
Setelah beberapa hari itu, saat Citra mencoba meminta maaf dan menjelaskan semua kepada Arvin. Citra selalu berusaha untuk tetap mendekatinya, walaupun sekarang Citra tidak berharap Arvin bisa menyukainya. Setidaknya Arvin bisa bersikap baik lagi pada Citra, agar Citra bisa tenang dan tidak selalu merasa bersalah.
Citra sudah bercerita ke Dina tentang kejadian minta maaf itu. Dina tidak menyuruh Citra untuk mencoba meminta maaf lagi ke Arvin. menurut Dina jika Citra terus menerus melakukan hal itu Arvin akan melontarkan kata-kata yang lebih kejam lagi.
KRINGGG!!!
Jam istirahat kedua berbunyi.
"Citra, aku duluan ya" Kata Dina.
"Mau ketemu Dicky?" Tanya Citra sambil memasukkan bukunya kedalam tas.
"Iya" Kata Dina sambil tersenyum melihat kearah Citra lalu pergi berjalan menuju keluar Kelas.
Citra selesai membereskan semua bukunya dan berniat untuk pergi ke perpustakaan, tapi langkahnya terhenti saat melihat ramai yang berkumpul di bangku Arvin. Semuanya melihat Arvin dan Putra yang sedang berkelahi. Terlihat Putra yang sedang marah ke Arvin sedangkan Arvin hanya melihat ke arahnya dengan muka datar tanpa ekspresi.
"Ada apa ini?" Tanya Citra ke salah satu temannya.
"Barang Putra dicuri Arvin"
Putra mengangkat kera baju seragam Arvin. Pukulan tangan kiri Putra langsung tertuju ke bagian perut Arvin yang membuatnya dia jatuh ke lantai, Arvin hanya terdiam dan tidak tanda-tanda ada perlawan sama sekali dari Arvin. Citra tidak tinggal diam saat Putra berjalan menuju Arvin yang sudah jatuh ke lantai. Putra mengepalkan jari-jari tangannya dan berencana untuk memukuli Arvin lagi.
"Kamu apa-apaan sih!" Kata Citra sambil mendorong Putra menjauh dari Arvin.
"Dia udah nyuri ponselku" Kata Putra sambil menunjuk ke arah Arvin.
"Vin" Kata Citra sambil melihat ke arah Arvin.
Arvin berusaha untuk berdiri dan Citra mencoba untuk membantunya, tapi Arvin menolak untuk dibantu dengan menepis tangan Citra.
"Aku tidak sehina itu" Kata Arvin sambil menatap tajam Putra yang berdiri tepat di depannya.
"Kamu tahu darimana Arvin ngelakuin hal itu?" Tanya Citra ke Putra.
"Ponselku ada di tasnya Arvin" Jawab Putra.
"Tapi aku nggak ngelakuin hal itu" Kata Arvin membela.
"Jangan ngeles deh" Kata Putra.
__ADS_1
Putra mendekati Arvin dan lagi-lagi menantangnya dengan menarik kera baju seragam Arvin. Citra langsung melepaskan tangan Putra dari Arvin dan berusaha untuk menjauhkan Putra dari Arvin.
"Jangan main hakim sendiri dong" Kata Citra mencoba untuk melerai meraka berdua.
Semua siswa yang berada di sekeliling berteriak menyoraki Putra agar kembali menghajar Arvin. Sorakan itu membuat pikiran Putra semakin memanas dan Putra mendorong Citra yang dianggap mengganggunya. Citra yang berada di tengah-tengah Putra dan Arvin hampir terjatuh saat Putra mendorongnya. Dengan sigap Arvin langsung menarik tangan Citra agar tidak terjatuh ke lantai.
"Makasih Vin" Kata Citra.
"Pergilah, kamu hanya jadi pengganggu di sini" Kata Arvin sambil melepas genggaman tangannya dari Citra.
Jari tangan Putra sudah mengepal dan seperti sudah bersiap untuk menghantam kembali Arvin. Putra bergerak maju dengan cepat sambil mengangkat tangan setinggi kepalanya untuk memukul Arvin. Tanpa pikir panjang Citra langsung maju ke tengah-tengah Arvin dan Putra untuk menghadang pukulan putra. Arvin langsung menghentikan tangan Putra yang hampir saja mengenai kepala Citra yang berusaha menghadang.
"Kamu gila ya?" Tanya Arvin.
Arvin terkejut karena Citra mau menghadang pukulan Putra yang akan mengenainya. Citra langsung membuka tangan yang melindungi kepalanya dan membuka mata yang baru saja ia pejamkan saat memberanikan diri menghadang pukulan itu. Gilang yang berada disana langsung menarik Citra ke pinggir.
"Kamu ingin mati?" Kata Gilang.
Citra tidak menghiraukan pertanyaan Gilang karena Citra melihat Arvin yang sedang di pukuli oleh Putra. Entah apa yang ada di pikiran Arvin yang hanya diam saja dan tidak melawan Gilang sama sekali. Tak tahan melihat Arvin yang terus-menerus di pukuli, Citra langsung bergerak menuju Putra.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Gilang sambil memegang tangan Citra untuk melarangnya.
"Mending jangan!" Cegah Gilang.
"Lepasin!" Kata Citra yang memberontak.
Setelah lepas dari tangan Gilang, Citra langsung menuju ke tengah-tengah Putra dan Arvin. Arvin sedang memegangi kepalanya yang baru saja terkena pukulan. Putra bersiap untuk memukul Arvin lagi, tapi tanpa diduga pukulan itu mengenai Citra tepat di kepalanya yang membuat Citra terjatuh. Putra langsung terkejut dan bergerak mundur.
"Kamu ngapain ada di situ? Sudah kubilang jangan ganggu! " Tanya Putra dengan kesal.
"Kamu itu apa-apaan sih? Kamu kayak anak kecil tau nggak?" Kata Citra yang marah sambil berusaha untuk berdiri.
"Dia yang salah, dia mencuri ponsel aku dan buktinya tadi ada di tasnya" Kata Gilang yang berusaha membela.
"Kamu tahu darimana kalo itu perbuatan Arvin? kalo itu bukan perbuatan dia, tapi perbuatan orang lain" Kata Citra sambil menahan rasa sakit kepalanya.
"Aku melihat dia pas istirahat jam pertama keluar paling akhir" Saut salah seorang teman yang ada di kelas.
"Apa kamu lihat Arvin memasukkan ponsel Putra ke tasnya? Apa kamu berada disini saat jam istirahat pertama selesai? Bagaimana kalo ada orang lain yang masuk di tengah-tengah jam istirahat pertama dan melakukan hal jail itu?" Tanya Citra yang menantang salah satu seorang temannya.
__ADS_1
"Beruntung kamu hari ini, karena ada Citra" Kata Putra sambil menunjuk Arvin.
Putra langsung menyuruh semua temannya untuk keluar kelas kecuali Citra dan Arvin yang masih berada di sana. Citra melihat ke arah Arvin dan memegang bagian wajah Arvin yang terkena pukulan, tapi Arvin menolak dan menepis tangan Citra.
"Aku percaya kok kalo kamu nggak ngelakuin hal itu" Kata Citra sambil memandangi ke arah Arvin.
"Sudah kubilang jauhin aku" Kata Arvin.
"Kenapa sih kamu selalu berbicara seperti itu?" Tanya Citra yang sudah merasa lelah dengan kata-kata itu.
"Semua ini terjadi karena kamu"
"Apa maksudmu?" Tanya Citra.
"Lupakan, menjauhlah dari ku sekarang" Kata Arvin.
Arvin berjalan menuju ke mejanya untuk mengambil buku sedangkan Citra masih terdiam di sana seakan tak percaya dengan jawaban Arvin.
"Jadi ini yang aku dapatkan setelah membelamu tadi" Kata Citra sambil terseyum tipis melihat ke arah Arvin.
"Apa aku menyuruhmu untuk membantuku?" Tanya Arvin.
"Setidaknya kamu bilang terima kasih kepadaku. Apakah kamu masih marah denganku karena kejadian kemarin? Aku sudah meminta maaf kepadamu" Kata Citra yang mulai naik pitam.
"Apa dua kalimat tersebut berguna?" Tanya Arvin yang meremehkan kalimat Citra.
"Itu adalah dua kalimat terindah. Terima kasih adalah ucapan saat kita di beri pertolongan dan maaf adalah ucapan saat kita berbuat salah" Kata Citra sambil membalikkan badannya ke arah Arvin.
"Tapi kalimat itu tidak merubah apa-apa. Menjauhlah dari ku karena aku tidak membutuhkanmu" Kata Arvin.
Arvin memasukkan semua buku ke tasnya, Arvin hanya membawa satu buku catatannya. Arvin menutup tasnya lalu berjalan pergi keluar Kelas. Kepala Citra masih terasa sakit. Terdengar suara rintihan kesakitan dari Citra yang membuat Arvin menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Citra.
"Pukulan tadi tidak terlalu keras, karena aku sudah menarikmu mundur sebelumnya jadi pukulan itu hanya mengenaimu sedikit saja" Kata Arvin sambil berjalan menghampiri Citra.
"Berhentilah peduli padaku. Kenapa disaat aku benci padamu kamu selalu muncul dan membuatku kagum, tapi disaatku mengagumimu kamu selalu muncul dan membuatku benci?" Kata Citra sambil menatap ke arah Arvin.
Arvin hanya terdiam saat Citra mengatakan hal itu, tidak ada kata yang mau dikatakan Arvin. Citra mulai kesal dengan perilaku Arvin, terlihat wajah Citra yang sangat marah saat melihat ke arah Arvin.
"Aku akan menjauhimu seperti permintaanmu"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Citra langsung pergi meninggalkan Arvin sendiri di kelas. Sakit di bagian kepala Citra seakan hilang untuk sementara karena tergantikan oleh perasaan benci dan marah yang teramat besar kepada Arvin.