
Citra dan Dina berjalan menuju kelas, Mereka baru saja di kantin.
Karena ini adalah istirahat kedua jadi Citra dan Dina hanya sebentar saja di kantin.
"Citra, Aku nanti ada arahan di ekstrakulikuler voli"
"Kamu ikutan lomba ya?" Kata Citra sambil menghabiskan minumannya.
"Nggak sih, Ini lombanya khusus buat laki-laki, tapi yang perempuan disuruh ikut arahan sama pelatih. Aku nggak tahu sampai kapan mungkin sampai bel pulang, nanti izinin ke guru ya!"
"Iya" Jawab singkat Citra.
Saat berbicara dengan Dina, Citra melihat Arvin berjalan menuju ke perpuskaan. Arvin berjalan sendirian sambil membawa satu buku yang dipegang di tangan kanannya.
"Dina, nanti kalau kamu selesainya sampai bel pulang tungguin aku ya" Kata Citra sambil lari menuju ke Arvin.
"Iya, Eh bukannya kelas jalannya kesini cit?" Kata Dina yang binggung melihat Citra berbelok ke arah lain.
"Aku mau ke perpustakan dulu" Kata Citra yang sedang berlari menuju ke Arvin sambil melempar botol minumnya yang sudah kosong ke tempat sampah.
"ARVIN!" Teriak Citra dari kejauhan.
Mendengar ada yang menyebut namanya, Arvin langsung menghentikan langkahnya dan menolehkan wajahnya ke arah belakang untuk mencari sumber suara itu.
Citra berhasil menghentikan Arvin dan menyusulnya. Citra langsung berhenti di samping Arvin dengan napas terengah-engah.
Melihat Citra yang memanggilnya, Arvin kembali berjalan ke perpustakaan dan meninggalkan Citra yang sedang berdiri di samping memulihkan napas yang terengah-engah.
Citra yang melihat Arvin kembali berjalan, akhirnya langsung menyusulnya dan berjalan di samping Arvin.
"Apa?" Tanya Arvin tanpa melihat Citra.
"Mau ke perpustakaan ya?" Tanya Citra.
"Iya" Jawab singkat Arvin.
Saat Arvin dan Citra berjalan menuju ke perpustakaan, mereka bertemu dengan Leo.
"Hai Citra" Sapa leo Ke Citra dengan senyuman sambil melambaikan tangannya.
"Hai" Jawab Citra.
Leo tetap berjalan dan sama sekali tidak melihat ke arah Arvin. Saat berjalan berdekatan dengan Arvin, Leo menyenggol Arvin dengan keras sampai Arvin menjatuhkan buku yang dia bawa.
"Apa maksudmu?" Tanya Arvin ke Leo.
Leo tetap berjalan sambil memperlihatkan setengah wajahnya ke belakang menghadap Arvin dengan menunjukkan senyuman liciknya.
Citra yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam.
Arvin mengambil bukunya yang terjatuh.
"Arvin, kamu ada masalah sama Leo?" Tanya Citra.
Arvin tidak menjawab pertanyaan Citra dan langsung berjalan menuju ke Perpustakaan.
"Arvin tunggu, Jawab aku dulu!" Kata Citra sambil menghalangi jalan Arvin.
"Kenapa kamu tanya ke aku? Aku merasa nggak ada masalah"
Citra diam dan kelihatan bingung mau menjawab apa ke Arvin. Karena terlalu lama Arvin meneruskan langkahnya dan Citra mengikutinya ke Perpustakaan.
Citra membuka pintu Perpustakaan, disana terlihat ada lumayan banyak orang dari biasanya.
Saat sudah memasuki perpustakaan, Citra langsung mencari buku sejarah.
Citra melompat-lompat untuk mengambil buku itu karena letaknya yang tinggi.
__ADS_1
Arvin yang melihat Citra sedang kesusahan mengambil buku langsung membantunya.
Arvin mengambil buku itu dan memberikannya ke Citra.
"Tumben" Kata Citra sambil tersenyum tipis.
Kata itu membuat Arvin berubah pikiran. Arvin mengambil buku itu dari Citra lalu mengembalikannya ke rak, Arvin langsung berjalan menuju ke tempat duduk.
"Aku cuma bercanda, tolong ambilin dong" Kata Citra sambil menarik tangan Arvin untuk menghentikannya.
"Lepasin" Kata Arvin yang terlihat risih dengan Citra yang sedang memegang tangannya.
"Nggak, sampai kamu ambilkan buku itu lagi" Tolak Citra.
Arvin kembali mengambilkan buku itu dan memberikannya ke Citra.
"Makasih ya Vin" Kata Citra.
Arvin tidak mempedulikannya dan berjalan meninggalkan Citra.
Citra menuju ke tempat duduk yang ada di Perpustakaan, dia mencari Kiki dan Bobby tetapi mereka berdua tidak ada di Perpustakaan. Citra melihat ada kak Dewi, Citra kenal dengan Kak Dewi karena sama-sama mengikuti eskul tari.
"Citra sini" Ajak kak Dewi yang melihat Citra berdiri mencari tempat duduk.
"Kak tumben di perpustakaan" Kata Citra.
"Iya, Ada tugas buat nyari buku di perpustakaan terus disuruh merangkum"
"Oh pantesan perpustakaannya sekarang lumayan rame"
"Kamu biasanya setiap istirahat selalu kesini?"
"Nggak terlalu sering sih kak" Kata Citra sambil membuka buku yang dia bawa.
Kak Dewi melihat Citra dan baru sadar bahwa Citra ke Perpustakaan hanya sendirian tanpa sahabatnya.
"Oh si Dina, Dia lagi ada eskul Voli"
"Dewi, Aku udah selesai milih buku nih" Kata temen Kak Dewi sambil menunjukkan bukunya.
"Aku juga udah kok" Kata kak Dewi sambil menutup buku yang dia baca.
"Yaudah, ayo buruan ke kelas"
"Citra duluan ya"
"Iya kak"
Perpustakan mulai berubah menjadi sepi, Anak kelas 3 yang berada di perpustakaan mulai kembali ke kelasnya.
Bobby yang baru saja masuk perpustakaan langsung duduk di sebelah Citra dan meletakkan botol air mineralnya di meja.
"Eh Bob, kiki mana?" Tanya Citra.
"Itu dia" Kata Bobby sambil menunjuk Kiki yang berjalan menuju ke arahnya.
"Hai Citra" Sapa Kiki ke Citra.
"Hai, Darimana Ki?" Tanya Citra.
"Habis nyari buku ini" Kata Kiki sambil menunjukkan buku yang ia bawa.
Suasana Perpustakaan menjadi lebih tenang saat anak kelas 3 mulai kembali ke kelasnya.
Citra terlihat mulai fokus dengan buku yang dia baca. Sampai ada seseorang yang menumpahkan minumannya ke baju Citra.
"Gimana sih?" Kata Citra kesal dan berusaha menjauhkan buku yang dia bawa agar tidak basah.
__ADS_1
"Ups" Kata Kak Sinta sambil memberikan botol minumannya ke salah satu temannya.
"Kenapa sih kakak selalu gangguin aku?" Tanya Citra dengan nada yang agak tinggi ke Kak Sinta dan 3 temannya.
"Jangan bentak-bentak dong, Dia itu nggak sengaja" Kata Kak Tini yang merupakan salah satu teman satu gengnya Kak Sinta.
"Ya setidaknya minta maaf dulu" Kata Citra.
"Perlu?" Tanya Kak Sinta sambil sedikit tersenyum.
"Udah cit" Kata Kiki mencoba menenangkan Citra.
"Ya tentu perlu lah, Kakak sudah gangguin aku sampai 5 kali tapi kakak nggak pernah minta maaf" Kata Citra marah.
Suasana menjadi panas, Bobby dan Kiki hanya melihat dan tidak berani untuk melerai pertengkaran itu. Arvin dari jauh merasa terganggu dan hanya melirik lalu kembali membaca bukunya.
"Kamu mulai berani ya sama aku?" Kata Kak Sinta sambil mendorong Citra.
Setelah di dorong Citra hanya diam saja, Citra mulai kesal dengan perlakukan Kak Sinta dan teman-temannya. Karena sangat marah Citra berniat untuk memukul.
Tiba-tiba Arvin dari belakang menyiram kak Sinta menggunakan botol minumannya Bobby.
Kak Sinta yang kaget langsung reflek menampar keras Arvin menggunakan buku yang ada di tangannya.
"Arvin" Kata Citra terkejut.
"Kamu gila ya? Lihat nih basah!" Kata Kak Sinta.
"Oh" Jawab singkat Arvin yang membuat Kak Sinta semakin marah.
"Kamu sengaja ya?" Kata Kak Sinta dengan nada tinggi.
"Kakak juga tadi sengaja pas nyiram Citra"
"Aku bakal laporin kamu ya" Kata Kak Sinta mengamcam Arvin.
"Yaudah kakak juga bakal aku laporin! Itu ada CCTV, Jadi nanti aku bisa laporin 2 sekaligus tentang kalian yang nyiram Citra dengan sengaja dan tentang tamparan keras tadi" Kata Arvin yang mengancam balik.
Tak berapa lama, Pengawas perpustakaan datang ke pertengakaran itu.
"Ini ada apa ini?" Tanya Pengawas perpustakaan.
"Nggak ada apa-apa bu" Kata Kak Sinta dan teman-temannya sambil pergi berjalan keluar Perpustakaan.
"Jangan berisik ya!" Kata Pengawas perpustakaan sambil berjalan pergi.
"Iya" Saut Citra sambil menyembunyikan bagian baju yang basah.
Suasana Perpustakaan kembali menjadi hening. Arvin mengembalikan botol minuman tadi.
"Ini" Kata Arvin sambil meletakkan botol minumannya ke meja dekat Bobby.
"Nggak apa-apa kok, lagian ini punya Kiki" Kata Bobby dengan santai.
"Nanti aku ganti ya" Saut Citra.
"Nggak usah Cit, lagian ini sudah jam istirahat terakhir" Tolak Kiki.
"Tadi suara tamparannya keras banget, sekarang masih sakit nggak?" Tanya Citra sambil memegangi bagian pipi Arvin yang terkena tamparan tadi.
Arvin hanya diam dan langsung kembali ke tempat duduknya yang tadi.
"Sekarang masih sakit nggak? Pertanyaan macam apa itu? Tadi suara tamparannya keras banget" Kata Bobby menyindir Citra.
"Bob" Kata Kiki sambil menutup mulutnya Bobby.
Citra hanya terdiam dan melihat Arvin kembali ke tempat duduknya. Citra merasa bersalah ke Arvin dan rasa itu semakin menjadi saat melihat Arvin sesekali memegangi pipinya dan menggerakkan rahangnya tanda bahwa tamparan tadi masih terasa sakit.
__ADS_1