
Ada seseorang dibalik costum boneka beruang itu, Kak Edo langsung lari pergi menjauh dan boneka beruang itu menarik tangan Citra agar mau mengikutinya.
Citra masih kebingungan tentang apa yang sedang terjadi karena ini bukan hari ulang tahunnya.
Seseorang dibalik boneka beruang itu terus menggandeng tangan Citra. Sesekali Citra menanyakan sesuatu ke sesorang yang memakai kostum boneka beruang seperti "Kita mau kemana?", "Kamu siapa?" dan "Ada apa ini" sambil mencoba menghentikan langkahnya.
"Citra kemana tuh?" Kata Gilang mengintip di dekat jendela.
"Siapa yang pakai kostum boneka beruang itu?" Tanya Dina.
"Dina, Ikutin Citra yuk!" Ajak Gilang.
Dina sudah berjalan terlebih dahulu untuk mengikuti Citra dan boneka beruang itu, meningalkan Gilang yang masih mengintip lewat jendela.
"Yah malah ditinggal" Gumam Gilang.
Gilang menoleh ke belakang dan perpustakaan menjadi sepi karena semuanya mengikuti Citra yang tersisa hanya Arvin yang fokus mengetik dan penjaga perpustakaan yang lagi seru-serunya lihat drama korea di komputer.
"Arvin kamu nggak mau ikut?" Tanya Gilang.
"Kemana?"
"Citra lagi digandeng sama orang yang pake kostum boneka beruang, kamu nggak mau ikut lihat?"
"Penting?"
"Nggak tau sih tergantung, tapi bagiku ini penting karena aku kepo banget nih"
"Nggak penting"
"Jadi nggak mau ikut nih?"
"Nggak" Tolak Arvin sambil lanjut mengetik.
"Yaudah deh kalo gitu aku mau lihat dulu"
Sesorang yang memakai kostum boneka beruang itu mengajaknya menuju ke tengah lapangan, di sekeliling lapangan banyak kerumunan yang sedang menunggu kedatangan Citra. Citra sambil sedikit malu-malu sesekali berusaha menolak untuk ke tengah lapangan dengan menghentikan langkahnya meskipun akhirnya Citra mau untuk menuju ke tengah lapangan karena orang-orang di sekeliling lapangan menyorakinya.
"Dina, aku terlambat nggak?" Kata Gilang dengan napas yang terengah-engah.
"Citra baru ke tengah lapangan kok" Jawab Dina.
Ditengah lapangan ada papan berbentuk hati, seseorang yang memakai kostum boneka beruang itu melepaskan topengnya dan sesorang dibalik topeng tersebut adalah Kak Saka.
Suasana dari pinggir lapangan menjadi ramai dan penuh dengan tepuk tangan. Kak Saka berlari ke pinggir lapangan dan kembali lagi ke tengah lapangan membawa coklat, bunga dan papan hati. Ekspresi Citra menjadi berubah saat lapangan sangat ramai, ia khawatir jika ada guru yang akan melihat.
"Kamu kenapa Cit? Kamu sakit?" Tanya Kak Saka melihat Citra yang gelisah.
"Kalo ada Guru gimana Kak?" Tanya Citra.
"Oh soal itu.Tenang, guru-guru sekarang sedang rapat makanya aku berani ngajak kamu kesini" Kata Kak Saka menenangkan Citra.
__ADS_1
Kak Saka berjalan mundur beberapa langkah kemudian berlutut di depan Citra dan memberikan papan hati itu ke Citra.
"Citra mungkin ini terlalu cepat
Tapi hati ini sudah tidak bisa menunggu lagi
Aku ingin kau selalu ada di sisiku dan menjadi milikku
Apakah kamu mau jadi pacarku?" Kata Kak Saka sambil memegang Bunga dan Coklat.
Dari pinggir lapangan semua ramai bersorak "TERIMA" termasuk juga Dina dan Gilang, Citra yang sedang membawa papan hati terlihat gugup sambil melihat sekitar.
"Kalo kamu terima ambil coklat dan bunga ini, tapi kalo nggak silahkan patahkan papan yang terbuat dari styrofoam berbentuk hati itu" Kata Kak Saka.
Kak Saka tersenyum lebar sambil menyodorkan coklat dan bunga ditangannya ke Citra.
Tanpa berpikir panjang lagi Citra langsung mematahkan papan berbentuk hati itu tepat di depan wajah Kak Saka yang sedang berlutut.
"Maaf kak, aku nggak bisa nerima kakak" Tolak Citra.
Seketika suasana di pinggir lapangan yang tadinya ramai karena penuh dengan sorakan dan tepuk tangan seketika menjadi hening saat papan hati itu di patahkan oleh Citra.
Citra langsung berlari meninggalkan tempat itu, Kak Saka mengejar Citra dan menarik tangan Citra untuk menahannya.
"Kenapa Cit?" Tanya Kak Saka.
"Maaf Kak, Aku nggak bisa" Kata Citra sambil melepaskan genggaman tangan Kak Saka dan berlari meninggalkannya.
Gilang dan Dina yang melihat itu terkejut dengan jawaban yang diberikan Citra kepada Kak Saka. Melihat Citra yang berlari meninggalkan tempat itu, Gilang dan Dina langsung berusaha untuk mengejar Citra.
"Aku nggak bisa nerima Kak Saka" Jawab Citra.
"Kenapa?" Tanya Gilang.
"Ada dua alasan, yang pertama karena aku memang nggak ada perasaan apapun sama Kak Saka"
"Terus yang kedua?"
"Ada deh pokoknya" Kata Citra dengan wajah kesal sambil berjalan menuju ke perpustakan.
Memasuki ruang perpustakaan, Citra, Dina dan Gilang langsung menuju ke Arvin yang sedang membaca buku di depan laptop.
"Kamu ini gimana sih, bukannya ngerjain malah baca buku!" Kata Citra dengan ekspresi marah.
"Udah selesai" Kata Arvin sambil terus fokus membaca buku.
"Yaudah giliran aku, sini aku masukin fotonya" Kata Gilang sambil mengambil laptop.
Kak Sinta dan teman-temannya mendatangi Citra ke Perpustakaan.
"Ada apa lagi kak?" Kata Citra.
__ADS_1
"Nggak apa-apa sih, aku kira kamu bakal terima saat Kak Saka nembak kamu" Kata Kak Sinta.
"Terus mau kakak apa datang kesini?"
"Setiap aku gangguin kamu, ku kira kamu nggak bakalan sadar karena terus ngelawan aku. Terima kasih ya udah nolak Kak Saka" Kata Kak Sinta dengan senyuman liciknya.
"Nenek Sihir, maaf ya aku nolak Kak Saka bukan karena takut sama kalian tapi aku udah punya seseorang"
"Mulai ngelunjak ya kamu, pake panggil aku nenek sihir" Kata Kak Sinta sambil mendorong bahu Citra.
"Nggak terima? Ayo pukul" Kata Citra menantang Kak Sinta.
Teman-teman Kak Sinta berusaha menenangkan Kak Sinta dan salah satu temannya memberitahu bahwa ada Kak Saka di belakangnya.
"Oke, Aku udah tahu semuanya" Kata Kak Saka.
Kak Saka langsung keluar perpustakan, Kak Sinta dan teman-temannya langsung mengejar Kak Saka sedangkan Citra hanya berdiri terdiam dengan raut wajah kesal.
"Hey jangan diam saja disitu, buruan kerjakan bagianmu" Kata Arvin menyuruh Citra.
"Aku lagi nungguin Gilang selesai" Kata Citra dengan kesal.
"Aku sudah selesai Cit" Kata Gilang.
"cepet kerjain biar ceoet selesai" Kata Arvin sambil menutup buku yang dia baca.
"Kalo aku nggak mau gimana?"
"Itu urusanmu bukan urusanku, pokoknya tugas ini harus selesai hari ini"
"Nggak mau, aku lagi nggak mood" Kata Citra sambil membuka buku yang tadi dia ambil.
"Terserah" Kata Arvin sambil berjalan menuju keluar perpustakaan.
"Kamu mau kemana?"
"Pergi" Jawab singkat Arvin.
"Nggak bisa gitu dong Vin, kalo kerja kelompok ya ngerjainnya harus sama-sama. Enak aja gilirannya sudah selesai terus pergi"
"Aku tadi ngerjain sendiri saat kalian pergi, Aku nggak protes dan nggak ngandelin mood"
"Kamu nyindir aku ya" Kata Citra tidak terima dengan perkataan Arvin. Citra menutup bukunya dan berjalan menuju Arvin.
"Apa?" Tanya Arvin ke Citra.
"Udah jangan di perpanjang lagi deh" Kata Dina sambil menarik Citra untuk duduk kembali.
"Vin, kamu kayaknya nggak tahu situasi yang dialami Citra tadi deh mendingan kamu lanjut baca buku lagi aja sambil nungguin Citra selesai mengerjakan" Kata Gilang membujuk Arvin.
"Nggak" Kata Arvin.
__ADS_1
"Gilang biarin aja dia, nggak terlalu penting juga kok" Kata Citra sambil mengajak Gilang untuk duduk kembali.
Arvin pergi meninggalkan perpustakaan sedangkan Citra dan Gilang tetep berada di perpustakaan. Citra mengerjakan bagiannya sampai selesai dan bel masuk jam pelajaran Arvin tidak kembali ke perpustakaan.