
Harrison bersaudara selalu menjaga Elena. Terutama Luke, yang tidak beranjak dari tempatnya sejak Elena pingsan dan terus menatapnya dengan sendu. Hal ini membuat Darius dan Stevan melihat mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.
Flashback
"Stev, apa kau tau arti benang merah dalam bangsa immortal seperti kita?" tanya Darius
"Kenapa kau bertanya begitu, kak?" tanya Stevan balik dengan bingung.
"Mungkin ini sulit untuk dipercaya, tapi aku melihatnya pada mereka," jawab Darius.
Stevan terkejut dengan penjelasannya, "Ka-kau serius?"
"Aku tidak pernah bercanda jika berurusan dengan takdir, Stev," jawab Darius datar.
"Lalu, kita harus bagaimana?"
"Meskipun aku berharap mereka bahagia, tapi kita tidak tau seperti apa masa depan. Jadi, yang bisa kulakukan adalah melindunginya," jelas Darius.
"Kau yakin, kak? Kau sudah melihat sendiri pertarungannya. Dia adalah tipe yang tidak suka dilindungi," balas Stevan.
"Aku tahu...," lirih Darius.
"Dia terlalu hebat untuk manusia biasa," timpal Stevan.
"Seaneh apapun Elena, dia tetap adik kita. Benarkan?" tanya Darius.
"Tentu saja," jawab Stevan
Back to the now.
Elena membuka matanya perlahan, "Uhh..."
"Elena?" panggil mereka.
"Kakak," balas Elena.
Luke membantunya duduk, "Pelan-pelan."
"Iya..."
Darius ingin memeluk Elena, "Adik kecilku yang—ugh!" ucapannya terpotong karena disikut oleh Stevan.
"Dia baru bangun. Jangan sembarangan, dasar bodoh!"
Elena tertawa kecil melihat mereka, "Hehe, sudahlah, Kak Stev. Aku tidak keberatan kok."
Luke menatap mereka dengan tajam. Darius dan Stevan merinding melihat kakaknya.
"Tapi pria di sebelahmu itu amat sangat keberatan!"
Luke menatap Elena dengan lembut, "Apa kau sudah membaik?"
"Tentu saja, sekarang aku bisa berlari sejauh yang aku mau," jawab Elena.
"Bersihkan dirimu. Kita akan jalan-jalan," kata Luke.
"Siap, kak!"
"Akhirnya aku bisa melihat secara langsung, bukan dari penglihatan dari Kak Liu saja," batinnya yang antusias.
Mereka turun ke lantai bawah. Harrison bersaudara menunggu di ruang tamu untuk minum teh sambil menunggu Elena. Teh adalah salah satu cara mereka supaya tidak kecanduan dengan darah.
"Kak Luke," panggil Darius.
"Hm?"
"Kau jatuh cinta pada Elena?" tanya Darius dengan frontal.
Luke tersedak, "Uhuk-uhuk! Apa yang kau bicarakan?" tanyanya.
Darius tersenyum tipis, "Aku serius, kak. Jujur saja pada kami."
"Aku tidak tahu..." lirih Luke.
"Memangnya apa yang kau rasakan saat melihat Elena?" tanya Stevan.
"Rumit dan...campur aduk," jawab Luke.
Darius dan Stevan saling melirik secara diam-diam, "Tidak salah lagi," batin mereka.
"Kakak! Aku sudah siap." panggil Elena.
"Ayo, kita pergi." balas Luke sambil memegang tangannya.
Darius dan Stevan sepakat akan satu hal. Kakak mereka yang dingin dengan wanita, bisa jatuh cinta dengan gadis kecil meskipun dia tidak menyadarinya.
Mereka pergi naik mobil menuju salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di kota mereka. Sesampainya disana, Elena begitu antusias melihat segala hal yang terasa baru baginya. Harrison bersaudara merasa gemas saat Elena selalu bertanya pada hal yang sudah mereka ketahui.
Mereka pergi ke salah satu restoran dan memesan makanan untuk Elena. Saat Elena sedang makan dengan tenang, ada tiga gadis cantik yang mendekati mereka.
"Hai, tampan," sapa gadis pertama dengan menggoda.
Mereka mengabaikannya.
"Boleh kami bergabung?"
"Maaf, nona. Silahkan cari tempat lain," jawab Darius dengan senyuman yang tidak sampai ke matanya.
"Kalau begitu, apa setelah ini kalian bersedia ikut dengan kami?"
Elena merasa kesal karena waktu makannya terganggu, "Kak, kenapa bibi ini berisik sekali? Aku jadi tidak selera makan," ucapnya dengan dingin dan menatap gadis itu dengan menusuk.
"Apa kau bilang? Bibi?" tanya gadis satunya dengan marah.
"Apa aku perlu mengulanginya?" tanya Elena balik.
"Kau!"
"Kalian berdua tenanglah. Dik, kami hanya ingin berteman dengan kakakmu. Apa boleh?"
tanya gadis yang ketiga dengan suara manis.
__ADS_1
"Berisik sekali," ucap Luke dengan suara rendah.
"Sebaiknya kalian pergi," balas Stevan.
"Apa kalian dengar jawaban mereka? Atau aku perlu menusuk telinga kalian?" tanya Elena dengan tajam.
"Kau!"
"Beraninya!"
"Apa kalian tidak tau siapa kami?!"
Karena Elena merasa muak, dia melemparkan kepala ikan ke wajah cantik salah satu gadis itu.
"Tina!" panggil temannya
"Jal*ng! Beraninya kau menodai wajah cantikku!"
Kemudian, Elena melemparkan tusuk gigi dan mengenai titik akupuntur mereka yang menyebabkan para gadis itu tidak sadarkan diri.
"Bercerminlah dulu sebelum menghinaku!" desis Elena.
Para pengunjung juga pelayan yang melihatnya hanya bisa terdiam. Darius mengganti kerugian yang mereka sebabkan. Setelahnya mereka memutuskan untuk kembali.
"Tenanglah, Elena," kata Darius.
"Aku kesal, kak. Beraninya mereka menggoda kalian disaat aku sedang makan. Sungguh menghilangkan seleraku," sungut Elena.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Stevan.
"Aku hanya membuat mereka pingsan selama beberapa hari," jawab Elena dengan senyum lebar.
Luke tersenyum kecil, "Kerja bagus," pujinya
Elena mengangguk sambil tersenyum manis.
Mereka berlibur selama beberapa hari dan mengunjungi berbagai tempat yang berbeda-beda. Mata Elena yang berbinar cerah membuat Luke tersenyum lembut. Darius yang ingin menertawakannya segera di sikut oleh Stevan.
Setelahnya, mereka segera kembali. Saat mereka mulai dekat, Elena merasakan perasaan buruk.
"Kak, tolong percepat mobilnya." kata Elena.
"Kenapa?" tanya Darius.
"Aku merasakan adanya bahaya."
Stevan meningkatkan kecepatannya dan saat mereka sampai, mereka terkejut dengan keadaan rumah mereka yang kacau.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Darius.
Elena tersentak dan menoleh ke belakang saat merasakan aura gelap yang cukup kuat. Membuat mereka ikut menoleh ke arah yang dilihatnya. Benar saja, keluarlah seorang gadis cantik berambut hitam keunguan bersama dengan pasukannya.
"Alice!" Luke mengeraskan rahangnya saat melihat siapa yang datang.
"Lama tidak berjumpa, sayang."
"Jangan memanggilku dengan sebutan menjijikan itu!"
"Benar-benar mirip jal*ng." sahut Stevan dengan tatapan hina.
Alice berusaha menahan emosinya. Kemudian dia melihat Elena yang bersama mereka.
"Jadi dia ya orangnya? Imut sekali," ucap Alice dengan senyum palsu.
"Ternyata kau sebab dari penyerangan vampir waktu itu." balas Elena dingin.
"Tentu saja. Awalnya aku ingin membawa mereka secara baik-baik, tapi mereka menolakku. Jadi aku harus menggunakan kekerasan," kata Alice.
"Lalu, kenapa mereka mengincarku?" tanya Elena.
"Hehe, itu hanya pengalihan saja, sayang," jawab Alice.
"Apa kau benar-benar manusia biasa?" lanjutnya
"Kau vampir kan? Apa hidungmu bermasalah?" tanya Elena balik.
"Tentu saja. Aku bisa mencium aromamu yang benar-benar membuatku berselera. Hanya saja auramu berbeda dengan manusia biasa."
Mendengar Alice yang tertarik dengan Elena, membuat Luke maju dan mencoba melindunginya.
"Jangan coba-coba, Alice!"
"Hehehe, aku akan menawarkan satu hal. Kalian ingin mendengarnya?" tanya Alice sambil tertawa kecil.
"Kami tidak akan tertarik dengan tawaranmu," jawab Stevan sinis.
"Jahat sekali, dengarkan aku dulu," ucap Alice dengan ekspresi sok sedih.
"Aku akan membiarkan gadis itu hidup. Dengan syarat, kalian harus ikut denganku. Bagaimana? Menarik bukan?" lanjutnya.
Tiba-tiba, ada sebuah jarum perak yang berhasil mengenai wajah Alice. Membuatnya terkejut karena benda sekecil itu bisa melukainya.
"Sudah selesai bicaranya?" tanya Elena dengan tatapan membunuh.
"Elena..." panggil mereka dengan khawatir.
Alice menyeringai tipis, "Kau hebat juga karena bisa melukaiku. Karena itu, aku akan membawamu untuk ikut dengan kami."
Alice bertepuk tangan dua kali dan muncullah pasukan dalam jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya.
"Mustahil."
Alice menyeringai, "Aku sudah memberi kalian kesempatan. Tapi kalian menolaknya. Bawa mereka ke hadapanku!"
Keluarga Harrison dan Elena bertarung dengan pasukan vampir yang bercampur dengan mayat hidup atau zombie. Mereka mengeluarkan kekuatan mereka, termasuk Elena yang membuat pedang dari elemen apinya. Mereka bisa melawan para vampir dengan mudah, tapi sangat sulit melawan zombie. Karena mereka tidak akan mati entah berapa kali mereka di serang. Merasa tidak tau harus bagaimana, Elena menghubungi Liu.
"Kak Liu, aku tidak pernah menghadapi makhluk seaneh ini. Bagaimana caranya aku bisa menghabisi mereka?" mindlink Elena.
"Satu-satunya cara hanyalah dengan memurnikan mereka," jawab Liu.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Aku akan melemahkan segelmu. Kemudian, gunakan elemen cahaya untuk mengalahkan mereka. Kau boleh menggunakan elemen lain, tapi jangan lama-lama."
"Bagaimana jika terjadi sesuatu?"
"Gunakan formasi yang sudah kau pelajari."
"Baiklah, kak."
Elena memutuskan komunikasinya dan terbang ke atas.
"Kakak, cepat menyingkir!"
Mereka mengikuti ucapannya dan segera menjauh dari lokasi mereka.
Elena menegakkan pedangnya, dan menutup matanya sejenak. Alice yang khawatir dengan apa yang ingin Elena lakukan, segera melemparkan serangan ke arahnya. Luke menyerang balik sehingga dua energi yang berbeda terbentur dan menghasilkan ledakan.
Setelah asap bekas ledakan itu menghilang, Elena muncul dengan matanya yang bercahaya.
"Formasi Pemurnian Roh!"
Di bawah pasukan musuh, terdapat formasi yang memenuhi pertarungan mereka. Seketika, para zombie dan sisa pasukan vampir yang tersisa menghilang tidak meninggalkan bekas. Alice merasa marah karena rencananya gagal hanya karena seorang anak kecil!
Elena mendarat dengan perlahan. Mereka pun menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak terluka kan?"
"Apa kau merasa ada yang aneh dengan tubuhmu?"
Elena tertawa kecil karena di hujani banyak pertanyaan, "Aku tidak apa-apa, kak," balasnya.
"Yah, setidaknya sekarang aku bisa menggunakan beberapa elemen dan formasi untuk menutupi kelemahanku," batin Elena.
Alice menatap Elena dengan marah, "Beraninya kau!"
Alice menembakkan panah cahaya ke arahnya. Elena membuat perisai untuk melindungi mereka.
Elena menatap Alice rumit, "Dia bisa menggunakan elemen cahaya? Tapi kenapa aku merasa ada yang lain dengan serangannya?" batinnya.
"Elena, cahaya yang dia keluarkan tidaklah murni. Dia adalah seseorang yang sudah tercemar." mindlink Liu.
"Pantas saja," ucap Elena.
"Dasar jal*ng! Kenapa kau merusak rencanaku?!"
"Aku tidak akan membiarkan tujuanmu berhasil. Enak saja kau ingin membawa kakakku yang tampan ini. Sebaiknya kau bangun dari mimpimu!"
Luke tersenyum tipis mendengar Elena yang menyebut mereka tampan. Hal ini tidak luput dari penglihatan Alice dan membuatnya geram.
"Lucas! Kenapa kau diam saja?!" teriak Alice.
Tatapan Elena semakin dingin, "Jangan menyebut namanya dengan mulutmu yang kotor itu!"
Alice pun menyerang Elena yang tentu saja di balas olehnya dan menendangnya balik ke arah hutan. Elena mengeluarkan pedangnya kemudian masuk ke dalam hutan dan kembali menyerang Alice. Terjadilah aksi serang-menyerang di antara mereka.
"Lucas milikku! Gadis manapun termasuk kau tidak boleh mendekatinya!"
"Heh? Milikmu?" Elena menyeringai. Elena menendangnya sampai salah satu batang pohon retak.
"Uhuk-uhuk! Sial!"
Elena mengeluarkan elemen angin dan langsung menebasnya. Alice pun jatuh terkulai. Dengan sisa tenaganya, dia menggunakan teleportasi untuk melarikan diri. Setelahnya, Luke dan lainnya menghampiri Elena dengan cemas. Mereka terkejut saat melihat rambut Elena yang putih sebagian.
"Elena...rambutmu..." ucap Darius yang sulit percaya apa yang dia lihat.
"Menjauh dariku!" bentak Elena.
"Elena..." panggil Luke yang berusaha mendekatinya.
Elena mengeluarkan elemen apinya yang di tangkis oleh Stevan.
"Kumohon. Pergilah." ucap Elena sendu.
"Kenapa?" tanya Luke dengan lirihnya.
"Berikan kami alasan yang tepat, Elena." balas Stevan.
"Aku ini monster, kak. Aku kehilangan keluargaku karena mereka melindungiku. Sekarang kalian diserang karena mereka tau keberadaanku. Aku hanya membahayakan kalian," ucap Elena dengan air mata yang mengalir.
"Kau tidak membahayakan kami, Elena. Kumohon jangan bicara seperti itu," balas Luke.
"Adik kecilku, jangan pergi," kata Darius lirih.
Elena tersenyum kecut, "Formasi Teleportasi," gumamnya.
Muncullah lingkaran formasi yang siap membawanya pergi.
"Maafkan aku, kak. Terima kasih atas semuanya. Aku...sangat senang karena bertemu dengan kalian." kata Elena sambil tersenyum tipis.
"Sampai jumpa lagi, kakakku yang tampan." lanjutnya.
"Tidak! Jangan!" teriak Luke.
"Kak Luke—"
Elena pun pergi bersamaan dengan hilangnya formasi itu.
"Elena!!!"
Luke hendak mengejarnya, namun di tahan oleh mereka.
"Lepaskan aku, sial*n!"
"Percuma, kak! Dia sudah pergi!" bentak Darius.
"Bajing*n! Biarkan aku mengejarnya!"
"Maaf, kak." Stevan terpaksa memukul tengkuk Luke sampai dia pingsan.
Mereka membawa Luke masuk ke rumah dan meninggalkan tempat yang menyakitkan itu.
__ADS_1