
Setelah melakukan perjalanan yang panjang, mereka sampai di hutan yang gelap dengan suasana yang mencekam. Tapi, itu tidak membuat mereka takut.
"Berhenti sebentar."
"Ada apa, Elena?"
Elena menajamkan penglihatannya, "Ada barrier yang cukup kuat. Jika kita masuk secara sembarangan, mereka bisa menemukan kita."
"Lalu—eh, apa yang...?"
"Karena itu, kita akan menjadi gadis kecil yang polos," ucap Elena yang sudah mengubah penampilan mereka.
"Ini," lanjutnya sambil menyerahkan pil penyamaran pada Hotaru.
"Setelah ini, kita harus apa?" tanya Hotaru yang sudah menelan pilnya.
"Menunggu waktu yang tepat. Kau sudah siap?"
"Tentu."
Mereka tersentak saat mendengar suara langkah kaki.
"Mereka datang," bisik Elena.
Tidak lama kemudian, muncullah sekumpulan vampir dengan jumlah yang banyak dan menghampiri mereka.
"Hey, nak. Kalian tersesat?"
"Benar, paman. Apa kalian bisa mengantar kami keluar dari hutan ini?" tanya Elena balik.
"Tentu saja. Ayo, ikut kami."
Mereka pun di antar oleh para vampir itu. Elena menyeringai saat mereka di bawa masuk ke barrier. Kemudian, mereka berhenti secara tiba-tiba.
"Paman, kenapa kita malah semakin masuk ke dalam hutan? Dimana jalan keluarnya?" tanya Elena dengan ekspresi takut.
"Hahahaha. Tentu saja, di neraka!"
Mereka hendak mengoyak tubuh rapuh gadis kecil itu tapi Hotaru memeluknya dan punggungnya pun terluka.
"Yue, kau tidak apa-apa?" tanya Hotaru lirih.
"Liu, kenapa...?"
"Wangi sekali! Cepat bunuh dia!"
"Tidak..." lirih Elena yang memeluk Hotaru dengan erat.
Tiba-tiba, seorang gadis dengan gaun berwarna kuning mencolok menghampiri mereka.
"Apa yang kalian lakukan disini?!" bentaknya.
"Tu-tuan putri...?" tanya mereka dengan gemetar.
"Akhirnya." batin Elena yang menyeringai tipis.
Gadis yang disebut Putri menghampiri dua gadis kecil yang terlihat sedang ketakutan.
"Adik tidak apa-apa?" tanyanya lembut.
Elena mengangguk, "Tapi, dia terluka karena melindungiku, kak." jawabnya yang masih mendekap Hotaru.
Gadis itu memberikan sapu tangannya, "Pakai ini untuk menghentikan pendarahan."
"Terima kasih, kakak..."
"Panggil aku Kak Felisya, adik manis."
Elena tersenyum polos, "Namaku Yue, dan ini sepupuku, Liu. Senang bertemu denganmu, kak." balasnya.
"Aku juga senang bisa bertemu dengan gadis imut seperti kalian. Tetaplah disini, aku akan mengurus mereka."
Kemudian, Felisya menoleh ke arah vampir itu dan mereka di marahi habis-habisan olehnya. Elena melihat interaksi mereka dengan wajah yang dingin. Dia menyimpan sapu tangan pemberian Felisya dan menggantinya dengan warna yang sama seperti miliknya. Setelahnya, dia menekan darah dari luka Hotaru.
Elena mengeluarkan pil penyembuh. Hotaru menatap Elena yang memberi kode melalui matanya segera menelannya.
"Kembali ke tugas kalian masing-masing. Aku tidak ingin melihat penganggu disini." ucap Felisya.
Setelah vampir itu pergi, dia menoleh ke arah mereka, "Adik kecil, sebaiknya kalian ikut ke istanaku," ucap Felisya.
Elena memasang ekspresi terkejut, "Eh? Istana? Maksud kakak...?"
"Hehe, disini adalah wilayah kekuasaanku. Bisa dibilang aku tuan putri." jawab Felisya sambil tertawa kecil.
"Biar aku yang membawa temanmu," usulnya.
Elena menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, kak. Aku masih bisa membawanya."
"Lihat kan? Aku tinggal di hutan, jadi fisikku kuat." sahut Elena setelah menggendong Hotaru.
Felisya melihat Elena penuh arti. Kemudian, dia menyeringai tipis, "Wah, kau hebat."
"Tunjukkan jalannya ya, kak."
"Iya, ikuti aku." jawab Felisya yang sudah berjalan.
Mereka yang di belakang Putri Felisya menatapnya dengan cukup tajam.
__ADS_1
"Hotaru, bagaimana?" tanya Elena dengan pelan
"Aku sudah tidak merasa sakit lagi." bisik Hotaru.
"Maaf sudah membuatmu terluka," gumam Elena.
Putri Felisya mengantar Hotaru dan Elena menuju istananya. Mereka disambut oleh para dayang dan prajurit, atau lebih tepatnya menyambut nona mereka. Sedangkan tatapan mereka pada Elena yang sedang menggendong Hotaru seperti harimau yang siap menerkamnya.
Felisya menyadari tatapan mereka pada gadis kecil itu, "Turunkan pandangan kalian! Jangan lancang pada tamu kecilku!" katanya dengan suara rendah.
Sontak mereka menundukkan kepalanya, "Maafkan kami, putri."
"Kak, kenapa mereka melihatku seolah aku ini makanan?" tanya Elena yang gemetar.
Felisya menatap Elena yang terlihat ketakutan, "Maafkan mereka ya. Terkadang mereka selalu seperti itu. Jangan terlalu dipikirkan."
"Uhm, iya." jawab Elena dengan polos.
"Hey, kau. Cepat kemari." panggil Felisya pada seorang pelayan.
"Ya, putri?"
"Antarkan kami ke kamar kosong," kata Felisya.
"Baik, putri. Silahkan ikut dengan saya."
Mereka di bawa oleh pelayan itu menuju ke sebuah kamar yang terlalu luas untuk gadis kecil seperti Elena.
"Bawa saudaramu ke tempat tidurnya. Aku akan memanggil tabib," kata Felisya.
"Ya, kak," jawab Elena.
"Dan kau..." Felisya menunjuk pelayan yang mengikutinya, "Siapkan makanan untuk mereka!"
"Baik, Putri ."
Felisya mengelus kepala Elena, "Kami pergi dulu, ya." katanya dengan lembut.
Elena mengangguk.
Setelah itu, mereka pun pergi. Hotaru yang sejak tadi pura-pura tidur, langsung terbangun dan turun dari gendongan Elena saat mendengar suara pintu yang tertutup.
"Elena,"
"Sshttt...."
Elena membuat formasi pembatas supaya mereka yang di luar kamar tidak mendengar suara apapun. Setelah selesai, dia menatap seisi kamar mereka.
Matanya menajam saat dia melihat beberapa hal yang cukup mencurigakan.
"Ada apa?"
Elena merentangkan tangannya, dari kasur itu keluarlah cahaya dengan beberapa tulisan yang membuat Hotaru semakin bingung. Setelahnya, dia membuat beberapa simbol tangan yang rumit. Muncullah cahaya dengan mantra yang berbeda di beberapa sisi kamar.
"Hancurkan!" desis Elena.
Hotaru tersentak karena mendengar suara yang cukup keras dan dia melihat ekspresi Elena yang semakin dingin.
"Apa yang terjadi?" tanya Hotaru.
"Aku menghancurkan segala masalah yang ada di kamar ini." jawab Elena.
"Maksudmu?"
"Berbaringlah dulu."
Hotaru mengangguk.
Elena mengeluarkan jarum emas yang sudah dilapisi oleh tenaga dalamnya. Kemudian, dia menusukkan jarum itu ke seluruh titik akupuntur Hotaru. Setelah itu, dia merapalkan mantra dan muncullah perisai energi yang terlihat tipis namun kuat di sekitar tubuh Hotaru.
"Huft..." Elena mengelap keningnya yang bercucuran keringat.
"Apa ini perasaanku saja kalau aura disini semakin mencekam?" tanya Hotaru.
"Tidak salah kok. Tempat ini memang penuh dengan bau busuk yang menyengat!" desis Elena.
"Pantas saja, aku sedikit merasakan aura kematian di tempat ini. Terlalu sedikit sampai tadi aku tidak menyadarinya." balas Hotaru setelah fokus menatap ruangan itu.
"Apapun yang mereka berikan, terima saja. " kata Elena.
"Untuk makanan dan minuman, Ini..." Elena mengeluarkan botol giok yang berisi beberapa pil.
"Jika mereka mengajak kita makan bersama, kau harus meminum ini," lanjutnya.
"Bagaimana denganmu?" tanya Hotaru yang menatap Elena dengan cemas.
"Jangan khawatir, aku punya caraku sendiri. Yang penting kau tidak apa-apa," jawab Elena tenang.
"Uh, dia selalu seperti itu," batin Hotaru.
"Lalu, apa saja yang sudah mereka lakukan pada kamar ini?" tanya Hotaru setelah menerimanya.
"Terlalu banyak..." Elena tersentak dan melepaskan formasinya.
"Ada apa?" bisik Hotaru.
"Mereka sudah dekat. Ubah posisimu, aku akan mengoleskan daun obat."
__ADS_1
Beberapa waktu setelah Elena selesai dengan kegiatannya, Felisya membawa seorang seorang tabib bersamanya. Selain itu, pelayan yang sebelumnya juga membawa troley makanan untuk tamu mereka. Sedangkan Hotaru hanya duduk dan melihat mereka dengan lemas seolah tidak ada tenaga.
"Adik kecil, kau sudah lama menunggu ya?" ucap Felisya dengan suara manis.
"Tidak kok, kak," Elena menoleh ke arah pria di samping putri itu, "Apa ini tabib yang kakak bilang?" tanyanya polos.
Felisya mengangguk, "Tolong periksa dia."
"Baik, nona." Tabib itu memeriksa nadi Hotaru.
"Hm, kondisi gadis ini sudah membaik. Hanya butuh waktu sampai dia benar-benar pulih." kata tabib.
Felisya menoleh ke arah Elena, "Bagaimana caramu menyembuhkannya?" tanyanya dengan mata yang menajam.
Elena memiringkan kepalanya, "Kami adalah orang yang dikucilkan oleh penduduk desa. Jadi, kami sudah terbiasa dengan segala luka. Karena itu, aku selalu membawa beberapa ramuan herbal."
"Aku yakin tuan tabib sudah mencium aroma obat-obatan pada tubuhnya kan?" tanyanya dengan polos.
Felisya menatap tabib itu membuatnya tersentak, "A-ah, benar, nona," jawabnya kikuk.
"Kak, jangan seperti itu. Kau membuatku takut," kata Elena dengan wajah sedih.
Felisya mengelus kepala Elena, "Maaf ya, Yue."
Elena menyeringai tipis, "Tidak apa-apa, kak."
"Jangan lupa makan dan istirahat. Obat untuk Liu ada di troley itu." kata Felisya.
"Baik, kak." jawab Elena. Mata Felisya berkilat mendengar ucapannya itu.
"Kami pergi dulu." pamitnya. Elena mengangguk.
Kemudian, mereka keluar dari pintu kamar.
"Nona..."
Felisya menyeringai, "Semuanya berjalan lancar."
"Bagaimana dengan tugas kalian?" Felisya menoleh ke arah bawahannya.
"Saya sudah melakukannya sesuai perintah anda." jawab pelayan.
"Saya juga sudah mencampurkan sesuatu pada obat itu." jawab tabib.
"Bagus!" Felisya puas dengan kerja mereka.
Dia menatap pengawal yang di depan pintu kamar, "Jangan biarkan mereka keluar tanpa izinku."
"Baik, nona."
Kemudian, mereka bertiga pergi untuk melanjutkan urusan yang tertunda. Sedangkan pengawal tetap menjaga kamar itu.
Elena yang sudah membuat pembatas tepat setelah mereka pergi tidak bisa menahannya lagi.
"Hahahaha, mereka itu bodoh atau terlalu percaya diri ya?" tanya Elena dengan tawa sinis.
Hotaru menyeringai jahat, "Kurasa keduanya. Buktinya pembicaraan mereka terdengar sampai kesini. Mereka pikir kita ini orang biasa, ya?" timpalnya.
Kemudian, Elena memandang isi troley dengan tajam, "Heh, rencana mereka matang juga ya. Pantas saja korban sebelumnya bisa tertipu."
Dia membuang semua makanan dan obat itu ke lantai. Kemudian, Elena membakarnya. Setelah semuanya hancur tak bersisa, dia mengeluarkan botol giok kecil.
"Oh, apa itu?" tanya Hotaru.
"Kau bisa menyebutnya, ramuan penghilang jejak," jawab Elena yang sudah meneteskan ramuan itu.
"Wah, hebat sekali. Aku juga ingin belajar," kata Hotaru dengan mata berbinar.
"Boleh saja," sahut Liu.
"Kak Liu / Nona?!!" teriak mereka yang terkejut dengan kemunculannya secara tiba-tiba.
"Untung jantungku tidak lepas," timpal Elena dengan datar.
"Huft, bisakah anda muncul secara normal?" tanya Hotaru.
"Huh! Itu salah kalian karena sudah menggunakan namaku tanpa izin," jawab Liu santai.
"Uhm, aku tidak pernah membuat nama. Jadi aku terpaksa mengambil nama anda. Maaf," kata Hotaru yang sedikit menunduk.
Liu mengelus kepala Hotaru, "Aku hanya bercanda, sayang."
"Jadi, Kak Liu tidak marah pada kami?" tanya Elena.
Liu tertawa kecil, "Hehe, mana mungkin aku marah dengan gadis-gadis kesayanganku," ucapnya yang menarik Hotaru dan Elena ke pelukannya.
"Hahh, panggilan sayang dari nona membuat rasa mualku hilang." ucap Hotaru
"Apalagi aku yang harus menahan diri untuk tidak menjahit mulutku karena berkata manis pada Feli-Feli itu," timpal Elena yang merinding setelah mengingat interaksi mereka.
"Sepertinya kau sudah ahli ya, Elena?" tanya Liu dengan setengah mengejek.
"Huh, jangan meledekku, kak," jawab Elena.
"Uuhh, aku juga harus menahan diri untuk tidak menebas kepala mereka," kata Hotaru.
Liu tersenyum kecil melihat tingkah mereka, "Kalau begitu, semangat ya. Aku akan mendukung apapun yang kalian lakukan selagi kalian tidak saling menyakiti," ucapnya dengan lembut.
__ADS_1
Elena dan Hotaru saling memandang dan tersenyum karena perhatian Liu yang begitu tulus dan tidak membedakan mereka. Malam itu, mereka tidur dengan nyenyak sebelum menghadapi tantangan selanjutnya.