ES & API

ES & API
Alasan


__ADS_3

Citra langsung kaget karena mendengar ada suara Dina yang tiba-tiba muncul dari bagian belakang. Dina sengaja ikut Mamanya Citra untuk menjemput Citra agar bisa jalan bersama menuju rumahnya Zahra.


"Aku khawatir, akhir-akhir ini kamu lebih suka diam kenapa?" Kata Dina sambil memajukan kepalanya untuk melihat ke arah Citra yang berada di depan.


Citra hanya menjawab dengan cara menggelengkan kepalanya tanda bahwa Citra sekarang tidak apa-apa sambil melihat ke arah jendela.


"Iya benar, kamu nggak seperti biasanya. Biasanya setiap ada masalah kamu selalu cerita, kenapa malah diam seperti ini?" Saut Mamanya Citra yang juga merasakan ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Citra.


Citra lagi-lagi tidak mau mengaku dan menjawab bahwa dia saat ini sedang tidak ada apa-apa. Rasa curiga Mamanya Citra langsung tertuju pada anak yang baru saja Citra temui sebelum masuk ke mobil yaitu Arvin.


"Apa gara-gara anak yang tadi?" Tanya Mamanya Citra.


"Aku tidak mau membicarakannya" Jawab Citra.


"Kamu ditolak olehnya?" Kata Mamanya Citra dengan nada bercanda.


"Dina kamu memberitahu mamaku ya?" Tanya Citra yang langsung memarahi Dina.


Mamanya Citra hanya menebak dengan asal dengan bercanda untuk mencairkan suasana, tapi tebakan itu benar. Citra malah menunjukkan kebenarannya karena langsung menuduh Dina memberitahu mamanya tentang yang dilakukan Citra ke Arvin padahal Dina tidak pernah memberitahukan apa-apa.


"Nggak kok!" Kata Dina membela diri.


"Mama asal nebak, jadi benar ya" Kata Mamanya Citra sambil sedikit tertawa.


"Tuhkan" Kata Dina.


"Anak itu siapa namanya? Sifatnya bagaimana?"


"Anak itu seperti orang gila" Jawab Citra dengan nada kesal.


Mendengar jawaban Citra, Mamanya Citra langsung terseyum tipis melihat ke arah Citra. Raut wajah Citra berubah menjadi marah saat berbicara.


"Namanya Arvin tante, anak itu sifatnya Dingin" Saut Dina yang membantu menjawabnya.


"Kenapa kamu suka laki-laki yang sifatnya dingin seperti itu?" Kata Mamanya Citra sambil melihat ke arah Citra.


Citra memilih untuk diam karena masih memikirkan jawaban yang tepat dengan pertanyaan mamanya. Dina yang tahu jawabannya tidak membantu Citra untuk menjawab karena Dina ingin mendengar apakah alasannya sama seperti sebelumnya atau tidak.


"Karena dia berbeda, entah kenapa dia selalu membuat kagum. Aku berpikir bisa menghilangkan sifat dinginnya itu, tapi kurasa itu tidak mungkin" Jawab Citra.


"Jika berpikir bisa menghilangkan sifat dinginnya, kenapa berhenti?" Tanya Dina.


"Mendekatinya akan membuatku sakit hati karena sifatnya yang susah dimengerti"


"Anak mama yang paling cantik ini bisa kok. orang yang mempunyai sifat dingin jangan dibiarkan terlalu lama itu membuat kamu juga ikut dengan sifatnya" Kata Mamanya Citra

__ADS_1


"Maksud mama?" Tanya Citra yang belum terlalu jelas dengan penjelasan mamanya.


"Ibarat memasak es. Arvin itu esnya, kamu itu kompornya dan panci itu adalah hati kamu yang menjadi perantara kamu dan dia karena membuatmu ingin dekat dengannya. Saat kamu ingin menghangatkan es dengan cara menyalakan api pada kompor. Jangan berhenti sebelum es itu meleleh menjadi air karena jika kamu berhenti es itu akan tetap dingin dan akan membuat panci itu juga ikut dingin"


Penjelasan panjang mamanya membuat Citra sadar karena selama ini saat Arvin menyakitinya membuat Citra ikut dingin dengan sering diam dan tidak ingin membicarakan apapun.


Setelah sampai di rumah, Citra langsung ganti baju dan pergi bersama Dina ke rumah Zahra. Dina sudah memiliki SIM itu yang membuatnya dibolehkan untuk menggunakan mobil setiap kali dia mau.


Sesampainya di rumah Zahra.


Citra bingung karena tidak ada teman-teman lainnya yang ikut berkumpul di rumah Zahra padahal jam sudah menunjukkan 18.10.


"Kok nggak ada orang?" Tanya Citra yang kebingungan.


Dina langsung mengajak Citra untuk segera mengetuk pintu rumah Zahra dan menemuinya.


"Dina, kok Citra ikutan?" Tanya Zahra.


"Maksudnya?" Tanya Citra menanyai balik Zahra.


"Tadi aku sudah suruh semuanya buat ngumpulin tugas laporan yang tadi siang, terus aku susun sendiri biar kerja kelompoknya tidak terlalu malam dan besok udah hafal semua"


"Aku belum ngumpulin tugas laporanku tadi siang"


"Udah dikumpulin Dina kok dan kata Dina mau ngambil laporannya Citra sekalian karena kamu habis ekskul takutnya kecapean, tapi ternyata kamu juga ikutan"


Zahra menyuruh Citra dan Dina untuk masuk sambil menunggu Zahra yang mengambilkan laporan untuk mereka.


"Ini" Kata Zahra sambil memberikan hasil laporannya.


"Makasih Zahra, kalo gitu kami mau pulang dulu" Kata Citra yang sudah mengambil laporannya.


Citra dan Dina langsung berjalan menuju ke mobil untuk pulang, tapi Dina tidak menuju ke arah pulang melainkan ke arah sebaliknya.


"Kok kesini? Bukannya kita mau pulang ya?" Tanya Citra.


"Kita jalan-jalan dulu sebentar mau nggak?" Ajak Dina.


Citra mengiyakannya dan menuruti kemauan Dina, tapi saat sudah jalan beberapa menit ternyata Dina bingung mau kemana.


"Mau kemana Cit?" Tanya Dina.


"Ke toko es krim aja gimana?"


Karena tidak ada pilihan lagi, akhirnya Dina setuju dan langsung mengarahkan tujuan mobilnya ke toko es krim yang dimaksud oleh Citra.

__ADS_1


Citra dan Dina sudah biasa berkunjung di tempat toko es krim itu, biasanya mereka mengunjunginya saat hari minggu.


Seperti biasanya Citra memesan es krim rasa coklat, sedangkan Dina memesan ek krim rasa vanila.


Saat sedang memakan es krim, wajah Citra terlihat lebih bersemangat seperti beban yang dirasakannya kemarin sudah hilang dengan cepat.


"Jika kamu sedang ada masalah lagi, cerita ya!" Kata Dina.


Citra yang masih menaruh sendok es krimnya di mulut langsung menggangukkan kepalanya sambil tersenyum melihat ke arah Dina.


"Habis ini makan yuk!" Ajak Citra yang sudah mulai bersemangat lagi.


"Kemana?" Tanya Dina.


"Kamu tahu restoran yang dekat dengan rumahku?"


"Oh restoran itu, memangnya di sana makanan enak?"


"Aku belum pernah kesana sih, makanya aku pingin coba"


Tidak mau menyia-nyiakan semangat sahabatnya yang mulai kembali, setelah menghabiskan es krim. Dina langsung mengajak Citra untuk menuju restoran itu.


Sesampainya di sana, saat Dina baru saja ingin memanggil pelayan untuk memesan. Citra bertemu dengan Kak Agus yang merupakan mantan anggota osis di sekolah Citra yang sekarang sudah lulus. Citra mengenal Kak Agus saat kegiatan masa orientasi siswa awal Citra masuk sekolah.


"Citra, lama nggak bertemu" Sapa Kak Agus.


"Iya kak, makasih dulu pernah bantuin nyari tasku yang hilang"


"Udah lama itu" Kata Kak Agus sambil tertawa mengingat kejadian itu.


"Kak Agus kerja sini?"


"Iya setengah hari aja, tergantung jam kuliah.


Oh iya kalian mau pesan apa?" Kata Kak Agus sambil memberikan daftar menu.


Kak Agus memanggil salah satu pelayan lainnya untuk datang mengambil kertas pesanan pelanggan lain.


"Dia siapa?" Tanya Dina sambil berbisik


"Dia Kak Agus, yang pernah bantuin aku cari tas waktu masa orientasi siswa dulu" Jawab Citra.


Saat Dina sudah memilih pesananya dan ingin memesan ke Kak Agus, Dina kaget melihat seseorang yang di kenalnya saat Kak Agus memanggil salah satu pelayan lain.


Dina langsung memegang lengan Citra dan memberitahunya.

__ADS_1


"Citra lihat!" Kata Dina sambil melihat ke arah pelayan yang berada di depan Kak Agus.


"Arvin" Kata Citra terkejut.


__ADS_2