
Liu masuk ke dimensi cincin ruang dengan membawa Elena yang tidak sadarkan diri. Hotaru langsung menghampiri mereka dan berhenti saat melihat kondisi Elena.
Air mata Hotaru luruh ketika melihat seluruh tubuh Elena penuh dengan luka, "Nona..."
"Aku akan membawanya ke ruangan es abadi. Segera ambilkan baju ganti untuknya," perintah Liu.
Hotaru segera melakukan perintahnya. Liu masuk ke dalam ruangan dan membaringkan Elena di atas es.
Liu mengeluarkan jarum emas dan menusuk titik akupuntur Elena. Setelahnya, dia memindahkan sebagian kekuatan spiritualnya ke dalam tubuh gadis itu.
Hotaru masuk dan membawa baju untuk Elena, "Nona Liu—" ucapannya terhenti saat melihat ada sesuatu yang berwarna hitam keluar dari lukanya Elena.
Liu memfokuskan dirinya untuk memulihkan kondisi Elena. Beberapa waktu kemudian, dia mencabut jarum yang ada di tubuh gadis kecil itu.
"Nona Liu, kenapa di sekitar lukanya ada sesuatu yang hitam? Apa yang terjadi padanya?"
"Dia melawan beberapa siluman tingkat menengah. Alasan kenapa mereka begitu kuat karena mereka sudah dikendalikan oleh kekuatan gelap yang berasal dari ambisi mereka," jawab Liu.
"Kekuatannya yang saat ini belum cukup karena segel yang diberikan oleh ibunya terlalu kuat, membuatku kesulitan saat mencoba melepasnya. Dan yang berwarna hitam itu adalah racun karena segel itu di hancurkan secara paksa," lanjutnya sambil menatap Elena.
"Kenapa dia begitu nekat?" tanya Hotaru dengan lirih.
Liu menatap Hotaru lekat, "Demi menyelamatkanmu."
"Aku...? Kenapa? Aku tidak pernah memintanya untuk menyelamatkanku!"
"Tapi itulah keinginannya. Tanyakan alasannya saat dia sudah sadar. Aku akan memulihkan energiku dulu."
"Pergilah, Nona. Aku akan tetap disini."
Liu menghela nafas dan mengeluarkan ramuan penghangat, "Minumlah ini disaat tubuhmu mulai membeku."
"Terima kasih."
Saat Liu sudah pergi, Hotaru duduk di dekat Elena.
"Kenapa anda melakukan ini demi saya yang sudah tidak punya harapan untuk hidup? tanyanya dengan lirih.
"Karena saya lah, anda jadi seperti ini."
"Maafkan saya, Nona." Air mata Hotaru semakin deras.
Dengan air mata yang terurai, Hotaru membersihkan tubuh Elena dan mengganti pakaiannya.
Hotaru tersenyum pahit, "Padahal anda terlihat seumuran dengan saya, kenapa anda harus mengalami hal seperti ini?"
Beberapa waktu kemudian, Liu kembali msmbawa makanan untuk Hotaru. Dia melihatnya yang masih menjaga Elena.
"Nona Liu..."
"Hm?"
"Tolong latih saya"
Liu menatap Hotaru sejenak, "Kau yakin? Aku tidak akan menahan diri saat melatihmu."
"Saya yakin, Nona."
"Makanlah dulu, setelah itu kau bisa ikut denganku."
Setelahnya, mereka pamit pada Elena dan keluar untuk latihan. Waktupun berlalu dan dia masih belum bangun. Satu hal yang aneh adalah, tubuhnya mengalami masa pertumbuhan walaupun sang pemilik masih tertidur. Sekarang tubuhnya seperti gadis yang berusia 12 tahun.
Saat mereka menjaganya, tiba-tiba tubuh Elena bersinar dan melayang ke atas.
"Nona Liu, apa yang terjadi dengannya?"
Liu tersenyum tipis, "Sudah waktunya."
Hotaru menatap Liu dengan bingung. Cahaya pada tubuh Elena menghilang dan dia terbaring di atas.
Elena membuka matanya perlahan, "Uuhh..."
"Nona! Elena!" panggil mereka.
Hotaru membantu Elena duduk, "Nona, akhirnya anda bangun."
"Kau...Hotaru?" tanya Elena.
"Benar, Nona. Ini saya."
Elena bingung karena merasa ada perubahan pada dirinya dan Hotaru. Kemudian dia menatap Liu.
__ADS_1
Liu yang mengerti tatapannya menyunggingkan senyuman manis, "Aku akan menceritakan nya padamu secara perlahan."
"Mari saya antar," kata Hotaru sambil membantu Elena berjalan.
Mereka keluar dari ruangan yang dingin itu. Elena mengedipkan matanya untuk beradaptasi dengan cahaya setelah sekian lama tertidur. Pemandangan yang ada dalam cincin ruang tidak jauh beda dengan dunia luar. Hal yang membedakan hanyalah energi spiritual disana jauh lebih kuat.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Liu memulai pembicaraan setelah mereka duduk.
"Ehm, apa yang terjadi dengan Hotaru?" tanya Elena.
"Dia memintaku untuk melatihnya. Kau tau kalau latihanku sangat keras, bukan? Tapi dia tetap tidak menyerah. Sebanyak apapun dia terjatuh, dia akan bangkit lagi dan lagi. Hotaru mempunyai tekad yang kuat hingga dia mengalami banyak peningkatan," jawab Liu.
"Kenapa...?"
"Saya ingin lebih kuat supaya bisa melindungi anda. Demi menyelamatkan saya....anda harus mengalami luka parah dan tertidur selama 5 tahun. Karena itu saya...merasa sangat bersalah pada anda," jawab Hotaru sambil menundukkan kepalanya.
Elena tersentak, "Apa? 5 tahun? Kak Liu...." dia menatap Liu.
Liu tertawa pelan, "Kau akan terkejut jika aku menyebutkan waktu kau tidur berdasar aturan yang disini."
Elena menatap tubuhnya, "Pantas aku merasa semakin tinggi, ternyata begitu ya."
Liu terdiam sejenak dan melihat Hotaru.
"Apa apa, Nona?" tanya Hotaru sambil menatapnya balik.
"Apa kau bisa membuatkan beberapa makanan? Elena baru bangun, jadi dia butuh asupan energi."
Hotaru mengangguk, "Kalau begitu, saya permisi, Nona."
Elena yang melihat Hotaru yang sudah menjauh, langsung mengalihkan pandangannya pada Liu.
Elena langsung memasang wajah serius, "Kak Liu, ada masalah apa?"
"Begini, Elena. Saat Hotaru memulai latihannya, dia begitu kesulitan karena dia tidak berpengalaman. Aku sudah menyuruhnya untuk perlahan, tapi dia bilang dia ingin menjadi kuat dan bisa melindungi penyelamatnya. Kemudian..."
Flashback
Liu sedang melihat latihan yang dilakukan Hotaru dari jauh. Hotaru terduduk karena kelelahan.
"Sial, kenapa aku lemah sekali?"
"Nona sudah berjuang keras untuk menyelamatkanku, aku tidak boleh menyerah."
Tiba-tiba, ada aura jahat yang keluar dari tubuh Hotaru. Liu yang merasakan bahaya langsung menghampirinya.
"Hotaru, apa yang—" ucapan Liu terpotong karena Hotaru menyerangnya.
Liu berhasil menghindarinya. Dia melihat Hotaru tersenyum dengan tatapan kosong. Aura yang mengelilinginya membuat tumbuhan yang disekitar mati secara misterius.
"Jangan-jangan...aura ini..."
Liu mundur beberapa langkah. Hotaru tersenyum melihatnya.
"Kenapa kau melarikan diri, hm? Kemarilah, biarkan aku membunuhmu secara perlahan," katanya.
Liu menatapnya tajam, "Siapa kau sebenarnya?"
"Hahaha, tentu saja Hotaru. Atau lebih tepatnya, isi dari wadah ini."
"Wadah?" gumam Liu.
"Hem, tempat yang bagus dan...apa ini? Aku mencium sesuatu yang harum."
"Gawat, dia mengincarnya!"
Liu mulai menyerang sosok yang sedang merasuki tubuh Hotaru. Mereka bertarung dengan hebat hingga membuat tanah di sekitar mereka hancur. Ketika Liu mulai lengah, sosok itu berlari menuju tempat Elena.
"Tidak akan kubiarkan!" Liu membentuk segel di tangannya.
"Formasi Segel 9 Bintang!"
"Arghhhhhhh! Sia-lan!" Aura hitam itu menghilang dan Hotaru pingsan.
Liu segera menghampirinya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Apa yang barusan terjadi?"
Setelah mengamankan Hotaru, Liu memperbaiki tempat bekas pertarungan mereka.
Back to the now
__ADS_1
"Begitulah ceritanya," ucap Liu.
Elena mengernyitkan dahinya, "Maksudmu, auranya mirip dengan bajing*n itu? Mengingat dia bisa membuatmu kewalahan, aku yakin dia bukan orang yang sembarangan."
"Sejak saat itu, aku selalu mengkhawatirkannya. Aku tidak tahu kapan dia muncul lagi."
"Aku mengerti, kak. Jika dia keluar lagi, aku yang akan mengurusnya."
"Kau yakin?"
Elena tersenyum dan mengangguk, "Dia orangku. Sudah seharusnya aku membantunya."
"Nona, makanannya sudah siap!" teriak Hotaru dari kejauhan.
"Ayo, kak."
Mereka pun makan bersama di iringi dengan canda dan tawa seolah tidak terjadi apapun.
Setelahnya, Hotaru dan Elena keluar dari cincin ruang untuk mencari udara segar.
Elena menghela napas lega, "Sudah lama aku tidak keluar."
"Aku merindukan mereka juga...Kak Luke," batinnya.
Elena yang menyadari pikirannya barusan tersentak, "Ada apa denganku?" gumamnya.
"Nona, tubuh anda...bagaimana?"
"Ah, sudah lebih baik."
Hotaru menatap Elena kemudian menunduk, "Kenapa anda menolong saya? Saya ini pembawa sial. Karena saya, anda jadi koma selama bertahun-tahun. Karena itu saya—"
"Hotaru." panggil Elena.
"Iya?"
"Kau tau arti nama itu?"
Hotaru menggelengkan kepalanya, "Saya tidak tahu, nona."
"Cahaya kelap-kelip di malam hari. Cahaya yang akan terus bersinar sekalipun dalam kegelapan. Itulah arti namamu, Hotaru," balas Elena dengan senyum lembut.
"Nona...saya... tidak pantas menerima pujian itu." kata Hotaru.
"Aku tidak memujimu. Alasanku menyelamatkanmu adalah kau memiliki cahaya dari dalam dirimu yang tidak kau sadari."
"Temukanlah arti cahaya itu. Jika suatu saat kau kehilangannya, aku akan mengulurkan tanganku untuk mengeluarkanmu dari kegelapan."
Air mata Hotaru mengalir, "Nona...." lirihnya.
Hotaru bersujud di hadapan Elena. Hal itu membuatnya terkejut.
"Hotaru, apa yang—"
"Saya, Hotaru, bersedia mengabadikan diri saya untuk Nona Arthemis Selena de Alexander. Jika suatu saat saya berkhianat atas keinginan saya sendiri, tubuh saya akan membusuk dan jiwa saya tidak akan bisa bereinkarnasi. Langit dan bumi akan menjadi saksi atas sumpah saya." ucap Hotaru.
Belum sempat Elena berbicara, keluarlah petir secara misterius dan menghantam Hotaru seolah menjawab sumpahnya.
Setelahnya, Hotaru menatap Elena sambil tersenyum, "Nona..."
"Kenapa...kau bersumpah seperti itu? Apa kau tau apa akibatnya? Tujuan hidupku tidak sesederhana yang kau kira, Hotaru!"
"Saya tahu, Nona."
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk menjadikanmu sebagai budakku! Kau adalah temanku! Lalu... kenapa kau..."
"Nona, kematian orang tua saya membuat saya kehilangan tujuan dan harapan untuk hidup. Sejak bertemu dengan anda, perlahan namun pasti saya menemukan arti dari keberadaan saya. Karenanya, hargailah keinginan pertama saya ini, Nona."
Elena tidak habis pikir dengan pemikirannya, "Dasar bodoh..."
Hotaru tersenyum mendengarnya, "Terima kasih atas pujiannya, Nona."
Dengan berat hati, Elena menyetujuinya, "Aku, Arthemis Selena de Alexander menerima sumpah dari Hotaru. Aku tidak akan mengekangnya ataupun memaksanya mematuhi perintahku. Jika dia telah menemukan kebahagiaannya, Aku akan membiarkan dia membuat keputusan untuk dirinya sendiri."
Hotaru merasa keberatan, "Nona, apa yang anda katakan?"
Elena memasang wajah cemberut, "Diam, ini salahmu karena membuat sumpah seperti itu. Satu lagi, jangan bersikap formal padaku. Terdengar sangat menyebalkan," gerutunya.
"Uh...baiklah, Nona. Maksudku, Elena." kata Hotaru dengan pasrah.
Elena mengangguk puas, "Inilah yang ku mau. Mohon bantuannya ya, Hotaru."
__ADS_1
"Seharusnya aku yang bilang begitu." timpal Hotaru sambil tertawa kecil.