Fate Of The Princess

Fate Of The Princess
Akhir Untuk Mereka


__ADS_3

Keesokan harinya, Felisya mengunjungi kamar yang di tempati oleh Elena. Dia ingin tahu seperti apa kondisi mereka setelah beberapa hari di istana.


Tok tok tok


"Halo, gadis kecilku," sapa Felisya yang membuka pintu dengan antusias.


"Uhuk-uhuk, halo, kak." balas Elena dengan suara serak. Sedangkan Hotaru hanya terdiam dengan wajah yang pucat.


Felisya mengerutkan keningnya, "Apa yang terjadi dengan mereka?" tanyanya sambil mengalihkan pandangan ke Evelyn.


"Aku tidak tahu. Sejak aku bangun, mereka sudah seperti ini. Aku mencoba memulihkan mereka, tapi tidak berguna," jawab Evelyn sambil memasang ekspresi tidak berdaya.


Felisya menyeringai tipis, "Kalau begitu, aku akan memanggil tabib."


Tanpa menunggu balasan, Putri Felisya langsung mengabari Ayahnya juga Pangeran Ferdian. Kemudian, mereka kembali ke kamar Elena dengan membawa seorang tabib.


Tabib memeriksa denyut nadi Elena dan Hotaru. Suasana pun hening selama beberapa saat.


"Bagaimana kondisi mereka? tanya Raja.


Tabib menggelengkan kepalanya, "Maafkan saya, Yang Mulia. Keadaan mereka sangat aneh. Saya tidak menemukan sesuatu yang bermasalah pada mereka."


Evelyn mencengkram kerah baju tabib itu, "Lalu, kenapa mereka terlihat seperti mayat hidup?!" bentaknya karena tidak terima dengan jawaban yang tidak masuk akal darinya.


"Bibi, cukup..." lirih Hotaru.


"Saya tidak tahu, Ratu. Mohon ampuni saya yang rendah ini. Saya akan berusaha yang terbaik untuk mengobati mereka" kata Tabib sambil menunduk.


"Jika sampai terjadi sesuatu pada gadisku, kau akan menanggung akibatnya!" balas Ferdian sambil menatap tajam ke arah Tabib.


Hotaru langsung memegang tangan Elena yang gemetar karena menahan emosi atas perkataan Pangeran Ferdian yang benar-benar membuatnya naik darah.


"Ka-kalau begitu, saya...permisi." ucap Tabib yang langsung kabur dari kamar.


"Cih, awas saja." gumam Ferdian. Kemudian, dia menatap Elena yang sedang lemas.


Ferdian mengelus rambut Elena dengan perlahan, "Kuharap keadaanmu membaik, sayangku," katanya sambil tersenyum lembut.


Elena menatapnya tajam, "Berhentilah mengatakan hal itu, Pangeran."


Evelyn melepaskan tangan Ferdian dari Elena. Kemudian, dia menatap Raja dan Putri Felisya "Saya sarankan kalian keluar dari kamar ini dan membiarkan mereka istirahat. Saya akan tetap disini untuk menjaga mereka." ujarnya sambil mengusir Ayah dan anak itu dengan halus.


Mereka menatap Evelyn dengan tajam seolah berusaha mengintimidasinya. Sedangkan yang di tatap hanya tenang dan membalas tatapan mereka tanpa emosi. Akhirnya, mereka pun terpaksa keluar dari kamar itu.


Elena menjentikkan jarinya untuk membuat pembatas. Seketika, mereka yang berada di kamar bernapas lega.


Evelyn meraba jantungnya yang berdebar, "Fuhh, akhirnya tenang juga. Aku sudah bilang padamu kalau rencana ini terlalu beresiko, Elena."


"Yang penting kita berhasil kan?" tanya Elena santai.


"Ya sih, tapi kan...."


Hotaru tertawa kecil, "Jika tidak melakukannya, mereka akan menyadari kalau kami bukan manusia biasa, Bibi."


"Bibi Eve, tolong mundur sebentar." kata Elena yang di balas anggukan oleh Evelyn.


Elena membuat gerakan rumit pada tangannya. Muncullah api berwarna putih yang membakar beberapa simbol mantra di sekitar tubuhnya dan Hotaru. Evelyn terkejut saat melihat rambut Elena berubah. Setelah beberapa saat, api itu menghilang bersamaan dengan mata Elena yang terbuka.


"Huhh, akhirnya selesai juga—Eh? Bibi Eve, ada apa dengan tatapanmu?" Elena heran saat Evelyn mematung karena shock.


Hotaru menoleh ke Elena, "Coba kau lihat rambutmu."


Elena memegang ujung rambutnya, "Ah, ternyata begitu." Kemudian, dia mengubahnya menjadi warna hitam.


"Sebenarnya kau itu makhluk apa?" tanya Evelyn setelah beberapa saat.


"Hehehe, aku manusia kok. Lebih tepatnya, berdarah campuran," jawab Elena sambil tertawa kecil.


Evelyn mengerutkan keningnya, "Tapi, aku tidak pernah melihat ras hybrid yang bisa mengubah penampilannya tanpa ramuan ataupun dengan mantra," jawabnya yang masih bingung.


Hotaru menatap Evelyn dengan senyum tipis, "Elena berbeda dengan makhluk immortal lainnya, Bibi. Jadi, tidak heran kalau dia bisa melakukannya," jelasnya. Evelyn langsung paham dengan maksudnya.


"Bibi, bagaimana menurutmu tentang rakyat di kerajaan ini?" tanya Elena.


Evelyn tersenyum miris, "Sama saja dengan pemimpinnya. Serakah dan tidak berperasaan."


Elena berpikir sejenak. Kemudian dia membuat burung dari kertas mantra.


"Selidiki mereka. Lakukan dengan cepat." Burung itu menerima perintahnya dan terbang dengan cepat.


Setelahnya dia menatap Hotaru dan Evelyn yang takjub dengannya. Elena berdehem, "Sebelum kita membuat rencana baru, aku ingin bertanya pada Bibi Eve tentang pernikahan Putri Felisya dan Paman Alaric."


"Sama seperti pada umumnya. Hanya saja, lebih mewah karena pernikahan keluarga kerajaan. Tapi...."


"Belum lama ini, aku melihat beberapa penyihir hitam yang datang kemari. Aku yakin, mereka akan melakukan sesuatu pada Alaric. Kurasa ini berhubungan dengan mantra yang ada di tubuh kalian," jelas Evelyn.


Elena tersenyum tipis, "Mantra pengendali jiwa tingkat menengah."


"A-apa? Bagaimana mungkin?!" Evelyn sangat terkejut mendengar ucapan Elena.


"Itu adalah mantra yang diletakkan saat aku dipanggil olehnya. Ini hanya pendapatku, tapi mantra itu seperti penyakit yang bisa menular ke orang lain. Sepertinya, dia juga ingin mengendalikan Hotaru melalui diriku," jelas Elena dengan ekspresi rumit.


"Kalau begitu, kenapa tidak terjadi apapun padaku?" tanya Evelyn.


"Aku juga tidak tahu. Selain itu, jika sebelumnya aku tidak melakukan sesuatu pada Hotaru, dia akan langsung tunduk dan aku akan sulit menghentikannya," jelas Elena sambil menoleh ke Hotaru.


"Jadi karena itu kau..." ucapan Hotaru terhenti saat Elena mengedipkan matanya.


"Karena situasinya sudah mulai gawat, aku akan membuat rencana. Bibi Eve, temukan informasi apapun tentang asal-usul ritual ini. Lalu, kau harus menghadiri pernikahan mereka dan bersikaplah seperti biasa. Hotaru, bebaskan Paman Alaric disaat mereka sedang berkumpul di aula. Aku akan tetap disini dan bersiap dengan kedatangan pria gila itu," ucap Elena.


Hotaru menatap Elena dengan horor, "Bagaimana bisa kami meninggalkanmu sendirian?!"


Evelyn menghela nafas berat, "Ini satu-satunya cara, Hotaru." ucapnya dengan pasrah.


"Bibi, kenapa kau...."


"Hotaru..." tegur Elena yang membuatnya terdiam.


"Aku tahu kau mengkhawatirkannya. Tapi, ini adalah kesempatan untuk mencari tahu informasi yang lebih banyak. Selain itu, targetnya adalah Elena. Dia akan membunuhmu jika kau ada disana. Kau mengerti maksudku kan?" Evelyn mencoba memberi pengertian pada Hotaru.


"Baiklah kalau begitu," sahut Hotaru sambil menunduk lesu. Elena mengelus kepala Hotaru untuk menghiburnya.


Beberapa waktu kemudian, burung kertas yang di buat Elena kembali dan memberikan laporan yang dibutuhkannya. Setelah di tambah dengan informasi dari Bibi Evelyn, Elena memutuskan untuk meratakan kerajaan itu sampai ke akarnya.


Kemudian, Hotaru dan Bibi Evelyn pergi ke tempat masing-masing sesuai rencana awal. Sedangkan Elena melatih kekuatannya bersama Liu di dalam cincin ruang. Awalnya Liu melarangnya, karena berlatih dalam wujud jiwa jauh lebih berbahaya. Tapi, Elena bersikeras dan akhirnya dia terpaksa menyetujuinya.


Saat Elena sudah cukup berlatih, dia terbangun dan menajamkan pendengarannya.


"Hm, sepertinya sudah siap," gumam Elena. Kemudian, dia menghubungi mereka lewat pikiran.


"Hotaru, bagaimana dengan misimu?" mindlinknya.


"Aku sudah berhasil mengamankannya. Selain itu, Bibi Evelyn membantuku untuk mengubah wajah orang lain sama persis dengan Tuan Alaric. Jadi, semuanya berjalan lancar," jawab Hotaru.

__ADS_1


"Bibi Eve..?"


"Jangan cemas, sayang. Mereka belum tahu bahwa Alaric yang bersama dengan Putri Felisya itu palsu. Sebaiknya kau bersiap, karena Pangeran Ferdian sudah keluar dari sini secara diam-diam," balas Evelyn.


"Baiklah. Jaga diri kalian. Jangan sampai terluka," Dia pun memutuskan koneksi mereka.


"Kak Liu."


"Ya?" tanya Liu yang keluar dari cincin ruang.


"Selamatkan para manusia yang menjadi korban mereka. Aku bisa mengandalkanmu kan, Kak?" tanya Elena balik sambil menoleh dengan senyum lembut.


Liu mengangguk, "Tentu saja. Kalau begitu, aku pergi dulu," Dia pun menghilang.


Elena tersentak saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dia pun pura-pura tertidur. Kemudian, Pangeran Ferdian masuk ke dalam kamar dan menatap Elena dengan senyum lebarnya.


"Maaf, aku terpaksa melakukan ini karena kau yang selalu menolakku," kata Ferdian sambil meraba wajah Elena.


Setelah itu, dia mengubah posisi Elena menjadi duduk dengan membelakangi cahaya bulan yang masuk ke kamarnya. Ferdian merapal mantra dan tubuh Elena pun terikat dengan benang merah kehitaman. Merasa sudah berhasil, dia mendekatkan wajahnya ke leher gadis itu. Seketika api berwarna putih keluar dari tubuh Elena yang membuat Pangeran Ferdian melompat mundur.


Elena membuka matanya perlahan, "Heh, berani juga kau ingin memilikiku secara paksa. Ini menentang takdir loh, Pangeran Ferdian," ucapnya dengan senyum tipis.


"A-apa..? Bagaimana mungkin kau—" Ferdian terbelalak saat melihat penampilan Elena yang berubah drastis.


"Kau...bukan manusia?"


Elena tertawa pelan, "Benar dan juga salah. Silakan kau tebak dengan otakmu yang pintar itu." Benang itupun terbakar karena api di sekitar tubuhnya.


Ferdian menatapnya tajam, "Kau....Penipu!" bentaknya dengan penuh amarah.


"Salahkan diri kalian yang begitu semena-mena pada makhluk yang lebih lemah, terutama manusia," Elena yang tersenyum sinis karena melihat reaksi dari Ferdian.


Ferdian terpaku melihat tubuh Elena yang disinari oleh cahaya bulan. Seketika dia teringat dengan ucapan yang dia dengar dari seseorang yang mengunjungi ayahnya bertahun-tahun yang lalu.


Flashback On


"Tuan, kerajaan kami sedang melemah. Kami harap Anda bersedia membantu."


"Baiklah, dengan syarat kau harus menemukan gadis berambut putih yang bersinar dengan aura tidak biasa. Lalu, sebarkan mantra yang akan kuberitahu untuk mencegah rakyatmu mati karena tidak mengonsumsi darah. Tapi, itu tergantung usaha mereka."


Raja berlutut di hadapan pria berjubah itu, "Terima kasih banyak, tuan. Saya akan melakukan perintah anda."


Beberapa waktu setelahnya, dia membuat jebakan supaya manusia bisa masuk ke daerah kekuasaanya. Dalam waktu yang singkat, laporan mengenai kematian vampir di kerajaannya sudah berkurang.


Tapi, dia semakin gelisah karena sangat sulit menemukan gadis yang di maksud oleh penyelamatnya. Beruntung pria berjubah itu tidak marah dan memberi beberapa penyihir hitam untuk membantunya.


Flashback Off


"Mungkinkah kau yang selalu dicari olehnya?" gumam Ferdian.


Elena mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?"


Ferdian menyeringai, "Ha..Hahaha, akhirnya aku menemukanmu!" ucapnya sambil tertawa gila.


"Kalau begitu, aku tidak akan menahan diri!"


Ferdian mulai menyerang dengan cakarnya yang panjang. Elena menangkis serangannya dengan kedua belati yang dia keluarkan dan menyerang balik. Mereka terus menyerang sampai akhirnya Ferdian mengeluarkan sihir hitam. Elena melakukan teleportasi dan berhasil menghindari serangannya.


"Kekuatan ini.....!"


Saat Ferdian hendak menyerang, Elena melemparkan belatinya yang sudah diberi kertas mantra kuno dan berhasil menancap di kedua tangannya.


"AARGHHHH!!! DASAR JAL*NG!"


"Kau...!!!"


"Darimana kau mempelajari sihir hitam itu?" tanya Elena dingin.


"Hahahaha! Tentu saja dari penyelamat kami! Dia adalah orang yang selalu mencarimu!" jawab Ferdian yang sudah tidak bisa mengendalikan perkataannya.


"Apa maksudmu?"


"Rambutmu adalah ciri khas dari orang yang selalu dia cari!"


"Aku yakin masih banyak orang yang mempunyai rambut sepertiku. Untuk apa dia repot-repot mencarinya?"


"Kau kira hanya itu saja? Hah, dasar bocah!"


Elena menekan belati di kakinya, "Cepat jawab dan jangan menguji kesabaranku," ucapnya dengan suara rendah.


Ferdian berteriak kesakitan, "Saat itu...aku...hanya mendengar....rambut putih...dan bulan....uhuk-uhuk," jawabnya terbata-bata.


Elena merasa ada petir yang menghantam dirinya saat mendengar perkataan Ferdian. Kemudian, dia membakar pemuda itu hingga tak tersisa. Setelah mencoba menguatkan dirinya, dia memakai jubah serta topeng dan pergi keluar istana.


Kemudian, dia membuat penghalang yang kuat dan menutupi seluruh bagian kerajaan. Liu muncul dan memberi tahu Elena bahwa para korban sudah dibawa ke cincin ruang dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Bagaimana dengan tuan mereka?" tanya Elena


"Vampir yang diluar istana tidak banyak, jadi tidak butuh waktu lama untuk membasmi mereka." jawab Liu.


"Baiklah, biar aku yang melanjutkannya," Liu menghela nafas kasar lalu menghilang.


Elena mengeluarkan meteor api dalam jumlah yang banyak hingga membuat para vampir yang sedang berpesta langsung panik berusaha menyelamatkan diri mereka. Seolah mendapat sinyal, Hotaru dan Evelyn segera menghampirinya.


"Elena," panggil mereka.


"Terima kasih atas bantuan kalian. Serahkan sisanya padaku."


Raja dan Putri Felisya keluar untuk melihat penyebab ledakan itu bersama dengan beberapa orang. Mereka melihat ada tiga orang dengan jubah masing-masing. Salah satunya membopong seorang pria yang pingsan.


Raja melotot tajam ke arah mereka, "Apa yang kalian lakukan pada kerajaanku?!!" bentaknya dengan penuh amarah.


"Kau tidak perlu bertanya pada sesuatu yang sudah kau lihat bukan?" tanya Elena balik.


"Kenapa kau melakukannya? Apa kesalahan yang telah kami lakukan?!" teriak Felisya.


Elena tertawa sinis, "Menjebak manusia, menghisap darah mereka sampai habis, lalu membuang mereka seperti sampah. Apa itu bukan kesalahan?"


"Tidak mungkin dia melakukannya!" balas Alaric palsu.


"Hey, bajing*n. Kau hanya pengganti Alpha Alaric. Jangan menganggap dirimu tinggi," sahut Hotaru dingin.


Evelyn yang di balik jubahnya hanya menggelengkan kepalanya, "Hah, sia-sia aja aku membantumu."


Alaric palsu tersentak, "Kau....Mungkinkah—" ucapannya terpotong karena Elena melemparkan belati ke kepalanya. Wajah aslinya pun terlihat dan membuat mereka syok.


"Mustahil!"


Putri Felisya menatap mereka tajam, "Kemana Alaric yang asli?!"


Raja menunjuk pria yang dibawa Hotaru, "Felisya, lihat...."


Felisya terbelalak melihat sosok itu, "Kembalikan dia padaku!"

__ADS_1


"Berisik sekali..." gumam Elena.


Raja mengepalkan tangannya dengan kuat dan memberi kode pada penyihir yang dibawanya untuk menyerang mereka. Seketika, para penyihir itu langsung mengepung mereka. Putri Felisya dan ayahnya mencoba melarikan diri. Sayangnya, Elena membuat barrier untuk mengurung ayah dan anak itu.


"Hehhh, seorang raja berlindung di balik anak buahnya. Sungguh memalukan," timpal Hotaru dengan senyum mengejek.


Raja memukul barrier itu, "Lepaskan kami!" Dia mencoba menghancurkannya tapi tidak bisa.


Evelyn terkekeh, "Percuma saja jika kau tidak mempunyai kekuatan apapun dan hanya mengandalkan kelicikanmu."


"Tuan penyihir, tolong bebaskan kami."


"Maaf, tapi kami tidak bisa melepaskan target tuan kami begitu saja. Apa aku benar, Putri Selena?"


Elena menyeringai di balik topengnya, "Ooh? Ternyata kau pintar juga."


"Sebaiknya anda ikut dengan kami atau—"


"Atau apa hm? Melakukan hal yang sama seperti apa yang sudah tuan kalian lakukan?" Aura hitam menguar dari dalam tubuhnya membuat mereka sulit bernapas termasuk Hotaru dan Evelyn yang gemetar hebat.


Para penyihir itu mencoba menghubungi tuan mereka. Sayangnya, penghalang yang Elena buat bisa memblokir koneksi mereka dengan dunia luar.


Elena yang melihat wajah terkejut mereka tidak bisa menahan tawanya, "Hahaha, kenapa? Tidak bisa memanggil tuan kalian ya? Sungguh kasihan," ucapnya.


Mereka yang geram dengan tindakan Elena segera menyerang dua orang yang disisinya. Dia langsung membuat perisai untuk melindungi Hotaru dan Evelyn. Benturan energi mereka membuat tudung jubah Elena terlepas dan rambut putihnya pun terlihat.


"Elena, jubahmu..."


"Tidak apa-apa, Bibi. Mereka sudah tau identitasku," Elena membuka topengnya.


Para penyihir membuat formasi untuk memanggil hewan spritual mereka dan memberi perintah untuk menyerang Elena. Mereka terdiri dari pasangan Naga Yin dan Yang, Harimau Emas, serta Ular berwarna biru kehitaman. Para hewan itu gemetar saat melihat target mereka dan langsung bersujud padanya.


"Nona...."


"E-eh? Ada apa ini?"


Mereka menatap Elena dan seketika dia berada di dalam alam spiritual. Elena terkejut melihat kondisi tubuh manusia mereka yang berbeda dengan wujud di dunia luar.


"Nona..." sahut sang ular.


"Kenapa kalian membawaku kesini?" tanya Elena.


"Tolong bebaskan kami dari cengkraman mereka. Kami sudah sangat tersiksa karena di kendalikan oleh kekuatan gelap yang mereka dapatkan melalui orang itu," jawab Harimau Emas.


"Bukan hanya itu saja. Dia lah yang membuat kami harus terpisah dengan anak kami yang masih bayi," balas Naga Yin sambil menunduk sedih.


Naga Yang merangkul istrinya dan menatap Elena, "Kami bersedia mematuhi segala perintah yang anda buat setelah terbebas dari mereka."


Elena menghela nafas kasar, "Aku akan membantu kalian. Jadi, tidak perlu bersikap seperti itu."


Pemandangan di sekitarnya kembali berubah seperti semula. Para hewan spiritual itu berubah menjadi bola cahaya dan mendekati Elena. Para penyihir marah karena mereka lebih tunduk pada gadis kecil daripada dengan tuannya. Mereka dimasukkan oleh Elena ke cincin ruangnya.


"Kembalikan mereka!"


Senyum dingin terpatri di wajah gadis itu, "Coba saja."


Evelyn menatapnya cemas, "Berhati-hatilah, kekuatan gelap mereka semakin kuat."


Elena mengangguk, "Tolong jaga Hotaru, Bibi." ucapnya. Hotaru yang ingin membantunya segera ditahan oleh Evelyn.


"Kenapa, Bi?"


Evelyn menggeleng pasrah, "Yang bisa kita lakukan hanyalah mendoakan keselamatan Elena."


Para penyihir yang merasa mustahil untuk menang melawan gadis itu segera mengubah wujud mereka menjadi monster yang mengerikan. Elena menatap perubahan mereka dengan senyuman yang menakutkan.


Aura hitam ditubuhnya membuat keadaan di sekitarnya menjadi sangat mencekam.


"Saatnya berpesta..."


Raja dan putrinya yang bodoh itu menatap kerajaannya yang hancur akibat serangan mereka. Gelombang api yang membakar, kilatan petir yang menggelegar, dan gempa bumi yang dahsyat membuat rumah para vampir itu tenggelam dalam lautan api yang dibuat oleh Elena.


Evelyn menutup mulutnya melihat efek dari serangan yang mengerikan itu. Hanya Hotaru yang menyadari mata Elena berubah menjadi kuning vertikal tanpa warna apapun. Saat dia membuka mulutnya, taring yang putih dan tajam itu membuatnya terlihat semakin kejam.


Akhirnya Hotaru tahu bahwa Elena sedang mengamuk hingga tidak bisa mengendalikan dirinya. Tidak lama kemudian, para monster itu tumbang dengan tubuh yang sudah berlumuran darah. Bahkan ada yang kehilangan bagian tubuhnya.


Elena mendekat ke arah mereka dengan seringainya yang bisa membuat siapapun merinding, "Ahhh, hanya ini kekuatan kalian? Sungguh mengecewakan."


"Kau...iblis..."


"Hahahaha, terima kasih atas pujiannya."


"Ada kata terakhir?"


"Tuanku...akan...membunuhmu."


Elena menebas kepala penyihir yang tersisa itu, "Akan kutunggu."


Putri Felisya dan ayahnya gemetar hebat saat dia mendekati mereka. Elena tersenyum miring menikmati ketakutan mereka yang membuatnya sangat terhibur.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Ini aku loh, Paman, Kak Feli," ucapnya dengan suara lembut yang dibuat-buat.


"Kau...Yue?" tanya Felisya.


Raja melotot marah padanya, "Jadi kau menipu kami semua?! Apa tujuanmu?!"


"Hehehe, karena kalian akan mati jadi kuberitahu."


"Awalnya aku kemari karena permintaan seseorang. Siapa yang tahu kalau kalian memiliki banyak hal yang menarik termasuk para penyihir itu."


"Lalu..." Wajah Elena mendingin, "Siapa yang sudah membantumu?"


Aura yang dia miliki membuat Raja berlutut, "A-aku ha-hanya tau kalau dia....adalah bawahan orang itu. Aku tidak tahu namanya."


"Ah, ternyata begitu." sahut Elena.


Putri Felisya teringat dengan kakaknya, "Dimana Kak Ferdi?"


"Dia sudah mati." jawab Elena dengan menekan kata terakhir.


"Beraninya kau! Aku akan menggantikan orangtuamu untuk memberimu pelajaran!" Felisya hendak menamparnya yang berakhir dengan kepala yang terpenggal oleh pedang Elena.


"Felisya!!!!" raung Raja.


Elena menatap jasad yang sudah menjadi abu dengan dingin, "Jangan menyamakan dirimu dengan mereka!"


Raja mengamuk dan ingin mengucapkan sumpah serapah. Sayangnya, Elena menusuk pedangnya sampai menembus leher pria itu. Kemudian, dia membuat bola cahaya kecil yang menyerap ke dalam tanah. Lalu, Elena teleportasi ke jarak yang cukup jauh dari penghalang yang menutupi kerajaan dengan membawa yang lainnya.


Terjadilah ledakan yang menghancurkan penghalangnya dan meluluhlantakkan seisi tempat itu. Hotaru dan Bibi Evelyn keluar setelah Elena melepaskan perisainya. Hujanpun turun memadamkan sisa ledakan yang dia buat.


Hotaru menyerahkan Alaric ke Bibi Evelyn yang hampir saja protes jika tidak melihat situasinya. Lalu, dia memeluk Elena yang sedang menatap langit dengan tatapan kosong, "Cukup, Elena. Semuanya sudah selesai. Kembalilah pada dirimu yang sebelumnya."


Aura negatif yang menyelimuti tubuhnya menghilang secara perlahan dan dia kembali seperti semula. Elena tersenyum sendu, "Kau benar. Terima kasih, Hotaru...," lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2