ES & API

ES & API
Berhenti


__ADS_3

Pada saat jam istirahat sedang berlangsung, Citra dan Dina sedang berada di area Taman Sekolah. Mereka sedang mengerjakan tugas IPA yaitu observasi lingkungan yang ditujukan pada serangga.


"Kita lanjutin sepulang sekolah aja gimana?" Tanya Zahra.


Pada tugas kelompok ini terdapat 5 anggota yaitu Citra, Dina, Zahra, Andri dan Fahri. Mereka berlima memilih observasi serangga kupu-kupu.


Ayunan sayap serangga itu sedang di tunggu oleh Fahri. Kupu-kupu itu hinggap pada salah satu bunga yang ada di taman. Fahri menunggu saat yang tepat untuk menggambil gambar kupu-kupu itu, karena fahri ingin menggambil gambar saat kupu-kupu itu terbang mengepakkan sayapnya dengan indah sambil memperlihatkan corak di belakang sayapnya. Fahri terus mengamati saat serangga itu sampai selesai mengambil nektar dari bunga, tapi sayang saat kupu-kupu itu akan terbang konsentrasi Fahri langsung hilang karena tepukkan Zahra di pundak Fahri.


"Kita lanjutin habis pulang sekolah aja!"


"Ah kamu ini menggangu saja" Kata Fahri yang kesal.


"Aku ada eskul tari hari ini, bagaimana jika kerja kelompoknya kita mulai jam 6 sore aja?" Kata Citra.


"Kamu nanti nggak kecapean?" Tanya Zahra.


"Nggak kok, nanti cuma ada materi aja"


"Yaudah kalo gitu nanti jam 6 sore ngumpul di Rumahku"


"Sekarang kita boleh bubar nih" Saut Fahri.


"Iya"


Dina langsung mengajak Citra untuk pergi ke Kantin. Perut yang sudah mulai berbunyi membuat Dina sulit untuk menahannya, sudah sejak tadi Dina menahan rasa laparnya dan menghemat energinya dengan cara tidak terlalu banyak berbicara.


Perjalanan mereka terhenti saat berada di lorong kelas karena Leo sudah menunggu Citta daritadi.


"Mau kemana Cit?" Tanya Leo yang memberikan pertanyaan basa-basi.


"Kantin" Saut Dina.


"Nanti pulang sekolah bisa nonton nggak?"


"Ada ekskul tari" Jawab Citra.


"Setelah ekskul tari?"

__ADS_1


"Ada kerja kelompok. Udah dulu aku dan Citra mau ke Kantin" Kata Dina sambil menarik Citra pergi menuju ke Kantin.


Aroma wangi nasi goreng yang berada di di depan kantin langsung menyambut kedatangan Citra dan Dina saat baru memasuki area Kantin. Setelah selesai memesan dan mengambil makanannya, Mereka berdua langsung mencari tempat duduk. Dina terlihat sangat lapar, karena baru duduk beberapa menit terlihat makanan yang dibawanya tinggal sedikit, sedangkan Citra masih terlihat utuh.


"Kamu nggak lapar?" Tanya Dina setelah meminum minumannya.


Citra menggelengkan kepala sembari meminum minuman yang miliknya. Citra terlihat tidak seperti biasanya karena dia sangat sedikit berbicara.


"Kamu kenapa? Ngomong dong!" Kata Dina.


Lagi-lagi Citra menggelengkan kepalanya dan memberikan senyuman tipis yang menandakan saat ini ia sedang baik-baik saja.


Dina membiarkan sahabatnya itu termenung sambil mengaduk-aduk minumannya, karena menanyainya secara terus-menerus akan membuatnya malah merasa terganggu. Makanan dan minuman yang di pesan Dina tadi sudah habis, sedangkan Citra baru saja menyentuh makanan saat jam istirahat pertama sudah hampir habis.


Saat di kelas Citra juga kurang aktif saat guru memberikan pertanyaan, biasanya Citra paling antusias saat ada pertanyaan. Citra seperti kurang bersemangat saat berada di kelas.


KRINGGG!!!


Bel pulang sekolah sudah berbunyi.


"Iya" Kata Citra dengan lesu.


Dina mulai khawatir dengan Citra. Biasanya Citra cepat untuk melupakan masalahnya dan kembali bersemangat, tapi sekarang Citra hanya diam saja memendam masalahnya sendiri dan tidak bercerita apapun.


Ekskul tari telah selesai, Citra berjalan menuju ke gerbang sekolah untuk menunggu mamanya menjemputnya. Citra berdiri di sebelah jalan sambil menengok kanan kiri untuk mengecek tanda-tanda kedatangan mobil mamanya. Ada seseorang yang mencurigakan yang sedang berada di belakang Citra, sepertinya orang itu sedang mengawasi Citra. Saat Citra mengeluarkan ponselnya untuk mengecek apakah ada pesan atau tidak, tiba-tiba orang yang ada di belakang Citra berlari ke arah Citra dan langsung menyaut ponsel yang ada di tangan Citra. Pencuri itu tertahan karena Citra tidak mau melepas ponselnya dan terus berusaha untuk mempertahankannya, tapi usaha itu malah lebih membahayakan Citra karena pencuri itu mengeluarkan pisau dari saku kirinya dan mengarahkannya ke Citra untuk mengancamnya agar Citra mau melepaskan ponsel itu.


Tiba-tiba pencuri itu tertarik ke belakang karena ada yang menariknya, tapi pencuri itu langsung refleks mengayunkan pisaunya ke seseorang yang menariknya. Citra langsunh menyimpan ponsel dan berteriak minta tolong. Saat melihat wajah orang yang membantu Citra, ternyata itu adalah Arvin. Pencuri itu berhasil melukai tangan kanan Arvin dengan pisaunya, tapi Arvin langsung memukul bagian wajah pencuri itu yang membuat pencuri itu terjatuh. Tendangan dari bawah dari pencuri itu mengenai bagian perut Arvin yang membuat pencuri itu berhasil lari. Saat Arvin mau mengejar pencuri itu, tiba-tiba tangan Citra menghentikannya.


"Jangan dikejar!" Kata Citra.


"Apa maksudmu? Pencuri itu akan kembali lagi"


"Katanya aku harus membencimu, tapi kenapa kamu menolongku?" Kata Citra yang mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kamu melawannya?"


"Apakah aku menyuruhmu untuk membantuku?"

__ADS_1


"Nyawamu terancam"


"Aku tidak peduli apapun alasanmu, berhentilah untuk peduli padaku seperti


katamu yang menyuruhku untuk membencimu"


"Terserah"


Arvin membalikkan badannya dan berjalan menuju ke arah ke rumahnya. Citra merasa ada yang aneh karena Arvin biasanya menggunakan motornya saat sekolah, tapi ada hal yang lebih mengejutkan yaitu tangan kanan Arvin yang luka dan mulai mengeluarkan darah.


"Tangan kananmu!" Kata Citra.


"Lupakan ini" Kata Arvin sambil menyembunyikan tangan kanannya yang terluka.


"Aku sudah tidak peduli padamu, tapi kenapa kamu selalu membuatku peduli padamu? Apakah ini semua rencamu untuk menyakiti hatiku lebih dalam lagi?"


"Apa maksudmu?"


"Jangan berpura-pura untuk tidak tahu. Dimana motormu?"


"Itu bukan urusanmu!" Kata Arvin sambil menghentikan langkah kakinya.


"Apakah kamu jual untuk menyewa pencuri itu agar membuatku peduli padamu? Kamu selalu diam saat ada yang memukulimu dan sekarang kamu bisa melawan pencuri itu!"


"Aku tidak akan melakukan hal tidak berguna seperti itu"


"Setiap kali aku melihat wajahmu membuat rasa benci ku terhadapmu semakin besar"


Arvin yang sedang menyembunyikan lukanya hanya terdiam dan tidak membalas perkataan Citra. Mobil mamanya Citra sudah menunggu di depan sekolah, suara klakson mobil membuat Citra mengetahuinya. Citra berjalan menuju mobil dan tidak menghiraukan Arvin yang berdiri terdiam disana.


"Itu siapa?" Tanya mamanya Citra.


"Nggak tahu" Jawab Citra.


Wajah Citra terlihat sangat marah membuat mamanya tidak menanyainya lebih detail lagi. Mobil mulai dinyalakan dan berjalan menuju arah pulang. Citra terlihat hanya terdiam sambil melihat ke arah jendela.


"Bukannya tadi itu Arvin ya?" Tanya Dina yang tiba-tiba muncul dari tempat duduk bekalang.

__ADS_1


__ADS_2