Fate Of The Princess

Fate Of The Princess
Menemui Ratu Evelyn


__ADS_3

Elena dan Hotaru sepakat untuk bertemu dengan Ratu di tempat yang tertera dalam suratnya. Saat mereka sudah dekat, Pangeran Ferdian muncul dan menghalangi perjalanan mereka.


"Tidak baik bagi gadis cantik untuk berjalan di lorong yang sepi dan gelap ini. Apa kalian ingin kutemani?" tanya Ferdian yang menatap mereka, lebih tepatnya Elena dengan menggoda.


Hotaru memutar matanya jengah, "Kami hanya ingin berjalan-jalan. Sebaiknya anda kembali beristirahat." ucapnya dingin.


Ferdian tidak mendengar ucapan Hotaru dan menyentuh dagu Elena dengan telunjuknya, "Bagaimana denganmu, Yue sayang?"


Elena menghela nafas pelan, "Menjauhlah dariku," ucapnya sambil menepis jari pemuda itu.


Tatapan Ferdian menajam, "Apa kau pantas bersikap seperti itu di hadapan penyelamatmu?" Dia mengepal tangannya dengan kuat karena gadis itu selalu menolaknya.


Elena menyeringai tipis mendengar jawabannya, "Saya sudah membalasnya dengan memanggil adik anda yang kemudian membawa tabib," jelasnya ringan.


Ferdian mencengkram wajah Elena kuat, "Kau tahu kalau aku menginginkanmu. Lalu kenapa kau selalu menolakku? Apa yang kurang dariku?!" bentaknya.


Hotaru yang tadi hanya diam saja semakin muak dengan kelakuan Pangeran Ferdian, "Singkirkan tangan anda darinya!" ucapnya yang mencoba melepaskan tangan pemuda itu dari wajah Elena.


Ferdian menatap Hotaru tajam dan mencakarnya, "Jangan mencoba menghalangiku!" bentaknya. Hotaru mundur beberapa langkah sambil memegang tangannya.


Kemudian, Ferdian tersentak saat mencium aroma darah Hotaru yang berasal dari luka cakarannya. Dia melepaskan cengkraman di wajah Elena dan mendekat ke Hotaru.


Elena melemparkan belati kecil yang menancap di depannya, "Jika kau melewati batas yang kubuat, aku tidak akan segan padamu!" ucapnya sambil berjalan ke arah Hotaru.


Ferdian tertawa mendengar gertakan Elena, "Hahaha, memang apa yang bisa kalian para manusia lakukan? Mengadu pada ayahku? Silahkan. Kurasa dia akan mendukung tindakanku," balasnya yang meremehkan mereka.


Elena mengalihkan pandangannya ke Hotaru yang masih memegang lukanya. Dia merobek jubah yang dia kenakan dan membalut luka Hotaru.


"Elena..." bisik Hotaru dengan suara yang yang hampir tidak terdengar.


Yang di panggil hanya diam dan membersihkan tetesan darah dengan sapu tangannya yang sudah tercampur sesuatu.


"Jangan kemana-mana," bisik Elena yang di balas dengan anggukan oleh Hotaru.


Aura di sekitar mereka berubah menjadi sangat dingin saat Elena berdiri dan menatap Ferdian dengan tajam. Sedangkan Ferdian melihatnya dengan tatapan yang seolah memuja kecantikan dan kebaikan gadis yang ada di hadapannya.


"Aku akan memanggil tabib untuk mengobatinya, dengan syarat...." Ferdian merentangkan tangannya, "Kau harus datang kepelukanku."


Elena mendecih, "Memang sulit ya berbicara dengan keledai yang hanya terobsesi dengan nafsu," timpalnya dengan tatapan menghina.


Rahang Ferdian mengeras mendengar perkataan Elena yang kasar, "Kau....!"


"Hentikan!" teriak seseorang.


Mereka semua menoleh ke sumber suara. Dalam kegelapan, muncullah seorang wanita dengan gaun yang sederhana dan menghampiri mereka yang hampir saja bertarung.


Alis Elena mengerut saat melihatnya, "Bibi Ratu?" tanyanya yang dibalas oleh anggukan oleh wanita itu.


Kemudian, dia menghampiri Elena dan memapah Hotaru yang terluka. Ferdian melihat kedatangannya dengan tatapan hina.


"Kenapa kau bisa disini?" tanya Ferdian


"Saya hanya ingin menghentikan tindakan anda yang mencoba melukai mereka."


"Diam kau, jal*ng! Kau hanyalah budak ayahku. Jangan bersikap seolah kau adalah Ratu dan juga ibuku! Sadarlah dengan posisimu, Evelyn!"


Elena menatap Ratu atau Evelyn yang sedang menunduk. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya ke Ferdian, "Aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi..." tatapan Elena semakin tajam, "Aku tidak suka dengan perkataanmu yang lancang padanya."


"Kau membela wanita murahan itu?" tanya Ferdian sambil menunjuk Evelyn. "Baiklah. Tapi, jangan menyesali perbuatanmu. Terutama dengan penolakanmu padaku!" balasnya dengan mata yang berkilat.


Ferdian berlari dengan mengeluarkan cakarnya yang ingin melukai mereka. Elena yang merasa kalau ini bukan waktu yang tepat untuk menyerang balik, mengeluarkan bom asap yang membuat pemuda itu mundur dan menutup hidungnya. Elena memanfaatkan kesempatan itu dengan membawa Hotaru dan Evelyn menjauh dari tempat mereka. Saat asap itu menghilang, Ferdian sangat marah saat melihat mereka pergi melarikan diri.


Mereka sampai di tempat yang dekat dengan ruang tahan. Elena membuat formasi supaya keberadaan mereka tidak terlihat oleh siapapun.


Elena terduduk dan menepuk bahu Evelyn, "Bibi, kau tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Saya... uhuk-uhuk, baik-baik saja, Nona," balas Evelyn yang merasa sesak.


Elena mengeluarkan dua pil untuk mereka, "Bom asap yang kulemparkan itu beracun. Jadi, minumlah ini," ucapnya. Hotaru dan Evelyn segera menelan obat itu.


Hotaru menghela nafas lega karena mereka sudah aman dari pemuda menyebalkan itu. Tapi, ada hal yang membuatnya penasaran.


"Bibi, maaf kalau saya sedikit lancang. Tapi, apa maksud perkataan dari orang itu?" tanya Hotaru dengan pelan.


"Itu..." tubuh Evelyn sedikit bergetar.


Elena mengenggam tangannya, "Bibi Eve, kau adalah satu-satunya orang yang baik pada kami di tempat yang penuh dengan tipuan ini. Jadi, kau tidak perlu ragu. Aku akan membantumu sebisaku," ucapnya dengan lembut.


Evelyn mengusap air matanya yang menetes, "Sebenarnya, saya adalah witch tingkat menengah. Walaupun saya tidak ahli dalam pertempuran, saya memiliki kekuatan penyembuh yang kuat. Karena nya, Raja itu membuat skema pertempuran antara kaum werewolf dan vampir hanya untuk menculikku."


"Peperangan yang sengit membuat korban berjatuhan. Aku yang saat itu terpisah dengan anak dan suamiku, di bawa oleh mereka secara diam-diam. Sesampainya aku disini, mereka memberikan aku topeng wajah palsu untuk menutupi identitasku. Sejak saat itu, aku menjadi budak dari pemimpin mereka," balasnya. Kemudian, dia merobek topengnya dan wajah aslinya pun terlihat.


"Lalu, kenapa bibi mengatakan lokasi Paman Alaric? Apa hubunganmu dengannya?" tanya Elena dengan bingung.


Evelyn tersenyum lembut, "Aku adalah istri Kenzo. Juga ipar dari pemimpin Corleon Pack."


Elena dan Hotaru shock saat mendengar pengakuannya, "Hah?"


"Tapi, kenapa Paman Kenzo tidak pernah bercerita tentangmu?" tanya Elena yang segera sadar dari rasa terkejutnya.


"Dia adalah orang yang selalu menyimpan perasaannya sendirian. Aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang," jawabnya dengan tatapan yang meredup.


Hotaru menghapus air mata Evelyn, "Jangan khawatir, bibi. Kau akan segera bertemu dengannya lagi."


"Ada seseorang yang pernah bilang padaku, 'Pasangan yang ditakdirkan akan selalu bersama kembali, tidak perduli apapun yang memisahkan mereka.' Aku rasa itu juga berlaku padamu, Bibi Eve," balas Elena.


Evelyn tertegun sesaat, "Darimana kau mendengarnya?"


"Itu...ehm, Aku sendiri tidak tahu," jawab Elena sambil tertawa canggung.


"Maaf, aku belum bisa mengatakannya padamu, Bibi." batinnya.


"Lebih cepat lebih baik. Karena aku dengar pernikahan mereka akan di percepat. Selain itu...anu...maaf, apa aku boleh tahu siapa nama kalian?" tanya Evelyn sambil menatap mereka.


Elena dan Hotaru memperkenalkan diri mereka masing-masing. Evelyn mengangguk, "Begitu. Nama kalian cukup unik."


"Kita lanjut ke topik. Elena, mulai dari sekarang kau tidak boleh lengah. Sedikitpun." lanjutnya.


"Memangnya kenapa, bibi?" tanya Elena.


"Dari perlakuan Raja dan Ferdian, sepertinya mereka akan melakukan ritual perbudakan padamu. Jika berhasil, kau tidak akan bisa lepas darinya. Kecuali dia mati." jawab Evelyn dengan menurunkan pandangannya.


"Apa yang bibi maksud 'budak darah'?" tebak Elena.


"Benar. Singkatnya, vampir yang menggigit seseorang yang bukan takdirnya akan menjadi tuan dari korbannya. Aku mengenal mereka dengan baik. Sepertinya, Ferdian akan melakukannya padamu dalam waktu dekat. Tentu saja, Felisya dan ayahnya akan menyetujui tindakannya. Lalu, Hotaru...."


"Ya?"


"Apa kau mengonsumsi makanan dan obat yang diberikan oleh mereka saat pertama kali disini?" tanya Evelyn.


"Tentu saja tidak. Karena sudah di bakar oleh Elena," jawab Hotaru.


Evelyn menghela nafas lega, "Syukurlah. Sepertinya kau sudah tahu semuanya dari awal ya?" Dia menoleh Elena yang menyeringai tipis.


"Hehehe. Walaupun rencana mereka terlihat sempurna, tapi aku bisa melihat segala hal yang janggal," kata Elena sambil tertawa kecil.


Hotaru menggembungkan pipinya, "Uhh...kau tetap tidak memberitahu aku apa yang kau lihat. Dasar menyebalkan."


"Sudahlah, kalian berdua. Lebih baik, kita pergi ke tempat Alaric terkurung," ucap Evelyn yang di setujui oleh mereka.


Kemudian, Elena membuat formasi tembus pandang dan mereka pun berjalan menuju arah yang di tunjuk oleh Evelyn. Di ujung ruang penjara itu, ada satu ruang dengan pintu yang dikunci khusus. Mereka bisa masuk ke dalamnya karena formasi Elena. Ada seorang pria dengan pakaian compang-camping sedang tertidur di kamar penjara itu. Lalu, mereka keluar dari tempat itu karena tidak ingin menganggunya.

__ADS_1


"Bibi, lebih baik untuk beberapa hari ini kau tidur di kamar kami. Aku khawatir mereka akan melakukan sesuatu padamu." ucap Elena.


"Benar apa yang dia katakan. Aku yakin pangeran gila itu akan mengadukan hal yang barusan terjadi pada ayahnya. Ini demi keselamatanmu, bibi." balas Hotaru yang setuju dengan Elena.


"Uh..uhm, baiklah." jawab Evelyn dengan sedikit ragu.


Tok tok tok


"Silahkan masuk."


Seorang pengawal yang masuk menundukkan kepalanya, "Nona Yue, Yang Mulia Raja memanggil anda."


"Baiklah. Tunggu aku di luar." jawab Elena. Pengawal itupun pergi.


Hotaru mendecak, "Benar-benar luar biasa ya, kita baru saja membicarakan dia. Eh langsung dipanggil," timpalnya sambil menggelengkan kepala.


Evelyn memegang tangan Elena, "Hati-hati ya, sayang."


"Terima kasih sudah khawatir padaku, Bibi. Hotaru, tolong jaga Bibi Eve." ucap Elena yang di balas anggukan oleh yang bersangkutan.


Kemudian, Elena di antar oleh pengawal menuju ruang kerja Raja. Setelah itu, Elena masuk sendirian.


"Paman Raja."


"Selamat datang di ruanganku, Yue. Silahkan duduk."


Elena menatap kursi kayu di hadapannya dengan rumit, "Heh, ternyata dia masih sempat juga ya. Benar-benar licik." batinnya.


"Ada apa paman memanggilku?" tanya Elena setelah dia duduk.


"Aku sudah mendengar penolakanmu dari Pangeran Ferdian. Kenapa kau melakukannya?" tanya Raja balik.


"Saya tidak suka dipaksa. Sehebat apapun dia, saya akan menolaknya apabila dia bukan pria yang saya cintai." jawab Elena dengan senyum ringan.


"Ah, begitu. Lalu, kenapa kau membawa Ratuku ke kamarmu?"


Elena memasang wajah sedih, "Kami hanya ingin merasakan kasih sayang dari seorang Ibu. Apa Bibi Ratu tidak boleh bersama kami?" tanyanya dengan sendu.


Sang Raja gelagapan melihat reaksi Elena, "Itu...ehem, tentu saja boleh. Setidaknya, kau harus kabari aku dulu. Dengan begitu, aku tidak akan marah." ucapnya.


"Baik, paman."


Elena mengusap matanya, "Uh, paman. Apa aku boleh keluar? Aku ingin tidur."


"Sebelum kau pergi, aku ingin memberitahumu bahwa pernikahan putriku akan di percepat. Sekitar dua hari lagi. Jangan lupa untuk bersiap ya." kata Raja dengan antusias.


"Baik, paman. Kalau begitu, aku pergi dulu."


"Silahkan."


Setelah Elena pergi, Pangeran Ferdian muncul dari belakang lemari dan menatap Elena dengan tajam.


"Bagaimana, ayah?"


"Jangan khawatir, dia tidak mengetahui jebakan yang telah kita buat. Besok kau bisa melihat reaksinya."


Ferdian menyeringai, "Tidak lama lagi, kau akan menjadi milikku!"


Di luar ruang kerja, Elena yang sedang tak terlihat hanya menyeringai ketika mendengar pembicaraan ayah dan anak itu. Kemudian dia kembali ke kamarnya untuk tidur dengan tenang bersama Bibi Evelyn dan Hotaru sebelum membuat rencana baru.


...----------------...


Maaf ya aku kelamaan updatenya 🙏🙏


Tinggalkan jejak kalian juga ya 💕

__ADS_1


Makasih yang sudah mampir ke ceritaku 🥰🥰


__ADS_2