ES & API

ES & API
Mencoba


__ADS_3

Citra belum meminta maaf kepada Arvin, Karena Citra membutuhkan waktu untuk mengumpulkan niatnya dan berusaha untuk menghilangkan kebenciannya terhadap Arvin yang sudah ia tumbuhkan sejak Arvin menyuruhnya untuk menjauh.


Sekarang adalah pelajaran seni. Arvin membawa hasil miniaturnya sendiri dan tidak menggunakan hasil miniatur yang diberikan oleh Citra melalui Gilang.


Arvin mempresentasikannya sendiri di depan kelas. Terlihat jelas wajah tidak suka Bu Rini terhadap Arvin yang sedang berbicara didepan kelas untuk menjelaskan miniatur yang dibuatnya.


Semua lancar sampai selesai mempresentasikan hasil laporan miniaturnya, tapi hasil ini tidak membuat Bu Rini mengapresiasinya.


"Nilai kamu C, silahkan duduk" Kata Bu Rini.


"Saya sudah mengerjakan, kenapa dapat nilai C bu?" Protes Arvin ke Bu Rini yang tidak menghargai usahanya.


"Ini tugas kelompok bukan tugas perorangan" Kata Bu Rini sambil menulis nilai Arvin di bukunya.


"Saya sudah mengerjakan dengan kelompok Saya, tapi saya dikeluarkan"


"Karena kamu nggak ikut ngerjakan"


"Tapi..."


"DUDUK!" Kata Bu Rini membentak Arvin untuk menyuruhnya duduk.


Arvin meletakkan laporan di meja Bu Rini dan pergi berjalan kembali menuju tempat duduknya. Citra hanya terdiam saat melihat itu semua, Wajah murung diperlihatkan Citra saat Arvin sudah duduk di tempat duduknya, Tapi saat Dina bertanya kepadanya seketika wajah Citra tersenyum dan berusaha menyembunyikan itu semua.


Kejadian ini membuat perasaan Citra menjadi terdorong untuk meminta maaf ke Arvin.


KRINGGG!!!


Bel istirahat pertama berbunyi.


Seperti biasa Arvin merupakan salah satu orang yang paling terakhir untuk keluar kelas di saat jam istirahat. Citra menunggu Arvin di tempat duduknya dan terlihat Arvin yang sedang membereskan semua buku di mejanya, Citra berencana untuk meminta maaf sekarang.


"Sekarang?" Tanya Dina yang tahu bahwa Citra akan mencoba meminta maaf ke Arvin.

__ADS_1


"Iya" Kata Citra dengan nada tidak bersemangat dan terdengar seperti ragu untuk melakukannya.


"Oke aku pergi dulu ya, Semangatd dong!" Kata Dina sambil mengepalkan jarinya dan menggangkat tangan untuk memberi semangat ke Citra.


Dina berjalan pergi keluar kelas dan meninggalkan Citra agar bisa berbicara berdua dengan Arvin untuk meminta maaf.


Arvin selesai membereskan semua buku di mejanya, setelah itu Arvin berjalan menuju ke luar kelas. Jantung Citra serasa berdetak kencang saat Arvin mulai berjalan keluar kelas. Kata "Tunggu" seakan sulit dikeluarkan untuk menghentikan Arvin.


"Arvin tunggu" Kata Citra saat Arvin baru saja melewati semua tempat duduk di kelas untuk menuju keluar kelas.


Citra langsung berdiri dan berlari menuju ke arah Arvin. Arvin hanya menghentikan langkahnya dan tidak berbalik badan untuk melihat ke arah Citra.


"Aku mau berbicara sebentar denganmu" Kata Citra.


"Bicaralah dan berhenti untuk terus menghabiskan waktuku"


"Lihat lah kesini"


Citra masih berada di belakang Arvin, Citra tidak mulai bicaranya sampai Arvin mau membalikkan badannya untuk menghadap ke arahnya. Hanya beberapa detik menunggu perkataan dari Citra, Arvin langsung pergi.


"Menghargai orang? Bukannya kamu yang tidak menghargai orang dengan cara mengeluarkan seseorang dari kelompokmu?" Kata Arvin sambil menatap tajam ke arah Citra.


Perkataan dan tatapan tajam Arvin membuatnya serasa mengeluarkan aura dingin yang membuat Citra hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Citra langsung menunduk untuk menghidari tatapannya, sepertinya ia menyesal karena ingin berbicara berhadapan dengannya.


"Ma...Ma...Makanya aku ma...mau meminta maaf" Kata Citra yang terlihat gugup.


"Minta maaf karena apa?" Tanya Arvin yang tidak tahu alasan sebenarnya dari Citra.


"Maaf karena aku telah mengeluarkanmu dari kelompokku dan gara-gara aku kamu jadi dimarahin sama Bu Rini"


"Apa ini ucapan penghinaan? Aku kira kamu akan menikmati pertunjukkannya karena rencanamu berhasil dengan sangat mulus" Kata Arvin.


Arvin menunggu jawaban dari Citra tapi terlihat Citra hanya diam menunduk dan tidak memberikan jawaban apapun. Setelah beberapa saat masih tidak ada jawaban dari Citra, Arvin langsung pergi berjalan menuju keluar kelas.

__ADS_1


Ruang kelas yang sepi karena semua murid pergi untuk beristirahat, Citra menegakkan kepalanya dan baru tersadar bahwa Arvin sudah tidak ada di hadapannya.


Citra langsung berjalan menuju luar kelas dan terlihat Arvin yang berjalan menuju ke arah perpustakan melewati lorong kelas.


"Tunggu aku, aku belum selesai berbicara denganmu" Kata Citra sambil memegangi tangan Arvin dari belakang dan berusaha menahannya agar Arvin tidak berjalan lebih jauh lagi.


"Jika kamu minta maaf kenapa baru sekarang? Dan juga kenapa kamu nggak jelaskan semua ini ke Bu Rini? Pergilah dariku dan silahkan rayakan kemenanganmu" Kata Arvin sambil berusaha melepaskan kedua tangan Citra yang menahan salah satu tangannya.


"Aku sudah berniat untuk meminta maaf kepadamu dari minggu kemarin dan juga aku akan menjelaskan semuanya ke Bu Rini, tapi aku butuh waktu untuk semuanya. Aku akan melakukan semuanya di waktu yang tepat" Kata Citra sambil menahan tangan Arvin yang berusaha melepaskannya.


"Kamu meminta maaf kepadaku baru sekarang dan kamu bilang ini waktu yang tepat?"


"Iya ini adalah waktu yang tepat" Tegas Citra.


"Terus kamu mau jelasin semua ini ke Bu Rini kapan? Apa waktu yang tepat untuk jelasin ke Bu Rini adalah saat nilai C itu sudah mendarat di raport ku?" Tanya Arvin yang ingin mengetahui semua penjelasan perkataan Citra tadi.


"Aku minta maaf, aku janji akan secepatnya memberitahu Bu Rini"


"Apa kamu takut kalo kamu bakal nggak ikut lomba tari Se Provinsi untuk mewakili Sekolah ini. Bu Rini merupakan salah satu pelatih untuk lomba tari itu?" Tanya Arvin yang sudah mengetahui lebih dulu alasan Citra sebenarnya.


"Aku berani berbicara dengan Bu Rini, bahkan kalo aku dikeluarkan dari peserta lomba juga nggak masalah bagiku" Kata Citra yang membantah semua tuduhan Arvin.


"Kalo begitu lakukanlah sekarang" Kata Arvin menatang perkataan Citra.


"Tidak secepat itu, aku butuh waktu" Kata Citra yang masih saja membela diri.


"Sampai waktu yang tepat atau sampai kamu selesai melaksanakan lombanya?" Tanya Arvin.


Pertanyaan Arvin membuat Citra lagi-lagi terdiam dan tidak membalas satu katapun perkataan dari Arvin. Pegangan tangan Citra ke Arvin mulai melemah karena seluruh tenaganya menahan tangan Arvin yang terus berusaha melepaskan tangannya.


"Lepaskan tanganku dan lupakan semua masalah ini, lalu pergi dan menjauhlah dari ku" Kata Arvin yang sudah berhasil melepaskan tangannya lalu berjalan pergi meninggalkan Citra.


Citra tidak tahu mana yang akan dipilihnya, apakah Arvin atau lomba tari itu. Jika dia memberitahu Bu Rini tentang semua hal itu, yang jelas Citra akan dimarahi dan kemungkinan terburuknya dia tidak akan mengikuti lomba tari.

__ADS_1


Citra ingin fokus ke lomba tari itu dan mengikuti perkatakaan Arvin yaitu melupakan masalah ini, tapi sepertinya itu merupakan ide buruk karena itu merupakan tindakan lari dari masalah dan tidak mau bertanggung jawab. Sepertinya Citra tidak menghidupkan kembali pemikiran jahatnya karena takut kejadian lebih buruk menimpanya.


__ADS_2