
Cahaya matahari menyinari sebagian halaman depan rumah Citra, pemandangan itu dilihat Citra dari jendela sambil duduk di kursi dekat meja makan. Citra menunggu jemputan dari mamanya Dina untuk berangkat sekolah. Biasanya Mamanya Citra dan Mamanya Dina bergantian untuk mengantar jemput Citra dan Dina untuk berangkat sekolah kecuali saat salah satunya ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
TINNN!!!
Suara klason mobil di depan rumah Citra.
"Citra, Dina sudah datang" Kata Mamanya Citra yang sudah hafal dengan suara mobil itu.
"Iya Ma, Citra berangkat dulu ya" Kata Citra sambil mencium tangan mamanya lalu pergi menuju mobil Dina.
"Hai Citra" Sambut Mamanya Dina.
"Hai tante" Kata Dina sambil mencium tangan mamanya Dina.
Citra baru memasuki mobil dan langsung disambut pertanyaan oleh Dina yang terlihat sangat penasaran.
"Buku kemarin gimana cit?" Tanya Dina.
"Aku bilang ke dia, Aku yang bakal ganti"
"Kok jadi kamu sih, kenapa kamu nggak suruh dia?"
"Nggak lah, kamu juga malah kabur" Kata Citra yang kesal.
"Maaf cit, aku rada jengkel sama dia. Kamu udah beli bukunya?"
"Kemarin udah nyariin buku itu, tapi nggak ada"
"Terus"
"Ya nggak tau lah, Biarin aja"
Citra tampak kesal juga dengan murid baru itu. kerutan di kening Citra mulai terlihat yang menandakan dia sedang marah saat Dina membicarakan tentang murid baru itu.
Setelah sampai di sekolah. Citra dan Dina langsung menuju ruang kelas. Saat baru baru meletakkan tas di kursi, tiba-tiba Arvin langsung mendatangi Citra dan menanyakan tentang buku itu.
"Bukunya mana?"
"Kemarin aku udah cari tapi buku itu nggak ada vin" Kata citra yang berusaha membela diri.
"Kalo emang gak bisa tanggung jawab jangan sok gantiin tanggung jawab orang lain" Kata Arvin.
Citra terlihat marah sambil menatap Arvin, tapi saat Arvin mengatakan hal itu membuat Citra tidak bisa berkata apa-apa.
"Kamu nyindir aku?" Tanya Dina ke Arvin dengan suara keras.
"Tanya aja sama temen kamu" Kata Arvin.
"Aku kemarin udah nyari tapi buku itu emang gaada di toko buku"
"Lain kali sebelum ngomong dipikir dulu" Kata Arvin.
Setelah itu Arvin pergi berjalan kembali ke tempat duduknya. Mendengar perkataan Arvin barusan membuat Citra naik pitam yang membuatnya langsung mendatangi Arvin dan menjelaskannya lebih detail lagi dengan nada yang sedikit membentaknya.
"Kemarin setelah ekstrakurikuler aku langsung nyariin buku itu, tapi buku itu emang nggak ada. Kamu dengan seenaknya bilang gitu" Kata Citra menatap Arvin dengan marah.
"Intinya bukunya nggak ada kan?" Kata Arvin dengan muka datar.
BRUAKKK!!!
Citra menggebrak meja.
"Kamu nggak denger?"
Baru kali ini Dina melihat Citra bisa semarah itu dan menggebrak meja dengan keras seperti itu. Dina langsung berlari ke arah Citra dan berusaha untuk menenangkannya.
"Cit kamu kayaknya udah mau lepas kendali nih cit, udah sabar jangan diladenin dia" Kata Dina sambil mengelus punggung Citra untuk berusaha menenangkannya.
Citra melihat ke arah Arvin dengan penuh kemarahan, membuat Dina terpaksa harus menarik Citra untuk kembali ke kursinya dan menenangkan lagi karena takut perkataan Arvin akan membuat Citra lebih marah lagi.
Selama jam pelajaran Citra masih terngiang-ngiang dengan perkataan Arvin. Citra berusaha untuk menghilangkan perkataan itu dari pikirannya saat jam istirahat tapi perkataan itu masih terngiang sampai pulang sekolah.
KRINGGG!!!!
Bel yang menunjukkan jam pulang sekolah berbunyi.
__ADS_1
Citra langsung tergesa-gesa untuk membereskan bukunya lalu berjalan menemui Arvin untuk menanyainya tentang buku itu.
"Kapan kamu mulai cari bukunya?" Tanya Citra sambil memberikan buku yang ada di meja ke Arvin agar lebih cepat membereskannya.
Arvin hanya terdiam dan sama sekali tidak menghiraukan Citra, bahkan buku yang sedang di berikan Citra di tangannya tidak diambil oleh Arvin padahal Citra niat untuk membantunya agar lebih cepat membereskan bukunya.
"Kamu nggak bakal dapet buku itu, aku kemarin udah datengin semua toko buku di sekitar sini" Kata Citra sambil meletakkan buku Arvin ke meja.
"Eh Cit, Kamu ngapain?" Tanya Dina.
"Bahas buku" Jawab Citra.
Arvin menyangkutkan tasnya pada bahu lalu berjalan pergi keluar kelas tanpa menghiraukan Citra dan Dina.
"Arvin, aku ikut" Kata Citra lalu berjalan menuju Arvin.
"Ngapain?" Tanya Arvin.
"Buku sobekannya di aku nih, tapi aku mau ikut" Kata Citra yang berusaha agar bisa ikut dengan Arvin membeli buku itu.
"Aku masih inget sampul buku itu" Kata arvin yang sepertinya tidak perlu buku sobek yang di bawa oleh Citra.
"Aku masih nggak terima dengan perkataan kamu tadi, pokoknya aku ikut" Kata Citra Sambil menghalangi jalan Arvin.
"Dina kamu simpan helm di belakang sekolahkan?Aku pinjem ya? " Sambung Citra ke Dina.
Dina langsung menarik Citra untuk menjauh dari Arvin lalu membicarakan tentang keputusan Citra yang mau ikut dengan Arvin untuk membeli buku itu. Dina berusaha menyadarkan sahabatnya itu, tapi Citra masih bersikeras untuk ikut dengan Arvin.
"Yaudah terserah kamu deh, aku mau ekstrakurikuler dulu. Hati - hati ya!" Kata Dina yang menyerah untuk menasehati Citra dan segera pergi ke tempat ekskul voli karena mau dimulai.
"Iya" Kata Citra sambil melambaikan tangannya.
Citra kembali menghadap ke arah Arvin yang tadi baru saja ada di depannya, tapi Arvin sudah tidak ada dan terlihat sedang berjalan menuju keluar kelas.
"Arvin tungguin, aku boleh ikut kan?" Kata Citra yang masih bersikeras untuk ikut dengan Arvin.
Citra terus memohon ke Arvin agar dia bisa ikut dengannya agar pikiran kata Arvin tadi hilang dari pikirannya, akhirnya Arvin menyetujuinya karena lelah mendengar alasan dan berbagai ocehan yang di katakan Citra terus-menerus.
"Terserah" Kata Arvin.
Citra langsung berlari dengan kencang ke belakang sekolah untuk mengambil helm milik Dina.
Selesai selesai mengambil helm, Citra kembali ke Arvin lalu mereka berjalan ke parkiran sekolah untuk mengambil motor dan langsung berangkat menuju toko buku yang di tuju oleh Arvin.
Di sepanjang perjalanan Arvin hanya diam dan tidak berbicara sepatah-katapun dengan Citra, hal itu membuat Citra merasa bosan dan bertanya ke Arvin.
"Masih jauh nggak tempat bukunya Vin?"
"Jauh"
"Kira - Kira kita nyampenya berapa lama lagi?"
"5 Jam"
Dengan polosnya Citra percaya tentang hal itu dan Reflek menepuk punggung Arvin.
Motor yang dikendarai Arvin langsung oleng karena Arvin juga terkejut saat Citra menepuk punggungnya dengan keras.
"Kamu mau kita mati yah!" Kata Arvin memarahi Citra.
"5 jam, lama" Kata Citra yang masih percaya dengan perkataan Arvin.
Arvin kembali menjalankan motornya dan tak berapa lama Arvin menepikan motornya dan berhenti di sebuah toko buku yang lumayan besar tetapi seperti sangat tua.
"Yakin ni tokonya? Buku yang kayak gini ada disini?" Tanya Citra sambil mengeluarkan buku.
Arvin langsung melepas helmnya dan tidak mempedulikan pertanyaan Citra lalu berjalan masuk ke dalam toko itu.
"Eh Arvin tungguin!" Teriak Citra sambil berlari menyusul Arvin.
Saat sudah memasuki toko itu, padangan Citra teralihkan dengan kotak musik yang berada pada bagian tengah toko itu. Kotak musik bergambar timbangan seimbang dengan lambang hati di tengahnya mengeluarkan musik yang sangat merdu. Suara itu membuat Citra hanyut dalam musik, tapi itu tak bertahan lama karena Arvin menegurnya agar mengeluarkan buku itu dan bertanya ke pegawai toko yang datang.
"Ada buku seperti nggak?" Kata Citra sambil menunjukkan sampul buku itu.
"Ada kak, Ini bukunya" Kata Pegawai toko sambil menunjukkan buku yang tersusun di rak.
__ADS_1
"Wihhh iya bener, disini lengkap ya" Kata Citra kagum sambil menarik buku itu dari raknya.
"Udah sini bukunya, nanti malah kamu sobek lagi" Kata Arvin sambil menarik buku itu dari Citra.
"Eh, yang robekin buku itu kamu sama Dina"
"Tapi robek saat kamu ikut narik kan?"
"Aku aja yang bayar. Katanya aku nggak bisa tanggung jawab makanya sini bukunya, biar aku tunjukkin kalo aku itu tanggung jawab" Sambil menarik buku yang ada di Arvin.
"Kamu bawa uang?" Kata Arvin dengan memberikan uang ke Citra.
"Kamu ini gimana sih, Katanya suruh tanggung jawab. kalo pake uang kamu sama aja aku nggak tanggung jawab dong"
"Terserah" Kata Arvin yang tidak mau memperpanjang debat dengan Citra.
"Aku mau ambil buku ini 2, kamu mau beli juga nggak?"
"Nggak tertarik"
"Kalo nggak tertarik kenapa kemarin pinjam buku ini? Yaudah aku bayar ini dulu yah"
Setelah membeli buku dan keluar dari toko itu, Citra mengajak Arvin untuk membeli minuman terlebih dahulu.
"Haus nih, Mampir ke cafe dulu yuk!" Ajak Citra
"Nggak" Tolak Arvin sambil memasang helmnya
"Ini baru jam setengah 4 sore, aku haus banget" Kata Citra sambil menahan rasa tidak nyaman dengan tenggorokannya karena haus.
Arvin melepaskan helmnya lalu berjalan menuju ke sebuah toko yang terdekat untuk membelikan Citra minuman..
"Nih" Kata Arvin sambil memberikan minumannya.
"Makasih ya, istirahat dulu capek nih" Kata Citra bersandar di motor Arvin.
Citra masih terlihat lelah yang membuatnya diam dan tidak banyak bicara sambil meminum minumannya. Citra berjalan menuju tempat duduk yang ada di depan toko buku itu dan mengajak Arvin untuk ikut duduk tapi dia menolaknya.
"Sini" Kata Citra mengajak Arvin.
Arvin tidak menghiraukannya malah mengalihkan padangannya ke jalan agar tidak melihat ke arah Citra.
"Minum sambil berdiri itu nggak baik tau" Kata Citra sambil menarik paksa Arvin untuk duduk.
Saat sedang duduk, Arvin hanya terdiam sambil melihat ke arah jalan. Citra tidak tahu kenapa Arvin lebih suka terdiam, Citra melihat wajah Arvin lebih dekat dan kemudian tersenyum tipis.
"Kamu sudah gila ya?" Kata Arvin sambil bergeser tempat duduk menjauh dari Citra.
"Kamu kalo diam saja memikirkan apa? Kenapa kamu lebih suka untuk diam?" Tanya Citra yang penasaran.
"Kamu udah izin orang tua?" Tanya Arvin.
"Aku tanya duluan kok balik nanya sih, aku udah izin tadi lewat chat"
"Segera habiskan minumanmu dan kita akan segera pulang" Kata Arvin yang sudah menghabiskan minumannya terlebih dahulu.
"Rumah kamu daerah mana?"
"Ngapain tanya?" Kata Citra yang mulai curiga dengan Arvin.
"Kamu mau aku turunin di tengah jalan?"
"Nggak usah dianterin ke rumah, anterin aku sampai mall deket sekolah aja. Kebetulan Mamaku ada di mall itu sekarang, aku pulang bareng mamaku aja"
Citra baru sadar bahwa minuman Arvin sudah habis duluan, Citra langsung tergesa-gesa untuk menghabiskan minumannya dan mengeluarkan buku yang akan dibawa Arvin.
"Ni bukunya, Katanya besok mau ngembaliin" Kata Citra sambil memberikan buku yang tadi dibeli.
"Iya" Kata Arvin menerima buku itu.
"Kalo kamu nggak suka buku itu kenapa pinjam?"
"Aku cuma mau liat isinya aja"
"Aneh" Kata Citra sambil melihat ke arah Arvin.
__ADS_1
Setelah selesai istirahat, Akhirnya mereka berdua mengendarai motor menuju jalan pulang. Citra akhirnya lega karena tanggung jawabnya sudah terpenuhi semua dan besok Arvin dapat mengembalikan buku itu dengan kondisi normal ke perpustakaan sekolah. Menurut Citra, Arvin tidak terlalu buruk seperti perkiraan Citra saat awal Arvin masuk ke kelasnya.