
Jam menunjukkan pukul 02.13 dini hari.
Citra lupa untuk mengecas HP nya dan menaruhnya tepat di sampingnya.
Deringan ponsel itu membuat Citra terbangun, Citra memeriksa ponsel apakah ada yang penting dari pesan itu seperti menang udian berhadiah atau semacamnya.
Dengan mata yang dipaksa terbuka, Citra melihat ada pesan di ponselnya yang isi lebih penting daripada menang undian berhadiah karena pesan itu dari sahabatnya yaitu Dina. Karena Citra berusaha untuk mendekati Dina sejak kemarin karena masalah perlakuannya terhadap Arvin. Isi pesan tersebut adalah Dina ingin mengajak Citra untuk bertemu, Dina mengajak ketemuan hari ini jam 9 di Mall tempat biasa kami jalan-jalan menikmati udara dingin AC pertokoan mall.
Citra langsung membalas iya ke Dina, Citra sampai bingung apakah mau melanjutkan tidur atau mau menunggu hingga jam 9 karena butuh 6 jam 45 menit untuk menunggunya.
Pagi cerah telah datang, deringan jam weker membangunkan Citra yang tadi tertidur dengan lelap. Saat bangun tidur Citra melihat ke arah jam dan waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi, karena hari ini adalah hari minggu Citra langsung bergegas untuk menyelesaikan tugas rumahnya dengan cepat karena ingin segera bertemu dengan Dina. Citra memulai tugas rumahnya dari membersihkan tempat tidurnya sendiri.
Setelah tugas rumahnya selesai semua, Citra langsung bersiap-siap untuk berangkat menemui Dina.
"Kamu mau kemana Cit?" Tanya Mamanya Citra.
"Ketemu Dina" Jawab Citra.
"Mau Mama anterin?"
"Nggak usah ma, Aku naik taksi online aja"
Setelah sampai di Mall, Citra langsung pergi ke tempat makan yang sudah mereka janjikan dengan Dina untuk bertemu. Terlihat Dina yang sudah duduk dan sudah memesan minumannya.
"Nih buat kamu, coklat kan?"
"Iya, makasih Din"
Citra duduk dan mulai untuk meminum minumannya. tiga tegukan sudah Citra lakukan saat meminum minuman tersebut, tetapi masih belum ada obrolan yang dibuka oleh Dina yang membuatnya membuka obrolan terlebih dahulu.
"Dina" "Citra" Mereka memanggil nama satu sama lain bersamaan.
"Kamu duluan aja deh" Kata Citra.
"Nggak usah, kamu aja dulu" Kata Dina.
"Aku cuma mau minta maaf"
"Sebenernya aku yang harusnya minta maaf ke kamu. Kemarin aku marah-marah nggak jelas karena kamu lakuin itu ke Arvin"
"Aku kira kamu bakalan marah terus sama aku"
"Nggak lah Cit, kita sahabatan udah lama masa cuma gara-gara ini kita berantem panjang"
__ADS_1
"Terus kamu ngajak ketemuan kesini mau bahas tentang apa?"
"Bahasnya nanti aja ya Cit, kita makan dulu aja"
"Kamu sekarang suka bikin aku penasaran ya?"
Mereka berdua memesan makanan, Citra masih penasaran dengan alasan Dina. Rasa penasaran Citra menghilang saat makanan sudah datang. Mereka berdua menghabiskan makanannya dengan obrolan sedikit candaan untuk menghilangkan ketegangan dan melupakan sejenak tujuan sebenarnya Dina bertemu dengan Citra.
"Jadi apa?" Tanya Citra yang terlihat masih penasaran.
"Kamu kenapa ngelakuin hal itu ke Arvin? Kamu nggak biasanya kayak gitu, biasanya kamu baik ke semua orang. Kamu ngelakuin hal buruk itu karena kamu..."
Citra langsung menghentikan perkataan dari Dina, pertanyaan yang terus menerus akan membuat Citra semakin pusing untuk menjawabnya. Citra mencoba menjelaskan alasannya melakukan itu.
"Oka aku bakal jelasin. Aku lakuin itu karena aku marah dan benci dengan dia"
"Kenapa?"
"Aku juga tidak tahu" Kata Citra sambil memegangi kepalanya yang pusing memikirkan hal itu.
"Terus apa lagi?" Tanya Dina yang baru saja meminum minumannya.
"Aku buat miniatur dan laporan lagi kok, aku nggak pakai miniatur dan laporan yang dikerjakan bareng Arvin. Miniatur dan laporan yang dikerjakan bareng Arvin aku kasih dia dan yang buat aku sama Gilang itu aku buat sendiri"
"Iya, aku tahu aku salah. Aku sebenernya menyesal udah lakuin itu ke Arvin, Aku kasian ke Dia apalagi pas dia dimarahin Bu Rini" Kata Citra.
Citra berbicara sambil menundukkan kepala karena menyesali perbuatannya. Dina langsung berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Citra sambil memeluknya untuk menenangkannya.
"Citra kamu tahu nggak kenapa Arvin pindah ke Sekolah kita?" Tanya Dina.
"Kenapa?"
"Karena dia ingin mengikuti olimpiade matematika yang membuat dia bisa dapat beasiswa untuk sekolahnya"
Citra langsung tertawa lepas saat Dina berbicara itu. Citra mengganggap Dina hanya bercanda saat mengatakan hal itu.
"Masa orang sombong kayak Arvin gitu butuh beasiswa? Dia itu anak orang kaya" Kata Citra yang masih berusaha untuk menahan tertawanya.
"Kamu tahu darimana kalo Arvin anak orang kaya?"
"Rumah Arvin kecil sih, karena dia tinggal di gang yang tidak terlalu lebar. Arvin juga punya mobil dia anter aku pas ketemu saat selesai bahan miniatur"
"Masa rumah gang sempit, tapi punya mobil?"
__ADS_1
Pertanyaan Dina tadi membuat Citra menjadi terdiam dan sejenak memikirkan hal itu. Menurut Citra, pertanyaan Dina tadi masuk akal karena mana mungkin Arvin memiliki mobil dengan rumah di gang sempit seperti itu.
"Bagaimana kalo itu bukan rumah Arvin sebenarnya? Mungkin saja itu kontrakannya"
"Terus kenapa kalo sekolah dia pakai motor? Kenapa nggak pakai mobil aja?" Tanya Dina yang membuat Citra makin pusing.
"Memangnya kamu tahu darimana kalo Arvin itu butuh beasiswa?"
"Kak Rio kemarin dia ngobrol sama Kak Andi"
"Kak Andi ketua ekskul matematika?" Kata Citra yang juga kenal dengan Kak Andi.
"Iya, Dia cerita kalo Arvin itu pindah sekolah karena ingin ikut olimpiade matematika untuk dapat beasiswa"
"Memangnya kenapa dengan sekolah lamanya?"
"Dia dicurangi pas tes olimpiade di sekolahnya nilai Arvin paling tinggi, tapi kepala sekolahnya mengubah peraturannya sampai anak kepala sekolah bisa ikut olimpiade itu. Aku nggak tahu pasti sih tentang peraturannya"
"Terus yang ngajak Arvin buat pindah ke sekolah kita itu siapa?" Tanya Citra yang masih penasaran dengan penjelasan Dina.
"Pak Doyok yang ngajak Arvin, Pak Doyok mengajar di sekolah kita dan juga sekolah lama Arvin. Pak Doyok tahu Arvin itu pintar matematika, dia kaget pas lihat Arvin yang nilai tes olimpiadenya paling tinggi tapi nggak ikut olimpiade. Makanya Pak Doyok saranin buat pindah sekolah disini"
Dina menghentikan obrolannya dan melihat Citra seperti menyesali perbuatannya, Dina menunggu pertanyaan dari Citra tapi sepertinya Citra tidak akan bertanya lebih jauh lagi. Dina melanjutkan Ceritanya agar Citra mengetahui semuanya.
"Aku marah pas kamu lakuin ini ke Arvin, ini membuat Arvin jadi tidak fokus karena bulan ini ada seleksi olimpiade matematika. aku takut kamu bisa lebih kejam ke Arvin"
"Aku nggak bisa kejam tahu" Kata Citra dengan kesal.
"Iya aku percaya" Kata Dina dengan nada bercanda.
Dina mengajak berkeliling Mall untuk berbelanja dan mengalihkan pikiran Citra akan tidak terus memikirkan hal ini, meskipun masalah ini masih terus terngiang-ngiang di pikiran Citra.
"Apakah aku harus meminta maaf ke Arvin?" Tanya Citra ke Dina.
Citra terlihat lesu karena masih memikirkan hal itu. Dina melihat ke arah Citra dan menatapnya sambil tersenyum lalu memeluknya.
"Sahabatku sekarang udah jadi baik" Kata Dina yang masih memeluk Citra dan tersenyum.
"Dinaaa" Kata Citra yang merasa risih
"Ikuti hatimu sendiri"
"Sepertinya aku butuh waktu" Gumam Citra didalam hatinya.
__ADS_1
Usaha untuk membenci dan melupakan Arvin harus tertunda karena Dina mengatakan hal itu ke Citra. Citra berniat untuk meminta maaf ke Arvin, tapi entah sampai kapan Citra mau meminta maaf ke Arvin tentang semua yang telah dilakukannya