Fate Of The Princess

Fate Of The Princess
Awal


__ADS_3

Kerajaan Luminus adalah salah satu kerajaan besar yang ada di Dimensi Clarity, dimana para penduduknya terdiri dari berbagai ras. Kerajaan ini dipimpin oleh Raja Vampire, Sean de Alexander dan Ratu manusia berdarah campuran, Luna Serenity. Dari pernikahan mereka, lahirlah aku, Arthemis Selena de Alexander dan adikku, Asteria Elina de Alexander.


*****


"Kak Elen!"


"Ah, Lily."


"Huh, kakak ini. Namaku Elina, bukan Lily," gerutu Elina


"Aku lebih suka memanggilmu seperti itu," ucap Selena sambil tersenyum.


"Uuh, sesukamu lah kak."


"Ada apa Lily mencariku?" tanya Selena.


"Guru besar menanyakan dirimu yang menghilang saat kelas akan di mulai," jawab Elina.


"Aku tidak suka dengannya. Dia terlalu menyebalkan dan selalu menganggapku anak kecil yang tidak tau apapun," ucap Selena


"Dia belum tau kalau aku sudah membaca seluruh buku di perpustakaan istana," batinnya


"Hm, begitu ya..."


"Aku ingin berlatih dengan Paman Kazu. Kau ingin ikut?"


"Ikut dong!"


"Lalu, kelasmu...?"


"Aku tidak mau ikut jika tidak ada kau, kak."


"Baiklah kalau gitu."


******


Arena Pelatihan


"Semuanya! Jangan longgarkan pertahanan dan jangan biarkan musuh mengetahui titik lemah kalian. Paham?!" perintah Kazuto


"Paham, Ketua!" jawab para prajurit


"Paman Kazu!"


Melihat para putri yang datang, Kazuto menyuruh prajuritnya untuk istirahat.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"


"Kakak ingin latihan, Paman." jawab Elina.


"Jangan terlalu formal padaku, Paman. Panggil saja aku seperti biasa, ya?"


Kazuto tersenyum, "Baiklah, Selena. Kali ini kita akan berlatih pedang sungguhan."


"Bukan pedang kayu? Nanti kalau kakak terluka bagaimana, Paman?" tanya Elina dengan cemas.


"Tidak apa-apa, jangan khawatir." jawabku


Kemudian, mereka memulai latihannya. Kazuto menyerang Selena dengan gerakan cepat dan tajam. Selena menangkisnya dan menyerang balik dengan pedang yang diselimuti elemen angin. Kazuto yang melihatnya terkejut, karena seseorang bisa mengeluarkan kekuatan elemen disaat usianya 10 tahun. Sedangkan usia Selena baru 7 tahun. Selena hanya bisa tersenyum dan terus menyerangnya sampai mereka membuat jarak.


"Ledakan Meteor Pemusnah!"


"Yang benar saja!" batin Selena


"Tornado Air!"


Serangan mereka membuat area sekitar penuh dengan kabut. Kazuto mencoba menyerangnya secara senyap, tapi Selena bisa menghindarinya dan membuat pusaran angin untuk menghilangkan kabut itu. Kemudian, dia menyergap Kazuto yang akhirnya berhasil dia kalahkan.


Kazuha mengangkat tangannya, "Saya menyerah. Anda benar-benar hebat."


"Terima kasih sudah mengalah, Paman." ucap Selena dengan senyum tipis.


Elina berlari ke arah mereka, "Kakak hebat sekali!"

__ADS_1


"Paman lebih hebat dariku, Lily. Dia adalah pemimpin pasukan yang berada di garis depan. Aku harus banyak belajar darinya"


Tiba-tiba, Ratu Luna mendekat ke arah mereka bersama dengan Marie, Kepala Pelayannya.


"Benar, sayang. Teruslah berlatih, tapi jangan sampai memaksakan dirimu."


"Selamat datang, Yang Mulia" sambut Kazuto sambil menundukkan kepalanya.


"Ibu! Ibu!" sahut mereka.


"Bagaimana latihannya, Kazu?" tanya Luna.


"Nona Selena sudah bisa menggunakan kekuatan elemen lebih dari satu di usianya yang masih dini. Ini adalah suatu berkat bagi kerajaan kita." jawab Kazu.


Luna tersenyum lembut, "Putriku memang hebat."


"Terima kasih, Bu."


"Anda harus istirahat, Nona" kata Marie.


"Tidak, Bibi. Ini hanya luka kecil dan aku sudah terbiasa dengannya."


"Nona..."


"Sebaiknya bibi melihat paman. Lihat, dia sudah seperti keledai yang kehilangan induknya." ujar Selena sambil menahan tawanya karena melihat Paman Kazu.


"Abaikan saja dia, Nona. Dia memang begitu."


"Sayang! Kenapa kau mengabaikanku? Aku sudah menunggumu tapi hanya ini yang kudapat?" tanya Kazuto dengan nada sedih.


"Huff, Kau sangat memalukan, Kazu." jawab Marie.


Kazuha yang mendengarnya hanya bisa pundung di pojokan arena.


"Hahaha. Paman benar-benar konyol saat bertemu denganmu, Bibi." kata Elina.


"Hm, jika mereka tau orang kepercayaan Sean yang berdarah dingin ternyata seperti ini....bagaimana reaksi mereka, ya?" tanya Luna.


"Kurasa mereka akan pingsan karena tercengang, Bu." jawab Selena dengan senyum lebar.


"Yasudah. Sini." ujar Marie dengan senyum tipis.


Kazuto memeluk Marie seperti anak bayi yang tidak bertemu dengan Ibunya. Yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala karena melihat kebucinan dari Kazuto.


"Ibu, Ayah kemana?" tanya Selena.


"Ayahmu sedang berunding dengan Raja Franz, sayang."


"Sebaiknya, kita segera kembali." usul Marie.


"Kau benar. Ayo, sayang."


"Iya, bu." jawab mereka


"Ayo, Kazu." ajak Marie.


"Ya, sayang."


Mereka pun kembali ke istana. Saat melewati Ruang Rapat, mereka mendengar suara gaduh.


"Aku tidak akan menjodohkan putriku dengannya!"


"Kenapa tidak? Kudengar Putrimu cantik seperti Ibunya. Sudah pasti dia akan cocok dengan anakku." kata Franz dengan nada enteng.


"Benar, Yang Mulia. Saya pasti bisa menjaganya dengan baik." kata Archie, putra Raja Franz.


"Pergi dari sini sebelum aku meratakan kerajaan kalian!" tekan Sean.


"Tidak tau di untung! Sudah bagus ada yang melamarnya. Kau malah menolaknya!"


"Anda kelewatan, Raja. Selena akan sendiri sepanjang hidupnya jika Anda menolak saya."


BRAK!

__ADS_1


Suara pintu yang di tendang.


"Aku tidak mendengarnya dengan jelas. Bisakah kau mengulanginya?" tanya Selena dingin.


"Selena sayang, aku kesini untuk melamarmu. Kau tidak akan menolakku, kan?" goda Archie.


Selena tersenyum dingin, "Bermimpilah! Bahkan di kehidupan selanjutnya aku tidak akan sudi bersamamu!"


"Kau dengar itu, Franz? Putriku sudah menolaknya jadi menyerahlah." kata Luna dengan tatapan tajam.


"Kau dengan putrimu sama saja! Sama-sama sok jual mahal! Dasar tidak tahu malu!" bentak Franz.


"Bibi Marie, tolong bawa Elina ke kamar," perintah Selena dengan suara pelan.


Tanpa menjawab, Marie segara membawa Elina menjauh dari tempat itu.


Mata Selena berubah yang awalnya kuning menjadi merah pupil vertikal. Perubahannya membuat mereka terkejut. Kemudian, Selena melemparkan belati dengan elemen api pada mereka.


"Ahhh!! Apa yang kau lakukan?!"


"Kenapa kau begitu kejam, Selena?!"


Selena menatap mereka dengan pandangan membunuh, "Kesalahan terbesar kalian karena berani menghina Ibuku"


"Leburlah..." bisiknya


"Arghhh! Kenapa semakin sakit?" jerit Archie.


Franz tersentak, "Jangan-jangan....racun?!"


Selena tersenyum dingin, "Aku kira kalian dungu ternyata pintar juga, ya?"


"Berikan penawarnya, bocah!"


"Carilah sendiri, itupun jika kalian sanggup."


Belati beracun yang di lemparkannya telah melebur dengan elemen api nya, membuat mereka merasakan rasa terbakar yang menyiksa hingga akhirnya mereka pingsan dalam keadaan mata yang terbelalak.


Sean menepuk kepala Selena, "Kerja bagus, nak."


"Sejak kapan kau jadi ahli racun, sayang?" tanya Luna.


"Hehehe, karena aku malas dengan Guru menyebalkan itu, jadi aku memilih untuk belajar tentang pengobatan." jawab Selena.


Luna menatap Selena dengan cemas, "Bisa mengendalikan elemen di usia dini saja sudah jenius. Di tambah lagi dengan racun. Aku tidak tahu apakah ini berkah atau petaka?" batinnya.


"Sean, tolong hapus ingatan mereka tentang serangan Selena."


"Kenapa, bu?"


"Sayang, Ibu tidak mau jika mereka menyebarkan gosip tentang kelebihanmu. Terkadang, bakat seseorang itu seperti pisau bermata dua. Jadi, tolong rahasiakan tentang kemampuan racunmu, ya?" pinta Luna.


Selena mengangguk, "Baik, bu."


"Istirahatlah. Ayah akan mengurus dua bajingan ini."


"Ayo, sayang. Ibu antar."


"Ya, bu."


Setelah mereka pergi, Sean menyeringai melihat kedua pria yang pingsan karena anaknya.


"Kau salah karena sudah mengusik Putri dari sepasang monster."


Kazuto memandang mereka yang pingsan dengan tatapan haus darah, "Sean, harus ku apakan mereka? Apa perlu ku bawa ke ruang penyiksaan?"


Sean merapal mantra pengubah ingatan pada mereka dan mantra halusinasi. Lalu, menyerahkannya pada Kazuto.


"Tidak perlu membuang tenagamu. Cukup lemparkan mereka ke istananya. Aku sudah memasang mantra yang akan membuat mereka ketakutan dan menggila setiap melihat wanita." ucap Sean dengan senyum miringnya.


"Wow, sungguh hukuman yang indah."


"Itulah akibatnya jika menghina wanitaku dan memaksa putriku"

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo semuanya, ini adalah novel pertama yang kubuat, jadi kritik dan saran dari kalian sangat berguna. Cerita ini murni tanpa ada unsur plagiat.


__ADS_2