
Jam pelajaran Seni dimulai, ini merupakan waktunya untuk para murid mempresentasikan hasil karyanya karena Bu Rini sudah kembali dari pelatihannya.
Bu Rini masuk ke kelas dan langsung mengecek daftar hadir semua murid, kebetulan Dina ada keperluan untuk pada Ekskul volinya dan juga Arvin tidak masuk tanpa alasan. Saat selesai mengecek daftar hadir, Bu Rini menyuruh untuk berkumpul sesuai kelompoknya. Bu Rini menjelaskan sedikit tentang tugas miniatur ini, setelah itu Bu Rini menulis urutan kelompok yang akan mempresentasikan hasil karyanya. Kelompok Citra berada di urutan ketiga, Gilang dan Citra langsung bergegas untuk mempersiapkan semuanya.
Gilang mengeluarkan hasil miniaturnya yang dikerjakan bersama Arvin waktu itu, tetapi Citra melarangnya dan menyuruh untuk menggunakan miniatur buatan Citra sendiri.
"Kok kamu bikin sendiri sih Cit? Miniaturnya juga beda, laporannya gimana?" Tanya Gilang kebingungan.
"Aku juga udah buatin laporan untuk miniatur ini kok" Kata Citra sambil mengeluarkan laporannya dari tas.
Gilang mengambil laporan itu dan mengecek isinya, saat memeriksa sampul laporannya ternyata hanya ada nama Gilang dan Citra yang di tulis disitu.
"Citra kayaknya kamu salah tulis deh, soalnya ada yang kelewatan satu" Kata Gilang.
"Yang mana?" Tanya Citra yang sudah mulai bersemangat untuk mulai presentasi.
"Ini cuma ada tulisan Gilang dan Citra, Arvin lupa kamu tulis ya?"
"Arvin udah aku keluarin dari kelompok" Kata Citra yang ekspresi mukanya mulai berubah menjadi marah.
"Kenapa? Dia kan udah ikut ngerjain tugas ini" Tanya Gilang.
"Terserah, tapi aku nggak mau satu kelompok sama dia. Oh iya, ini laporan yang kita tulis waktu itu tentang miniatur yang kamu dan Arvin buat tolong kasihkan ini dan ke Arvin"
Citra mengeluarkan laporan yang mereka bertiga kerjakan waktu itu, Citra memberikannya ke Gilang untuk diberikan lagi ke Arvin. Di sampul laporan itu hanya tertulis nama Arvin saja.
"Miniatur ini juga?" Kata Gilang sambil memperlihatkan miniatur yang ada di tasnya.
"Iya" Jawab singkat Citra.
"Kamu mau pake alasan apa ke Bu Rini?" Tanya Gilang.
"Aku bilang Arvin nggak ikut ngerjain, lagian waktu itu dia juga ingin kerja sendiri kan"
"Kok kamu jadi jahat gini sih? Kasihan Arvin"
"Memang bener kok, Aku ngerjain miniatur baru itu sendiri sedangkan miniatur buatan Arvin aku kembalikan. Sekarang terserah kamu mau ikut Aku apa Arvin"
Kelompok pertama mulai maju untuk mempresentasikan hasil karya miniaturnya, Gilang masih belum menjawab pertanyaan Citra dan masih memikirkan nasib Arvin yang dikeluarkan dari kelompoknya Citra. Waktu mulai berjalan dan waktu giliran kelompok Citra untuk presentasi semakin dekat.
__ADS_1
"Aku ikut kamu aja deh" Kata Gilang pasrah.
"Yaudah kamu hapalin bagianmu di laporannya biar nanti pas maju ke depan tidak terlalu sering baca" Kata Citra sambil menunjukkan bagian Gilang.
Presentasi kelompok pertama sudah selesai.
Sekarang merupakan giliran Citra dan Gilang untuk maju kedepan kelas dan memulai untuk presentasi, tapi sebelum presentasi Citra menemui Bu Rini terlebih dahulu untuk memberitahu bahwa Arvin telah dikeluarkan dari kelompoknya.
Mendengar Arvin yang tidak mau bekerja sama dengan kelompoknya Bu Rini langsung terlihat marah saat Citra selesai memberitahu hal itu, Bu Rini dengan nada yang membentak dan ekspresi marah memberitahukan kepada seluruh murid di kelas tentang murid yang tidak mau diajak kerjasama berkelompok.
Bu Rini mempersilahkan Citra dan Gilang untuk presentasi setelah selesai menasehati.
Presentasi berjalan lancar, tapi di tengah presentasi Citra sempat terganggu karena berpikir tindakannya ke Arvin sudah berlebihan. Selesai presentasi, Bu Rini mengapresiasi Citra dan Gilang karena masih mau mengerjakan meskipun salah satu anggota kelompoknya tidak mau bekerja sama.
"Kita nggak keterlaluan?" Kata Gilang.
"Maksudnya?" Tanya Citra.
"Ya mungkin jangan pakai alasan itu, alasan lain kek"
"Terus pakai alasan apa? Kalo kamu mau ikut Arvin, yaudah ikut aja sama dia" Kata Citra dengan nada marah.
Saat jam istirahat, Citra bertemu Dina di Kantin. Mereka berbicara tentang beberapa hal sambil memakan makan yang sudah mereka pesan.Setelah selesai makan, Citra mengajak Dina untuk pergi ke Perpustakaan dan Dina pun mengikutinya.
"Aku berhasil lolos ikut turnamen voli" Kata Dina dengan wajah penuh semangat.
"Wah selamat kalo gitu ya Dina" Kata Citra yang baru saja membuka bukunya.
"Aku tadi datangnya setelah kamu selesai presentasi, gimana tadi presentasi kamu?"
"Lancar kok" Kata Citra dengan tenang.
Saat di perpustakaan Dina lebih sering untuk mengobrol dengan Citra dibandingkan dengan membaca buku yang dia ambil. Citra membaca bukunya sambil mengobrol dengan Dina yang juga sesekali membaca bukunya.
Tiba-tiba Citra teringat sesuatu, tentang apa yang pernah Dina mau sampaikan ke Citra.
"Oh iya, waktu itu kamu mau beritahu aku tentang berita apa?" Kata Citra yang mendadak penasaran.
"Kapan?"
__ADS_1
"tentang, ada yang ditembak"
"Ada yang ditembak? Mati nggak orangnya?" Kata Dina dengan nada bercanda mengikuti omongan Citra waktu itu.
"Yaudah kalo nggak mau ngasih tahu" Kata Citra kesal.
Dina membiarkan Citra yang membaca bukunya kembali dengan raut wajah marah. Saat Citra melihat kearah Dina, Dina langsung berpura-pura fokus untuk membaca buku yang sedang ia pegang.
"Bukunya kebalik" Kata Citra yang masih kesal.
"Nggak kok" Kata Dina sambil mengecek sampul depan buku yang dia baca.
"Tuhkan kamu beneran nggak baca, ayo dong beritahu aku" Kata Citra dengan perasaan penuh penasaran.
Seharusnya Dina tidak perlu untuk mengecek sampul buku yang dia baca, Dina hanya perlu melihat tulisan yang ada pada buku yang sedang dia baca.
"Kamu licik ya?" Kata Dina yang merasa terbohongi.
"Iya dong" Kata Citra menyombongkan dirinya.
Citra mulai menyerah membujuk Dina yang tidak mau memberitahunya, Dina merasa puas karena telah membuat sahabatnya terus penasaran karena biasanya Citra yang membuatnya terus penasaran dan sekarang sudah berbalik keadaan. Citra mulai membaca bukunya dengan serius sedangkan Dina hanya membalik-balikkan halaman bukunya. Saat melihat Citra yang sudah tidak penasaran lagi Dina memberitahu Citra.
"Aku ditembak sama Dicky" Kata Dina sambil tersenyum menahan malu.
"Beneran?" Kata Citra yang berusaha memastikan.
Citra langsung menutup bukunya karena terkejut mendengar berita itu, Dina kembali membaca bukunya untuk menghindari pertanyaan berulang dari Citra yang memastikan berita itu benar atau tidak.
"Terus kamu nggak apa-apa?" Tanya Citra.
"Maksudnya?" Tanya Dina yang paham maksud Citra.
"Kan ditembak" Kata Citra dengan nada bercanda dan senyuman tipis.
"Kirain apaan" Kata Dina yang kesal.
"Terus Dicky kamu terima?"
Dina menganggukkan kepalanya yang merupakan isyarat bahwa Dina menerima perasaan Citra dari Dicky. Citra langsung memberikan selamat dan pelukan hanya kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
Citra merasa senang melihat sahabatnya yang sekarang sudah berpacaran meskipun ini berbanding terbalik dengan kisah cinta yang dialami Citra.