ES & API

ES & API
Tersenyum


__ADS_3

Pertanyaan Arvin tadi membuat Citra terdiam untuk beberapa saat, Arvin melepaskan tangan Citra yang sedang memegangnya. Suasana menjadi hening, Dina yang berada di sebelah Citra hanya terdiam dan tidak bisa berbuat banyak.


"Maksudnya?" Kata Citra yang belum mengerti maksud Arvin sebenarnya.


"Nggak usah deket-deket aku lagi" Kata Arvin.


Arvin mulai menggerakkan kakinya yang masih sakit untuk berjalan meninggalkan Citra dan Dina. Setelah beberapa langkah berjalan, Citra menahan tangan Arvin.


"Aku tetep ingin dekat denganmu" Kata Citra sambil memegang erat tangan Arvin.


"Apa alasanmu?" Tanya Arvin.


"Aku cuma mau kita itu..."


"Terlalu bertele-tele, cuma membuang waktu" Saut Arvin yang langsung memotong pembicaraan Citra.


Arvin melepaskan genggaman tangan Citra.


Citra menoleh ke belakang melihat Arvin yang mulai pergi menjauh dari dirinya.


"Karena aku sayang sama kamu dan aku cinta sama kamu" Kata Citra sambil melihat ke arah Arvin.


Kata itu membuat Dina dan Arvin terkejut, Arvin yang berjalan menuju ke kelas untuk mengambil tasnya langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya kearah Citra. Arvin berjalan menuju Citra dan mendekatinya.


"Sayang adalah perasaan yang makin lama akan pudar dan menghilang. Cinta adalah sebuah ilusi yang diciptakan oleh perasaan sayang. Sayang dan Cinta itu hanya hayalan, nggak ada yang namanya Sayang ataupun Cinta."


Citra hanya terdiam melihat tatapan tajam dari Arvin yang berada tepat di depannya


"Jadi jangan terlalu percaya diri itu membicarakan hal itu" Kata Arvin "Aku sama sekali tidak ada perasaan denganmu dan Aku muak denganmu, dasar cengeng"


"Aku nggak nangis kok. ternyata kamu sejahat ini ya?" Kata Citra sambil berusaha menahan tangisannya.


Citra mengayunkan tangan kanannya ke arah wajah Arvin, Saat tamparan itu hampir mengenai wajah Arvin tiba-tiba Citra menghentikannya. Terlihat Arvin yang memejamkan wajahnya dan hanya pasrah saat tangan Citra ingin menamparnya, Citra tidak tega dengan wajah Arvin yang penuh dengan luka lebam.


Citra menarik kembali tangannya dan berlari menjauh dari tempat itu.


"Kamu beneran nggak punya hati ya?" Kata Dina yang lalu pergi berlari menyusul Citra.


Dina melihat Citra memasuki toilet perempuan, Dina mendekatinya dengan perlahan. Citra terlihat sedang mencuci mukanya berulang kali.


"Citra, kamu nggak apa-apa kan?" Kata Dina.


"Aku nggak apa-apa kok" Kata Citra sambil tersenyum.


Senyuman Citra terlihat terpaksa, mata Citra tidak bisa dibohongi dengan ekspresi yang dibuat oleh Citra sendiri.


Dina mendekati Citra sambil mengelus punggung Citra untuk menenangkannya, Citra melihat kearah Dina dan memeluknya secara erat.

__ADS_1


"Lepasin aja nggak apa-apa kok, disini nggak ada orang"


"Nggak, aku nggak mau menangis gara-gara orang bodoh seperti itu" Kata Citra yang terlihat bergetar karena menahan tangisannya.


"Ayo kita pulang, mama kamu sudah nungguin"


Mereka berjalan menuju ke mobil, terlihat Citra yang sedang menahan tangisannya dan berjalan lebih cepat menuju ke arah mobil.


"Kamu kenapa Cit?" Tanya Mama Citra saat berada di dalam mobil.


"Nggak apa-apa kok ma" Kata Citra.


Di sepanjang perjalan jalan menuju jalan pulang, Citra hanya diam termenung melihat kearah luar jendela. Citra sedang memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.


Kejadian itu merupakan pertama kali Citra berani untuk menyatakan perasaannya ke seseorang yang disukai.


Keesokan harinya, Dina mengajak Citra untuk jalan-jalan ke Mall karena hari ini libur sekolah. Citra terlihat ceria seakan dia lupa dengan kejadian kemarin meskipun saat di Mall dia merupakan orang yang nggak suka belanja.


Setelah puas mengitari mall, Mereka berhenti di salah satu tempat makan untuk beristirahat sambil mengisi perut untuk mengisi kembali energi yang terkuras akibat terlalu lama berkeliling Mall.


"Mau pesan apa Cit?" Tanya Dina.


"Terserah deh, aku ngikut kamu aja" Kata Citra yang terlihat capek.


Dina pergi untuk memesankan makanan sedangkan Citra mencari tempat duduk.


"Hai Dina, hai juga Citra" Sapa Kak Budi.


"Kak Budi, gimana turnamennya Kak?" Tanya Dina.


"Sudah masuk 32 besar"


"Kenapa Kakak bisa ada disini?"


"Tadi baru aja ke sekolah buat ngurus kelengkapan, ini mau ketemu temen aja sih"


"Kak Budi nggak capek berdiri terus, Kakak nggak mau duduk?" Kata Citra dengan polos.


"Belum ditawari duduk" Kata Kak Budi sambil tersenyum.


"Oh iya maaf kak, duduk dulu kak" Saut Dina.


"Aku ganggu nggak nih? Takutnya nanti gangguin kalian"


"Nggak kok kak, duduk aja" Kata Citra.


"Nggak sekalian pesan makanan?" Tanya Dina.

__ADS_1


"Aku mau nunggu temenku dulu" Jawab Kak Budi.


Saat Kak Budi sudah duduk di kursinya suasananya menjadi sepi, tidak ada obrolan yang akan dibahas. Dina memainkan HP sedangkan Citra memakan makanannya dengan lahap.


Beberapa menit berlalu, Teman Kak Budi baru saja datang. Kak Budi dan temannya langsung berganti meja yang sedikit berjauhan dengan Citra dan Dina.


Terlihat makanan yang berada pada piring Citra sudah habis sedangkan piring Dina masih utuh karena terlalu fokus memainkan HPnya.


"Maaf ya Cit, aku belum selesai makannya" Kata Dina sambil menaruh HP.


"Nggak apa-apa kok, aku juga masih mau disini" Jawab Citra.


"Mau pesen makanan lagi Nggak?"


"Nggak usah aku udah kenyang"


Dina mengambil sendoknya dan mulai menghabiskan makanannya.


Citra hanya terdiam dan terlihat sedang merenung sambil sesekali meminum soda miliknya saat menunggu Dina untuk menghabiskan makanannya.


"Dina, Arvin itu kenapa ya?" Tanya Citra.


Mendengar pertanyaan itu, Dina langsung tersedak.Makan yang ingin ditelan Dina jadi terhenti karena kaget dengan pertanyaan Citra yang menanyai tentang Arvin.


Citra langsung memberikan Dina minuman dan membantunya.


"Kamu kenapa sih masih mikirin dia" Kata Dina yang marah sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Dia nggak seperti biasanya" Kata Citra.


"Sifat dia dari awal kita bertemu udah seperti itu, kenapa kamu baru nyadar sih Cit?"


"Aku benci dia"


"Aku nggak habis pikir, kenapa kamu berani nyatain perasaanmu ke dia?"


"Waktu itu, aku juga nggak tahu tiba-tiba aja aku ngomong kayak gitu"


"Jadi kamu berhenti buat melelehkan hati es?"


Citra tidak menjawab pertanyaan Dina, begitupun dengan Dina hanya tersenyum melihat Citra yang termenung sambil menghabiskan sisa makanannya.


Dugaan Dina salah tentang Citra yang tidak memikirkan Arvin.


Citra masih memikirkan kejadian yang kemarin. Bahkan saat mereka perjalanan pulang Citra hanya terdiam sambil memandangi kaca mobil untuk melihat kearah luar mobil, ekspresinya sama sekali tidak bersemangat.


Dina beberapa kali menghiburnya tetapi sama sekali tidak berpengaruh dengan Citra.

__ADS_1


__ADS_2