masuk ke dalam basement dan menghampiri tabung berisi Philia. Dia langsung jatuh berlutu di depan tabung,
“Philia, aku berhasil, sekarang kita aman.....kamu tidak perlu berpindah dari rumah ini....walau aku takut tadi, tapi semua lancar hehehe....”
__ADS_1
Dia langsung memeluk tabung di depan nya karena melepas ketegangan dan wajahnya terlihat sangat lega. Tanpa Joshua sadari, wajah Philia di dalam tabung tersenyum dalam keadaan tidur.