
Waktu sudah menunjukkan pergantian jam pelajaran dan bel sekolah pun berdering.
KRINGGG!!!
Jam pelajaran matematika akhirnya selesai diganti dengan jam pelajaran seni.
Pelajaran Seni merupakan pelajaran yang disukai oleh Citra karena disitulah ide kreatifnya selalu digunakan, karena biasanya ide kreatifnya dipakai pas pelajaran fisika.
Bu Rini memasuki kelas dan langsung menemui Zahra.
Bu Rini adalah guru seni budaya yang sangat murah senyum pada muridnya tapi beliau sangat tegas dan disiplin.
Dan Zahra adalah ketua kelas di kelas Citra.
Bu Rini kelihatan terburu-buru sekali saat memasuki ruang kelas.
Setelah berbicara dengan Zahra, Bu Rini memberikan selembar kertas ke Zahra dan langsung berjalan menuju keluar kelas tanpa berbicara apapun lagi di kelas.
Zahra maju kedepan kelas dan menyampaikan tugas yang di berikan oleh Bu Rini.
"Hari ini ada tugas kelompok, membuat miniatur tempat bersejarah di dunia dan jangan lupa untuk buat laporannya juga. Tugas ini hanya diberi waktu 2 minggu dan untuk pembagian kelompoknya akan aku tulis di papan tulis" Kata Zahra sambil memegang spidol kelas.
"Memangnya Bu Rini kemana?" Tanya Dina.
"Bu Rini tidak mengajar selama 2 minggu, katanya sih karena ada pelatihan" Jawab Zahra sambil menulis pembagian kelompok di papan tulis.
Citra melihat kelompok pertama yang ditulis Zahra di papan tulis dan ternyata benar sesuai dengan dugaannya, Bu Rini selalu membagi kelompok berdasarkan urutan daftar nama. Citra menjadi tenang karena nomor urut Citra berdekatan dengan Dina.
Setelah Zahra Selesai menuliskan semua daftar pembagian kelompok yang di beri Bu Rini di papan tulis. Tiba-tiba Dina menyenggol Citra yang sedang memainkan Hpnya.
"Citra, kita nggak satu kelompok" Kata Dina.
"Apa? Yang bener kamu?" Tanya Citra yang terkejut tidak percaya karena daftar urut kami berdekatan jadi biasanya kami satu kelompok.
"Tuh liat aja kalo nggak percaya, Tuh kelompok kamu ada si Arvin sama Gilang." Saut Dina.
Citra langsung mengecek satu persatu nama beserta kelompoknya yang telah ditulis oleh Zahra di papan tulis. Ternyata benar yang dikatakan oleh Dina bawah mereka tidak satu kelompok.
"Yah, Kok gitu sih? Aku kira kita bakal satu kelompok" Kata Citra kecewa.
"Tau tuh Bu Rini, Kenapa nggak milih kelompok sendiri aja sih. Tapi nggak masalah sih, Aku lumayan beruntung karena kelompokku ada si zahra sama toni" Kata Dina sambil tersenyum.
"Itu sih bukan lumayan lagi tapi sangat beruntung" Kata Citra dengan wajah iri.
"Dina sini!" Teriak Zahra mengajak Dina berdiskusi bersama Toni.
__ADS_1
"Udah ah, Aku mau ke kelompokku dulu" Jawab Dina Berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kelompoknya.
Citra melihat ke arah anggota kelompoknya yaitu Arvin dan Gilang dengan rasa sedikit kecewa. Citra masih tidak percaya bahwa dia satu kelompok dengan mereka berdua.
"Kenapa aku harus sama mereka berdua sih" Kata Citra berbicara didalam hatinya.
Citra diam sejenak dan berdiri dari tempat duduknya karena mau tidak mau Citra harus mengumpulkan mereka berdua agar segera berdiskusi dan menyelesaikan tugas ini.
"Gilang sini" Teriak Citra sambil berjalan menuju tempat duduk Arvin.
"Oke Cit, sebentar ya" Kata Gilang sambil membereskan barangnya di meja lalu menuju ke tempat duduk Arvin.
"Kita kerja kelompok dirumah siapa?" Tanya Citra.
"Kenapa nggak ngerjain disini aja?" Tanya Arvin Balik.
"Kalo ngerjain disini nggak cukup waktunya, Kamu tau sendirikan pelajaran seni budaya cuma 1 jam dalam seminggu" Kata Citra.
"Jam istirahat?" Tanya Arvin sekali lagi.
"Aku mau gangguin kalian pas jam istirahat, Udah jangan banyak tanya lagi"
"Jadi ini cuma bahas tempat kerja kelompok?" Tanya Gilang.
"Iya, sekalian aku nanti bawa laptop buat bikin laporannya" Kata Citra.
"Kamu yakin? Rumah aku lumayan jauh kalo dari sini apalagi dari rumah kamu"
"Iya sih, kalo di rumahku sama aja. Vin rumah kamu aja gimana?" Tanya gilang sambil menyentuh pundak Arvin.
"Nggak" Tolak Arvin.
"Rumah kamu kan deket dari sini" Kata Gilang yang berusaha meyakinkan Arvin sekali lagi.
"Nggak"
"Emang rumah dia dimana sih lang?"
"Gang No 9 deket perempatan jalan arah belakang sekolah, Bener kan Vin ?"
"Berarti deket tuh dari sini, Ayo lah Vin boleh yah" Pinta Citra memelas ke Arvin.
Citra terus menerus memohon ke Arvin untuk mau mengerjakan tugas ini di rumahnya, itu membuat Arvin risih.
Setelah beberapa kali memohon, Akhirnya Arvin hanya menggangukkan kepalanya sekali dan Itu artinya Arvin menyetujui permintaan Citra dan Gilang.
__ADS_1
"Oke berarti udah yah, Aku mau balik ke tempat duduk dulu" Kata Gilang sambil Berdiri dari tempat duduknya.
"Jangan pergi dulu, Memang kamu tau kita kerja kelompoknya kapan?" Kata Citra menghentikan Gilang pergi.
"Oh iya, Gimana kalo hari ini habis pulang sekolah?" Tanya Gilang.
"Nggak bisa" Tolak Arvin.
"Kenapa?" Tanya gilang.
"Aku juga nggak bisa, aku ada ekskul tari hari ini"
"Besok?"
"Nggak bisa" Kata Arvin sambil membalikkan halaman bukunya.
"Serius dong, kalo ngomong jangan sambil baca buku" Kata Citra kesal
Citra langsung menarik paksa buku yang sedang dibaca oleh Arvin dan menyembunyikannya di bawah meja.
"Lusa, hanya sampai jam 4" Kata Arvin.
"Kenapa sampai jam 4?" Tanya Citra.
"Oke deh" Kata Gilang Setuju dengan Arvin.
Citra yang awalnya tidak setuju dan penasaran kenapa hanya sampai jam 4, tapi saat Gilang ikut setuju membuat Citra mau tidak mau harus ikut setuju.
"Udah semua kan ini cit ?" Tanya Gilang.
"Udah sih, pembahasan lanjutannya kita bahas pas kerja kelompok di rumah Arvin"
"Oke kalo gitu aku mau balik ke tempat duduk dulu yah" Kata gilang sambil berjalan menuju tempat duduknya.
Disitu tersisa Citra dan Arvin yang masih duduk. Citra masih memegang buku Arvin yang ia ambil tadi. Citra mau mengembalikan buku yang masih ia pegang di bawah meja.
Saat melihat sampul bukunya, Citra mengenal tentang buku yang tadi Arvin baca itu.
"Kamu suka baca buku ini?" Kata Citra.
Arvin mengambil buku itu dari tangan Citra dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan dari Citra, membuat Citra langsung pergi ke tempat duduknya tanpa bertanya lagi ke Arvin.
"Gimana sukses?" Tanya Dina dengan bercanda sambil sedikit menertawai Citra.
"Sukses dan lancar" Kata Citra dengan yakin.
__ADS_1
"Beneran?" Tanya Dina yang terkejut karena tidak percaya dengan perkataan Citra.
Citra menggangukkan kepalanya dengan terseyum lebar tanpa gigi ke arah Dina. Dina tidak yakin karena di kelompok Citra ada Arvin yang selalu kelihatan menyebalkan, tapi bagi Citra itu terlalu menyulitkan baginya.