
Seminggu telah berlalu...
Dina sudah kembali dari turnamen volinya karena timnya telah gagal dan hanya bisa mencapai perempat final.
Arvin sudah kembali masuk sekolah sejak satu hari setelah Citra memberitahu ke Bu Rini bahwa Arvin tidak ikut mengerjakan saat berkelompok. Sampai hari ini Arvin juga masih belum mengetahui tentang hal itu, karena Gilang belum juga memberi miniatur dan laporannya.
Gilang masih menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Arvin tentang hal itu.
Luka Arvin sedikit demi sedikit sudah mulai membaik. Sikap Citra ke Arvin hanya biasa-biasa saja, begitupun juga Arvin yang seperti biasa tidak pernah menganggap Citra istimewa.
KRINGGG!!!
Bel pergantian jam pelajaran berdering.
Jam pelajaran Seni dimulai dan Bu Rini mulai memasuki ruang kelas. Seperti biasa Bu Rini mengecek daftar hadir murid dan mengetahui bahwa Arvin hari ini sudah masuk sekolah.
Selesai mengecek daftar hadir siswa, Bu Rini langsung menyuruh Arvin untuk berdiri dan maju ke depan kelas lalu menghadap ke arah semua murid.
"Ini merupakan siswa yang tidak boleh ditiru" Kata Bu Rini sambil menunjuk Arvin.
"Maksud Bu Rini?" Kata Arvin terkejut mendengar pernyataan Bu Rini.
"Diam kamu!" Kata Bu Rini membentak Arvin.
Bu Rini terus menerus memarahi Arvin yang sedang berdiri di depan kelas dan juga memperingatkan semua murid agar tidak ada yang seperti Arvin.
Arvin hanya diam mendengarkan semua tuduhan yang di berikan Bu Rini kepadanya tanpa ada kata perlawanan lagi.
Mendengar semua pernyataan yang disampaikan Bu Rini tentang Arvin membuat Dina terkejut dan langsung menanyai Citra karena setahu Dina bahwa Arvin selalu ikut mengerjakan saat kerja kelompok bersama Citra.
"Citra memang bener, Arvin tidak mengerjakan apa-apa?" Tanya Dina.
Citra membuka dan membaca bukunya.
Citra berusaha untuk tidak menghiraukan semua yang ada di sekelilingnya karena Ia tidak tega melihat Arvin yang terus menerus di marahi oleh Bu Rini.
Terlihat setelah Arvin selesai di marahi dan disuruh untuk kembali duduk oleh Bu Rini, Gilang langsung mendatangi Arvin sambil memberikannya laporan dan hasil miniatur untuknya. Citra hanya melihatnya dari jauh dan berharap Arvin tidak terlalu marah padanya karena wajah Arvin yang masih kelihatan datar, mungkin karena dia tidak bisa berekspresi dengan baik.
__ADS_1
KRINGGG!!!!
Bel tanda jam istirahat berdering.
"Aku lapar" Kata Dina yang langsung saja meninggalkan Citra dan menuju ke Kantin.
"Kenapa kamu yang marah sih?" TanyaCitra.
Dina masih marah dengan perbutan yang dilakukan oleh Citra ke Arvin, menurutnya dia tindakannya terlalu berlebihan kepada Arvin.
Citra membereskan bukunya terlebih dahulu sebelum pergi ke kantin.
Citra melihat ke arah belakang melihat Arvin dan Arvin langsung berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan sambil membawa miniatur dan laporannya. Citra langsung mengalihkan pandangannya karena Citra pikir Arvin akan kesini dan memarahinya, tetapi itu hanya pikiran Citra saja. Arvin terus berjalan keluar kelas dan sama sekali tidak melihatnya.
Setelah selesai memberekan buku yang ada di meja. Citra langsung berjalan menuju luar kelas untuk menyusul Dina yang sudah ada di Kantin terlebih dahulu. Saat baru keluar kelas, Citra langsung terkejut melihat ada Arvin yang sedang memegangi miniatur dan laporannya tepat di depan tempat sampah.
Citra berusaha untuk tidak menghiraukannya. Padangan Citra hanya ke depan dan terus berjalan menuju ke kantin. Arvin langsung menanyainya saat Citra tepat berjalan di belakangnya.
"Maksud kamu apa?" Tanya Arvin.
"Sebenernya Aku tidak bermaksud unt..."
"Jawab langsung ke intinya saja, kamu selalu membuat waktuku saat ditanya" Kata Arvin yang langsung memotong omongan Citra.
Arvin langsung membuang miniatur dan laporan yang dipegangnya ke tempat sampah yang berada tepat di depannya. Arvin langsung membalikkan badannya dan menatap dengan tatapan dingin ke arah Citra, Citra langsung menunduk karena tak mau melihat tatapan tajam dan dingin Arvin.
"Aku sudah tidak peduli padamu. Itu jawaban yang aku tunggu" Kata Arvin
Arvin yang langsung mengalihkan pandangannya dan berjalan pergi meninggalkan Citra. Baru beberapa langkah berjalan, Citra langsung menyusulnya dan berdiri tepat dihadapan Arvin untuk menanyainya.
"Kalo kamu sudah tahu jawabannya kenapa harus tanya lagi kepadaku?" Tanya Citra yang kali ini berani untuk menatap ke arah Arvin.
"Aku hanya ingin mendengarkannya langsung dari seorang bernama Citra bukan dari orang lain" Kata Arvin.
Arvin langsung berjalan pergi meninggalkan Citra. Citra hanya terdiam di sana beberapa saat karena tak mampu untuk membalas perkataan Arvin tadi.
Citra kembali berjalan menuju ke arah Kantin,
__ADS_1
Sesampainya di sana ternyata tidak ada Dina.
Citra mencari dari ujung ke ujung Kantin tetap masih tidak ada tanda-tanda dari Dina. Menurut Citra mungkin dia juga marah kepadanya karena ia tidak menjawab pertanyaannya dan juga marah karena perbuatannya kepada Arvin.
Citra tidak jadi makan di Kantin karena sudah napsu makannya telah hilang. Citra berjalan menuju ke ruang tempat pelatihan voli untuk mencari Dina dan menjelaskan semuanya.
Sesampainya di sana, beruntung Citra langsung bertemu dengan Kak Samsul yang baru saja keluar dari ruang tempat pelatihan voli itu.
"Citra, ngapain di sini?" Tanya Kak Samsul sambil mengunci ruang itu.
"Aku ke sini mau mencari Dina Kak, Dina tadi ke sini nggak kak?" Tanya Dina.
"Dina tadi sama sekali nggak kesini" Jawab Kak Samsul.
"Terima kasih kalo gitu kak"
Citra meninggalkan tempat itu dan kembali untuk mencari Dina kembali. Citra berpikir Dina sudah sedang menunggu di depan kelas. Citra langsung bergegas menuju kelas untuk mengecek apakah Dina ada di sana atau tidak.
Ternyata benar Dina ada di sana dan sedang duduk di depan kelas. Citra langsung duduk di sampingnnya dan berusaha untuk mengajak berbicara dengan Dina.
"Dina, maaf ya" Kata Citra.
"Maaf karena apa?" Kata Dina sambil mengalihkan padangannya dari Citra.
"Soal Arvin, Aku sebenarnya nggak bermaksud seperti itu" Kata Citra berusaha menjelaskan ke Dina.
"Terus maksud kamu apa? Kamu boleh benci Arvin tapi tindakanmu ini terlalu berlebihan tau nggak?" Kata Dina yang mulai marah dengan sikap Citra.
Dina kembali pergi meninggalkan Citra, Citra tidak mau mengejarnya karena ia tidak tahu mau menjelaskan apa lagi ke Dina.
Citra menuju ke perpustakaan untuk menenangkan pikirannya dan berharap saat ini tidak ada Arvin di sana.
Citra mengecek tempat duduk yang ada di perpustakaan dan benar tidak ada Arvin di sana. Citra langsung bergegas mencari buku untuk di baca. Setelah membawa buku Citra langsung menduduki tempat duduknya, baru saja duduk ternyata ia melihat Arvin yang baru saja keluar dari salah satu lorong rak buku dan langsung duduk. Arvin melihat ke arah Citra, Citra langsung berdiri dari tempat duduknya dengan wajah marah lalu meninggalkan ruang perpustakaan.
Entah kenapa Citra marah terhadap Arvin.
Mungkin karena Arvin membuat persahabatannya menjadi renggang dan semua masalah muncul kepadanya padahal semua itu juga karena Citra sendiri.
__ADS_1