Fate Of The Princess

Fate Of The Princess
Keluarga Thampson


__ADS_3

"Vrey, kurangi kecepatan mobilmu. Mereka sudah tidur," ucap Evelyn sambil menoleh ke arah Elena dan Hotaru yang tidur bersandar karena kelelahan. Termasuk Lis yang seperti orang pingsan.


"Baik, bu." Vrey berpikir lebih baik besok saja membawa mereka ke markasnya.


Kenzo tersenyum tipis, "Melihat mereka tidur dengan seperti ini, membuatku hampir lupa dengan kekuatan mereka yang seperti monster. Aku jadi penasaran dengan asal mereka."


"Kau benar, gadis kecilku memang begitu misterius. Aku bahkan tidak tahu darimana asal kekuatannya," Kemudian, Evelyn menceritakan tentang semua hal yang sudah terjadi ketika pembantaian itu. Kenzo terpana dengan kemampuan Elena yang bahkan bisa meratakan satu kerajaan. Sedangkan Vrey terdiam sepanjang waktu.


"Ada apa, Vrey?"


"Aku hanya khawatir padanya, bu. Semakin besar kekuatannya, semakin besar pula tanggung jawabnya. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada kedua adikku itu," jawab Vrey.


Seketika Kenzo dan Evelyn terdiam dan saling memandang. Mereka teringat dengan perkataan Ratu Peri Rose tentang takdir yang akan Elena hadapi.


Kenzo memeluk Evelyn dari samping, "Kita akan melakukan yang terbaik untuk mereka."


"Benar, mereka pasti sudah mengalami banyak hal yang menyakitkan. Karena itu, aku akan memberikan seluruh kasih sayangku sebagai ibu pada anak-anak itu," balas Evelyn dengan senyum teduh.


Setelah beberapa jam berlalu, mereka pun sampai di rumah Vrey yang berada di kota. Evelyn membawa tubuh mungil Lis dengan kedua tangannya. Kenzo menggendong Hotaru.


"Kak Vrey, pelurunya sudah habis....hum..." Elena mengigau tidak jelas.


Vrey tersenyum geli melihat gadis di gendongannya, "Dasar, apa yang sedang kau mimpikan?" Mereka pun masuk ke dalam mansionnya.



Tidak ada pelayan ataupun penjaga dirumahnya itu. Karena Vrey jarang pulang dan Kenzo selalu membantu kakaknya mengurus pack sambil mencari informasi tentang keberadaan istrinya.


Walaupun begitu, keamanan mansion Vrey sangatlah terjamin karena dia selalu memeriksanya melalui cctv yang tersambung ke markas.


Mereka pun membawa Elena dan lainnya ke salah satu kamar utama dan membaringkannya ke kasur mereka.


Evelyn khawatir kalau Lis akan tertimpa, jadi dia meletakkannya di sofa kecil yang berada dekat dengan tempat tidur.


"Lili, jangan pergi..." Elena menangis dalam tidurnya.


Kenzo menghapus air mata yang mengalir di wajah gadis itu, "Tidurlah dengan tenang, putriku."


"Mimpi buruk, kah?" tanya Evelyn. Kenzo mengangguk.


"Sebenarnya apa yang sudah mereka alami?


"Ntahlah."


Vrey melihat mereka yang sudah tenang, "Sebaiknya ayah dan ibu beristirahat."


"Bagaimana denganmu?"


"Ada sesuatu yang harus kuurus."


"Ayo, sayang. Kita ke kamar sebelah." Kenzo membawa Evelyn pergi untuk beristirahat. Kecuali Vrey yang menuju ruang kerjanya.


Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, "Kosongkan salah satu Mall untukku dan kumpulkan seluruh anggota sebelum malam tiba." Lalu mematikan panggilannya.


Lis terbangun lebih dulu ketika matahari sudah terbit. Dia melihat sekelilingnya dengan rasa bingung yang besar.


"Aku ada dimana?!"


Teriakan darinya membuat Elena dan Hotaru ikut bangun.


"Ada apa, Lis?"


"Kenapa kau berisik sekali, pendek?"


"Coba kalian kemari."


"Kita di istana ya?" tanya Hotaru setelah beberapa saat.


"Tentu saja bukan," jawab Elena sambil tertawa kecil.


Suara pintu yang terbuka membuat mereka menoleh, "Kak Vrey."


"Bersihkan diri kalian. Lalu, temui aku di ruang makan." Dan pergi begitu saja.


Selesai bersiap, mereka mencari Vrey yang akhirnya berhasil ditemukan setelah mengelilingi mansion itu.


"Eh?"


"Paman dan Bibi sudah bangun?" tanya Elena.


"Kemarilah, sayang. Kita makan bersama." ucap Evelyn.


Suasana tenang di ruang makan membuat Elena teringat kembali dengan keluarganya. Dia tersenyum saat melihat Lis yang antusias dengan biskuitnya. Sifatnya yang menggemaskan itu mirip dengan adiknya ketika makan.


"Ada apa, Elena?" tanya Lis.


"Ah, tidak apa-apa." jawab Elena sambil tersenyum.


Setelah selesai makan, Vrey membawa mereka menuju salah satu Mall terbesar di negara itu.


Kenzo dan Evelyn naik mobil yang berbeda dengan Vrey.


Ketika sudah sampai, Lis yang mengintip dibalik saku kemeja Kenzo merasa terpesona dengan tempat yang baru dia lihat. Para pekerja juga menyambut kedatangan tamu mereka dengan penuh rasa hormat.


Elena tersenyum gugup ketika Evelyn yang sangat bersemangat untuk membelikan berbagai kebutuhan mereka.


"Bibi, aku rasa ini terlalu berlebihan."


Evelyn melotot ke arah mereka, "Apapun akan kulakukan untuk gadis kecilku."


"Tapi...."


Vrey yang sedari tadi mengikuti mereka mengelus kepala mereka.


"Sejak dulu ibuku selalu ingin punya anak perempuan. Tapi, yah...banyak hal yang sudah terjadi. Kuharap kalian bisa mengerti."


"Biarkan dia menikmati kesenangannya, Nak," balas Kenzo.


"Be-begitu ya..."


Elena tersenyum tipis, "Apa mau kubawakan barangnya, Bibi?"


"Tidak perlu, sayang. Nanti petugas Mall akan mengantarnya ke rumah," ucap Evelyn. Lalu pergi ke toko baju.


Mereka hanya bisa pasrah melihat Evelyn langsung mengambil berbagai gaun setelah tahu ukuran masing-masing.


"Aku merasa tidak pantas dengan semua hal yang berkilau ini, Elena."


"Jika kita menolaknya, dia akan bersedih. Apa kau mau begitu?"


"Tidak..."


Mereka pun mengelilingi toko itu. Mata Elena berbinar ketika melihat salah satu pakaian yang menarik perhatiannya.


"Keren sekali."


"Mau kubelikan?" tanya Vrey.


"Tidak perlu, aku punya uang kok."


"Kau dapat darimana?"

__ADS_1


"Sial!" Elena reflek menutup mulutnya.


"Sepertinya aku menghilangkannya, Haha," Elena tertawa canggung. Hotaru sweatdrop melihatnya yang nyaris keceplosan.


"Ini untuk kalian. Aku masih punya yang lain," Vrey memberikan kartu hitam kepada mereka.


Elena memandang kartu yang dipegangnya dengan ekspresi yang rumit.


"Hotaru, bagaimana cara menggunakannya?"


"Dulu waktu ayahku membawa kami ke kota, aku melihatnya menyerahkan kartu itu untuk membayar barang. Tapi, warnanya tidak seperti ini."


"Hm..."


"Ada apa, anak-anak?" tanya Kenzo


"Paman, bisakah kau jelaskan tentang ini?" tanya Elena balik sambil menunjukkan kartu hitamnya.


"Haish. Bisa-bisanya dia tidak menjelaskan hal sepenting itu."


"Ini adalah kartu dengan saldo tanpa batas. Setidaknya kalian tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar kebutuhan kalian," jelas Kenzo.


Tatapan Hotaru menjadi horor saat Elena menyerahkan kartunya dengan santai.


"Kalau begitu, kau saja yang pegang."


"Tapi..."


"Ambil saja." Hotaru mengangguk lesu.


"Kalian sedang apa disini?" tanya Evelyn.


"Aku mau ambil baju ini, Bibi."


Tanpa basa-basi, Evelyn langsung meletakkan baju pilihan Elena ke tumpukan pakaian yang sudah dipilihnya.


"Apa ada lagi yang ingin anda beli, Nyonya?" tanya petugas kasir.


"Hanya itu saja."


"Biar aku yang bayar, Bibi," ucap Hotaru.


"Simpan saja kartu itu. Uangku tidak akan habis hanya membeli sedikit baju," balas Evelyn santai.


Belum sempat Elena membalas, Evelyn menyeret mereka untuk membeli barang lainnya seperti make up serta tas. Lalu pergi ke toko hp dan tidak membiarkan mereka membayar. Akhirnya, kartu hitam itupun terbengkalai.


"Hahahaha, ibuku benar-benar memanjakan kalian ya."


"Kalau begitu, buat apa kau berikan kartu ini jika tidak berguna, kak?" tanya Elena dengan wajah kusut. Hotaru juga tidak ada bedanya.


Vrey mendengus geli, "Daripada wajah kalian tidak karuan seperti itu, lebih baik ku ajarkan cara menggunakan benda ini," Elena dan Hotaru fokus dengan ponsel yang mereka beli sambil mendengarkan perkataan Vrey. Hal itu tidak luput dari pengamatan Kenzo dan istrinya.


"Hehe, mereka menggemaskan sekali," ucap Evelyn sambil tersenyum manis.


"Jarang sekali aku melihatnya seperti itu," Kenzo tersenyum melihat tatapan Vrey yang hangat ketika melihat rasa antusias kedua adik barunya.


Kemudian, Vrey melihat ada beberapa orang yang ingin menghampirinya. Dia segera menemui mereka ketika saat Elena dan Hotaru masih asyik dengan kesibukannya.


"Apakah mereka sudah dikumpulkan?"


"Sesuai perintah anda, tuan."


"Maaf jika saya menyela. Siapa dua gadis yang sedang bersama anda?"


"Adikku. Beritahu kedatangan kami pada mereka.


"Lalu, antarkan barang yang sudah dibeli oleh ibuku. Kalian hanya punya waktu sampai besok."


Vrey langsung menghampiri mereka saat urusannya selesai.


"Lama menunggu, ya?"


"Tidak kok, kak." jawab Elena dengan senyum tipis.


"Dimana ayah dan ibu?"


"Sebelah sana," balas Hotaru singkat sambil menunjuk Kenzo dan Evelyn yang sedang makan es krim berduaan.


Tiba-tiba saja Lis datang menghampiri mereka dengan wajah yang merana.


"Kenapa kau kesini?"


"Huwaa, aku tidak tahan dengan kemesraan mereka berdua," jawab Lis merengek.


"Makanya cari pasangan," ejek Hotaru.


"Yakkk! Kau kira semudah itu?" Lis mendengus ketika Hotaru menertawakannya.


"Yasudah, kau kembali saja ke dimensiku," bisik Elena.


"Eh? Boleh?" Dia melambaikan tangannya dan Lis pun masuk kesana.


"Kemana peri kecil itu?" tanya Vrey.


"Dia ingin istirahat, kak."


"Begitu, ya. Hm, selagi mereka berdua sedang bersantai, bagaimana kalau kita langsung berangkat?"


Elena mengangguk antusias, "Ayo, kak."


Kemudian, Elena dan Hotaru pergi ke ruang ganti untuk mengubah pakaian mereka. Lalu pergi diam-diam meninggalkan pasangan yang sedang lupa akan sekitarnya.


#Markas Vrey#


Tap...


Tap....


Tap.....


"Selamat datang, Tuan dan Nona." Vrey membalas sapaan mereka dengan anggukan. Lalu, dia melihat penampilan adik-adiknya yang cukup mencolok.


Elena mengenakan baju berlengan sampai siku, hotpants, sepatu boots dan sarung tangan fingerless. Rambut hitam yang tergerai dengan anggun serta tatapannya yang siap memangsa musuhnya.


Disisi lain, Hotaru menggunakan baju tanpa lengan berwarna putih, jaket hitam yang tidak dikancing, serta celana panjang berwarna hitam dengan sepatu heels pendek.


Para anggota mafia yang melihat Tuan Muda Thampson itu membawa dua gadis asing tidak bisa untuk tidak tunduk ketika aura keduanya sudah seperti tuan mereka. Begitu dingin dan menusuk.


Salah satu dari anggotanya berinisiatif untuk membawakan kursi untuk tamu mereka.


"Silahkan duduk, Nona." Elena mengangguk.


Hotaru mengernyit ketika mencium sesuatu, "Bau ini..." Dia melihat Elena yang mengangguk padanya.


Kemudian, Elena melihat seluruh anggota yang hadir dengan tatapan datar. Termasuk dengan beberapa orang yang sedang dalam posisi terikat.


"Hm, ternyata bukan manusia biasa, ya?"


"Buka kain penutup wajahnya!" perintah Vrey.


SRAK

__ADS_1


"Tuan, apa kesalahan yang telah kami perbuat?" tanya salah satu dari mereka setelah wajahnya terlihat.


"Menyebarkan obat terlarang dan menganiaya gadis dibawah umur. Apa kalian pikir hal ini tidak akan diketahui olehku?!" Suasana di ruangan itu menjadi mencekam ketika tatapan Vrey semakin tajam.


"Tidak mungkin, tuan. Untuk apa kami melakukan hal yang sehina itu?


"Katakan dengan jujur atau...."


"Tenanglah, Kak Vrey," potong Elena.


"Mereka hanya dijadikan kambing hitam. Aku sudah tau siapa orangnya," Elena melirik ke dua anggota yang ingin kabur secara diam-diam. Dia melemparkan belatinya ke arah mereka.


JLEB...


"Bagaimana mungkin teknik kamuflaseku bisa gagal?


"Sial, belati kecil ini bisa melukaiku?" Mereka berusaha mencabutnya.


Elena berjalan ke arah mereka dengan menyeringai, "Jika belati itu dicabut, rasa sakitnya akan semakin bertambah. Aku tidak ingin kalian mati begitu cepat, jadi..." Dia menekan belati yang tertancap di kaki mereka.


SRET...


"Aghhh!"


"Jelaskan!"


"Tentu saja untuk bersenang-senang!"


Elena menjentikkan jarinya dan keluarlah sulur yang mengikat kedua penjahat itu.


"Apa yang salah dengan ucapan kami? Manusia atau bukan juga butuh kesenangan pribadi kan?!


"Sudah berapa kali kalian melakukannya?"


"Anak kecil sepertimu tidak perlu tau urusan orang dewasa!"


"Hem, begitu ya..." Mata Elena berkilat ketika mendengar jawaban mereka.


"Mundurlah sedikit. Bawa teman-teman kalian dan lepaskan ikatan mereka." Anggota lainnya langsung menuruti perintah sang nona. Elena menjentikkan jarinya dan keluarlah perisai untuk melindungi mereka.


"Apa yang kau lakukan?!" Mereka merasa sesak ketika ada asap keluar dari sulur yang dia buat sebelumnya.


"Melihat penderitaan kalian."


"Kak Vrey, pinjamkan senjatamu." Dia langsung menangkap pistol yang dilempar Vrey.


"Aku ingin mencoba sesuatu," gumam Elena.


Dia menyelipkan elemen api pada senjatanya dan menembak ke arah mereka.


Dor dor dor


"Uaghhhh!" Asap racun semakin masuk ke dalam pembuluh darah mereka melalui luka tembakan dari pistolnya.


Sedangkan mereka yang berada dalam barrier memandang kejadian itu dengan raut wajah yang berbeda.


"Aku mendengar dia bilang sesuatu tentang racun. Apa dia baik-baik saja?" tanya Vrey khawatir.


"Aku percaya padanya," jawab Hotaru.


"Tuan, adik anda hebat sekali."


"Tentu saja. Bahkan dia jauh lebih kuat dariku."


"Benarkah?" Mereka shock mendengar balasan Vrey.


"Jangan melihat segala sesuatu dari luarnya."


Mereka mengalihkan pandangannya ke gadis yang sedang menikmati penyiksaan yang dilakukannya.


Elena tertawa pelan, "Ayolah. Dimana kekuatan kalian saat melecehkan mereka, hm?"


Para bajingan itu berusaha melepaskan diri, tapi sulur hitamnya semakin kuat mengikat mereka. Usaha yang sia-sia. Beberapa waktu kemudian, sulur hitam beserta asap racunnya pun menghilang.


Elena memberi isyarat untuk mendekat. Hotaru, Vrey dan lainnya tercengang melihat tubuh mereka seperti meleleh tanpa tulang.


"Hotaru..." Dengan sigap, dia langsung memberikan botol giok pada Elena.


"Benda apa itu?" tanya Vrey ketika mayat itu menghilang dengan sendirinya hanya dengan cairan yang diteteskan Elena.


"Seperti asam sulfat, hanya lebih berbahaya," jawab Hotaru.


"Oh, begitu ya." Vrey merasa bangga melihat kejeniusan adiknya yang bisa membuat cairan seperti itu.


Elena melihat beberapa orang yang sebelumnya disebut pengkhianat, "Walaupun kalian tidak bersalah, bukan berarti kalian bebas dari hukuman."


"Kami akan menerimanya, nona."


Dia mengucapkan mantra dan menempelkan jarinya ke kening mereka.


"Aku akan memberi kesempatan. Buktikan kalau kalian tidak seperti kedua mayat itu. Jalankan tugas dengan baik dan jangan macam-macam. Sedikit saja kalian memiliki niat untuk menjadi pengkhianat, tubuh kalian akan membusuk secara perlahan."


"Baik, nona. Kami akan menjalankan perintah anda dengan semestinya."


Dia mengalihkan pandangannya pada anggota yang lain, "Aku memang tidak melakukan apapun pada kalian. Tapi, aku harap kalian bisa tetap seperti sekarang dan membantu pimpinan kalian."


"Periksa lebih dulu misi yang akan diambil. Jangan asal menerima lalu membunuh orang yang tidak bersalah atau aku akan menghukum kalian."


"Kami tidak akan mengecewakan anda dan Tuan Vrey."


Elena tersenyum lembut melihat ketulusan di mata mereka, "Tolong jaga dia selama kami tidak ada disini."


"Memangnya kalian mau kemana?" tanya Vrey. Elena hanya senyum penuh arti.


"Tuan...maksudku ehm, Kak Vrey. Kita sudah terlalu lama disini. Mereka pasti mencari kita," ucap Hotaru dengan nada canggung.


Vrey tersenyum maklum dan mengusap kepalanya lembut, "Tunggulah di mobil. Aku akan menyusul."


Setelah mereka berdua pergi, tatapan Vrey kembali dingin seperti biasa. Anak buahnya merinding karena tidak siap dengan perubahan yang mendadak itu.


"Tu-tuan..."


"Kalian sudah tau bukan apa yang terjadi jika melanggar perintahnya?"


"Tentu saja, tuan. Kami sadar akan hal itu."


"Hm, ternyata kalian cukup pintar."


"Maaf jika saya lancang, tuan. Sesaat saya mencium aroma darah yang berbeda dari adik-adik anda. Khususnya pada nona yang mengeksekusi dua pria tadi."


"Benar, tuan. Saya juga merasakan kekuatan besar darinya yang tertahan oleh sesuatu."


"Bagaimana menurut kalian tentang dia?"


"Kami sangat berterimakasih padanya karena telah memberi kesempatan untuk memperbaiki keteledoran kami yang tidak bisa menghentikan mereka," ucap salah seorang pria yang sempat dituduh sebagai pengkhianat.


Bisa saja Elena membunuh mereka supaya tidak ada kesalahan di masa depan, tapi dia lebih memilih untuk membiarkannya karena dia tidak ingin melukai seseorang yang memang tidak bersalah.


"Kebaikan beliau sama dengan anda ketika menyelamatkan kami dari para pemburu serakah yang ingin memanfaatkan kemampuan manusia hybrid."


"Kalau begitu, tingkatkan kemampuan kalian dan jangan mengecewakannya."

__ADS_1


__ADS_2