Fate Of The Princess

Fate Of The Princess
Sebuah Petunjuk


__ADS_3

Saat mereka sudah kembali ke mansion, mereka disambut dengan Evelyn yang memasang senyum yang diselubungi aura gelap. Bisa-bisanya mereka pergi tanpa mengabarinya lebih dulu, pikirnya.


"Tenanglah bu, aku hanya membawa mereka ke tempatku saja, jadi..." Vrey menelan ludahnya dengan susah payah ketika sang ibu mulai berekspresi seperti itu.


"Jangan marah, Bibi. Kami merasa tidak nyaman jika menganggu waktu kalian," balas Elena. Dia tidak ingin merusak momen pasangan yang sudah berpisah sekian lama.


"Berhentilah menyebutku bibi, gadis nakal. Kau bukan keponakanku."


"Apa Vrey belum memberitahu kalian tentang hal itu?" Kenzo bertanya mengenai keputusan mereka untuk mengangkat kedua gadis itu sebagai anak.


Tentu saja Elena ingat, hanya saja dia masih sulit untuk memanggil mereka dengan sebutan itu.


"Maaf, aku lupa....Mom," ucap Hotaru pelan.


Elena terdiam menatap Evelyn yang bahagia hanya dengan panggilan ibu dari Hotaru.


"Kenapa, sayang?" Evelyn bingung kenapa dia hanya diam saja.


Elena hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.


"Huft, dasar kau ini..." Evelyn menarik Elena kepelukannya.


Air matanya menetes ketika merasakan pelukan hangat dari wanita itu. Elena merasa tidak pantas menerima kasih sayang dari mereka. Bagaimana mungkin dia bisa bahagia ketika mengingat saat-saat terakhir orangtuanya? Bahkan dia tidak tahu bagaimana harus mencari adiknya.


"Menangislah sayang jika itu bisa membuatmu lega," ucap Evelyn lembut.


Elena menyeka air matanya, "Aku hanya kelilipan. Jangan khawatir, Mom..." suaranya memelan di akhir kata.


Hotaru sudah mengetahui semuanya dari Liu. Termasuk tentang Elena yang menjadi korban dari pembantaian itu. Jadi, dia sangat paham seperti apa perasaannya sekarang.


Elena segera mengalihkan pembicaraan mereka, "Kak Vrey, apa aku boleh membawa orang lain kesini?"


"Tentu saja." Vrey percaya bahwa Elena tidak akan salah memilih orang.


Elena tersenyum tipis, "Besok aku punya banyak hal yang harus dilakukan, jadi aku ingin istirahat."


"Baiklah. Selamat tidur ya, sayang."


Keesokan harinya...


Elena membuat pembatas di sekitar kamarnya termasuk di balkon. Lalu, mengeluarkan semua orang yang ada di dalam cincin ruangnya. Ruang tidurnya yang luas itu lebih dari cukup untuk mengumpulkan mereka dalam satu tempat.



"Wahh, akhirnya kita keluar juga," seru Xiao Yi girang.


"Benar. Rasanya sudah lama sekali tidak sebebas ini."


Tidak seperti para siluman berwujud manusia yang kebingungan dengan tempat yang baru mereka lihat, gadis-gadis bermarga Xiao merasa sangat senang karena bisa melihat kembali pemandangan yang sudah mereka lupakan. Bahkan ada yang sampai naik ke atap mansion.


"Kita jalan-jalan yuk," Usulan Xiao Ling disambut dengan antusias oleh teman-temannya.


"Nanti kalian bisa tersesat," jawab Hotaru.


Tanpa basa-basi, Xiao Yi dan lainnya langsung menyeret Hotaru untuk keluar bersama mereka. Liu tidak bisa berkata-kata melihat tingkah konyol muridnya itu.


Yin tertawa kecil, "Biarkan mereka bersantai untuk sementara waktu, Master."


Xiao Anming yang melihat kakak kesayangannya langsung memeluk Elena dengan erat. Dia tertawa kecil melihat sifat manja dari bocah itu.


"Kita belum lama bertemu, tapi kau semakin tinggi saja ya, Ming'er."


"Wajar saja, Elena. Racun yang sudah mengendap ditubuhnya membuat dia seperti anak-anak berumur 6 tahun. Sangat tidak sesuai dengan usia aslinya."


"Berapa umurmu, Ming'er?"


"10 tahun." Anming menjawabnya antusias.


"Lalu, tentang racunnya?"


"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Saya sudah menghilangkan racun yang ada ditubuhnya."

__ADS_1


Yin tidak tahan melihat bocah yang sekarang menjadi anaknya harus menderita sedemikian rupa.


Tidak cukup ibu kandungnya mati dibunuh, anak sekecil itupun harus disiksa secara perlahan oleh keluarga ayahnya. Sungguh biadab. Untung saja Elena sudah membantai mereka.


Sekalipun masih ada yang hidup diluar sana, Elena akan mempertimbangkan untuk membunuh mereka juga jika sifatnya sama seperti vampir yang jahat itu.


Kemudian, Xiao Anming menceritakan hal yang dia alami bersama keluarga barunya dengan penuh semangat. Benar-benar seperti burung yang berhasil keluar dari sangkarnya.


"Begitu, ya. Syukurlah, Ming'er."


Deg Deg Deg


Elena memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


Anming melihat kakak perempuan nya seperti menahan rasa sakit, "Jiejie tidak apa-apa?" Elena mengangguk.


"Bagaimana kondisi kalian?" Elena khawatir pada mereka yang sudah membantu memulihkan energinya ketika sedang tidak stabil.


"Kami sudah tidak apa-apa, Nona," jawab Xiao Tian.


Mereka terpaksa berbohong karena mencegah energi yang meluap dan menstabilkannya kembali butuh kekuatan yang besar. Terutama ketika Elena bisa menguasai semua elemen. Hal itu membuat pemulihan mereka lebih lama dari biasanya.


Mereka tidak mengerti mengapa kalung Elena bisa bersinar dan membantu memulihkan si pemilik.


Liu hanya mengetahui bahwa Luna, Ibu Elena yang memberikannya. Selebihnya, dia sulit menganalisa tentang asal usul kalung sapphire itu.


Mereka melamun selama beberapa saat sampai Elena bersuara, "Uhm, kalian istirahat saja. Kau juga, Kak Liu."


"Lebih baik aku keluar daripada mati kebosanan disini," Elena sweatdrop melihat mereka yang setuju dengan perkataan Liu.


"Sebelum pergi, aku sarankan paman sekalian untuk memotong rambut sesuai pria di tempat ini."


"Saya keberatan, Nona," ucap Xiao Jin tegas.


"Jika memotong rambut panjang saya yang indah ini, saya tidak akan di kelilingi oleh wanita cantik lagi," lanjutnya.


Seketika mereka menatapnya dengan ekspresi yang berbeda.


"Mulai lagi..."


"Si bodoh ini..."


"Tidak tahu malu."


Elena tersenyum geli, "Justru kau akan semakin tampan jika rambutmu dipotong, Paman." Dia langsung paham dengan reaksi mereka tentang Xiao Jin.


"Apa anda akan terpesona pada saya?" tanya Xiao Jin usil.


Yin menggeplak kepala pria bodoh itu, "Jangan menggoda gadis dibawah umur, dasar ular!"


"Ternyata kau tidak berubah ya, otak udang," ejek Xiao Bai.


"Saya harap anda terbiasa dengan sikapnya yang menyebalkan itu, Nona," balas Xiao Tian.


Bukannya marah, Xiao Jin tertawa mendengar perkataan teman-teman nya. Pada akhirnya, rambut panjang mereka bertiga dipotong dengan bantuan Elena, Liu dan Xiao Yin. Ketiga pria itu merasa lebih segar setelah rambut mereka terpotong.


Terutama Xiao Jin yang langsung mengibaskan rambutnya sambil tersenyum penuh pesona. Tentu saja senyumannya itu tidak mempan pada mereka.


Muncullah masalah baru mengenai baju. Yap, Elena berpikir tidak mungkin dia membiarkan mereka terus berpakaian seperti itu. Setelah berpikir selama beberapa saat, dia menghubungi Hotaru melalui hpnya.


"Ada apa, Elena?"


"Apa kau masih ingat tempat kita belanja sebelumnya?"


"Mall yang kemarin ya? Tentu saja aku ingat."


Elena menghela nafas lega, "Bawa mereka kesana untuk membeli kebutuhannya masing-masing. Kau bisa mengatur penyimpanannya. Usahakan tidak membuat orang lain curiga."


"Baiklah."


Elena sweatdrop melihat mereka menatap benda yang dipegangnya dengan mata yang berbinar seperti anak kecil yang melihat mainan baru.

__ADS_1


Liu berdehem sambil memelototi bawahannya yang membuat mereka tertawa canggung.


"Temuilah Hotaru. Aku sudah memintanya untuk membawa kalian pergi keluar, termasuk Ming'er."


Xiao Anming yang dari tadi diam pun merengut kesal, "Kenapa aku dibawa juga? Aku masih ingin bersama jiejie." Lagi enak-enakan tiduran di paha kakaknya, malah disuruh pergi.


"Masih ada sesuatu yang harus kulakukan, Ming'er. Menurut ya, sayang?"


"Uhm, baiklah." Elena tersenyum melihat Xiao Anming menggerutu pelan.


Elena melepaskan barriernya lalu mengantar mereka untuk menemui Hotaru dan gadis lainnya. Setelah jarak mereka cukup jauh, dia bergegas kembali ke kamarnya.


"Aku harus memulainya."


Dia mengeluarkan tungku alkimia serta bahan obat yang di perlukan untuk membuat berbagai macam pil. Setelah memilih bahan yang tepat, dia memasukkannya ke dalam tungku lalu mengatur kestabilan elemen apinya.


Waktu terus berjalan sampai jam di kamarnya menunjukkan angka sebelas. Ketika Elena sedang membuat pil terakhir, dada nya terasa nyeri.


Deg Deg Deg


"Khhh..."


Rasa sakitnya semakin menjadi ketika kalung miliknya bersinar. Setelah itu, pandangannya langsung gelap.


Tidak lama kemudian, mereka pun kembali dari Mall bersama dengan barang bawaan.


"Elena, kami sudah—" Hotaru tercengang dengan apa yang dilihatnya. Begitu juga mereka.


"Elena / Nona!!!"


......................


"Kenapa aku bisa di hutan? Bukannya tadi aku di kamar ya?" Seingatnya, dia pingsan di kamar ketika sedang membuat pil.



Tiba-tiba hutan di sekitarnya terbakar tanpa sebab. Elena tersentak ketika mendengar tangisan yang tidak asing baginya.


"Lili?"


"Paman, hiks, bangunlah. Kumohon..."


"Paman Kazu...?" Dia melihat Kazuto yang tidak sadarkan diri dengan kondisi berlumuran darah.


"Aku tidak menyangka kalau kakak iparku akan menjadi Kepala Stars Academy. Benar-benar menarik."


"Kenapa kau berbuat sejauh ini pada kami?"


Elena mengepalkan tangannya ketika melihat pria berambut pirang yang juga musuh besarnya setelah Kurotsugi.


"Salahkan kalian yang membuat sekolah yang terdiri dari orang-orang terbuang itu. Aku tidak ingin ada serangga yang merusak rencana besar tuanku."


"Aku akan berbaik hati karena kau adalah iparku. Bubarkan sekolah itu dan kalian akan bebas."


Marie menolaknya dengan tegas karena dia tahu bahwa Kaito adalah orang yang licik. Penolakannya membuat pria itu memerintahkan anggotanya untuk menyerang mereka.


Marie tidak bisa fokus menghadapi musuhnya karena dia juga harus melindungi dua orang di belakangnya.


Elena berusaha menghancurkan tembok transparan yang ada dihadapannya. Perasaannya menjadi semakin kalut ketika salah satu dari mereka berhasil menggapai adiknya.


"Tidak mungkin...."


Elena shock ketika melihat siapa pria yang mencekik adiknya.


"Sadarlah, Sean! Dia putrimu!"


"Ayah...uhh.."


Sedangkan yang dipanggil hanya diam dengan tatapannya yang begitu kosong. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Elena berhasil menghancurkan tembok itu.


Dia langsung mencegah pria yang sedang mengeraskan cengkeramannya di leher sang adik.

__ADS_1


"Jangan, ayah!!!!" Cahaya yang menyilaukan membuatnya tidak bisa melihat apapun.


__ADS_2